Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Perlu waktu lebih dari tiga puluh menit untuk Viola dan Vita selesai bersiap-siap. Sera menunggu dengan duduk di ruang tamu sambil menikmati pisang goreng buatan mamanya Viola dan segelas teh manis.
Ponsel di tangan Sera bergetar begitu ada pesan masuk. Dari Rasta, pria yang sudah dua kali ini merepotkan dirinya
Rasta : Ser, berhasil nggak? Lo bisa bawa Viola sama Vita ke taman?
Sera segera mengetik balasan untuknya.
Sera : Sabar, Ta. Viola sama Vita lagi siap-siap.
Rasta : Gue udah stand by di taman.
Sera : excited banget lo.
Dan selanjutnya, Rasta tidak mengirim balasan lagi. Sera mengedikkan bahunya acuh tak acuh, karena dia belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi antara Rasta dan Viola. Sera tahu, mereka dulunya sepasang suami-istri yang sudah bercerai. Bahkan kabar perceraian mereka dulu, sempat mengejutkan Sera.
Namun, Sera tidak paham secara pasti alasan yang membuat sepasang kekasih itu berpisah. Entah siapa yang salah, kenapa Rasta tidak berani menemui Vita langsung jika ingin bertemu dengannya. kemarin Rasta menyuruhnya untuk mengambil rambut Vita yang katanya akan digunakan sebagai sampel tes DNA. Apa Rasta meragukan darah dagingnya sendiri?
Padahal muka Vita mirip sekali dengan Rasta.
"Ser, sorry ya lo harus nunggu lama," ucap Viola saat ia menggandeng Vita ke depan, merasa tidak enak hati karena sudah membuat Sera menunggunya terlalu lama. Sera pasti jenuh.
"Nggak apa-apa, Vi, santai aja. Gue kebetulan juga baru selesai kok umrohnya," jawab Sera bergurau. Viola tergelak.
"Lumayan juga ya? Btw bawa oleh-oleh nggak nih?" balas Viola.
"Duh, sorry nih. Oleh-olehnya ketinggalan di pesawat. Baru aja pesawatnya naik lagi setelah gue turun," sahut Sera, semakin ngalor ngidul obrolan mereka.
"Hahahahaha." Mereka kompak terbahak.
"Udah siap, kan? Berangkat sekarang yuk?" ajak Sera setelah ia puas tertawa.
"Yuk."
Sera datang naik mobil, maka mereka bertiga akan menggunakan mobil Sera untuk pergi ke taman. Jarang-jarang Vita bisa naik mobil seperti ini, anak itu sangat girang meskipun duduk sendirian di belakang.
"Mama, beli mobil juga dong," pintanya ngasal. "Biar Vita bisa naik mobil terus setiap hari."
"Kamu nih. Minta mobil udah kayak minta dibeliin boneka aja. Dikira harga mobil sama kayak harga boneka?" Viola menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kan mama kerja terus, masa uangnya gak cukup buat beli mobil?" celetuk Vita.
Viola dan Sera saling lirik, lalu tersenyum. Anak kecil memang sering asal bunyi kalau bicara. Bikin geli sekaligus kesal.
"Minta aja sama ayah kamu, pasti dibeliin. Ayah kan banyak uang," cetus Sera. Mendengar itu, Viola memperingati Sera dengan mendelikkan matanya.
"Apa tante kenal sama papa aku?" tanya Vita, mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya seolah sangat menantikan jawaban Sera.
Sera menyadari ia telah salah bicara begitu melihat kode yang dikirim Viola.
"Engg.... " sekarang ia bingung harus menjawab apa. Saling lirik dengan Viola pun percuma.
"Vit, udah sampai di taman nih. Turun yuk? Beli jajan," ajak Viola pada akhirnya mengalihkan pembicaraan.
"Tapi, Ma .... " Vita ingin memprotes, tetapi Viola dan Sera sudah turun lebih dulu. Viola membuka pintu belakang, lekas mengajak Vita turun dan berjalan keliling taman. Menawarkan apa saja jajanan dari pedagang di sekitar taman, supaya Vita lupa pertanyaan tentang ayahnya.
Sayangnya, usaha Viola terlihat percuma, karena Vita masih saja merengek, menanyakan tentang ayahnya.
"Beneran yang dibilang sama Tante Sera, kalau ayah itu banyak uang? Bisa beli mobil? kalau gitu, ayah juga bisa dong bayarin sekolahnya Vita biar mama bisa di rumah aja," katanya.
Viola dan Sera sampai terheran-heran, anak ini baru berusia empat menjelang lima tahun, tetapi pikirannya sudah terlampau jauh, meskipun bahasa yang ia gunakan untuk menyampaikan masih dibilang berantakan.
Sera melihat ada seorang badut yang tiba-tiba mendekat, ia mencoba mengalihkan perhatian Vita kepada badut itu.
"Vita, lihat deh. Ada badut. Kamu mau foto bareng nggak?" tawar Sera. Fokus Vita teralihkan. Ia melihat badut yang sedang yang mendekatinya.
Dari dalam kostum badut, Rasta dapat melihat Vita dengan jelas. Rasta rela menahan rasa pengap dan panas demi bisa lebih dekat dengan anak itu. Namun semua ketidaknyamanan itu terbayarkan dengan senyum rekah di bibir Vita, gadis kecil dengan dress kuning bermotif bunga matahari.
Betapa bodohnya Rasta yang sudah menyia-nyiakan anak secantik Vita. Entah akan semenyesal apa dirinya jika dipertemukan dengan Vita lebih lama dari empat tahun setelah kelahirannya.
Meski hasil tes DNA belum keluar, namun Rasta yakin Vita adalah anak kandungnya.
Beruntung, Vita bukan anak yang penakut. Dia tanpa keberatan bersalaman dengan badut itu, bahkan foto bersama dan membiarkan si badut memeluknya. Sera yang mengambil foto mereka.
"Vi, duduk aja yuk?" ajak Sera. Viola setuju. Kedua perempuan yang usianya sebaya itu, memilih untuk duduk di salah satu bangku tamat. Membiarkan Vita bermain dengan badut itu sambil tetap mengawasinya.
"Kamu tau nggak siapa badut itu?" bisik Sera.
Viola mengernyit. "Siapa emangnya? Kamu kenal orangnya?"
Sera mengangguk. "Itu Rasta."
Viola membelalakkan matanya, terkejut. "Rasta?"
"Iya. Dia yang minta gue buat ngajak lo sama Vita ke taman. Dia mau ketemu sama Vita."
Viola menatap Vita dan badut yang sedang bercanda, sesekali mereka joget bersama. Memikirkan Rasta yang rela memakai kostum badut demi berdekatan dengan Vita, rasanya sulit dipercaya.
"Sebenarnya lo sama Rasta itu kenapa? Rasta nggak tau atau enggak percaya kalau Vita itu anaknya? Kenapa dia harus sembunyi-sembunyi mau ketemu sama Vita?"
"Tadinya gitu," jawab Viola. Tatapannya tetap lurus ke depan, terpaku pada Vita dan Rasta. "Dia pikir Vita anak gue sama cowok lain sebelum dia liat wajah Vita secara langsung."
"Kenapa bisa gitu? Kenapa dia sampai berpikir kalau Vita itu bukan anaknya?" cecar Sera. Sekarang ia paham, mengapa Rasta membutuhkan rambut Vita.
Viola diam sesaat sebelum menjawab, "Dia nuduh gue selingkuh. Ada yang ngirim foto gue lagi tidur sama cowok lain, entah siapa. Itu yang bikin gue pisah sama dia lima tahun yang lalu."
Sera ternganga, "Gue baru tau. Gue pikir kalian cerai karena udah nggak cocok kayak yang dibilang Rasta."
Entah, Viola mengangkat kedua bahunya.
"Tapi lo nggak selingkuh, kan, Vi?"
"Gue mending mati daripada selingkuhin Rasta, Ser."
Sera mengangguk, menaruh kepercayaan terhadap Viola. Yang tidak habis dia pikirkan adalah, mengapa Rasta bisa kemakan oleh foto yang bisa saja direkayasa?
"Dasar Rasta. Dia emang nggak bisa berpikir jernih kalau lagi emosi."
Viola tersenyum tipis, mengangguk. Rasta memang seperti itu. Gampang tersulut oleh emosinya sendiri.
Di sisi lain, Rasta akhirnya berani membuka penutup kepalanya setelah lama bermain dengan Vita. Ia rasa Vita tidak akan menghindar jika melihat dirinya.
"Lho? Om? Om kan yang waktu itu datang ke rumah?" tanya Vita begitu melihat wajah Rasta.
"Kamu masih ingat?" Rasta tak sangka Vita masih mengingat wajahnya.
Viola mengangguk tanpa ragu. "Bahkan kita pernah nggak sengaja ketemu di depan minimarket," kata Vita lagi.
Dan di pertemuan pertama mereka, Vita juga masih mengingatnya.
"Om kenapa jadi badut?"
Rasta tidak menjawab. Ia malah sedang memikirkan panggilan yang Vita sematkan untuk dirinya. Om? Seharusnya Rasta dipanggil ayah bukan?
Hal sekecil itu, sesepele panggilan ternyata berhasil mencubit hati Rasta.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu