NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Adek, si kembar pengen adek lagi." Senyum canggung terukir di wajah Alya.

Romeo mengangguk tanpa suara, membaca keraguan yang terselip di mata Alya. Ia memilih menunggu, memberi Alya ruang untuk berkata jujur.

"Ya… mereka benar-benar minta adek."

“Bisa nggak, tunggu aku selesai wisuda dulu? Maaf, bukan berarti aku nggak mau… tapi sekarang aku lagi fokus kuliah. Apalagi, dari banyak cerita yang kudengar tentang kehamilan, itu bisa memengaruhi hormon.” Alya tersenyum canggung.

Romeo masih diam, menatap istrinya. Alya bukan menolak kehamilan atau keinginan si kembar untuk memiliki adik. Namun, ia khawatir kehamilan akan mengganggu fokusnya menyelesaikan skripsi. Alya ingin seluruh pikirannya tetap tertuju pada tugas kuliah sekarang, menunda segala kekhawatiran hingga nanti saat ia benar-benar siap menikmati masa kehamilannya.

"Kamu… marah, ya?"

"Aku nggak marah, aku ngerti kok situasimu. Kalau

sekarang belum siap, nggak apa-apa. Kita bisa atur lagi setelah kamu wisuda. Tapi..." Romeo menunduk sebentar, lalu menarik Alya mendekat dan memeluknya dengan hangat, seolah ingin menyampaikan semuanya tanpa kata-kata.

"Tapi apa?" Alya menatap mata suaminya, mencari jawaban di balik senyum tipis yang tersungging di bibirnya.

“Tapi, kita mulai dari sekarang. Prosesnya kan memang nggak instan.” godanya dengan senyum tipis.

Alya menundukkan wajahnya sambil tersenyum malu. Guratan merah di pipinya membuat Romeo semakin tak sabar, hingga ia menutupinya dengan rangkaian ciuman hangat yang menyebar di seluruh wajahnya.

"Aku panggil mereka dulu, anak-anak kecilku. Sepertinya mereka sudah tidak sabar menunggu dimsum buatanmu." kata Romeo sambil melepaskan pelukannya perlahan. Ia tersenyum sebelum menatap si kembar dan memanggil mereka.

Alya segera mulai menyiapkan santapan untuk mereka siang ini. Sebenarnya, dia agak kebingungan melihat begitu banyak hidangan yang tersaji. Namun, pasti ada alasan khusus di balik semua ini, pikirnya, karena Romeo tak pernah melakukan sesuatu tanpa maksud.

"Ibu!" Selina menjerit riang, tidak bisa menahan kegembiraannya.

Dengan lari tergesa, Selina menubruk Alya. Beruntung Alya berhasil menangkapnya, menahan agar mereka tidak terjungkal.

"Pelan-pelan, sayang." tegur Alya lembut.

"Aduh, Selina, jangan begitu, kasihan ibu." geram Serena.

"Ibu, Tante jelek di depan tadi pegang-pegang tangan Papa!" adu Selina tanpa sempat menahan diri.

Mendengar keluhan tak terduga itu, Romeo langsung menatap Selina dengan mata membelalak, diikuti desah kesal yang tak bisa ia sembunyikan.

"Tante jelek siapa?’ Alya menatap Romeo, yang wajahnya kini tampak panik luar biasa,Romeo takut Alya salah paham.

"Tante yang bajunya kekecilan itu, dia pegang tangan Papa!’ Adu Selina lagi, wajahnya polos tapi panik.

Romeo hanya bisa menelan rasa kesalnya, ingin membela diri tapi takut Alya mengira dia sengaja menyembunyikannya.

"Oh ya? Lalu kenapa papa cuma diam saja?" goda Alya sambil menyipitkan matanya ke arah Romeo.

"Papa nggak ngomong apa-apa, tapi lihat deh, papa giniin tangan Tante itu." Selina menirukan gerakan Romeo saat mengibaskan tangan Yona tadi.

"Iya, Bu, Tante nya sampai hampir jatuh." sambung Serena menimpali.

"Sayang, mungkin dia nggak sengaja. Tapi jangan bilang Tante jelek, itu nggak sopan." ucap Alya dengan senyum lembut.

"Tapi emang jelek, Bu. Bibirnya merah, matanya besar dan gelap… nggak secantik Ibu." keluh Serena polos.

"Nggak boleh gitu, sayang. Dia juga makhluk ciptaan Tuhan. Jangan menghina, nanti berdosa. Kalian ngerti, kan?" Alya menatap satu per satu si kembar, ingin menanamkan rasa hormat mereka pada yang lebih tua.

"Ngerti, Bu."

"Sekarang, cuci tangan dulu, baru makan. Ibu mau bicara sebentar sama Papa." ucap Alya lembut sambil menuntun si kembar.

Romeo menegang ketika tatapannya bertemu dengan Alya, yang matanya menyorot seolah ingin

menelannya hidup-hidup.

“Nanti dulu, Bu… Selina kan lapa.” rengek anak itu sambil menunjuk piring di samping ibunya. “Boleh nggak aku makan di temenin ibu?”

Romeo menghela napas panjang, sedikit lega.

“Setidaknya untuk beberapa menit ini, aku aman.” pikirnya dalam hati.

"Oke, setelah makan, kita beri waktu satu jam sebelum kalian tidur siang. Ingat ya."

"Baik, Bu."

Keempatnya segera menikmati makan siang bersama. Satria akhirnya mau bergabung dengan keluarga Cemara setelah Alya sedikit memaksanya, meski sebelumnya ia sempat mendapat sorotan tajam dari Romeo.

"Rom, pengawal yang lo minta udah gue atur semua. Mereka bisa mulai besok, soalnya gue suruh tinggal di mess deket rumah lo." kata Satria setelah semuanya selesai makan.

Alya, merasa situasi ini bukan urusannya, segera mengajak si kembar masuk ke kamar untuk beristirahat sejenak sebelum tidur siang. Romeo tidak keberatan, ia memilih menunggu, karena akan membicarakan hal serius dengan Satria mengenai Mama Dinda nanti.

"Nanti, setelah anak-anak tidur, aku ikut myusul ke kamar. Ada yang harus aku bicarakan sama kamu."

"Iya, aku juga ada hal penting yang harus dibicarakan sama kamu." Sorot mata Alya menatap tajam penuh arti.

Satria menahan tawanya sambil memperhatikan wajah Romeo yang tampak seperti suami takut istri.

"Serius, lo udah jatuh cinta sama dia?" tanya Satria dengan nada serius begitu Alya masuk ke kamar.

"Gue nggak bisa bilang nggak, tapi gue nyaman banget sama dia. Gue pengen dia selalu di dekat gue. Sampe si kembar deket sama dia, gue malah cemburu." Romeo mengaku.

Satria menahan tawa sambil menggeleng. "Itu jelas, Lo mulai ngerasain benih cinta tumbuh di hati Lo buat dia. Tapi gue harus bilang, dia tuh pengaruhnya positif banget buat Lo. Biasanya Lo makan asal-asalan, sekarang lihat deh, Lo lebih teratur. Apalagi anak-anak, nempel terus sama dia. Bisa dibilang, mereka bakal jadi saingan Lo yang paling sengit… bukan orang lain."

“Kemarin… mama sempat mampir ke rumah.” Romeo menunduk sejenak, suaranya berat ketika berkata

"Jangan bilang, pengawal yang lo suruh jagain Alya itu gara-gara Mama Dinda?" Satria menatap tajam, sedikit tersenyum sambil menebak

“Dia minta gue lepaskan Alya. Menurutnya, Alya terlalu biasa. Dia cuma punya satu pilihan. Yona.” Romeo bersuara berat, seolah setiap kata menyayat.

“Yona… maksud mama Dinda itu Yona, sekretaris lo, kan?” Satria menebak sambil menatap Romeo penuh rasa ingin tahu.

“Gue… nggak yakin. Nama Yona kan lumayan umum. Nggak mungkin yang ini, kan?” Romeo mencoba menahan kegelisahannya, berharap itu hanya salah paham.

“Ya, bisa aja Yona yang ini… nggak ada yang nggak mungkin, Rom. Tapi kalau lo mau, gue bisa selidikin soal sekretaris lo ini. Gue bakal lakukan.”

“Selidiki aja, Sat, biar aman. Kalau Yona ini memang yang dimaksud nyokap, berarti kedatangannya di sini bukan kebetulan. Pasti ada oknum di kantor yang ikut campur, sampai dia bisa masuk.” Romeo menegaskan dengan mata yang tajam.

"Siap. Gue bakal selidiki. Lagipula, cara dia ke lo tuh mencurigakan, kayak sengaja pengen diperhatiin terus."

“Siapkan kandidat sekretaris baru.” ucapnya datar namun mengandung ancaman. “Kalau terbukti dia bekerja sama dengan mama, gue nggak cuma pecat dia. Gue bakal pastikan namanya bersih dari semua perusahaan, nggak ada satu pun yang mau nerima dia kerja.”

“Siap.” katanya sambil bangkit. “Gue pergi dulu ya. Alya pasti udah nungguin lo.”

“Ya.” Singkat, datar, dan menutup percakapan.

Setelah Satria pergi, Romeo langsung melangkah masuk ke kamar. Di sana terlihat pemandangan yang diam-diam selalu ia rindukan, Alya tertidur di antara kedua putri mereka. Tubuh kecil itu saling merapat, memeluk sang ibu erat, seakan takut jika Alya menghilang dari sisi mereka.

“Kalau gue bangunin, nggak tega. Tapi kalau enggak… nanti pasti ngomel.”

“Hmm… kamu udah selesai ngobrol nya?” tanya Alya dengan suara serak karena baru bangun.

“Udah, kalau masih ngantuk, tidur aja dulu ya, sayang.”

“Kenapa? Kamu mau habisin waktu sama sekretaris seksi kamu itu?” Alya duduk perlahan, matanya tak lepas dari wajah suaminya.

“Maksud kamu apa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!