Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Saling Curhat
🎵S'mua baik, s'mua baik🎶 Apa yang t'lah Kau perbuat, di dalam hidupku🎶
🎵S'mua baik, sungguh teramat baik🎶 Kau jadikan hidupku, berarti🎶
Melitha is calling....
Suara emas Nikita -- penyanyi rohani -- yang mengalun lembut melalui speaker mobil seketika terhenti saat nama Melitha terpampang pada layar audio mobil, Pandji buru-buru menggeser log hijau untuk menerima panggilan.
📞"Ada apa, Mel?" tanya Pandji lebih dulu.
📞"Sudah pukul sepuluh malam lewat, Mas Pandji dan Mas Harry belum juga pulang dari klinik, apa mbak Raya baik-baik saja?" nada Melitha cemas.
📞"Baik. Mas Harry yang malah tidak baik-baik saja," pelan Pandji, melirik dengan ekor mata pada kakak sepupunya yang sedang melamun di sebelahnya menatap lalu lintas di depan mereka mulai sepi.
Sebagaimana dari klinik menuju rumah orang tua Soraya, sepulang dari sana pun Harry memaksa untuk menyetir, tapi dirinya menolak keras, khawatir terjadi sesuatu, apa lagi situasi hati kakak sepupunya itu sedang buruk.
📞"Apa yang terjadi pada mas Harry, Mas?" kecemasan Melitha bertambah.
📞"Nanti Mas cerita ya, baik-baik di rumah bersama Adri dan Naomi, jangan lupa pastikan rumah terkunci sebelum tidur. Kami sedang on the way ke rumah sakit menengok Ibuk."
📞"Mas melupakan salad buah yang mau aku titipkan untuk Bibi," peringat Melitha.
Pandji menepuk jidatnya pelan.
📞"Maaf, Mel... Mas benar-benar lupa," Pandji ingin menjelaskan alasannya karena Harry tapi tak mungkin ia lakukan itu mengingat situasi hati kakak sepupunya itu.
📞"Ya udah, nggak papa kok, Mas. Besok Meli buatkan lagi untuk Bibi yang baru. Titip mas Harry ya, Mas... Perasaanku memang berdebar-debar tidak enak sejak kalian pergi sore tadi, nggak tahu kenapa, itu sebabnya aku menelpon, takut terjadi sesuatu pada mbak Raya, mas Harry, dan mas Pandji juga."
Pandji tersenyum mendengarnya. Hatinya tersentuh pada kehangatan dan kekuatan cinta kakak beradik -- Harry dan Melitha -- yang selama ini ia lihat saling menjaga, dan menyayangi.
Setelah kedua orang tua mereka tiada, Harry lah yang mengambil tanggung jawab membesarkan dan menyekolahkan adiknya itu.
Dan begitu pula sebaliknya, Melitha selalu menjadi adik yang berbakti, patuh pada aturan yang dibuat kakaknya, termasuk rajin membantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh kedua anak Harry.
📞"Mas Pandji masih mendengarku?" suara Melitha kembali mengudara memenuhi kabin mobil.
📞"Ya, masih, Mel... Apa masih ada yang mau kamu katakan?"
📞"Sudah cukup, Mas. Aku tutup dulu ya, mas Pandji pasti tengah menyetir."
Begitu Melitha menyelesaikan kalimatnya, Pandji dan Harry sama-sama mendengar sambungan itu terputus dan alunan lagu S'mua Baik kembali mengalun, menggantikan suara Melitha yang berhenti berbicara.
Di pos masuk rumah sakit, Pandji menghentikan mobilnya, mengambil satu print kertas parkiran.
Malam itu, parkiran rumah sakit tidak terlalu penuh, sehingga Pandji dengan mudah memilih lahan parkir yang dekat dengan gedung rawat inap dimana ibunya dirawat.
"Mas disini saja," lirih Harry. "Mas nggak mau Bibi ngeliat kondisi Mas seperti ini."
Pandji menoleh, menemukan mata sayu Harry, tubuh lelah itu bersandar lesu, menatap kosong kedepan menembus kaca mobil.
Pandji tak jadi beranjak, tidak tega meninggalkan kakak sepupunya itu seorang diri. Ia membuka laci dashbordnya, mengambil dua kaleng bir dari dalamnya. "Minum, Mas."
Walau tak bersemangat, Harry tetap menyambut pemberian Pandji. Ujung ibu jarinya mendongkel lincah segel penutup kaleng bir itu.
Klek.
Psst!
Karbon dioksida yang terlarut di dalam bir keluar dengan cepat, memicu buih naik ke permukaan.
Harry segera mereguknya, jakunnya terlihat naik turun saat cairan itu masuk melewati kerongkongannya menuju lambung, menyisakan rasa klasik yang seimbang antara manis malt dan pahit hop, memberikan sensasi menyegarkan dalam mulutnya.
"Tambah?" Pandji menyodorkan satu kaleng lagi.
Harry menggeleng. "Aku hanya meminumnya untuk kesehatan."
Pandji terkekeh pelan, dalam hati merasa lega, ternyata kakak sepupunya itu masih bisa menjaga kewarasannya.
"Mas Harry hebat," puji Pandji. Ujung jarinya mendongkel segel penutup bir, hingga terbuka.
Harry menoleh. "Hebat apanya?" sambil memperhatikan adik sepupunya itu mereguk selagi buih bir meluber.
Pandji tidak langsung menjawab, menikmati sensasi buih yang meluber itu melepaskan ledakan rasa pahit hop dan manisnya malt yang meningkatkan rasa bir dalam mulut hingga terasa ke hidung.
"Tidak termehek-mehek seperti diriku yang di tinggalkan Elok."
"Serius?" Harry ternganga dengan mulut kaku.
"Iya," Pandji mengangguk jujur.
"Aku menangis dipangkuan Ibuk!" selesai berucap, Panji terbahak sendiri karena malu mengingat peristiwa itu. Setelahnya, Harry pun ikut terbahak, tidak menyangka bila sosok adik sepupunya yang berwajah tegas dan macho itu bisa berperilaku seperti itu.
"Ngomong-ngomong, kenapa kanu sama Elok putus, heum?" tanya Harry penasaran.
"Sama seperti mbak Raya, Mas. Dia berpaling ke pria lain." Pandji tersenyum pahit. "Saat aku ke rumah orang tua Elok untuk membicarakan pernikahan, malah laki-laki itu ada disana."
"Kenapa kamu tidak menghajarnya?" Harry mendadak gemas, terbawa perasaan pada masalah rumah tangganya yang baru ia alami beberapa jam lalu.
"Sebenarnya ingin, Mas. Tapi aku rasa tidak ada gunanya. Apa lagi ku lihat laki-laki itu sepertinya tidak tahu kalau Elok sudah bertunangan denganku, mantan calon ayah mertuaku malah mengaku aku tetangga mereka. Jadi dari situ aku berkesimpulan, Elok dan orang tuanya tidak menginginkan aku jadi bagian dalam keluarga mereka."
"Kamu benar, Pandji. Bila kita memang tak diinginkan, tidak perlu ngotot untuk bertahan. Cintai, dan beri penghargaan pada diri sendiri, karena kita adalah insan yang pantas untuk dicintai."
Pandji tersenyum. "Aku senang mendengar mas Harry berucap seperti itu. Tos dulu!"
Harry turut mengangkat kaleng birnya, membenturkannya pada kaleng bir milik Pandji, " Semangat buat kita yang senasib dan sepenanggungan!" ujarnya lalu menghabiskan sisa birnya, begitupula dengan Pandji.
...***...
"Dasar bodoh! Bisa-bisanya kamu mengandung anak laki-laki itu, Raya! Apa kamu buta, menyukai pria pemalas seperti dia!"
Rizal sangat murka, hatinya remuk redam setelah hasil interogasinya pada Soraya malah menemukan satu nama pria yang paling tak ingin ia jadikan menantu sekalipun di dunia ini hanya ada pria itu saja di muka bumi ini.
Bersambung✍️
✍️Termehek-mehek : menangis tersedu-sedu, sangat sedih, merasa tidak berdaya karena seseorang atau suatu keadaan. Istilah ini menggambarkan kondisi emosional yang sangat mendalam, sering kali dikaitkan dengan rasa rindu, patah hati, atau keterpurukan.