"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 35
Dua minggu setelah penangkapan Bayu, kehidupan di mansion Barata mulai menemukan ritme barunya. Seno dan Indira semakin dekat, perusahaan perlahan pulih, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, suasana rumah terasa hangat.
Tapi ada satu orang yang masih terjebak dalam kegelapannya sendiri.
Rania.
Pagi itu, Rania duduk sendirian di taman belakang mansion. Secangkir teh di tangannya sudah dingin, tidak tersentuh sama sekali. Matanya menatap kosong ke hamparan bunga mawar yang bermekaran--bunga yang dulu ditanam Ryan untuknya di tahun pertama pernikahan mereka.
Sekarang, bunga-bunga itu terasa seperti pengingat pahit tentang kebohongan Ryan selama inij.
"Kak?"
Suara Indira memecah lamunannya. Rania menoleh, memaksakan senyum.
"Indira. Pagi."
Indira duduk di sampingnya, menatap wajah Rania dengan khawatir. "Kakak tidak sarapan lagi. Ini sudah tiga hari berturut-turut."
Rania menggeleng pelan. "Aku tidak lapar."
"Kakak..." Indira menggenggam tangan Rania. "Aku tahu ini berat. Tapi Kakak harus jaga kesehatan. Kalau Kakak sakit, Seno akan khawatir. Nenek juga."
Rania tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca. "Aku tahu. Maaf ya, sudah bikin kalian khawatir."
"Kakak mau cerita?" tanya Indira lembut. "Mungkin akan lebih ringan kalau Kakak keluarkan."
Rania terdiam lama. Lalu perlahan, air matanya mulai jatuh.
"Aku... aku sudah tidak kuat lagi, Indira," bisiknya dengan suara bergetar. "Setiap hari aku bangun dengan rasa sakit. Setiap kali aku ingat Ryan, aku ingat semua pengkhianatannya, semua kekerasan yang dia lakukan... aku merasa mati sedikit demi sedikit."
Indira memeluk Rania dengan erat. "Kalau begitu... mungkin sudah saatnya Kakak melepaskan."
Rania mengangkat wajahnya, menatap Indira dengan mata basah. "Maksudmu?"
"Cerai," ucap Indira dengan tegas. "Kakak harus cerai dari Ryan. Kakak tidak boleh terus menderita seperti ini."
Rania menggeleng lemah. "Tapi... aku sudah enam tahun dengan dia. Enam tahun, Indira. Bagaimana aku bisa begitu saja membuang semua itu?"
"Itu bukan membuang, Kak," Indira mengusap air mata Rania. "Itu menyelamatkan diri sendiri. Dan enam tahun yang Kakak korbankan itu bukan alasan untuk bertahan dalam pernikahan yang menyakitkan."
Rania terdiam, kata-kata Indira menohok tepat di hatinya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sore harinya, Rania memberanikan diri untuk menemui Ryan. Pria itu masih tinggal di apartemen kecil yang disewakan oleh perusahaan Barata--fasilitas terakhir yang masih dia terima sebelum benar-benar diputus kontrak kerjanya.
Rania mengetuk pintu dengan tangan gemetar. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Ryan berdiri di sana dengan pakaian santai yang kusut, wajahnya terlihat lelah dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.
"Rania?" Ryan terkejut. "Kamu... kenapa kesini?"
"Kita perlu bicara," ucap Rania dengan suara yang berusaha ia buat tenang.
Ryan membuka pintu lebih lebar, membiarkan Rania masuk. Apartemen itu kecil dan berantakan--beda jauh dengan mansion tempat mereka biasa tinggal. Ada botol-botol bir kosong di meja, baju berserakan di sofa.
"Maaf berantakan," kata Ryan sambil bergegas membereskan sedikit. "Aku tidak menyangka kamu akan datang."
Rania tidak menjawab. Dia tetap berdiri di dekat pintu, tidak berniat duduk.
"Aku kesini untuk memberitahu sesuatu," ucap Rania dengan suara yang mulai bergetar. "Aku... aku ingin kita cerai."
Ryan membeku. Botol bir yang baru dia angkat jatuh dari tangannya, pecah berantakan di lantai. Tapi dia tidak peduli.
"Apa?" bisiknya dengan suara serak.
"Aku ingin cerai," ulang Rania lebih tegas kali ini, meski air matanya sudah menggenang. "Aku sudah tidak kuat lagi, Ryan. Aku sudah tidak sanggup."
Ryan melangkah mendekat, wajahnya pucat. "Ran, tunggu. Kita bisa bicarakan ini. Kita--"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," potong Rania dengan suara keras--untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berbicara dengan nada seteguh itu pada Ryan. "Kamu selingkuh. Kamu mengkhianatiku. Kamu bahkan... kamu bahkan pernah memukul aku."
Ryan tersentak. "Aku... aku minta maaf untuk itu. Aku--"
"Minta maaf?" Rania tertawa pahit, air matanya mengalir deras. "Berapa kali kamu minta maaf, Ryan? Berapa kali kamu janji akan berubah? Tapi kamu tidak pernah berubah! Kamu tidak pernah!"
Ryan mencoba meraih tangan Rania, tapi Rania mundur.
"Jangan sentuh aku," desis Rania. "Jangan pernah sentuh aku lagi."
Ryan terdiam, tangannya terkepal di sisi tubuh. "Ran... aku tahu aku salah. Aku tahu aku brengsek. Tapi kumohon... jangan tinggalkan aku. Aku janji akan berubah. Aku--"
"Aku sudah dengar janji itu ratusan kali!" bentak Rania, suaranya pecah. "Dan setiap kali, kamu mengkhianatiku lagi! Setiap kali!"
Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Aku sudah putuskan, Ryan. Pengacara ku akan mengirimkan surat cerai minggu depan. Dan aku harap... kamu tidak akan mempersulit prosesnya."
Ryan menggeleng keras, wajahnya merah. "Tidak. Aku tidak akan setuju. Kamu istriku, Ran. Kamu--"
"Aku bukan istrimu lagi," potong Rania dengan nada final. "Mulai hari ini, aku bukan siapa-siapamu."
Rania berbalik, berjalan menuju pintu. Tapi sebelum dia sempat membukanya, Ryan sudah menarik lengannya kasar, memaksanya berbalik.
"Kamu pikir kamu bisa begitu saja pergi?!" bentak Ryan, matanya menyala marah. "Setelah semua yang sudah aku kasih ke keluargamu?!"
Rania menatapnya dengan mata dingin. "Kamu tidak kasih apa-apa. Keluarga ku yang kasih kamu segalanya. Pekerjaan, uang, status. Dan kamu? Kamu cuma kasih luka."
Ryan mengangkat tangannya--gerakan refleks yang sudah terlalu sering dia lakukan. Tapi kali ini, Rania tidak takut.
"Pukul aku," ucap Rania dengan nada menantang. "Pukul aku seperti yang biasa kamu lakukan. Biar aku punya bukti lebih banyak untuk mengajukan cerai."
Ryan terdiam, tangannya gemetar di udara. Dia bisa melihat sesuatu yang berbeda di mata Rania--tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi kepatuhan. Yang ada hanya kemarahan dan tekad.
Perlahan, Ryan menurunkan tangannya. Dia mundur selangkah, wajahnya runtuh.
"Ran... kumohon..." suaranya berubah menjadi isakan. "Jangan tinggalkan aku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kamu satu-satunya--"
"Itu bukan urusanku lagi," ucap Rania dengan nada datar, meski hatinya sedikit tersentuh melihat Ryan menangis. Tapi dia sudah terlalu lelah untuk peduli. "Kamu hancurkan hidupmu sendiri, Ryan. Bukan aku yang hancurkan."
Rania membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, dia bisa mendengar Ryan yang merosot ke lantai, menangis keras.
Tapi dia tidak berhenti. Dia terus berjalan, melangkah keluar dari apartemen itu, keluar dari kehidupan Ryan.
Untuk selamanya.
...----------------...
Ketika Rania sampai di mansion, kakinya hampir tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Dia berjalan sempoyongan masuk, dan langsung disambut oleh Seno yang baru turun dari tangga.
"Kak!" Seno langsung menghampiri, menopang tubuh Rania. "Kamu dari mana? Kenapa wajahmu pucat?"
Rania menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca. "Aku... aku sudah bilang ke Ryan. Aku minta cerai."
Seno terdiam sesaat, lalu memeluk kakaknya dengan erat. "Kakak hebat. Kakak sangat hebat."
Rania menangis di pelukan Seno--menangis dengan keras, melepaskan semua beban yang selama ini dia pendam. Indira yang mendengar tangisan itu langsung turun, ikut memeluk Rania dari samping.
Nyonya Athaya juga datang, mengusap punggung Rania dengan lembut. "Sudah, Nak. Menangislah sepuasnya. Setelah ini, kamu akan mulai hidup yang baru."
Rania mengangguk di antara tangisannya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia merasa... bebas.
Bebas dari belenggu pernikahan yang menyakitkan.
Bebas dari pengkhianatan yang terus berulang.
Bebas untuk menjadi dirinya sendiri lagi.
Dan meskipun sakitnya masih terasa, dia tahu dia sudah mengambil keputusan yang benar.
Keputusan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
******
panggil nya nama terus apa ga ganti mas ke ayang ke
semoga nanti ada seseorang yg bucin ke Rania