NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERASAAN TIDAK ENAK

Harvey melepaskan cengkeramannya di dagu Melisa, namun tangannya tidak menjauh. Ia justru membelai pipi Melisa dengan punggung jarinya, sebuah gerakan yang terlihat lembut namun terasa mengancam bagi Melisa.

"Kau tahu, Melisa..." suara Harvey rendah dan berat, "Melihatmu membelai rambutnya tadi... melihatmu bersandar di bahunya... itu membuatku sangat tidak nyaman."

Melisa mencoba mundur, namun punggungnya langsung membentur pintu apartemen yang sudah terkunci rapat. "Dia suamiku, Harvey! Apa yang kau harapkan? Aku mengabaikannya saat dia baru saja bangun dari maut?"

Wajah Harvey mengeras. Kilat amarah muncul di matanya yang gelap. Tanpa peringatan, ia menyentakkan kedua tangannya ke pintu, mengurung tubuh Melisa di antara kedua lengannya. Ia mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

"Di rumah sakit, dia mungkin suamimu. Tapi di apartemen ini, di bawah atapku, kau tidak boleh menyebut namanya. Kau tidak boleh memikirkannya," desis Harvey posesif.

Ia menarik kasar ikat rambut Melisa hingga rambut panjang wanita itu tergerai berantakan. Harvey menghirup aroma rambut Melisa dengan rakus, seolah ingin menghapus sisa-sisa aroma rumah sakit dan kehadiran Narendra dari tubuh wanita itu.

"Aku sudah memberikan segalanya untuknya. Dokter terbaik, fasilitas VIP, bahkan teman lamanya sebagai perawat agar dia tidak merasa bosan," Harvey tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Aku membayar kesembuhannya dengan harga yang sangat mahal. Jadi, jangan berani-berani memberikan tatapan cinta itu padanya saat aku sedang memperhatikanmu."

Melisa gemetar hebat. "Kau gila, Harvey. Kau sakit!"

"Aku memang gila," bisik Harvey di depan bibir Melisa. "Aku gila setiap kali memikirkan tangan pria lain menyentuh kulit yang sudah kubayar ini."

Tiba-tiba, ponsel Melisa di dalam tasnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Harvey dengan cepat merampas tas itu dan mengeluarkan ponselnya. Layarnya menyala, memperlihatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal—namun Melisa tahu itu pasti dari Narendra atau rumah sakit yang memberikan kabar tentang Narendra.

Tanpa membaca isinya, Harvey melempar ponsel itu ke atas sofa yang jauh dari jangkauan Melisa.

"Malam ini, tidak ada gangguan. Tidak ada kabar dari rumah sakit. Tidak ada Narendra," Harvey mencengkeram pinggang Melisa dan menariknya mendekat hingga tidak ada celah di antara mereka. "Kau bilang kau pengasuh bayi, bukan? Sekarang, buktikan seberapa penurutnya kau pada majikanmu."

Harvey menatap bibir Melisa dengan lapar, matanya menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan Melisa berpaling darinya barang sedetik pun malam ini. Ia ingin memastikan bahwa meskipun hati Melisa milik suaminya, setiap jengkal raga dan napas wanita itu adalah miliknya.

*

Di rumah sakit, suasana kamar VIP yang seharusnya tenang justru terasa tegang karena kegelisahan Narendra. Pria itu terus bergerak tidak tenang di ranjangnya, matanya terus melirik ke arah pintu dan jam dinding.

"Ta, tolong hubungi Melisa lagi," pinta Narendra dengan suara yang mulai serak karena terus memanggil istrinya. "Perasaanku tidak enak. Biasanya dia langsung memberi kabar kalau sudah sampai di tempat kerjanya."

Arneta yang sedang merapikan botol infus hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ia sudah mencoba menelepon nomor Melisa berkali-kali sejak satu jam yang lalu, namun hasilnya tetap sama.

"Mas, mungkin Mbak Melisa sedang sibuk," ujar Arneta berusaha menenangkan, meskipun hatinya sendiri mulai ragu. "Tadi kan Mas dengar sendiri, dia baru saja mulai bekerja sebagai pengasuh bayi. Mungkin dia dilarang menggunakan ponsel saat sedang bertugas menjaga bayi yang sedang tidur."

Narendra menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Melisa tidak pernah mematikan ponselnya, apalagi dalam kondisi aku baru siuman seperti ini. Dia tahu aku membutuhkannya. Tolong, Ta... coba sekali lagi. Atau kirim pesan, tanyakan di mana alamat tempat kerjanya. Aku takut terjadi sesuatu padanya di jalan."

Arneta menghela napas panjang dan kembali menekan tombol panggil di ponselnya. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

"Masih tidak aktif, Mas," lapor Arneta dengan wajah prihatin.

Wajah Narendra yang pucat kini tampak semakin tegang. "Ini aneh... sangat aneh. Dokter Harvey tadi juga pergi begitu saja setelah membanting pintu. Apa rumah sakit ini punya nomor darurat atau alamat karyawannya? Melisa bilang dia bekerja dengan orang yang juga bekerja di rumah sakit ini, kan?"

Arneta terdiam. Ia teringat perintah Dokter Harvey yang sangat posesif terhadap informasi terkait Melisa. Ia ingin membantu teman lamanya ini, namun ia juga takut akan ancaman Harvey yang bisa mengakhiri kariernya dalam sekejap.

"Aku akan coba tanya ke bagian administrasi besok pagi ya, Mas," bohong Arneta demi menenangkan Narendra yang napasnya mulai terlihat memburu karena panik. "Sekarang Mas istirahat dulu. Kalau Mas stres, kondisi Mas bisa drop lagi dan itu malah akan membuat Mbak Melisa makin sedih kalau dia datang besok."

Narendra terpaksa mengangguk, namun matanya tetap terbuka lebar, menatap gelapnya langit malam dari balik jendela kamar VIP. Ia tidak tahu bahwa saat ini, istrinya sedang terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci.

Melihat kegelisahan Narendra yang mulai mempengaruhi detak jantungnya di monitor, Arneta segera duduk di kursi samping ranjang. Ia meletakkan ponselnya dan mengambil tangan Narendra, menggenggamnya seperti layaknya sahabat lama.

"Mas, sudah... jangan dipikirkan terus. Ingat tidak dulu di kampung?" Arneta memulai dengan suara yang lembut dan tenang, mencoba mengalihkan perhatian Narendra dari rasa cemasnya.

Narendra menoleh sedikit, napasnya yang tadi memburu perlahan mulai teratur mendengar nada bicara Arneta yang familiar. "Apa?"

"Ingat tidak waktu kita nekat mencuri mangga di kebun Pak Haji? Terus kamu yang tertangkap karena lari paling lambat, sementara aku sudah sembunyi di balik pohon jati?" Arneta terkekeh kecil. "Waktu itu kamu menangis bukan karena takut dipukul, tapi karena takut mangganya disita padahal kita belum sempat mencicipinya."

Senyum tipis akhirnya muncul di bibir pucat Narendra. "Kamu memang licik sejak dulu, Ta. Kamu yang punya ide, tapi aku yang kena batunya."

"Nah, itu dia! Makanya sekarang kamu harus jadi Narendra yang dulu. Kamu itu kuat, Mas. Ingat waktu kamu nekat merantau ke Jakarta hanya dengan modal ijazah dan satu tas baju? Kamu bilang padaku di stasiun kalau kamu akan menaklukkan kota ini," lanjut Arneta, matanya berbinar mengenang masa lalu.

Arneta terus bercerita, mulai dari masa-masa mereka bermain di sungai, hingga cita-cita masa kecil mereka yang sederhana. Ia bercerita dengan sangat detail, menciptakan gambaran kedamaian yang sangat kontras dengan situasi mencekam yang sedang mereka hadapi sekarang.

"Kamu harus cepat sembuh, Mas. Nanti kalau sudah sehat, kita ajak Mbak Melisa pulang kampung sebentar. Kita makan soto langganan kita di depan pasar. Mbak Melisa pasti suka," bisik Arneta sambil mengusap punggung tangan Narendra.

Perlahan, kelopak mata Narendra mulai terasa berat. Kelelahan fisik setelah koma panjang ditambah kenyamanan mendengar cerita masa kecil yang akrab membuatnya tak kuasa menahan kantuk. Ketegangan di wajahnya berangsur hilang, digantikan oleh napas yang dalam dan teratur.

Arneta terus berbisik hingga ia yakin Narendra benar-benar telah terlelap. Begitu pria itu tertidur, senyum di wajah Arneta perlahan memudar. Ia menatap Narendra dengan rasa iba yang mendalam.

"Maafkan aku, Mas... aku terpaksa berbohong padamu," gumam Arneta lirih. "Ada sesuatu yang sangat tidak beres di sini, dan aku tidak tahu apakah aku bisa menolongmu tanpa membahayakan kita berdua."

Arneta bangkit, merapikan selimut Narendra, lalu berjalan menuju jendela. Ia menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkilau, bertanya-tanya di mana Melisa berada saat ini dan apa yang sedang dilakukan Dokter Harvey kepadanya.

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!