"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Informasi lain dari pria misterius
Mona yang diliputi rasa takut yang kian menyesakkan. Bayangan jeruji besi yang dingin membuat napasnya terasa berat. Ia menolak membayangkan dirinya harus mendekam di balik penjara.
Dalam diam, pikirannya berkecamuk. Siapa yang berani membocorkan rahasia itu? Bukankah semua bukti sudah ia lenyapkan dengan tangannya sendiri?.
“Siapa sebenarnya orang ini? Kenapa dia bisa tahu rahasiaku? Dan dari mana dia mendapatkan video itu?” gumamnya.
Mona yang merasa terancam oleh teror video kecelakaan Bu Sinta mulai berhati-hati dalam setiap langkahnya. Ia tak ingin gegabah dalam menghadapi masalah ini.
“Aku harus tenang, aku tidak boleh panik,” ucapnya, berusaha menenangkan diri sendiri.
Mona yang tidak ingin dirinya masuk penjara mencoba menghubungi orang suruhannya terlebih dahulu. Ia ingin orang itu menyelidiki secara langsung siapa yang merekam dan mengirimkan video kecelakaan tersebut.
Mona menyalakan layar ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, berhenti pada satu nama yang sudah sangat dikenalnya. Tanpa ragu, ia menekan ikon panggil.
Tut… sambungan telepon tersambung.
“Halo, Bu Mona. Ada apa Ibu menghubungi saya lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai?” ucapnya setelah sambungan telepon tersambung.
“Aku butuh bantuanmu lagi, Hendra. Aku tidak mau masuk penjara,” jawab Mona
"Apa maksud Bu Mona" tanyanya merasa penasaran
“Rahasia tentang kecelakaan Sinta dulu sudah ada yang mengetahuinya, dan orang itu meneror ku, Ndra.”
“Jadi maksud Bu Mona, ada orang yang sudah merekam kecelakaan dua puluh lima tahun lalu dan sekarang meneror Ibu?” tanyanya dengan suara terkejut.
“Iya. Saya mau kamu menyelidiki siapa orang yang sudah merekam kecelakaan itu. Saya tidak mau masuk penjara,” pungkasnya.
“Baik, Bu Mona, akan saya laksanakan. Tapi, ngomong-ngomong, Ibu berani bayar saya berapa untuk masalah ini?” serunya
“Berapa pun yang kamu minta akan saya berikan, asal kamu berhasil. Tapi jika gagal, tanggung sendiri akibatnya,” ucap Mona tegas.
"Hahaha baik, Bu Mona".Hendra terkekeh singkat.
Sambungan telepon pun berakhir. Mona mengembuskan napas lega—akhirnya Hendra bersedia membantunya lagi untuk menyelesaikan masalah ini. Apa pun akan ia lakukan, selama itu bisa menyelamatkannya dari jeruji penjara.
*******************
Di sisi lain, pria misterius yang sebelumnya memberikan informasi tentang kecelakaan Bu Sinta kembali mencoba menghubungi Karin. Kali ini, ia membawa informasi penting lain yang akan membuat Mona dan Karin terkejut.
Saat Karin sedang beristirahat, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia menatap layar dan mendapati sebuah nomor tak dikenal muncul—pria misterius itu kembali menghubunginya.
“Ada apa lagi dia meneleponku?” gumamnya pelan.
Karin akhirnya mengangkat panggilan dari pria misterius itu.
"Halo, ada apa?" jawabnya singkat.
“Jangan judes gitu dong,” jawabnya ringan. “Aku punya informasi penting buat kamu.” Nada suaranya sedikit manja, membuat Karin merasa geli.
“Informasi apa lagi yang kamu punya? Sepertinya kamu orang yang menyimpan banyak rahasia, ya,” ucap Karin.
“Iya, tentu saja, Karin. Dan aku yakin, kalau kamu tahu informasi ini, kamu pasti akan syok.”
“Informasi apa? Cepat katakan,” tanya Karin tanpa basa-basi.
“Sabar, Karin. Seperti biasa, informasi yang aku punya tidak ada yang gratis,” serunya.
“Jangan coba-coba memeras ku.”
Tak ingin kembali diperas hanya demi informasi yang belum jelas, Karin langsung memutuskan sambungan telepon itu.
“Ah, sial. Kenapa malah dimatikan, sih, teleponnya?” gerutu pria itu
Namun, bukan pria misterius namanya jika ia berhenti begitu saja setelah panggilannya diputus sepihak oleh Karin. Dengan rahang mengeras, ia kembali menekan layar ponselnya, mencoba menghubungi Karin sekali lagi.
Tapi Karin tetap tidak mau menjawab. Ponselnya terus bergetar di atas meja, tetapi ia sama sekali tidak berniat mengangkat panggilan itu.
Akhirnya, pria misterius itu memilih jalan lain. Sebuah pesan masuk ke ponsel Karin, membuatnya menatap layar lebih lama dari seharusnya.
"Aku tidak akan memaksamu memberiku uang. Tapi aku pastikan, jika kamu tahu informasi ini, Mona bisa hancur seketika."
Karin membaca pesan dari pria misterius itu dengan dahi berkerut. Rasa penasaran pun muncul—informasi apa sebenarnya yang bisa membuat Mona hancur?
“Cepat katakan, kamu mau berapa?” balas Karin tegas.
“Tidak banyak. Aku cuma mau kamu kasih aku lima puluh juta saja,” ucapnya.
“Kamu gila, ya? Hanya untuk satu informasi saja kamu minta uang sebanyak itu!” balas Karin kesal.
“Ayo lah, Karin. Aku jamin informasi ini akan sangat menguntungkan buat kamu,” godanya
“Tidak! Aku tidak mau. Jika itu memang menguntungkan, jual saja ke orang lain!” seru Karin tegas.
“Ayo lah, Karin. Aku sedang butuh banyak uang. Terserah kamu mau kasih aku berapa, aku terima,” serunya dengan nada memaksa.
“Dasar mata duitan. Aku cuma bisa kasih kamu sepuluh juta—kalau kamu mau! Kalau tidak, ya sudah, simpan saja informasi itu sendiri,” balas Karin tegas.
"Oke baiklah, aku mau".
Karin menatap layar ponselnya, jari-jarinya menari di atas keyboard aplikasi m-banking. Dengan napas tertahan, ia mengetik nominal sepuluh juta rupiah, lalu menekan tombol kirim, mengirimkannya langsung kepada pria misterius itu.
Begitu uang sepuluh juta rupiah masuk ke rekeningnya, pria misterius itu langsung menepati janjinya. Sebuah foto muncul di layar ponsel Karin.
Karin menatapnya lama, matanya melebar. Jantungnya berdegup kencang, dan rasa tidak percaya menyelimuti pikirannya—apa yang dilihatnya benar-benar nyata.
“Nggak… ini nggak mungkin. Pasti pria misterius itu membohongi aku. Aku yakin foto ini cuma editan,” ucap Karin, suaranya bergetar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
****Bersambung****
Kira kira foto apa ya yang dikirim oleh pria misterius itu?
Jangan lupa like komen dan subscribe ya kak 🙏 supaya aku bisa semangat terus buat up🙏♥️🥰
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak