Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. MENUNGGU KEJELASAN DI BALIK KEPENUHAN PERJUANGAN
Setelah memberikan sampel darah untuk tes DNA di Rumah Sakit Umum Pusat Bandung, Ridwan merasa bahwa beban yang telah menekannya selama bertahun-tahun sedikit berkurang. Meskipun hasil tes masih perlu waktu untuk keluar, kesadaran bahwa dia akhirnya telah menemukan keluarga darahnya dan akan segera mendapatkan konfirmasi hukum tentang identitasnya membuat hatinya penuh dengan harapan dan semangat yang tak terlukiskan. Namun, dia tidak memilih untuk berdiam diri dan menunggu saja—dia tahu bahwa semakin banyak bukti yang dia kumpulkan, semakin kuat posisi mereka dalam menghadapi proses hukum yang akan datang.
Pada hari berikutnya, Ridwan kembali ke perusahaan dengan izin khusus dari polisi yang sedang melakukan penyelidikan di gedung PT. Dewi Santoso. Budi, Ratna, dan Rio telah melakukan penyelundupan sementara setelah mengetahui bahwa polisi telah memiliki bukti yang kuat terhadap mereka, sehingga gedung terasa lebih tenang dan kondusif untuk bekerja. Bersama dengan Mira dan Siti, Ridwan memasuki ruang arsip utama yang kini telah dikelola oleh pihak berwenang untuk mengumpulkan lebih banyak dokumen penting yang bisa memperkuat kasus mereka.
“Saya merasa ada banyak dokumen lain yang tersembunyi di sini,” ujar Ridwan sambil melihat sekeliling rak-rak tinggi yang penuh dengan kotak arsip. “Ibu saya selalu sangat teliti dalam mencatat setiap langkah pengembangan perusahaan dan setiap transaksi penting. Pasti ada lebih banyak bukti tentang bagaimana mereka menguasai perusahaan secara ilegal.”
Mira mengangguk dengan setuju, sambil membuka salah satu kotak berlabel “ARSIP MANAJEMEN 2017-2018”—periode waktu ketika Dewi mulai sakit dan akhirnya wafat. “Saya menemukan beberapa surat antara Budi dengan beberapa pengusaha besar di luar negeri saat itu,” katanya dengan suara yang penuh dengan ketelitian. “Mereka sudah merencanakan penjualan sebagian besar saham perusahaan jauh sebelum Bu Dewi wafat. Seolah mereka sudah tahu bahwa dia tidak akan lama hidup.”
Siti yang sedang memeriksa sistem komputer di ruang arsip juga menemukan hal yang mengkhawatirkan. “Sistem keuangan perusahaan telah dimanipulasi secara besar-besaran sejak tahun 2017,” ujarnya sambil menunjuk ke layar monitor. “Banyak transaksi yang dicatat dengan nilai yang berbeda antara buku besar perusahaan dan bukti pembayaran yang sebenarnya. Dana yang hilang diperkirakan mencapai puluhan milyar rupiah dan semuanya dialihkan ke rekening pribadi yang terdaftar atas nama orang-orang yang tidak dikenal.”
Ridwan mendekati meja di mana Siti bekerja, melihat data yang ditampilkan di layar dengan ekspresi yang penuh dengan kemarahan dan tekad. “Mereka tidak hanya membunuh ibu saya dan mencuri hak saya,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Mereka juga telah merusak nama baik perusahaan yang dibangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun dan mengeksploitasi kepercayaan masyarakat yang telah diberikan kepada produk-produk ibu saya.”
Selama beberapa hari berikutnya, Ridwan bersama timnya bekerja tanpa lelah untuk mengumpulkan dan mengklasifikasikan setiap dokumen yang ditemukan. Mereka menemukan surat-surat yang menunjukkan bahwa Ratna telah membayar beberapa anggota dewan komisaris untuk menyetujui perubahan kepemilikan perusahaan, serta bukti bahwa Rio telah menggunakan kekuasaan keluarganya untuk menekan karyawan yang tidak setuju dengan kebijakan mereka. Ada juga catatan rinci tentang bagaimana mereka mengubah resep obat tradisional asli milik Dewi dengan mengganti bahan-bahan penting dengan yang lebih murah namun kurang efektif, hanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
“Saya tidak bisa percaya bahwa mereka bisa melakukan hal seperti itu terhadap produk yang telah menjadi warisan keluarga,” ujar Siti dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Kakak Dewi selalu mengatakan bahwa kualitas produk adalah yang paling penting, karena setiap obat yang kita jual akan digunakan oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan.”
Ridwan menyentuh buku catatan pengembangan produk milik ibunya yang ditemukan di salah satu kotak arsip. Di halaman depan buku tersebut, terdapat tulisan tangan Dewi yang masih jelas terbaca:
“Setiap produk yang kita hasilkan adalah cerminan dari rasa cinta dan perhatian kita terhadap kesehatan masyarakat. Jangan pernah mengorbankan kualitas demi keuntungan, karena nama kita akan selalu terikat dengan setiap obat yang keluar dari pabrik kita.”
Air mata mulai menggenang di mata Ridwan saat membaca tulisan tersebut. Dia merasakan betapa besar dedikasi ibu nya terhadap pekerjaannya dan betapa menyakitkannya melihat bahwa semua itu telah dihancurkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. “Saya akan memastikan bahwa produk-produk asli ibu saya akan kembali diproduksi dengan standar kualitas yang sama seperti yang dia tetapkan,” janjinya dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Kita akan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan dan nama ibu saya.”
Selain mengumpulkan bukti tentang pencurian dan manipulasi perusahaan, Ridwan juga bekerja sama dengan Pak Sudarto dan beberapa petugas keamanan lama yang setia kepada Dewi untuk mengumpulkan kesaksian dari karyawan perusahaan. Banyak karyawan yang awalnya takut untuk berbicara akhirnya merasa aman untuk memberikan informasi setelah mengetahui bahwa Ridwan adalah anak Dewi dan bahwa pihak berwenang telah terlibat.
“Saya bekerja di pabrik produksi sejak tahun 2015,” ujar salah satu karyawan lama bernama Pak Slamet saat memberikan kesaksian kepada tim pengacara. “Saat Bu Dewi masih hidup, dia selalu datang ke pabrik setiap minggu untuk memeriksa kualitas bahan baku dan proses produksi. Tapi setelah dia wafat, semua itu berubah. Bapak Budi dan Ibu Ratna hanya peduli dengan berapa banyak produk yang bisa dihasilkan dan berapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh. Mereka bahkan menyuruh kita untuk menggunakan bahan baku yang tidak memenuhi standar jika itu bisa menghemat biaya.”
Kesaksian serupa datang dari berbagai departemen perusahaan—dari departemen riset dan pengembangan yang mengatakan bahwa mereka dilarang untuk mengembangkan produk baru berdasarkan resep tradisional milik Dewi, hingga departemen pemasaran yang mengatakan bahwa mereka diperintahkan untuk menghapus semua referensi tentang Dewi sebagai pendiri perusahaan dalam materi promosi.
Selama menunggu hasil tes DNA, Ridwan juga menggunakan waktu luangnya untuk bertemu dengan Kakek Sembilan yang telah datang ke Bandung setelah mendengar kabar bahwa Ridwan telah menemukan keluarga nya. Mereka bertemu di kedai kopi kecil yang pernah mereka kunjungi bersama sebelum Ridwan pergi ke hutan delapan tahun yang lalu.
“Anakku, aku selalu tahu bahwa kamu akan menemukan jalanmu kembali ke keluarga mu,” ujar Kakek Sembilan dengan senyum hangat sambil memegang tangan Ridwan. “Semua yang aku ajarkan padamu—baik tentang pengobatan tradisional maupun tentang cara hidup yang benar—telah membantumu menjadi orang yang kuat dan penuh dengan nilai-nilai baik.”
“Tanpa bimbingan dan perawatanmu, Kakek,” jawab Ridwan dengan suara yang penuh dengan rasa syukur, “saya tidak akan bisa sampai sejauh ini. Kamu adalah orang kedua yang paling penting dalam hidup saya setelah ibu saya.”
Kakek Sembilan kemudian mengambil sebuah kotak kayu kecil dari tasnya dan memberikannya kepada Ridwan. “Ini adalah warisan dari nenekmu yang juga ahli pengobatan tradisional,” katanya dengan suara yang penuh dengan makna. “Di dalamnya terdapat resep-resep obat yang belum pernah kamu pelajari, serta catatan tentang ramuan-ramuan langka yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit sulit. Saya rasa saatnya kamu meneruskan warisan ini dan menggabungkannya dengan visi ibumu untuk perusahaan.”
Ridwan menerima kotak tersebut dengan hati-hati, merasa beratnya yang penuh dengan makna dan harapan. Dia tahu bahwa dengan ilmu yang dia dapatkan dari Kakek Sembilan dan warisan dari ibu serta neneknya, dia memiliki tanggung jawab besar untuk mengembangkan perusahaan menjadi yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
Pada hari kelima setelah tes DNA dilakukan, dokter dari rumah sakit menghubungi Pak Wijaya untuk memberitahu bahwa hasil tes telah keluar. Seluruh keluarga Wijaya, bersama dengan Mira dan tim pengacara, berkumpul di ruang tamu hotel untuk mendengar hasil yang akan menentukan masa depan Ridwan dan perusahaan.
“Setelah melakukan analisis menyeluruh terhadap materi genetik yang diambil dari Bapak Wijaya dan Ridwan,” ujar dokter melalui panggilan video konferensi, “kami dapat menyatakan dengan kepastian bahwa terdapat hubungan darah langsung antara keduanya. Ridwan adalah cucu kandung Bapak Wijaya dan anak kandung dari Dewi Wijaya.”
Suasana ruangan langsung menjadi penuh dengan kegembiraan dan air mata kebahagiaan. Pak Wijaya membawanya Ridwan ke dalam pelukan yang erat, sementara Siti dan Bu Sri menangis dengan bahagia. Mira yang berada di samping mereka juga merasa mata nya berkaca-kaca melihat momen kebersamaan keluarga yang telah lama terpisah.
“Ini adalah bukti hukum yang tak terbantahkan,” ujar salah satu pengacara dengan suara yang penuh dengan kegembiraan. “Sekarang kita bisa dengan tegas mengajukan klaim ahli waris serta mengajukan tuntutan hukum yang komprehensif terhadap Budi, Ratna, dan Rio beserta semua orang yang terlibat dalam kejahatan mereka.”
Ridwan berdiri dengan tegap, melihat ke arah semua orang yang telah mendukungnya dalam perjuangan ini. Dia tahu bahwa meskipun hasil tes DNA telah memberikan konfirmasi yang dia butuhkan, perjuangan untuk mendapatkan keadilan bagi ibu nya dan untuk mengembalikan perusahaan ke kejayaan semula masih belum selesai. Namun dengan bukti yang telah dia kumpulkan, dukungan keluarga dan teman-teman baru, serta kebenaran yang berada di pihaknya, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan dan keberanian yang dibutuhkan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.
Di bawah sinar matahari yang menerangi jendela ruangan dengan terang, Ridwan mengambil cincin warisan keluarga Wijaya yang dikenakan di jari kirinya dan melihatnya dengan penuh penghargaan. Dia berjanji dalam hati bahwa dia akan menjalankan tanggung jawabnya sebagai ahli waris sah perusahaan dengan sebaik-baiknya, melanjutkan warisan ibu nya dengan penuh rasa hormat, dan memastikan bahwa nama Dewi Wijaya akan selalu dikenang sebagai orang yang membawa kebaikan, harapan, dan kesehatan bagi banyak orang di seluruh negeri.