NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:633
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Manis dan Pahit di Kampung Coklat

Perjalanan dari Pabrik Tahu Pakunden menuju Kampung Coklat memakan waktu yang cukup untuk membiarkan suasana di dalam bus kembali tenang. Di sampingku, Vema tampak sudah sepenuhnya pulih dari rasa mualnya. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus keripik kentang rasa sapi panggang. Sambil mengunyah pelan, ia menyalakan ponselnya dan membuka aplikasi YouTube.

Aku memperhatikannya dari samping. Ada sisi lain dari Vema yang jarang ia perlihatkan di lingkungan sekolah yang kaku. Di sini, ia tampak seperti remaja pada umumnya—santai, menikmati camilan, dan asyik dengan dunianya sendiri.

Vema menyadari tatapanku. Ia menoleh, lalu menyodorkan bungkus keripiknya ke arahku. "Kamu mau, Dra? Ini rasa kesukaanku," tawarnya dengan nada rendah yang ramah.

"Terima kasih, Vem," jawabku sambil mengambil sepotong keripik.

"Mau nonton bersama? Aku sedang melihat video dokumenter tentang teknik ilustrasi digital. Gambarnya sangat menenangkan," ajaknya sambil menggeser duduknya agar aku bisa melihat layar ponselnya yang berukuran cukup besar.

Aku mengangguk dan kami pun tenggelam dalam video tersebut. Namun, di tengah keheningan itu, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul. Nama kontak 'Bagas' akhirnya terlihat di bar pemberitahuan. Aku segera membukanya.

Bagas: "Dra, maaf banget ya aku baru balas. Aku beneran tidak berangkat hari ini. Aku bangun kesiangan parah. Kemarin malam aku begadang sampai jam setengah tiga pagi buat menyelesaikan maraton serial yang sudah lama ingin kutonton. Pas bangun, bus kalian sudah berangkat. Maaf ya sudah buat khawatir."

Aku menghela napas panjang, merasa sedikit kesal sekaligus lega karena ia tidak apa-apa.

Sarendra: "Hadeh, kamu ini bagaimana, Gas. Sudah tahu hari ini ada agenda penting kunjungan industri, tetap saja nekat begadang sampai dini hari. Guru tadi sampai pusing mencari keberadaanmu."

Bagas: "Ehehe, iya Dra, aku tahu aku salah. Maaf ya, janji tidak akan aku ulangi lagi kok. Tolong sampaikan maafku ke guru kalau ditanya lagi ya."

Aku hanya mengirimkan stiker jempol sebagai tanda bahwa aku sudah membaca permintaannya. Vema yang berada di sebelahku melirik sedikit.

"Siapa yang mengirim pesan? Sepertinya kamu terlihat sedikit kesal," tanya Vema penasaran.

"Ini Bagas," jawabku sambil meletakkan ponsel kembali. "Alasannya tidak ikut karena bangun kesiangan. Dia begadang sampai jam setengah tiga pagi hanya untuk menonton film. Benar-benar tidak bertanggung jawab."

Vema mengangguk paham, senyum tipis muncul di wajahnya. "Setidaknya kita tahu dia aman di rumahnya. Bagas memang seringkali bertindak di luar dugaan, bukan?"

"Ya, begitulah dia," balasku singkat.

Kami melanjutkan menonton YouTube bersama. Namun, tiba-tiba muncul peringatan low battery di layar ponsel Vema. Ia tampak panik dan mulai menggeledah isi tasnya dengan terburu-buru.

"Kenapa, Vem?"

"Aduh, Dra. Ponselku hampir mati, tapi aku lupa menaruh charger di mana. Sepertinya tertinggal di atas meja belajar tadi pagi," ucapnya dengan nada cemas.

"Jangan khawatir. Aku membawa charger cadangan dan kabelnya," kataku sambil mengambil benda tersebut dari tas punggungku. "Pakai punyaku saja."

"Beneran? Terima kasih banyak, Dra. Kamu memang selalu siap dalam segala situasi," Vema menerima charger itu dan segera menyambungkannya. Ia memasukkan ponsel dan pengisi daya itu ke dalam saku samping tasnya agar tidak terjatuh.

Sambil menunggu daya ponselnya terisi, kami mulai mengobrol lebih dalam. Kali ini topiknya adalah tentang masa depan. (percakapannya sementara aku rubah seperti ini ya🙏)

Sarendra: "Vem, kalau boleh tahu, apa rencanamu setelah kita lulus dari SMK nanti? Apakah kamu sudah punya bayangan?"

Vema: "Aku punya impian yang cukup spesifik, Dra. Aku ingin sekali melanjutkan kuliah di Universitas Binus, mengambil prodi Animasi. Aku ingin mendalami teknik pergerakan karakter lebih jauh."

Sarendra: "Binus? Itu pilihan yang sangat bagus untuk bidang kreatif. Mengapa kamu begitu tertarik dengan animasi?"

Vema: "Karena lewat animasi, aku bisa menciptakan dunia yang aku inginkan tanpa batas. Bagaimana denganmu sendiri?"

Sarendra: "Jujur, aku masih berada di persimpangan jalan. Antara ingin langsung bekerja atau melanjutkan kuliah."

Vema: "Kalau kuliah, universitas mana yang menjadi incaranmu?"

Sarendra: "Aku ingin sekali masuk ke UGM. Atmosfer pendidikannya terasa sangat cocok dengan cara berpikirku yang terstruktur."

Vema: "UGM itu luar biasa, Dra. Tapi tadi kamu bilang ada pilihan untuk bekerja?"

Sarendra: "Iya. Kalau memang jalannya bekerja, aku ingin bekerja di kantor yang nyaman, tenang, dan yang pasti memiliki pendingin udara (AC) yang baik."

Vema: "Wah, kamu sangat mengutamakan kenyamanan fisik ya?"

Sarendra: "Bukan sekadar nyaman, Vem. Lingkungan yang tenang dan sejuk membantuku bekerja dengan akurasi yang lebih tinggi."

Vema: "Aku mengerti. Apapun pilihanmu nanti, aku yakin kamu akan berhasil karena kamu orang yang sangat teliti."

Akhirnya, bus sampai di destinasi kedua: Kampung Coklat. Kami turun dan langsung bertemu dengan Nadin serta Netta. Kelompok kami terbentuk secara alami karena di tempat ini peraturannya lebih fleksibel. Kami berjalan mengitari area perkebunan coklat yang rimbun dan edukatif.

Di pojok dekat area kolam air panas yang konon bisa meredakan pegal, Netta tiba-tiba berhenti di depan sebuah toko cinderamata coklat

Netta: "Lihat! Toko coklatnya lucu sekali. Ayo kita mampir sebentar!"

Nadin: "Ide bagus. Aku ingin mencari oleh-oleh untuk adikku di rumah."

Vema: "Tempatnya juga terlihat sejuk ya di dekat kolam ini."

Sarendra: "Mari kita masuk, mungkin ada sesuatu yang menarik di dalam."

Netta: "Wah, banyak sekali variannya! Ada coklat isi mete, durian, bahkan rasa pedas!"

Nadin: "Net, lihat coklat yang bentuknya seperti buah kakao asli ini, unik sekali."

Vema: "Iya, detailnya sangat bagus."

Sarendra: "Vem, kamu tidak ingin membeli sesuatu?"

Vema: "Aku... aku sedang melihat-lihat saja dulu."

Netta: "Din, aku mau ambil keranjang. Aku mau borong coklat batangan ini."

Nadin: "Aku juga. Jangan sampai kita menyesal karena tidak beli banyak."

Sarendra: (Melihat Vema menatap sebuah coklat bentuk hati yang dibungkus kain pink). "Vem, kamu suka yang itu?"

Vema: (Terkejut) "Eh? Tidak... maksudku, itu terlihat cantik, tapi aku tidak berencana membelinya."

Netta: "Ayo cepat pilih, sebelum busnya berangkat lagi!"

Sarendra: (Tanpa bicara banyak, langsung mengambil coklat hati tersebut).

Vema: "Dra? Untuk apa kamu mengambil itu?"

Sarendra: "Nanti kamu juga tahu. Mari kita ke kasir."

Vema: "Sarendra, coklat itu untuk siapa? Bentuknya hati, lho."

Sarendra: "Untuk seseorang yang menurutku pantas mendapatkannya."

Vema: "Oh... apakah itu untuk ibumu? Atau... seseorang yang spesial?"

Sarendra: "Bisa dibilang begitu. Seseorang yang sangat spesial."

Vema: "Beruntung sekali ya orang itu. Kain pembungkusnya cantik sekali warna pinknya."

Sarendra: "Kamu pikir orang itu akan menyukainya?"

Vema: "Tentu saja. Siapa pun pasti akan senang diberikan hadiah setulus ini."

Sarendra: "Baguslah kalau begitu. Aku jadi lebih yakin."

Vema: "Tapi kamu tidak biasanya membeli barang-barang yang terlihat... manis seperti ini."

Sarendra: "Kadang, kita perlu melakukan hal yang tidak biasa untuk momen yang luar biasa, Vem."

Netta dan Nadin menghampiri kami dengan keranjang penuh berisi cinderamata dan satu buah kakao kering sebagai kenang-kenangan.

Netta: "Cie... Sarendra bawa coklat bentuk hati. Pasti buat pacarnya ya?"

Sarendra: "Aku tidak punya pacar, Net. Aku beli karena tampilannya menarik saja."

Netta: "Ah, masa? Ekhem... pacarmu kan sedang berdiri tepat di sebelahmu itu." (Menunjuk Vema).

Nadin: "Benar kata Netta. Bilang saja kalau coklat itu buat nembak Vema, kan? Mengaku saja, Dra."

Vema: (Wajahnya memerah) "Kalian ini bicara apa sih! Jangan sembarangan."

Nadin: "Lho, kok Vema yang protes? Biasanya kalau tidak merasa kan diam saja."

Sarendra: "Aku hanya ingin memberikan apresiasi pada teman baikku."

Netta: "Teman baik kok coklatnya bentuk hati? Kenapa tidak beli yang bentuk kotak biasa?"

Vema: "Mungkin stok yang kotak habis, kan?"

Nadin: "Bohong banget. Di rak sebelah sana masih penuh coklat kotak."

Vema: "Dra, ayo kita keluar saja. Mereka mulai tidak jelas bicaranya."

Sarendra: "Biarkan saja, mereka hanya sedang bersemangat."

Netta: "Vem, kalau Sarendra kasih coklat itu, jangan langsung diterima ya. Jual mahal sedikit!"

Nadin: "Iya, biar dia usahanya lebih keras lagi!"

Vema: "Hentiikan, kalian berdua! Aku malu dilihat pengunjung lain."

Sarendra: "Vema, tidak perlu didengarkan."

Vema: "Tapi mereka terus-terusan mengaitkan kita..."

Nadin: "Karena kalian memang cocok! Sudah, ayo lanjut jalan!"

Kami kemudian berkeliling sambil membahas fakta-fakta tentang coklat.

Sarendra: "Tahu tidak kalau coklat hitam itu sebenarnya sehat untuk jantung?"

Vema: "Iya, tapi rasanya pahit sekali. Aku lebih suka milk chocolate."

Netta: "Tapi coklat pahit itu yang paling asli, kan? Tanpa banyak campuran gula."

Nadin: "Sama seperti hidup, kadang harus merasakan pahit dulu baru bisa merasakan manis."

Sarendra: "Filosofi yang cukup mendalam untuk sebuah camilan, Din."

Vema: "Aku baca kalau pohon kakao itu baru bisa berbuah setelah lima tahun."

Netta: "Lama sekali ya prosesnya."

Sarendra: "Sesuatu yang berharga memang butuh waktu lama untuk tumbuh."

Vema: "Sama seperti persahabatan kita ya?"

Kami duduk sejenak di bangku panjang, membicarakan para guru di sekolah.

Netta: "Kalian merasa tidak kalau Pak Haris itu sangat disiplin tapi aslinya baik?"

Sarendra: "Sangat terasa. Beliau hanya ingin kita memiliki integritas tinggi."

Nadin: "Tapi kalau guru di jurusanku ada yang kalau menerangkan suaranya pelan sekali."

Vema: "Oh, aku tahu! Guru yang itu memang sering membuat satu kelas mengantuk."

Sarendra: "Tapi setidaknya materi yang beliau berikan sangat lengkap."

Netta: "Kalian beruntung punya guru yang sabar. Di jurusanku, salah sedikit saja langsung disuruh mengulang."

Vema: "Itu melatih mental, Net."

Nadin: "Tapi melelahkan juga kalau setiap hari begitu."

Sarendra: "Setidaknya itu mempersiapkan kita untuk dunia kerja yang lebih keras."

Vema: "Setuju. Guru-guru kita punya caranya masing-masing untuk mendidik."

Panggilan dari pengeras suara menyuruh kami kembali ke bus. Kami kembali berpisah. Nadin memberiku kode—sebuah tatapan serius yang seolah berkata, "Jaga hati dan jaga Vema seutuhnya." Aku mengangguk mantap.

Di dalam bus yang mulai bergerak pulang, aku menyerahkan coklat hati tadi kepada Vema.

Sarendra: "Vem, aku tahu tadi aslinya kamu pengen banget beli ini, kan? Ini untukmu."

Vema: "Eh? Jangan, Dra. Ini pasti mahal. Aku tidak bisa menerimanya begitu saja."

Sarendra: "Tolong terima ini. Aku membelinya khusus untukmu karena aku melihat keinginan itu di matamu."

Vema: "Tapi aku merasa tidak enak... aku tidak memberimu apa-apa."

Sarendra: "Kamu sudah memberikan waktumu untuk duduk di sebelahku seharian ini. Itu sudah lebih dari cukup."

Vema: (Menerima coklat itu perlahan) "Terima kasih banyak, Sarendra. Sebenarnya uangku tadi memang tidak cukup untuk membeli ini."

"Tidak apa-apa, Vem. Anggap saja itu sebagai tanda persahabatan kita," jawabku lembut.

Mendengar kata-kataku, Vema tiba-tiba melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Karena merasa sangat senang dan terharu, ia secara spontan memegang tanganku erat-erat. Matanya berbinar bahagia. Aku membeku, rasa gugup seketika menyerang seluruh sarafku. Kulit tangannya terasa hangat dan lembut.

Beberapa detik kemudian, Vema menyadari apa yang ia lakukan. Ia segera melepaskan tanganku dengan gerakan canggung.

"Huh... maaf... aku mengotori tanganmu," cicitnya dengan nada yang sangat malu, menunduk dalam-dalam.

Aku tersenyum melihat perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu. Lalu, aku merogoh tas dan mengeluarkan sesuatu yang lain. Sebuah boneka Piggy berwarna pink, kecil dan bulat.

"Vem, ini untukmu juga. Ini adalah boneka pemberian ibuku saat aku berumur lima tahun. Aku menyimpannya dengan baik sampai sekarang. Sekarang, aku ingin kamu yang menjaganya."

Mata Vema membelalak, sorot matanya sangat bercahaya melihat boneka itu. Ia menerimanya dengan kedua tangan seolah itu adalah harta karun yang tak ternilai.

"Dra... ini sangat berharga. Terima kasih banyak!" ucapnya dengan nada sangat bahagia. "Hmm... nama apa yang cocok buat boneka kecil yang lucu ini?"

Aku berpikir sejenak. "Bagaimana kalau Pippo? Kedengarannya lucu dan mudah diingat."

"Pippo! Aku suka namanya! Halo Pippo, mulai sekarang kamu ikut denganku ya," ucap Vema sambil memeluk boneka itu dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat.

Aku bersandar di kursi bus, menatap Vema yang kini asyik mengobrol dengan Pippo. Rasa kagum membuncah di dadaku. Betapa sederhananya kebahagiaan gadis ini. Aku berharap Pippo dan coklat itu bisa menjadi saksi bahwa di tengah perjalanan yang melelahkan ini, ada sebuah ikatan yang mulai tumbuh dan menguat. Aku berharap Vema akan menjaga Pippo dengan baik, sama seperti aku yang berjanji dalam hati untuk terus menjaga senyum di wajahnya, hingga waktu yang tak terhingga.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!