Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Aroma Manis di Tengah Badai
Livia memejamkan mata dengan manja, seolah masih terkejut oleh konfrontasi tadi, lalu bersandar pelan ke dada bidang Rangga. Gerakan itu disengaja—agar aroma minyak pengasih yang baru dioleskannya semakin menyebar, meresap ke indera pria di depannya.
Tubuh Rangga menegang sejenak, seperti refleks yang tak bisa disembunyikan. Namun tak lama, lengannya langsung melingkar di pinggang Livia, menariknya lebih rapat seolah ingin menyatakan kepemilikan tanpa kata-kata.
“Kamu yakin baik-baik saja?” gumam Rangga, suaranya rendah dan penuh kekhawatiran—meski Livia tahu ada nada posesif yang berusaha disembunyikan dengan rapi.
Napas hangatnya menyapu rambut Livia, membuat bulu kuduknya meremang. Entah karena khasiat minyak dari Sherly, atau karena Rangga memang sedang dalam mood yang membara.
Livia membuka mata perlahan, mendongak dengan tatapan polos yang sudah dilatih bertahun-tahun—akting level dewa ala saran Vania.
“Aku percaya kok sama kamu, Ngga,” bisiknya lembut, jari-jarinya sengaja bermain di kancing kemeja Rangga, menggoda tanpa terlihat berlebihan. “Lagian, Mbak Nadia tadi bilang kalian bertunangan? Wah, cepat sekali rencananya. Aku saja belum diberi cincin, eh dia sudah mengaku calon istri. Kompetisinya ketat, ya, seperti di lapangan bulu tangkis.”
Rangga tersenyum tipis—senyum khas “Pangeran Jawa” yang selalu membuat jantung Livia berdegup tak beraturan. “Bertunangan? Itu hanya omong kosong Nadia. Dia memang suka berlebihan kalau sedang panik.” Namun di balik senyum itu, ada kilatan gelap di matanya, seolah menyembunyikan rahasia besar. Jempolnya mengusap pipi Livia dengan lembut, gerakan yang terlalu intim untuk sekadar sandiwara. “Kamu yang ada di sini sekarang. Kamu yang aku lindungi. Nadia? Dia hanya masa lalu yang tak lagi penting.”
Dalam hati, Livia tertawa sinis. Masa lalu? Dokumen kontrak pernikahan yang pernah ia lihat secara tak sengaja berkata lain. Tapi di luar, ia hanya mendesah manja, bersandar lebih dalam ke pelukan Rangga. “Aku capek sekali, Ngga. Peluk aku lebih erat, ya... biar aku bisa melupakan semua drama tadi.”
Rangga tak menolak. Pelukannya justru semakin kuat, tangannya turun ke pinggang Livia—tepat di atas pinggul, sentuhan yang membuat Livia hampir lupa rencana balas dendamnya sendiri. Aroma minyak pengasih bercampur wangi kayu cedar dari parfum Rangga menciptakan kabut sensual yang membuat kepala Livia sedikit pusing—dalam cara yang sangat menyenangkan.
“Kamu harum sekali hari ini,” gumam Rangga tiba-tiba, hidungnya hampir menyentuh leher Livia. “Parfum baru?”
Livia tersenyum dalam hati. Kerja dong, minyak Sherly! “Rahasia perempuan, Ngga. Biar kamu tidak bosan denganku,” bisiknya nakal, jari-jarinya naik ke tengkuk Rangga, memainkan helai rambutnya dengan lembut. “Atau... kamu lebih suka yang ‘penurut dan tidak hiperaktif’ seperti Mbak Nadia tadi?”
Rangga mendengus pelan, suaranya serak di telinga Livia. “Penurut? Membosankan. Aku lebih suka yang membuat jantungku berdegup kencang setiap hari... seperti kamu.” Ia menarik dagu Livia perlahan, memaksa gadis itu menatap matanya. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter, napas saling bercampur. “Jangan dengarkan Nadia. Dia hanya iri karena aku tidak pernah memandangnya seperti aku memandangmu.”
Livia hampir goyah. Tatapan Rangga terlalu intens, terlalu... nyata? Tapi ia segera ingat rekaman telepon yang tak sengaja didengarnya. Ini hanya akting, Liv. Jangan terjebak.
Sebelum Livia sempat membalas, ponsel Rangga berdering keras. Nama di layar: “Papa”.
Rangga mengangkatnya, nada suaranya langsung berubah menjadi sopan dan formal. “Ya, Pa? Nadia sudah ke sini? ... Baik, aku tangani. Saham keluarga Liang tetap berjalan sesuai rencana. Tenang saja.”
Livia tersenyum tipis dalam pelukan Rangga. Tangani, ya? Kita lihat nanti siapa yang akan ditangani lebih dulu—dan siapa yang benar-benar kepincut karena minyak Thailand ini. Liang Empire, bersiaplah untuk perang tahap berikutnya.
Grup chat “Liang Empire” tiba-tiba bergetar hebat.
Vania: LIV! Gue baru denger dari temen arisan, Nadia Wulandari nangis-nangis di mobilnya abis keluar dari SCBD! Lo apain dia, Dek?! Cerita dong! Pakai lingerie hitam yang gue pinjemin, ya? 😈
Sherly: Bukan lingerie, Ci! Pasti minyak pengasih gue yang bekerja! Liv, tarot gue bilang hari ini adalah hari pembalikan nasib! Tapi hati-hati, ada kartu “Pengkhianat” yang muncul lagi. Rangga atau Nadia?
Livia membaca chat itu sambil tetap dalam pelukan Rangga, bibirnya membentuk senyum licik. Pengkhianat? Oh, permainan baru saja dimulai.
Beberapa hari setelah “invasi” mendadak Nadia Wulandari, Jakarta masih ramai dengan rumor panas. Media sosial seperti mesin penggiling yang tak pernah berhenti: tagar #LiviaHyper bersaing ketat dengan #RanggaPangeranPelindung. Standar ganda netizen terasa semakin menyesakkan. Mateo, yang kini berstatus tahanan kota, malah diundang sebagai bintang tamu di podcast ternama.
“Itu hanya salah paham, Bro. Gue kan jiwa bebas, ekspresif,” kata Mateo santai di layar, disambut ribuan komentar pujian dari netizen pria yang menyebutnya “Alpha Male sejati”.
Sementara Livia? Kolom komentarnya dipenuhi makian: “Amoi kaya tapi murahan”, “Pantes saja skandal, cewek hiperaktif begitu tidak cocok dengan Rangga”.
Livia duduk sendirian di sofa beludru apartemen Rangga yang mewah, menatap layar ponsel dengan ekspresi datar. Di lantai bawah, Rangga sedang latihan privat di gym pribadi—alasan resminya agar tetap bugar selama masa skorsing dari Pelatnas. Namun Livia tahu, itu juga cara Rangga memberinya ruang sekaligus memastikan ia tetap berada dalam “sangkar emas” yang aman dari dunia luar.
Hari ini, gangguan tak datang dengan mengetuk pintu. Ia menyelinap lewat sinyal digital.
Ponsel Livia bergetar. Nomor lama yang sudah diblokir berkali-kali, tapi entah bagaimana selalu menemukan cara menembus.
Mateo: Liv. Gue tahu lo lagi di apartemen si pangeran suci itu. Buka pintu dong. Gue di lobi bawah. Cuma 10 menit. Gue kangen.
Jantung Livia berdegup kencang—bukan karena rindu manis, melainkan memori pahit yang kembali mengalir. Mateo adalah cinta pertamanya. Pria yang membuatnya merasa benar-benar hidup sebagai perempuan, bukan sekadar mesin pencetak medali bulu tangkis. Mateo yang mengajaknya menikmati malam-malam tanpa aturan, memberinya rasa bebas dari tekanan keluarga Liang—sesuatu yang belum pernah diberikan Rangga sepenuhnya, dengan segala disiplin dan kendalinya.
Livia: Kamu gila, ya? Kamu lagi tahanan kota. Sekuriti pasti tidak mengizinkan.
Mateo: Sudah gue urus. Gue bilang mau minta maaf resmi. 5 menit saja, Liv. Gue bawa kopi susu favorit lo dari dulu. Ingat tidak? Yang kita minum setelah lo menang turnamen junior, terus kita kabur ke apartemen gue...
Livia menelan ludah. Ingatan itu menghantamnya seperti smash keras di depan net: janji manis tentang kebebasan, malam-malam penuh gairah, dan rasa “hidup” yang dulu begitu ia rindukan.
Ini jebakan, batin Livia. Tapi dalam permainan catur ini, jebakan bisa dibalik menjadi senjata.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan tombol interkom lobi. “Izinkan dia naik. Sepuluh menit saja.”