Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENUNGGU HASIL
Setelah wawancara akhir, Evan memasuki masa tunggu yang penuh harapan dan sedikit ketegangan. Pengumuman hasil akhir penerimaan calon prajurit akan diumumkan dalam waktu tiga minggu, dan setiap hari terasa sangat panjang baginya.
Namun bukan waktu yang dihabiskan dengan khawatir – Evan memilih untuk tetap aktif dan meningkatkan kemampuannya setiap hari. Ia membuat jadwal rutinitas yang ketat, menggabungkan latihan fisik, pembelajaran ilmu kedokteran dasar, dan pelestarian ilmu tradisional dari Kakek Darmo.
RUTINITAS HARIAN
Setiap pagi pukul 05.00, Evan sudah bangun dan melakukan latihan pagi di lapangan dekat kosannya. Ia memulai dengan meditasi selama 15 menit seperti yang diajarkan Kakek Darmo, menyelaraskan napas dan pikiran sebelum memulai aktivitas fisik.
Setelah itu, ia melakukan serangkaian latihan beladiri – gerakan dasar yang telah ia kuasai sejak kecil, dilengkapi dengan teknik baru yang ia pelajari dari buku dan arahan dari instruktur militer yang pernah ia temui. Ia juga menambahkan latihan kebugaran seperti lari jarak jauh, push-up variasi, dan latihan kekuatan inti untuk menjaga kondisi fisiknya tetap prima.
"Saya harus tetap siap kapan saja," ujar Evan ketika bertemu Rina di kedai kopi sore harinya. "Bahkan jika hasilnya sudah keluar, latihan ini akan tetap berguna untuk kuliah dan pelatihan militer nantinya."
Rina yang selalu menemani Evan ketika ada waktu luang mengangguk setuju. "Kamu benar sekali. Selain itu, rutinitas yang teratur juga akan membantu kamu tetap fokus dan tidak terlalu terpengaruh oleh kegelisahan menunggu hasil."
MENINGKATKAN PENGETAHUAN
Setelah selesai latihan pagi dan sarapan, Evan menghabiskan sebagian hari untuk belajar. Ia membaca buku-buku tentang ilmu kedokteran dasar, farmakologi, dan kesehatan masyarakat yang akan menjadi dasar studinya nantinya. Ia juga menghubungi dosen calon di Universitas Padjadjaran untuk meminta panduan tentang materi yang perlu dipelajari sebelum kuliah dimulai.
Selain itu, Evan juga tidak melupakan warisan Kakek Darmo. Setiap sore, ia menghabiskan waktu di kebun obat kecil yang ia kelola di belakang kosannya – menanam dan merawat berbagai jenis tanaman obat seperti jahe, kunyit, temu lawak, dan pegagan. Ia juga memperbarui catatan-catatan kuno dari Kakek Darmo dengan menambahkan informasi baru yang ia dapatkan dari buku dan penelitian modern.
"Saya ingin memastikan bahwa ilmu yang Kakek berikan tidak hanya dilestarikan, namun juga terus berkembang," ujar Evan saat sedang merawat tanaman temu putih. "Setiap hari saya menemukan hal baru tentang manfaat tanaman ini – hal yang mungkin tidak diketahui oleh Kakek karena keterbatasan informasi pada zamannya."
Ia juga sering menghubungi Pak Jono dari kampung untuk berbagi pengetahuan dan bertanya tentang pengalaman dalam mengobati berbagai penyakit menggunakan tanaman obat lokal. Pak Jono selalu senang membantu dan bahkan mengirimkan beberapa jenis bibit tanaman obat langka yang sulit ditemukan di kota.
DUKUNGAN DARI KELUARGA DAN TEMAN
Selama masa tunggu ini, keluarga Evan selalu memberikan dukungan penuh. Ayahnya sering datang mengunjunginya dan bahkan berlatih bersama di pagi hari, sementara ibunya selalu mengirimkan makanan sehat dan suplemen untuk menjaga kesehatan Evan.
"Sekali lagi, kita ingin kamu tahu bahwa kita bangga padamu apa pun hasilnya," ujar ayah Evan saat makan malam bersama. "Kamu telah melakukan yang terbaik dalam seleksi ini, dan itu sudah cukup membuat kita bangga. Apalagi kamu juga akan melanjutkan kuliah kedokteran yang merupakan impianmu bersama Kakek Darmo."
Teman-teman sekelas juga sering mengajak Evan keluar untuk bersantai dan menghilangkan stres. Mereka mengadakan acara kecil seperti piknik di taman atau menonton film bersama untuk menjaga suasana hati Evan tetap baik.
"Kamu adalah orang terkuat yang saya kenal, Evan," ujar Budi salah satu teman dekatnya. "Kita semua tahu bahwa kamu pasti akan diterima. Tapi bahkan jika tidak, kita tahu bahwa kamu akan memiliki jalan lain yang sama baiknya."
MOMEN PENUNGGUAN
Pada hari ke-20 setelah wawancara akhir, Evan menerima panggilan telepon dari Kantor Rekrutmen Militer. Jantungnya berdebar kencang ketika ia menjawab panggilan tersebut.
"Assalamualaikum, ini Evan Saputra," ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Wa'alaikumussalam, Evan," jawab suara perwira di ujung telepon. "Saya dari Kantor Rekrutmen Angkatan Darat Cirebon. Saya ingin memberitahu bahwa hasil akhir seleksi telah keluar, dan kami akan mengirimkan surat resmi besok pagi ke alamatmu. Namun saya bisa memberitahu secara pribadi bahwa kamu telah diterima dalam program khusus Korps Medis Angkatan Darat."
Evan merasa seperti ada beban besar yang terangkat dari pundaknya. Ia tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik, hanya bisa mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
Setelah telepon berakhir, Evan langsung menghubungi keluarga dan Rina untuk memberitahu kabar baik tersebut. Suara ibunya menangis bahagia, sementara ayahnya langsung mengatakan bahwa akan segera datang ke kota untuk merayakannya bersama.
Rina yang mendengar kabar tersebut langsung datang ke kosan Evan dengan membawa kue ulang tahun kecil sebagai simbol perayaan. Mereka duduk di kebun obat kecil di belakang kosan, menikmati kue dan teh hangat sambil merencanakan langkah-langkah berikutnya.
"Besok kita akan pergi ke kampung untuk memberitahu kabar ini ke makam Kakek Darmo," ujar Evan dengan mata yang bersinar. "Dia pasti sangat bangga mendengarnya."
Malam itu, Evan tidak bisa tidur dengan tenang. Ia menghabiskan waktu untuk membaca kembali surat terakhir dari Kakek Darmo dan menyentuh kalung batu giok di lehernya. Ia merasakan bahwa semua usaha dan pengorbanannya selama ini telah memberikan hasil yang baik, dan bahwa jalan untuk mewujudkan impian mereka berdua semakin jelas terbentang di depannya.
"Dengan izin Allah, Kakek," bisik Evan sambil melihat ke arah langit malam yang penuh bintang. "Saya akan terus berjalan di jalan yang telah kamu tetapkan. Saya akan menjadi dokter dan prajurit yang bisa membawa manfaat bagi banyak orang, serta menjaga warisanmu dengan segenap hati."
Dengan hati yang penuh syukur dan tekad yang semakin kuat, Evan akhirnya tertidur, bersiap menghadapi hari baru yang akan membawa dia lebih dekat ke masa depan yang penuh harapan.