"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Terlupakan
Setelah kembali ke Desa Sidomukti, Puri dan teman-temannya mencoba untuk menutupi kejadian mengerikan di Pulau Tengkorak. Mereka sepakat untuk tidak menceritakan detailnya kepada siapapun, kecuali kepada orang-orang yang mereka percayai. Mereka beralasan, hal ini mereka lakukan untuk menghindari kepanikan dan melindungi desa dari potensi bahaya.
Dina dirawat di puskesmas desa dan berangsur-angsur pulih berkat bantuan Bu Sastro dan warga desa lainnya. Rendra, meski masih trauma, perlahan mulai pulih di rumahnya. Namun, kejadian di pulau itu meninggalkan bekas yang dalam pada diri mereka semua.
Suasana di desa terasa aneh. Penduduk desa bersikap ramah seperti biasa, tetapi Puri merasakan adanya tatapan curiga dan bisik-bisik di belakang punggung mereka. Ia merasa seolah-olah mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
setelah kejadian di Pulau Tengkorak, Puri dan teman-temannya merasakan suasana yang berbeda. Bangunan itu terasa lebih dingin dan sunyi, seolah-olah dihantui oleh memori mengerikan di gua. Mereka sepakat untuk tidak membicarakan detail kejadian itu kepada siapapun di desa, khawatir akan menimbulkan kepanikan dan kecurigaan.
Dina masih dalam masa pemulihan. Bu Sastro, dengan ramuan herbalnya, sering mengunjungi mereka di pasanggrahan untuk merawat Dina. Rendra, meskipun fisiknya mulai membaik, masih sering melamun dan tampak ketakutan.
Suatu malam, saat Puri sedang mencoba fokus mengerjakan laporan KKN di kamar mereka di pasanggrahan, Rendra mendekatinya dengan wajah pucat.
"Puri, aku tidak bisa tidur," bisik Rendra. "Aku terus memikirkan tentang pulau itu... dan sesuatu yang aku temukan."
"Kau menemukan apa, Rendra?" tanya Puri, merasakan firasat buruk.
"Saat aku tersesat di gua, aku tidak sengaja menyentuh sebuah dinding yang terasa berbeda," kata Rendra. "Dinding itu bergeser, dan aku menemukan sebuah ruangan tersembunyi."
Puri terkejut. Ruangan tersembunyi di gua? Kenapa dia tidak memberitahunya sebelumnya?
"Aku takut, Puri," kata Rendra, melihat ekspresi terkejut di wajah Puri. "Aku takut ruangan itu adalah bagian dari kutukan atau semacamnya. Aku takut kalau aku membuka sesuatu yang seharusnya tidak dibuka."
"Apa yang ada di dalam ruangan itu?" tanya Puri, tidak sabar.
"Di dalam ruangan itu, aku menemukan sebuah peti tua," jawab Rendra. "Aku tidak berani membukanya, tapi aku yakin di dalamnya ada sesuatu yang penting."
Puri merasa jantungnya berdebar kencang. Peti tua? Apa isinya? Apakah itu kunci untuk mengakhiri kutukan keluarga Handoko?
"Kita harus melihat peti itu, Rendra," kata Puri dengan nada bersemangat. "Kita harus tahu apa yang ada di dalamnya."
Rendra mengangguk setuju. "Tapi kita harus berhati-hati," katanya. "Kita tidak tahu apa yang menanti kita di sana."
Dengan berbekal senter dan keberanian yang tersisa, Puri dan Rendra menyelinap keluar dari pasanggrahan. Mereka berjalan menuju hutan di belakang pasanggrahan, menuju ke arah yang menurut Rendra mengarah ke Pulau Tengkorak.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di sebuah pohon beringin yang sangat besar. Rendra berhenti dan menunjuk ke arah akar pohon yang menjulang tinggi.
"Di balik akar pohon itu," bisik Rendra. "Di situlah pintu masuk menuju terowongan bawah tanah yang mengarah ke Pulau Tengkorak."
Puri menatap akar pohon itu dengan
tatapan tak percaya. Terowongan bawah tanah yang mengarah ke Pulau Tengkorak? Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?
Dengan bantuan Rendra, Puri berhasil menemukan celah di antara akar pohon beringin itu. Celah itu cukup besar untuk dilewati oleh satu orang.
"Kau yakin dengan ini, Rendra?" tanya Puri, merasa ragu. "Kita tidak tahu apa yang ada di dalam sana."
"Aku yakin, Puri," jawab Rendra dengan nada mantap. "Aku merasa ini adalah satu-satunya cara untuk mengungkap kebenaran tentang keluarga Handoko dan kutukan ini."
Puri menarik napas dalam-dalam dan mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus mengikuti kata hatinya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan hati-hati, Puri merangkak masuk ke dalam celah di antara akar pohon beringin itu. Kegelapan langsung menyambutnya, membuat ia tidak bisa melihat apa-apa.
"Puri, hati-hati!" bisik Rendra dari belakang. "Aku akan menyusulmu."
Puri menyalakan senternya dan mengarahkannya ke depan. Ia melihat sebuah terowongan sempit yang terbuat dari tanah dan batu. Terowongan itu tampak kuno dan lembap, dengan aroma tanah dan lumut yang kuat.
Dengan perlahan, Puri mulai berjalan menyusuri terowongan itu. Ia merasa merinding di sekujur tubuhnya, seolah-olah ada sesuatu yang mengawasi dirinya dari dalam kegelapan.
Setelah berjalan cukup jauh, Puri melihat sebuah cahaya di ujung terowongan. Ia mempercepat langkahnya dan segera tiba di sebuah ruangan kecil.
Ruangan itu tampak seperti sebuah ruang penyimpanan bawah tanah. Di tengah ruangan itu, Puri melihat sebuah peti tua yang terbuat dari kayu. Peti itu tampak sangat tua dan lapuk, dengan ukiran-ukiran aneh yang menghiasi permukaannya.
Puri mendekati peti itu dengan hati-hati. Ia merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, ia akan segera mengungkap sebuah rahasia besar.
Dengan tangan gemetar, Puri membuka peti itu.
Di dalamnya, ia menemukan beberapa barang aneh, seperti:
- Sebuah buku harian yang terbuat dari kulit binatang yang sudah mengering.
- Sebuah medali perunggu dengan ukiran gambar tengkorak.
- Sebuah peta kuno yang menggambarkan Pulau Tengkorak dengan detail yang sangat akurat.
- Sehelai rambut hitam panjang yang terikat dengan pita merah.
Puri mengambil buku harian itu dan membukanya. Ia melihat tulisan-tulisan tangan yang ditulis dengan tinta yang sudah memudar. Tulisan itu menggunakan bahasa Jawa Kuno, bahasa yang tidak ia kuasai.
Namun, di sela-sela tulisan Jawa Kuno itu, ia menemukan beberapa kalimat yang ditulis dalam bahasa Belanda kuno. Bahasa Belanda adalah bahasa yang ia pelajari di sekolah, meskipun tidak terlalu fasih.
Dengan susah payah, Puri mencoba menerjemahkan kalimat-kalimat bahasa Belanda itu. Ia membaca tentang seorang anggota keluarga Handoko di masa lalu, seorang wanita bernama Amara Handoko, yang terobsesi dengan Pulau Tengkorak dan kekuatan mistis yang dimilikinya.
Amara Handoko, menurut buku harian itu, melakukan penelitian dan eksperimen aneh di Pulau Tengkorak. Ia mencoba untuk berkomunikasi dengan entitas gaib yang menghuni pulau itu, dan ia bahkan melakukan ritual-ritual terlarang untuk mendapatkan kekuatan mereka.
Puri terkejut dengan apa yang ia baca. Apakah Amara Handoko adalah penyebab kutukan yang menimpa keluarga Handoko? Apakah ia membuka pintu bagi kekuatan jahat yang sekarang menghantui Pulau Tengkorak?
Puri terus membaca buku harian itu, mencoba untuk mencari tahu lebih banyak tentang Amara Handoko dan eksperimen-eksperimennya. Ia menemukan catatan tentang sebuah ramuan kuno yang dapat memberikan kekuatan luar biasa kepada peminumnya. Ramuan itu terbuat dari bahan-bahan langka yang hanya bisa ditemukan di Pulau Tengkorak.
Puri juga menemukan catatan tentang sebuah perjanjian rahasia yang dibuat oleh Amara Handoko dengan entitas gaib. Perjanjian itu menjanjikan kekuatan dan kekayaan kepada keluarga Handoko, tetapi dengan harga yang sangat mahal.
Puri merasa merinding di sekujur tubuhnya. Ia mulai memahami betapa berbahayanya situasi yang mereka hadapi. Kutukan keluarga Handoko bukan hanya sekadar cerita hantu, melainkan sebuah kekuatan nyata yang dapat menghancurkan siapa saja yang berani menghadapinya.
Tiba-tiba, Puri mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh dan melihat Rendra berdiri di pintu ruangan. Wajah Rendra tampak pucat dan ketakutan.
"Puri, kita harus pergi dari sini," bisik Rendra dengan nada panik. "Aku merasa ada sesuatu yang datang."
Puri merasakan hal yang sama. Ia merasa seolah-olah mereka sedang diawasi oleh sesuatu yang jahat.
Dengan cepat, Puri memasukkan buku harian, medali, peta, dan sehelai rambut ke dalam tasnya. Ia tidak ingin meninggalkan apapun di belakang.
"Ayo, Rendra," kata Puri dengan nada
mendesak. "Kita harus segera keluar dari sini sebelum terlambat."
Dengan langkah cepat, mereka meninggalkan ruangan itu dan berlari kembali menyusuri terowongan. Mereka bisa merasakan sesuatu yang mengejar mereka, sesuatu yang gelap dan menakutkan.
Saat mereka hampir mencapai pintu keluar terowongan, mereka mendengar suara gemuruh yang keras di belakang mereka. Tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar.
"Puri, cepat!" teriak Rendra, mendorong Puri ke depan.
Puri berlari secepat yang ia bisa, berusaha untuk mencapai celah di antara akar pohon beringin. Ia bisa merasakan hembusan napas makhluk itu di belakangnya, membuat bulu kuduknya merinding.
Akhirnya, Puri berhasil mencapai celah itu dan merangkak keluar dari terowongan. Ia terengah-engah, mencoba mengatur napasnya.
Rendra menyusulnya beberapa saat kemudian, wajahnya dipenuhi keringat dan ketakutan.
"Apa itu tadi?" tanya Rendra dengan suara bergetar.
"Aku tidak tahu," jawab Puri dengan nada serius. "Tapi aku yakin itu bukan sesuatu yang baik."
Mereka berdua berdiri di bawah pohon beringin, menatap pintu masuk terowongan dengan tatapan waspada. Mereka bisa merasakan sesuatu yang masih bersembunyi di dalam sana, mengawasi mereka dengan tatapan penuh kebencian.
"Kita harus memberitahu yang lain tentang ini," kata Puri dengan nada tegas. "Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Tengkorak dan bagaimana cara menghentikan kutukan ini."
Rendra mengangguk setuju. "Kita tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut," katanya. "Kita harus bertindak sekarang."
Dengan tekad yang baru, Puri dan Rendra kembali ke pasanggrahan. Mereka tahu, mereka akan menghadapi bahaya yang lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan. Tapi mereka siap untuk berjuang, demi mengungkap kebenaran dan menyelamatkan desa mereka dari kegelapan.
Malam itu, di dalam pasanggrahan yang angker, Puri dan Rendra berkumpul dengan teman-teman mereka. Mereka menceritakan semua yang telah mereka temukan di terowongan bawah tanah, menunjukkan buku harian, medali, peta, dan sehelai rambut.
Ayu dan Dina tampak ketakutan dengan cerita itu, tetapi mereka tetap setia mendukung Puri dan Rendra. Fahri, sebagai ketua kelompok KKN, merasa bertanggung jawab atas keselamatan semua orang. Ia berjanji untuk membantu mereka dalam segala hal yang mereka butuhkan.
Mereka berempat sepakat untuk merahasiakan penemuan ini dari siapapun di desa, termasuk Bu Sastro dan Pak Kepala Desa. Mereka khawatir informasi ini akan jatuh ke tangan yang salah dan justru membahayakan mereka semua.
"Kita harus melakukan penyelidikan sendiri," kata Puri dengan nada serius. "Kita harus mencari tahu siapa Amara Handoko sebenarnya dan apa yang ia lakukan di Pulau Tengkorak."
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Ayu dengan nada ragu. "Kita tidak tahu apa-apa tentang sejarah keluarga Handoko."
"Aku punya ide," kata Fahri dengan nada tiba-tiba. "Aku ingat, dulu saat masih kecil, aku pernah mendengar cerita tentang seorang tetanggaku yang bekerja sebagai juru kunci di makam keluarga Handoko. Mungkin dia tahu sesuatu tentang Amara Handoko."
Puri, Rendra, Ayu, dan Dina saling bertukar pandang. Ide Fahri terdengar masuk akal. Mereka tidak punya petunjuk lain, dan mereka harus mencoba segala cara untuk mengungkap kebenaran.
"Baiklah," kata Puri dengan nada mantap. "Kita akan mencari juru kunci itu. Kita akan bertanya kepadanya tentang Amara Handoko dan sejarah keluarga Handoko."
"Tapi kita harus berhati-hati," kata Rendra dengan nada waspada. "Kita tidak tahu siapa yang bisa kita percayai di desa ini."
"Aku setuju," kata Puri. "Kita harus merahasiakan rencana ini dari siapapun. Kita hanya boleh memberitahu orang-orang yang benar-benar kita percayai."
Dengan rencana yang sudah tersusun, Puri dan teman-temannya bersiap untuk menghadapi tantangan baru. Mereka tahu, perjalanan mereka masih panjang dan penuh bahaya. Tapi mereka tidak akan menyerah. Mereka akan terus berjuang, sampai kebenaran terungkap dan kutukan Pulau Tengkorak berakhir.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*