Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 28
Paviliun Zhuangdong
Sementara Istana Chiangnang bergelut dengan maut, di bagian lain ibu kota yang penuh lampu warna-warni, Paviliun Zhuangdong, rumah bordil paling mewah di kota sedang mengadakan pesta pora. Di lantai atas yang paling eksklusif, Shen Yue, Putri Ketiga sekaligus adik tiri Yuhan, sedang bersantai di atas dipan sutra.
Di sekelilingnya, empat model pria tampan dengan pakaian transparan sibuk memijat kakinya dan menyuapinya buah anggur. Shen Yue tertawa manja, matanya berkilat penuh kelicikan.
"Ah, jadi kakaku yang terhormat itu sekarang sedang meregang nyawa?" tanya Shen Yue dengan nada meremehkan.
Seorang pria berpakaian hitam, satu-satunya pembunuh yang berhasil melarikan diri dari hutan, berlutut di depannya. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi. "Benar, Tuan Putri. Hamba melihat sendiri dia memuntahkan darah hitam. Dan Pangeran Mu Lian... dia sudah jatuh ke jurang maut. Tak ada yang bisa selamat dari ketinggian itu."
Shen Yue bangkit, mendorong salah satu pria tampannya hingga terjatuh. "Bagus! Akhirnya, si cacat itu lenyap dan si sombong Yuhan akan menyusulnya. Tahta itu akan segera kosong, dan ayahanda akan tahu siapa putri yang paling pantas—"
Tiba-tiba, pembunuh itu memegangi lehernya. Matanya melotot, pembuluh darah di lehernya menghitam dan menonjol keluar.
"K-kau kenapa?!" teriak Shen Yue, mundur selangkah.
"Ugh... Aaarrgh!" Pembunuh itu memuntahkan darah segar yang berbau busuk. Tubuhnya kejang-kejang di lantai, menendang-nendang meja anggur hingga hancur. Dalam hitungan detik, ia kaku tak bernyawa dengan wajah yang membiru.
"Jarum..." bisik salah satu model pria dengan ngeri, menunjuk ke arah bahu mayat itu di mana sebuah jarum kecil perak berkilau masih tertancap.
"SIALAN! Bawa mayat ini keluar! Buang ke sungai! Jangan sampai ada jejak!" teriak Shen Yue panik. Ia tidak tahu bahwa jarum beracun milik Yuhan bukan hanya membawa maut, tapi juga mengandung bubuk pelacak khusus yang hanya bisa dilihat dengan ramuan tertentu. Tanpa disadari, Shen Yue baru saja memasukkan "tanda kematian" ke dalam rumah persembunyiannya sendiri.
Kembali ke Istana Chiangnang, kondisi Yuhan semakin memburuk. Napasnya pendek-pendek, dan setiap kali ia bernapas, ada suara gemericik darah di paru-parunya.
"Yang Mulia... sadarlah..." tangis pelayan pribadinya.
Shen Lan berjalan mendekati ranjang. Ia menatap wajah kakaknya yang dikelilingi oleh rambut hitam yang basah oleh keringat. Ia teringat saat mereka kecil, Yuhan selalu melindunginya dari kemarahan selir-selir lain. Kini, saat Yuhan kembali bangkit menjadi wanita yang kuat, ia justru terancam kehilangan kakaknya lagi.
"Tabib Lu, minggir," perintah Shen Lan pelan namun dingin.
"Pangeran, apa yang Anda lakukan? Kultivasi Anda baru tingkat empat, jika Anda mencoba memaksakan energi Anda masuk ke tubuh Maharani yang kacau, Anda berdua akan meledak!" Wu Sheng mencoba menghalangi.
"Aku lebih baik mati meledak bersamanya daripada duduk diam melihatnya kedinginan seperti ini!" balas Shen Lan.
Tiba-tiba, sebuah suara berat dan berwibawa terdengar dari pintu masuk.
"Biarkan aku yang melakukannya."
Seluruh orang di ruangan itu menoleh. Di sana berdiri seorang pria tua berjubah abu-abu sederhana, namun auranya membuat udara di ruangan itu terasa sangat berat. Dia adalah Tetua Agung Mo, guru besar yang selama ini mengasingkan diri di kuil belakang istana dan jarang mencampuri urusan politik.
"Tetua Mo?" Wu Sheng membungkuk dalam. "Anda bersedia membantu?"
"Wanita ini..." Tetua Mo berjalan mendekati Yuhan, matanya yang tajam menatap telapak tangan Yuhan yang memerah. "Dia memiliki energi yang tidak biasa. Energi yang bisa membawa kemakmuran bagi dinasti ini. Aku tidak akan membiarkan cahaya ini padam hanya karena ulah serangga-serangga kecil."
Tetua Mo duduk di belakang Yuhan, mengangkat tubuh Maharani yang lemas. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Yuhan. Seketika, cahaya emas redup mulai menyelimuti mereka berdua.
"Pangeran Keempat, jaga pintu," perintah Tetua Mo. "Siapapun yang berani melangkah masuk dalam satu jam ke depan, penggal kepalanya tanpa bertanya. Aku butuh konsentrasi penuh untuk menyambung kembali pembuluh darahnya yang hancur."
Shen Lan mencabut pedangnya, berdiri tegak di depan pintu dengan mata yang menyala. "Tidak akan ada satu lalat pun yang lewat, Tetua."
Di dalam kamar, pertarungan antara hidup dan mati dimulai. Tetua Mo mulai menyalurkan energi tingkat tujuhnya, menembus kekacauan di dalam tubuh Yuhan. Ia menemukan pemandangan mengerikan, organ dalam Yuhan hancur seolah dihantam godam raksasa. Namun, ia juga menemukan sesuatu yang ajaib di dalam pusat energi Yuhan, ada sebuah titik cahaya merah yang terus berdenyut, mencoba menyembuhkan dirinya sendiri.
Luar biasa... wanita ini memiliki teknik pemulihan kuno yang belum pernah kulihat, batin Tetua Mo.
Satu jam berlalu seperti seribu tahun bagi Shen Lan. Di luar, suara burung malam mulai digantikan oleh kicauan pagi yang samar. Pintu akhirnya terbuka. Tetua Mo keluar dengan wajah yang jauh lebih tua dari sebelumnya, napasnya berat.
"Bagaimana? Apa Kakakku bisa selamat?" tanya Shen Lan tidak sabar.
"Dia sudah melewati masa kritisnya," ucap Tetua Mo sambil menyeka keringat di dahinya. "Pembuluh darahnya telah tersambung, tapi dia akan tidur untuk waktu yang lama. Luka fisiknya bisa sembuh, tapi luka di jiwanya karena kehilangan ... itu adalah obat yang tidak aku miliki."
Shen Lan merosot ke lantai, air mata kelegaan mengalir di pipinya. Ia masuk ke dalam dan melihat Yuhan kini tertidur dengan napas yang lebih teratur, meski masih sangat lemah.
"Wu Sheng," panggil Shen Lan dengan suara serak.
"Iya, Pangeran?"
lama2 bakalan bucin...