NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMBILAN BELAS

Mikhasa tertawa getir saat mengingat masa lalunya. Tawa yang terdengar ringan, tapi menyayat hatinya sendiri.

“Tidak apa-apa kalau mereka menginginkan uangku,” gumamnya pelan. “Bagaimanapun, aku cuma punya bibi di dunia ini.”

Meski ia tak sudi lagi menginjakkan kaki di rumah itu, setelah ulah pamannya dulu yang nyaris menghancurkan batas aman dalam hidupnya.

Namun Mikhasa tetap mengakui satu hal bahwa Bibinya adalah satu-satunya orang yang memberinya atap ketika ia tak punya siapa-siapa.

Ia menghembuskan napas panjang, lalu menepuk pipinya pelan. “Semangat, Mikha,” bisiknya pada diri sendiri. “Hasilkan uang yang lebih banyak lagi. Biar kamu bisa beli apa pun yang kamu inginkan.”

🍀🍀

Malam dan waktu yang sama. Di kediaman Axel.

Axel duduk sendirian di sofa kamarnya, memutar-mutar pena milik Mikhasa yang ia ambil tadi sore dari gadis itu.

Mikhasa … benar-benar unik. Kadang kesal, kadang patuh. Kadang meledak-ledak, kadang menatapnya dengan murka yang jujur tanpa topeng.

Di balik semua itu, Mikhasa memiliki wajah yang terlalu mirip dengan Liora.

“Apakah dia… wujud lain darimu, Liora?” gumam Axel pelan.

Jika pun tidak, ia tetap akan menjaga Mikhasa. Karena wajah itu… wajah yang serupa. Anggap saja ia sedang menjaga Liora. Anggap saja takdir memberinya kesempatan kedua.

Tentang perasaan… Axel tahu ia tidak mencintai Mikhasa. Tidak seperti dulu ia mencintai Liora.

Namun ia juga tahu satu hal, bahwa ia tidak ingin kehilangan Mikhasa. Tidak ingin melihatnya pergi dari hidupnya. Maka ia akan menjaganya. Dengan caranya sendiri.

“Liora…” bisiknya lagi. “Aku merindukanmu.”

Bagi Axel, Mikhasa hanyalah bayangan. Bayangan dari Liora, kekasihnya yang telah tiada, tapi belum pergi dari hatinya.

Ia menatap Mikhasa bukan sebagai diri gadis itu sendiri, melainkan sebagai sisa kenangan yang belum bisa ia lepaskan.

Ia menjaga Mikhasa bukan karena cinta, melainkan karena takut kehilangan Liora sekali lagi. Dan tanpa sadar, Axel mengurung seorang gadis hidup di dalam bayang-bayang perempuan yang telah tiada.

🍀🍀🍀

Pagi hari, saat alarm ponsel Mikhasa meraung nyaring, ia tersentak bangun.

“Oh, sudah pagi…” gumamnya serak.

Bahunya pegal, pinggangnya sakit karena ia tertidur di atas karpet, kepala menempel di tepi meja lesehan. Tablet masih menyala, buku catatan masih terbuka, dan pulpen hampir jatuh dari genggamannya.

Ia mengusap wajah, mengingat semalam ia begitu fokus mempelajari sistem kerja Axel sampai lupa pindah ke kasur.

Tanpa menunda, Mikhasa langsung mandi, merias diri sederhana, lalu mengenakan pakaian kantor. Rambut diikat rapi, wajah masih tampak lelah tapi penuh tekad.

Dua jam perjalanan menuju kantor. Lumayan untuk tidur sebentar di taksi, pikirnya.

Taksi melaju dengan tenang. Jalanan masih lenggang karena matahari baru merayap naik. Mikhasa menyandarkan kepala di jendela, kelopak matanya mulai berat tapi ponselnya bergetar keras.

Bibi menelpon. Mikhasa menutup mata sejenak, mengambil nafas dalam lalu menerima panggilan.

“Moana semalam telpon ke bibi,” suara bibinya langsung terdengar ketus, tanpa salam. “Katanya kamu nggak mau kasih dia uang saku, ya?”

Mikhasa mengusap kening. Sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

“Bi… minggu lalu aku udah kirim uang buat dia. Itu harusnya cukup untuk satu bulan.”

Sang bibi yang mudah tersinggung, mendesis marah. “Cukup bagaimana?! Kamu itu tahu sendiri Moana kuliah! Banyak kebutuhan!”

“Bibi,” Mikha bersuara lebih pelan tapi tegas, “Uang yang saya kirim itu buat kebutuhan penting. Bukan untuk diboroskan. Uang semester, buku dan kos-kosan sudah aku tanggung. Yang lain harus dia atur sendiri.”

Di seberang sana terdengar suara kursi diseret, lalu embusan napas bibinya yang berat.

“Kamu itu anak yatim piatu, Mikha,” katanya mulai dengan kalimat yang selalu ia ulang-ulang sejak Mikhasa kecil, “Kalau bukan karena kami, kamu jadi apa? Kami sudah membesarkanmu. Membiarkanmu hidup di rumah kami. Masa sekarang bantu Moana saja kamu perhitungan?”

Mikhasa menggigit bibir. Tapi ia memilih diam, menahan diri.

“Nanti bibi telpon lagi kalau kamu sudah sadar dan semoga kamu segera sadar. Sekarang kamu kirim uang jajan Moana.”

Klik. Sambungan terputus begitu saja. Mikhasa menatap layar ponselnya. Sakit hati? Ya. Terkejut? Tidak. Ia sudah terbiasa. Ia memejamkan mata, mencoba kembali tenang.

Dalam hati ia bergumam lirih, “Aku kerja mati-matian untuk mereka tapi masih dianggap kurang.”

Taksi terus melaju, meninggalkan suara bibinya yang terus terngiang di kepala, sementara hari baru saja dimulai.

Ponsel masih berada di tangan Mikhasa ketika kembali bergetar. Nada dering khas itu memenuhi ruang kecil taksi.

Mikhasa mengerjap, menurunkan pandangan ke layar.

“Tuan Axel."

Nama itu terpampang jelas. Mikhasa mendecak pelan sambil menengadah ke langit-langit mobil.

“Ya ampun… yang satu ini lagi,” gumamnya penuh kejengkelan. Seolah hari yang berat belum cukup menyiksanya, kini pria yang super memaksa itu ikut menelpon pagi-pagi begini.

Ia bisa membayangkan persis ekspresi Axel, alis terangkat, suara sok santai, memerintah sesuka hati.

‘Sweet heart, kenapa lama sekali jawabnya?’

‘Jangan tidur di taksi, nanti aku jemput.’

‘Pindah ke apartemenku aja, dekat kantor.’

Persis hal-hal mengesalkan yang membuat Mikhasa mau pingsan saja. Dengan gerakan malas, Mikhasa menekan tombol tolak panggilan.

Ponsel kembali sunyi. Namun hanya dua detik.

Drrt—drrt— Mikhasa menatap layar dengan tatapan membunuh.

“Dia ulangi lagi? Serius?” gumamnya tidak percaya.

Ia menutup mata. Dia tidak punya tenaga untuk bertengkar dengan Axel pagi ini. Kepalanya berat, hatinya panas setelah konflik dengan bibinya, dan tubuhnya masih pegal karena tidur di karpet semalaman.

Jadi kali ini… Ia benar-benar menyerah. Dengan satu sentuhan, Mikhasa mematikan ponselnya. Layar menjadi gelap.

“Aku butuh… lima menit tidur,” gumamnya sambil menyelipkan ponsel ke dalam tas.

Ia menyandarkan kepala ke jok taksi. Mata terpejam perlahan. Setidaknya sampai dia tiba di kantor, mungkin ia bisa mencuri sedikit ketenangan. Bahkan jika itu hanya sebentar.

Sesampainya di kantor, Mikhasa langsung menuju kantin. Perutnya keroncongan, matanya masih berat, dan kepalanya butuh kopi secepat mungkin. Begitu melihat deretan makanan, ia baru hendak memilih menu ketika seseorang menghampirinya.

“Nona Mikhasa.”

Petugas internal menyapanya sambil sedikit membungkuk. “Tuan Axel meminta Anda untuk segera ke ruangan.”

“Tapi ini belum jam kerja, Pak,” protesnya halus.

Pria itu tampak canggung, tapi tetap menyampaikan pesannya. “Beliau bilang… Anda akan mendapatkan gaji lembur, Nona.”

Mikhasa langsung terdiam. Napasnya keluar panjang. “Baik,” ujarnya akhirnya. Dalam hati, Mikhasa sudah menimbang dengan kecepatan cahaya. "Oke. Oke. Tenang Mikha, ambil hikmahnya."

Satu ... lembur sama dengan uang tambahan. Dan uang tambahan artinya hidup lebih panjang.

Dua ... kalau tujuan Axel ngajak sarapan bersama seperti kemarin… ya syukur. Bisa makan gratis. Hemat. Pengeluaran mengecil.

Tiga... kalau Axel marah karena panggilannya ditolak tadi… ya sudah, dengarkan saja. Telinga masih kuat. Uang lemburnya juga lumayan.

Mikhasa menatap makanan yang berderet di kantin penuh penyesalan, lalu mengikuti pria itu.

Ah, ya sudahlah. Hidup memang keras. Kalau Tuan Axel lagi dermawan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebelum mood-nya berubah lagi. "Manfaatkan kesempatan yang langka ini Mikha. Sebelum kesempatan ini selesai."

Dengan langkah ikhlas yang dipaksakan, Mikhasa berjalan menuju lift. Siap menghadapi segala tingkah Axel Mercier pagi ini.

Lift berbunyi dan pintunya terbuka perlahan. Lantai khusus eksekutif, lantai yang kemarin juga membawanya ke situasi aneh antara lapar, takut, dan kesel pada bos sendiri.

Kalau ini tentang sarapan… oke, siap, lumayan gratis, batinnya.

“Silakan masuk, Nona. Tuan menunggu Anda di dalam,” ujar seorang staf senior dengan sikap sangat formal.

Mikhasa mengangguk sopan. “Baik, terima kasih, Pak.”

1
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
Momogi
untungnya Mikha tau tentang ini lebih dlu jadinya dia ga bakal nyesek
Momogi
nyesek banget perjalanan hidupmu mikha 😭
Momogi
ya ampun mikha 🥺 kamu dimanfaatin keluarga bibimu ternyata ya
Momogi
Aihh kok kita sama sih. curiga besok aku ketemu cogan ternyata ceo
Momogi
tom and jarry kalian tuuh
Momogi
dimana lagi dapet 1 milyar ya mikha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!