Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Kematian Chen Xo
Udara di aula utama Bulan Hitam sudah tidak lagi berbentuk oksigen; ia telah menjadi badai partikel kristal yang tajam dan energi kematian yang murni. Seluruh kastel berguncang hebat, pilar-pilar raksasa tumbang satu per satu, namun tak satu pun dari dua saudara itu yang berkedip.
Chen Kai meraung, seluruh urat di tubuhnya menonjol hitam. Ia membakar sisa-sisa esensi jiwanya. Di sisi lain, Chen Xo tampak mulai melambat, napasnya berat, dan penyakit langka yang ia sebutkan sebelumnya mulai memanifestasikan diri dalam bentuk retakan keunguan di lehernya.
"Satu serangan terakhir, Chen Xo!" teriak Chen Kai.
Ia melompat ke udara, memutar tubuhnya seperti bor kegelapan. Seluruh sisa energi Transformasi Esensi Tahap 4 miliknya dikompresi ke ujung pedangnya.
"TEKNIK PEMUNGKAS KRISTAL IBLIS: PENGHAKIMAN AKHIR!"
Chen Xo berdiri tegak. Ia tidak menghindar. Ia justru melepaskan semua pertahanan energinya dan memusatkan sisa kekuatannya hanya pada pedangnya untuk sebuah tusukan lurus.
"BULAN SABIT: PENYALIBAN CAHAYA!"
Mereka berdua melesat melewati satu sama lain di tengah udara dengan kecepatan cahaya.
SLAAASSSHHH!
Waktu seolah membeku. Keheningan yang memekakkan telinga menyelimuti aula yang hancur.
Chen Kai mendarat di belakang Chen Xo dengan posisi berlutut, pedangnya berlumuran darah segar. Di sisi lain, Chen Xo berdiri mematung. Perlahan, Chen Kai berdiri dan berbalik. Ia melihat pedangnya telah menembus tepat di pusat jantung kakaknya.
Chen Kai terengah-engah, air mata kemarahan masih menggenang. "Kau... kau akhirnya kalah, Chen Xo! Aku sudah membalaskan dendam ayah dan ibu!"
Namun, Chen Xo tidak tumbang. Ia perlahan memutar tubuhnya sambil memegang luka di dadanya. Darah hitam merembes keluar dari mulutnya, namun yang membuat Chen Kai terpaku adalah ekspresi wajah kakaknya.
Tidak ada kebencian. Tidak ada kemarahan.
Chen Xo tersenyum. Sebuah senyum lembut dan tulus yang persis sama dengan senyum yang ia berikan pada Chen Kai tujuh tahun lalu saat mereka berlatih bersama di halaman rumah.
"Kenapa... kenapa kau tersenyum?!" teriak Chen Kai, suaranya bergetar karena kebingungan yang tiba-tiba melanda.
Chen Xo melangkah maju dengan sisa tenaganya, membiarkan pedang Chen Kai semakin merobek jantungnya. Ia meraih pundak adiknya dengan tangan yang gemetar dan dingin.
"Maaf..." bisik Chen Xo, suaranya parau namun penuh kelegaan. "...dan terima kasih, Kai."
Mata Chen Xo perlahan meredup. Cahaya ungu yang selama ini menyelimutinya menghilang, digantikan oleh aura kristal biru murni—warna asli klannya yang selama ini ia sembunyikan di balik kegelapan.
"Kau... kau sengaja membiarkanku menang?" tanya Chen Kai dengan suara yang nyaris hilang.
Chen Xo tidak menjawab lagi. Tubuhnya perlahan kehilangan kekuatan dan ia jatuh ke pelukan Chen Kai. Saat nyawanya meninggalkan raga, sebuah gulungan memori terakhir terlepas dari jiwa Chen Xo dan masuk ke dalam pikiran Chen Kai.
Dalam satu kilatan visi, Chen Kai melihat kebenaran yang sesungguhnya:
Malam itu, tujuh tahun lalu, Klan Kristal ditemukan telah terinfeksi oleh "Kutukan Kiamat" yang akan meledak dan menghancurkan seluruh Kekaisaran. Ayah mereka tahu, satu-satunya cara untuk menghentikan kutukan itu adalah dengan mengumpulkan semua energi terlarang itu ke dalam satu wadah—seorang pewaris yang mau memikul dosa dan menjadi monster agar yang lain bisa selamat.
Chen Xo menawarkan dirinya. Ia setuju untuk membantai keluarganya sendiri yang sudah terinfeksi agar wabah itu tidak menyebar, dan ia setuju untuk dibenci oleh adiknya agar adiknya memiliki motivasi untuk tumbuh cukup kuat demi membunuhnya suatu saat nanti—sehingga kutukan di dalam dirinya bisa musnah selamanya.
"Kai harus menjadi cahaya... biar aku yang menjadi kegelapan." suara ayahnya dalam memori itu bergema.
Chen Kai membelalak. Realitas menghantamnya lebih keras daripada serangan pedang mana pun. Ia mendekap tubuh kakaknya yang kini sudah mendingin.
"TIDAK! CHEN XO! BANGUN!" raung Chen Kai di tengah reruntuhan. "KAU TIDAK BISA MATI SEPERTI INI! KAU HARUS MENJELASKANNYA!"
Namun, Chen Xo telah pergi. Ia mati dengan senyuman karena misinya telah selesai. Ia telah menjaga adiknya, menjadikannya kuat, dan akhirnya menyerahkan nyawanya untuk menghapus noda terakhir dari nama Klan Kristal.
Di luar kastel, hujan salju turun dengan lebat, menutupi ribuan mayat pasukan iblis yang dibantai Tianzu. Tianzu berdiri di ambang pintu, menatap dua saudara itu dengan hormat terakhir. Ia tahu, tugasnya menjaga rahasia ini telah berakhir.
Chen Kai menangis sejadi-jadinya, mendekap erat satu-satunya keluarga yang tersisa yang ternyata adalah pelindung setianya selama ini. Pedang Iblis Keruntuhan di tangannya perlahan berubah kembali menjadi kristal bening, namun hati Chen Kai kini benar-benar hancur menjadi kepingan yang takkan pernah bisa utuh kembali.
"Dua jiwa yang menyisakan satu raga... tapi raga yang tersisa kini harus memikul beban dua dunia."