Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Tidak ada yang berubah dari isi ruangan apartemen Cyan seperti semula. Sofa abu-abu dengan bagian kulit sedikit mengelupas, rak berisi buku-buku yang kini menjadi pajangan daripada benar-benar dibaca, pun karpet pink muda yang kadang menjadi tempatnya bekerja.
Dan malam itu, seolah mengubah segalanya. Cyan yang biasa menyetel musik di TV android, berteman sepi dan secangkir kopi, mendadak gagu setengah mati. Pria yang ia bawa masih ada di sana, duduk di ujung sofa dengan bahu menegang.
Magenta yang terkenal aktif dan suka bicara pun mendadak bisu. Ia menjaga dirinya agar tidak melakukan sesuatu yang salah di hadapan orang tua Cyan. Bahkan sekadar senyum pun ia terlalu berhati-hati, takut berlebihan dan ayah ibu Cyan mengira tidak-tidak.
Sementara itu, Cyan anteng duduk di sampingnya. Sesekali meraba jantung yang berdetak lebih cepat, tetapi menjaga ekspresi tenangnya seolah tidak ada apa-apa di antara mereka.
Wanita paruh baya itu duduk berhadapan dengan mereka. Senyum ramah dengan tatapan tajam yang nyata, membuat Magenta terlalu awas untuk mengabaikan. Ia menatap Cyan dan Magenta bergantian, seolah mengamati hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.
Ayah Cyan berdiri di dekat dapur, pura-pura menuang air padahal gelasnya sudah hampir penuh. Sesekali melirik ke arah mereka, menunggu saat yang tepat untuk membuka suara.
“Jadi, kalian kerja satu kantor, ya?” tanya ibu Cyan penasaran.
“Iya, Bu,” jawab Magenta santun. Ia menatap Cyan, seolah meminta persetujuan.
“Kebetulan juga, kita satu divisi.”
“Kebetulan banget, dong kalau gitu. Sebenarnya enak juga kalau sekantor, bisa pulang bareng, istirahat bareng, kerja bareng juga, ya.”
“Iya, Bu. Kita berdua mah udah sering ngelakuin semua hal bersama, jadi nggak canggung juga,” balas Magenta tersenyum kuda.
Cyan menoleh panik, ia menyenggol bahu Magenta. Sontak pria itu mengedikkan bahu dan menaikkan sebelah alisnya.
“Kenapa?” bisik Magenta.
“Jangan terlalu banyak improvisasi, tolong ....”
Magenta tertawa renyah, sementara Cyan memicing benci.
***
Obrolan kembali mengalir pelan. Tentang pekerjaan, cuaca Jakarta yang semakin panas, juga tentang apartemen yang katanya strategis. Magenta kadang menimpali, sekadar memberi celetukan agar suasana tetap hidup tanpa kecanggungan itu. Sesekali Cyan memukul pelan tanda menahan salah tingkah atau bersembunyi di balik tubuh Magenta karena takut pipinya yang merah itu ketahuan orang tuanya sendiri.
Padahal seharusnya tidak ada masalah. Yang katanya berhubungan sudah lama, agak aneh jika masih salah tingkah.
Hingga tawa yang mengisi obrolan itu mendadak terhenti karena Cyan tiba-tiba terbatuk cukup keras. Lumayan mengejutkan semua orang di sana. Ibu Cyan terkesiap karena khawatir, tetapi belum sempat siapa pun bereaksi. Magenta lebih dulu bergerak. Ia meraih gelas di meja, mengarahkan gelas air itu ke bibir Cyan tanpa melepas pegangannya.
“Minum pelan-pelan, sayang.”
Cyan refleks mencondongkan wajah, hingga akhirnya gelas menyentuh bibirnya. Magenta menahan gelas itu stabil, sementara tangan satunya terangkat, berada tepat di bawah gelas, memastikan tak setetes pun air jatuh ke baju Cyan.
Cyan meneguk sedikit, lalu berhenti.
“Gimana? Masih?” tanya Magenta memastikan.
“Enggak, udah gak batuk, makasih,” balas Cyan manggut-manggut.
Magenta meletakkan lagi gelas di meja, lalu menghela napas lega. Ia tidak sadar bahwa ibu Cyan tengah memperhatikan dengan sudut bibir terangkat sedikit. Ia mencatat adegan itu dalam hati, menjadi salah satu alasan kuat mengapa Cyan harus bersama dengan Magenta.
“Nduk, Bapak mau ajak Magenta ngobrol sebentar. Kamu sama Ibu duduk di sini dulu,” ucap pria paruh baya itu diikuti anggukan singkat dari anaknya.
Magenta berdiri, mengikuti ke mana sang ayah pergi. Mereka ke balkon apartemen, berdiri di bawah langit malam. Sementara di dalam masih ada Cyan dan ibunya. Wanita itu bersandar santai di sofa, menatap Cyan sangat dalam.
“Kamu nyaman sama dia, Nduk?” tanyanya to the point.
“Em ... Bu.”
“Ibu kenal sama kamu tuh bukan sehari dua hari. Ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkanmu. Ibu yang tau semua perkembanganmu sampai sebesar ini.” Ia memotong, memberi jeda sebentar karena matanya terasa hangat.
“Nduk, kalau yang Ibu lihat sejak tadi, dia perhatian banget sama kamu. Di jaman sekarang ini susah, lho cari cowok yang inisiatif begitu. Khawatir banget sama kamu. Gimana coba perasaan kamu, Nduk?”
“Ibu, aku ....” Lidahnya kelu, perasaannya campur aduk sekarang. Bingung bagaimana caranya menjelaskan.
“Santai saja. Yang penting kamu bahagia, Nduk. Jangan terlalu dipikirin semua ini, tapi lebih cepat ‘kan lebih baik. Sesuatu yang baik itu nggak baik terlalu lama ditunda.”
Betul memang, tapi kesiapan dari segala sisi juga harus diperhitungkan. Bukan karena ragu, justru karena terlalu yakin sehingga ia takut terjebak dalam perasaan fana tanpa penjelasan. Ia ingat bahwa semua ini berjalan karena skenario, bukan keinginan hati keduanya.
Masih ada kemungkinan terburuk meski hanya beberapa persen dan Cyan sangat peduli akan hal itu.
Sementara di balkon, ayah Cyan menatap pemandangan malam Jakarta yang terang oleh lampu gedung-gedung.
“Bagus banget cahaya malem ini,” ucapnya berbasa-basi.
“Iya, Pak.” Magenta menjawab sopan, tapi matanya tak lepas dari pemandangan gedung-gedung di depan.
“Kamu kelihatan nyaman banget sama anak saya. Saya juga senang melihat kamu bisa beradaptasi dengan baik, tanpa terlihat canggung sama sekali di hari pertama bertemu orang tua pacarmu.”
“Saya? Tentu saja, Pak,” balas Magenta tetap percaya diri meski sempat terdiam beberapa detik.
“Biasanya, orang yang baru ketemu apalagi kenal sama keluarga pasangan, pasti kelihatan canggung banget.”
“Mungkin karena saya sering mendengar cerita soal Bapak dan Ibu."
“Oh, ya?”
“Iya. Dari Cyan langsung.”
“Berarti kalian sudah cukup dekat, ya.” Ia menyimpulkan.
Magenta mengulas senyum. Senyumnya tak banyak kata, tapi seakan menjawab semuanya.
Beberapa saat kemudian, mereka kembali ke ruang tamu. Cyan dan Magenta kembali duduk berdampingan, tapi kali ini dengan jarak yang lebih dekat.
“Magenta,” panggil ibu Cyan.
“Iya, Bu?”
“Kalian pacaran sudah berapa lama?”
Hening, mendadak sunyi. Detik demi detik terasa berlalu panjang. Cyan menoleh panik, menatap Magenta seolah memaksanya segera menjawab apa adanya tanpa ketahuan. Paham bahwa Cyan cemas saat ini, Magenta langsung meraih tangan Cyan dan digenggam hangat.
“Belum terlalu lama, Bu,” jawabnya.
“Loh, kok bisa?”
“Emang kenapa, Bu?” Cyan refleks bertanya.
“Iya. Ibu gak percaya kalau baru pacaran. Kelihatan nyaman banget.”
“Syan emang cepat bikin aku nyaman, Bu,” ucapnya sambil tertawa kecil, meredakan suasana agar tidak terlalu canggung.
“Begitu, ya?” Ibunya tertawa renyah, bangga menatap putrinya yang berhasil mendapat pria sebaik
***
Tak terasa obrolan ringan yang mengalir itu mempercepat waktu. Saat jam menunjukkan pukul 9 lewat, Magenta berdiri, bersiap pulang. Rasanya tidak sopan berlama-lama di rumah perempuan.
“Saya pamit dulu, Bu, Pak.”
“Hati-hati di jalan, ya, Nak.” Ibu Cyan tersenyum sambil menepuk bahunya pelan.
“Lain kali main ke kampung, ya. Nanti ketemu sama bude sama pakdenya Cyan.”
“Dengan senang hati, Pak.”
Di depan pintu sebelum keluar, Magenta menoleh ke arah Cyan, membuat gadis itu menghentikan langkah tiba-tiba hampir menabrak.
“Kamu nggak perlu nganter.”
“Nggak. Aku mau ikut sampai lobby.”
”Hehe… belom pergi loh aku Syan, kamu masa udah kangen aja?”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣