NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Sekolah Yang Terpaksa Dewasa

Kata-kata Misca—"Solusinya adalah mengakhiri kekacauan ini dengan caraku"—masih menggantung di udara seperti ancaman yang belum direalisasikan.

Jeka, yang berdiri di samping Misca, menoleh ke arah Vino. Ada kekhawatiran di matanya—kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan. Vino tampak seperti bejana yang hampir pecah. Matanya masih terfokus pada Dian, pengikut dari Selatan, seolah perseteruan fisik tadi belum benar-benar usai. Bahunya menegang, napasnya dangkal dan cepat, siap meledak kapan saja.

"Vin, tenang," bisik Jeka, meletakkan tangan kirinya di bahu Vino, menekan pelan namun tegas.

Vino mendesis—suara yang keluar dari antara gigi yang terkatup rapat. "Dia nantang aku, Jek. Lihat saja mukanya. Dia mikir kita ini cuma main-main."

"Dia memang mikir begitu," balas Jeka, berbisik keras. "Tapi Misca nggak main-main. Misca mau kita selesaikan ini. Kamu nggak boleh bergerak. Kita nggak boleh kasih mereka alasan untuk mulai duluan."

Vino menghela napas berat—napas yang terdengar seperti uap keluar dari ketel mendidih. Matanya tetap mengunci Dian selama beberapa detik lagi sebelum akhirnya mengangguk kecil, meski bara api di dadanya belum sepenuhnya padam.

Balasan yang Tidak Terduga

Raka dari Barat, yang sifatnya memang tidak bisa diam, merasa Misca sengaja mempermalukan wilayahnya. Serangan balik Misca sebelumnya masih meninggalkan luka di harga dirinya—luka yang berdarah dan perih.

"Kekacauan apa, Misca?" Raka melompat berdiri, kursinya berderit keras—bunyi logam yang menyayat keheningan. "Kamu pikir Barat yang paling parah? Kamu cuma lihat dari luar! Kami di Barat punya tatanan, kami cuma perlu pemimpin yang nggak culun kayak kamu!"

Tino dari Timur tertawa cengengesan—tawa yang penuh ejekan, tawa yang dibuat-buat untuk menyembunyikan rasa malunya sendiri. "Raka, kamu nggak usah bicara tatanan, deh. Tatananmu cuma berlaku di sekitar tempat nongkrongmu. Kalau mau ngurus tatanan, mending kamu urusin rambutmu yang berantakan itu dulu!"

"Jaga mulutmu, Tino!" Raka maju selangkah, mencondongkan tubuhnya ke atas meja dengan gerakan agresif. Tangannya yang gelisah kini mengepal—siap untuk memukul.

Tino berdiri, senyumnya menghilang total, wajahnya berubah menjadi ekspresi predator yang lapar. "Kenapa? Kamu mau pukul aku? Mau nunjukin kalau Barat juga cuma modal fisik kayak Selatan?"

"Aku nggak perlu otot sebesar Nanda buat bikin kamu diam!" balas Raka, suaranya meninggi—nyaris berteriak. Tangan Raka yang tidak bisa diam kini terangkat, siap mendorong Tino.

Nanda, si raksasa dari Selatan yang baru saja dipermalukan Misca, melihat keributan ini sebagai kesempatan untuk mengalihkan fokus dan melepaskan frustrasi yang menumpuk di dadanya.

Dia menyeringai lebar—seringai brutal yang menunjukkan gigi tidak rata. "Hajar! Hajar saja, Raka! Tunjukkan pada si cengengesan Timur itu kalau kamu punya nyali!"

Suara Nanda memicu kobaran api di antara kedua wilayah.

Pengikut dari Timur dan Barat mulai saling berhadapan. Pengikut Tino maju selangkah dengan gerakan terkoordinasi. Pengikut Raka membalas dengan gerakan serupa—formasi pertahanan yang siap berubah jadi serangan.

Gudang itu kembali dipenuhi teriakan dan sindiran, nyaris meledak dalam pertempuran massal yang tidak terkendali.

Ledakan Jeka

Jeka melihat kekacauan ini pecah di hadapannya—hanya beberapa menit setelah Misca menyatakan ingin mengakhirinya. Rencana yang mereka susun dengan hati-hati terancam gagal sebelum dimulai. Rasa frustrasi dan ketakutan memukul Jeka seperti pukulan telak di perut.

Mereka mempertaruhkan segalanya—reputasi Utara, keselamatan mereka bertiga, masa depan empat wilayah—dan yang mereka dapat hanya pertengkaran kekanak-kanakan yang tidak produktif.

Jeka melepaskan bahu Vino, maju selangkah dengan gerakan cepat, menatap Tino dan Raka yang sudah saling dorong di meja dengan tatapan yang berubah dari cemas menjadi marah.

"STOP! HENTIKAN SEMUA INI!" teriak Jeka, suaranya melengking tinggi—memotong semua keributan di gudang seperti pisau yang membelah kain.

Jeka yang selalu tenang, yang selalu jadi otak dingin di balik setiap keputusan, kini adalah orang yang paling histeris di ruangan itu.

Semua orang terkejut—termasuk Misca. Tino dan Raka berhenti saling dorong, menatap Jeka dengan bingung dan sedikit takut. Bahkan Nanda yang brutal pun terdiam, menatap Jeka dengan alis terangkat.

Jeka menarik napas dalam-dalam—dadanya naik turun dengan cepat, seperti orang yang baru saja berlari maraton.

"Kalian ini kenapa, sih?!" Jeka melanjutkan, suaranya bergetar—antara marah dan putus asa. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih—karena frustrasi yang meluap. "Kalian berkelahi soal begal, preman, dan disiplin. Kalian saling sindir soal kecerdasan dan kekuatan! Bukankah... bukankah kita semua ini masih anak sekolah?!"

Jeka menunjuk Raka dan Tino bergantian dengan gerakan kasar.

"Kita pakai seragam ke sekolah setiap pagi! Kita harusnya mikirin PR, ujian, atau masuk universitas! Kenapa kita harus ngurusin masalah yang seharusnya jadi urusan orang dewasa? Masalah ketentraman warga? Premanisme? Kenapa kita yang harus mengurusnya, padahal di luar sana ada polisi, dan orang tua?!"

Teriakan Jeka adalah pukulan telak yang menghentikan semua aktivitas—seperti tombol pause yang ditekan pada film action yang sedang memuncak.

Itu bukan ancaman, melainkan pertanyaan mendasar tentang eksistensi mereka—pertanyaan yang selalu mereka abaikan, yang selalu mereka kubur di bawah tumpukan kekerasan dan ego, kini diteriakkan langsung di hadapan wajah mereka.

Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang bisa menjawab.

Pengakuan yang Menyakitkan

Misca, Tino, Raka, dan Nanda—keempat orang tertinggi dari empat wilayah—menatap Jeka dengan pandangan yang sama-sama serius dan tajam. Ekspresi Misca kini menunjukkan sedikit persetujuan terhadap poin Jeka, namun ia tahu Jeka telah mengungkap kebenaran yang pahit—kebenaran yang tidak bisa mereka hindari lagi.

Nanda, si Selatan, adalah yang pertama menjawab. Suaranya berat dan serius, jauh dari gerusan dan provokasi sebelumnya.

"Kami membentuk ini bukan karena iseng, Jek," kata Nanda, matanya memancarkan rasa lelah yang dalam—lelah yang biasanya hanya terlihat di mata orang dewasa yang sudah terlalu banyak menanggung beban. "Kami bentuk ini karena tidak ada yang peduli pada kami."

Tino mengangguk, sorot cengengesannya hilang—digantikan oleh tatapan kosong yang menyakitkan. "Polisi nggak peduli sama anak sekolah yang diperas di gang sepi. Guru nggak tahu apa yang terjadi di luar gerbang. Orang tua sibuk kerja sampai malam. Tapi kami tahu. Kami lihat teman-teman kami, orang-orang yang dipukuli dan diintimidasi setiap hari."

Raka, kini tidak cerewet, melainkan tenang dan tegas—seperti orang yang baru saja melepas topeng dan menunjukkan wajah sebenarnya. "Pembentukan ini dilandasi untuk menjaga warga yang lemah. Kami adalah benteng pertahanan terakhir. Kalau kami tidak buat, siapa lagi?"

Misca, yang sejak tadi diam setelah ledakan Jeka, kini melengkapi pernyataan mereka. Ia menatap Jeka—sahabatnya, orang yang paling ia pedulikan—seolah meminta maaf karena harus mengakhiri idealisme yang tersisa di hati Jeka.

"Walau kita masih sekolah, Jek," ucap Misca, suaranya kembali mengendalikan gudang dengan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Pemikiran kita sudah dewasa. Kita sudah melihat cukup banyak kekacauan untuk menyadari bahwa jika kita tidak mengambil alih tanggung jawab ini, semua wilayah akan hancur dari dalam."

Keempat pemimpin itu—dalam momen singkat persetujuan yang jarang terjadi, dalam momen di mana ego dan perbedaan mereka hilang sejenak—menegaskan bahwa kelompok mereka bukan geng tawuran biasa. Mereka adalah anak-anak yang terpaksa dewasa lebih cepat dari yang seharusnya.

Jeka terdiam, menyadari bahwa ia telah menyentuh inti penderitaan mereka semua—penderitaan yang tidak bisa diselesaikan dengan idealisme sederhana atau harapan bahwa orang dewasa akan datang menyelamatkan.

Vino Mengambil Inisiatif

Setelah Misca menyelesaikan kalimatnya, ia kembali terdiam. Ia tidak bergerak, membiarkan keheningan melumpuhkan ruangan. Matanya yang dingin terus mengawasi Nanda, Raka, dan Tino, menolak memberikan reaksi lanjutan.

Misca hanya duduk—menunjukkan bahwa ia hanya akan bergerak ketika mereka sudah benar-benar siap untuk mendengar.

Keheningan ini justru membuat tiga pemimpin lainnya semakin frustrasi—seperti anak yang ingin bertengkar tapi lawannya hanya diam dan menatap.

Di momen krisis kepemimpinan ini, Vino maju. Ia melepaskan tangan Jeka, mengambil langkah ke depan, dan berdiri tegak di samping Misca dengan postur yang jauh lebih tegas dari sebelumnya.

"Kalian sudah dengar Misca," ujar Vino, suaranya dalam dan berwibawa—suara yang jarang ia gunakan, suara yang menunjukkan bahwa ia bukan hanya bodyguard, tapi pemimpin juga. "Kita sepakat kalau kita semua sudah dewasa dan bertujuan menjaga ketentraman. Masalahnya cuma satu."

Vino memajukan tubuhnya sedikit ke meja, otot-otot di lengannya terlihat menegang—bukan ancaman fisik, tapi ancaman psikologis yang sama efektifnya.

"Kalian bertiga hanya peduli pada kekuasaan wilayah kalian masing-masing. Kalian mau adu fisik, tes otak, atau voting, karena itu cara paling gampang untuk saling menjatuhkan. Tapi kalian lupa satu hal paling penting."

Vino menatap tajam ke arah Nanda, Raka, dan Tino secara bergantian—tatapan yang tidak kalah menusuk dari tatapan Misca.

"Ketua baru harus mampu mengendalikan keempat wilayah, bukan hanya satu. Kami dari Utara sudah mengajukan kandidat. Sekarang, tunjukkan pada kami—cara apa yang paling adil untuk menunjuk pemimpin, yang bukan hanya menguntungkan wilayah kalian, tapi bisa benar-benar mengakhiri kekacauan seperti yang Misca bilang?"

Vino menantang mereka secara langsung—pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan ego atau emosi, tapi harus dijawab dengan logika.

Misca hanya melihat Vino dengan tatapan netral. Dalam keheningannya, ia mengizinkan Vino menjadi lidahnya—menunjukkan bahwa Utara memiliki tim yang solid, bukan hanya satu orang yang berdiri sendiri.

Pertanyaan Vino memaksa tiga wilayah lain untuk berpikir secara kolektif—sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sejak pertemuan dimulai.

Gudang itu kembali hening—tapi kali ini bukan karena ketegangan, melainkan karena tekanan pertanyaan yang menghantam ego mereka dengan keras, memaksa mereka untuk berpikir alih-alih hanya bereaksi.

Tino melirik Raka.

Raka melirik Nanda.

Nanda melirik Misca.

Tidak ada yang berani mengambil risiko mengusulkan kembali ide yang hanya menguntungkan wilayahnya sendiri setelah dipermalukan oleh Misca dan diuji oleh Vino.

Dan dalam keheningan itu, Misca tahu—inilah saatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!