Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniversary
Perayaan ulang tahun pernikahan (anniversary) ke-2 Pablo dan Freya bukan sekadar peringatan tanggal di kalender; ini adalah perayaan kemenangan cinta atas segala skeptisisme dunia. Jika tahun pertama mereka diwarnai oleh ketegangan skandal Dante dan adaptasi Nael, tahun kedua ini dirayakan dengan ketenangan yang dalam, kemegahan yang terkendali, dan kehadiran malaikat kecil mereka, Alessia.
Pablo, yang biasanya pragmatis, memutuskan bahwa perayaan kali ini harus dilakukan di tempat di mana segalanya dimulai: Rodriguez Estate di Long Island, namun dengan sentuhan yang jauh lebih intim.
...----------------...
Dua minggu sebelum hari besar, Pablo sudah melakukan manuver rahasia. Ia meminta Freya untuk tidak menjadwalkan apa pun di yayasan. Di balik layar, ia bekerja sama dengan Anne Rodriguez untuk menyiapkan sebuah makan malam di taman labirin mansion, tempat yang dulu menjadi saksi bisu rencana pernikahan mereka yang megah namun kaku.
"Aku ingin suasana yang membuat Freya merasa bahwa meskipun dunia berubah, perasaanku padanya tetap konstan," ucap Pablo kepada Anne saat mereka berdiskusi di ruang kerja.
Pada hari H, sebuah gaun baru berbahan sutra berwarna biru safir—warna kesukaan Pablo—telah disiapkan di atas tempat tidur Freya dengan sebuah catatan pendek: "Jadilah ratuku malam ini, seperti kau menjadi ratu di hatiku setiap hari. Mobil akan menjemputmu pukul enam."
Kehadiran Anak-Anak di Pesta Intim
Sore itu, mansion Rodriguez di Long Island tampak bercahaya. Jalur menuju taman labirin dihiasi dengan ribuan lampu gantung kecil yang menyerupai kunang-kunang. Namun, sebelum acara utama dimulai, ada momen keluarga yang tak ternilai.
Nael, yang kini berusia tujuh tahun, tampak gagah dengan tuxedo kecilnya. Ia sedang menggendong Alessia yang sudah berusia hampir satu tahun. Alessia, dengan gaun putih berenda, tampak sibuk mencoba menarik dasi kupu-kupu kakaknya.
"Alessia, jangan ditarik! Ini untuk pesta Daddy dan Mommy," ucap Nael dengan nada bicara dewasa yang menggemaskan, meniru gaya bicara Pablo.
Saat Freya turun dari mobil dan melihat suami serta anak-anaknya menunggunya di depan taman, matanya berkaca-kaca. Pablo melangkah maju, memberikan buket bunga peony putih—bunga yang sama dengan yang dibawa Freya saat mereka mengucap janji suci.
"Selamat ulang tahun pernikahan, istriku," bisik Pablo, mencium punggung tangan Freya.
...----------------...
Jamuan di Bawah Langit Berbintang
Makan malam dilakukan di tengah taman labirin, di dalam sebuah gazebo kaca yang dibangun khusus untuk malam itu. Hanya ada satu meja panjang. Kakek Alan, Joice, dan Anne sudah duduk di sana, menyambut mereka dengan senyum lebar.
"Dua tahun yang lalu, aku melihat dua orang yang saling menjaga jarak di ruang kerjaku," ucap Kakek Alan sambil mengangkat gelas kristalnya. "Hari ini, aku melihat dua jiwa yang telah melebur menjadi satu kekuatan yang tak terhentikan. Untuk Pablo dan Freya!"
"Untuk Pablo dan Freya!" seru Joice dan Anne bersamaan.
Menu yang disajikan adalah replika dari menu pernikahan mereka, namun dengan suasana yang jauh lebih hangat.
Tidak ada pembicaraan bisnis. Joice justru lebih banyak bercerita tentang betapa lucunya Alessia saat pertama kali mencoba merangkak di kantornya, sementara Anne memuji Freya atas keberhasilan yayasannya yang kini telah membantu ribuan anak.
Di tengah makan malam, Alessia mulai mengoceh, seolah ingin ikut berbicara. "Da... Da..." ucapnya pelan sambil mengulurkan tangan kecilnya ke arah Pablo.
Pablo segera mengambil Alessia dari kursi tingginya dan mendudukkannya di pangkuannya. Pria yang dulu dikenal sebagai "Hiu Wall Street" itu kini dengan telaten menyuapi putrinya potongan kecil buah pir, mengabaikan jas mahalnya yang mungkin terkena noda. Freya memperhatikan momen itu dengan rasa syukur yang meluap. Inilah kekayaan yang sesungguhnya.
Setelah makan malam, saat anak-anak mulai mengantuk dan dibawa oleh pengasuh ke dalam mansion untuk beristirahat, Pablo mengajak Freya berjalan-jalan di tepi pantai yang berbatasan langsung dengan properti Rodriguez. Suara ombak Atlantik menjadi musik latar yang menenangkan.
"Aku punya sesuatu untukmu," kata Pablo. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya bukan berlian—Freya sudah memiliki terlalu banyak perhiasan. Melainkan sebuah kunci emas antik dengan gantungan bertuliskan sebuah koordinat di Italia.
"Apa ini, Pablo?" tanya Freya bingung.
"Aku membeli sebuah kebun anggur kecil di Tuscany, tempat kakek buyutmu dulu dilahirkan," jawab Pablo. "Aku menamakannya 'Villa Freya'. Itu adalah tempat rahasia kita. Setiap tahun, saat kita ingin melarikan diri dari kebisingan New York, kita akan ke sana. Hanya kita, Nael, dan Alessia. Tempat di mana kita bukan Xander atau Rodriguez, tapi hanya sebuah keluarga."
Freya memeluk Pablo erat, air mata kebahagiaan akhirnya tumpah. "Kau selalu tahu cara membuatku merasa istimewa, Pablo."
...----------------...
Mereka berdiri diam cukup lama, memandangi cakrawala laut yang gelap namun indah.
"Kau tahu, Freya," Pablo memulai pembicaraan dengan nada yang lebih serius. "Dulu aku berpikir bahwa sukses berarti mengalahkan semua orang. Tapi dua tahun bersamamu mengajariku bahwa sukses yang sebenarnya adalah saat kau punya seseorang untuk pulang, seseorang yang percaya padamu bahkan saat kau sendiri ragu."
Freya menoleh, menatap mata suaminya. "Dan aku belajar darimu bahwa kekuatan bukan berarti tidak pernah rapuh. Kekuatan adalah saat kita berani menunjukkan kerapuhan itu pada orang yang tepat."
Pablo menarik Freya ke dalam pelukannya. "Terima kasih telah bersabar denganku, Freya. Terima kasih telah mencintai Nael seolah dia darah dagingmu sendiri, dan terima kasih telah memberikan Alessia padaku."
"Terima kasih telah membiarkanku masuk ke duniamu, Pablo," balas Freya.
...----------------...
Saat mereka berjalan kembali ke mansion, mereka melihat Kakek Alan masih duduk di teras, memandangi laut. Ia tampak lebih tua, namun matanya masih memancarkan api kebijaksanaan yang sama.
"Sudah selesai berdansa dengan ombak?" tanya Kakek Alan dengan tawa kecilnya.
"Sudah, Kakek," jawab Freya, mencium pipi pria tua itu.
"Bagus. Ingatlah malam ini," ucap Alan. "Bisnis bisa hancur, pasar bisa jatuh, tapi apa yang kalian bangun di dalam rumah ini adalah satu-satunya investasi yang tidak akan pernah mengalami depresiasi. Jaga itu baik-baik."
Perayaan ulang tahun pernikahan kedua itu ditutup dengan keheningan yang damai. Saat mereka kembali ke kamar mereka di mansion Rodriguez, mereka mengintip ke kamar Nael. Bocah itu tertidur pulas, dan di boks bayi di sampingnya, Alessia juga terlelap.
Pablo menutup pintu dengan perlahan. Ia dan Freya berdiri di balkon kamar, menatap bintang-bintang yang sama yang dulu mereka lihat saat merencanakan pernikahan mereka yang dingin. Namun malam ini, bintang-bintang itu terasa jauh lebih terang dan hangat.
"Dua tahun, Freya," bisik Pablo. "Dan aku tidak sabar untuk lima puluh tahun berikutnya."
"Lima puluh tahun? Itu terlalu singkat, Pablo," goda Freya.
Mereka tertawa bersama, suara tawa yang ringan dan penuh harapan. Di bawah langit Long Island, di tengah warisan besar keluarga Rodriguez, mereka merayakan bukan hanya masa lalu, tapi masa depan yang cerah.
Dinasti Xander-Rodriguez kini bukan lagi sekadar nama di atas kertas kontrak, melainkan sebuah monumen cinta yang hidup, tumbuh, dan tak tergoyahkan oleh waktu.
Malam itu, New York terasa sangat jauh, dan kebahagiaan terasa sangat dekat. Perjalanan mereka masih panjang, namun dengan tangan yang saling menggenggam, mereka tahu bahwa mereka bisa menghadapi apa pun. Karena pada akhirnya, cinta adalah satu-satunya merger yang benar-benar berhasil.