Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
News
Berita tentang keberanian Freya di gala Waldorf Astoria menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau. Keesokan paginya, seluruh surat kabar finansial dan tabloid kelas atas di New York menampilkan wajah Freya dan Pablo di sampul depan.
"Dinasti Baru: Rahasia Xander Terungkap di Tangan Rodriguez," tulis salah satu tajuk utama.
Namun, satu-satunya opini yang benar-benar diperhitungkan oleh Pablo dan Freya adalah opini pria yang duduk di kursi kulit di perpustakaan kediaman Rodriguez: Kakek Alan.
Panggilan ke Markas Besar
Pukul sembilan pagi, sebuah pesan singkat dari sekretaris pribadi Alan sampai di ponsel Pablo: "Tuan Alan menunggu Anda dan Nyonya Freya di kediamannya. Segera."
Suasana di dalam mobil menuju kediaman Rodriguez terasa tegang. Pablo terus menggenggam tangan Freya, jempolnya mengusap punggung tangan istrinya sebagai tanda dukungan.
"Apapun yang dikatakannya nanti, jangan biarkan dia membuatmu merasa bersalah, Freya," bisik Pablo. "Apa yang kau lakukan semalam adalah hal paling berani yang pernah kulihat."
Freya mengangguk, meskipun jantungnya berdegup kencang. Ia tahu kakeknya sangat menghargai privasi dan kendali informasi. Tindakan Freya yang membuka rahasia keluarga di depan umum bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap kode etik Rodriguez, atau justru sebuah langkah jenius.
Pertemuan dengan Sang Patriark
Saat mereka melangkah masuk ke perpustakaan, Kakek Alan sedang duduk menghadap jendela besar, membelakangi pintu. Di atas mejanya, berserakan koran-koran pagi ini. Ruangan itu begitu sunyi hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman.
"Duduk," perintah Alan tanpa berbalik.
Pablo dan Freya duduk dengan sikap tegak. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Alan memutar kursinya. Wajahnya yang keriput tampak kaku, dan matanya yang tajam menatap Freya dengan intensitas yang bisa mengintimidasi pria dewasa mana pun.
"Kau menghancurkan protokol keluarga kita dalam waktu kurang dari lima menit, Freya," suara Alan berat dan rendah. "Selama delapan puluh tahun, keluarga Rodriguez tidak pernah membiarkan pers menentukan narasi kita. Kita adalah penulis cerita, bukan objek berita."
Pablo hendak angkat bicara untuk membela istrinya, namun Freya menahan lengan Pablo. Ia ingin menghadapi ini sendiri.
"Kakek, Dante Valerius berniat memeras kita. Jika aku diam, dia akan mengontrol kita selamanya dengan rahasia itu. Aku hanya mengambil senjatanya sebelum dia sempat menarik pelatuknya," jawab Freya dengan nada stabil.
Alan terdiam sejenak. Ia mengambil salah satu koran, membacanya sekilas, lalu melemparkannya kembali ke meja.
"Dante Valerius adalah tikus kecil yang licik. Tapi kau tahu apa yang lebih buruk dari tikus? Seseorang yang membiarkan tikus itu masuk ke rumahnya," Alan berdiri, bersandar pada tongkat peraknya. "Kau mengekspos Nael. Kau membuat anak itu menjadi target sorotan publik."
"Aku menjadikannya seorang Rodriguez secara publik, Kakek," balas Freya. "Dunia sekarang tahu dia dilindungi oleh dua dinasti terkuat. Tidak ada yang berani menyentuhnya sekarang tanpa memikirkan konsekuensinya."
Tiba-tiba, sudut bibir Kakek Alan sedikit terangkat. Sebuah senyum tipis yang penuh dengan kepuasan yang tersembunyi.
"Tepat sekali," gumam Alan. "Itulah jawaban yang ingin kudengar."
Pablo dan Freya saling bertukar pandang, bingung dengan perubahan sikap kakeknya.
"Kalian pikir aku marah?" Alan tertawa kecil, suara kering yang jarang terdengar. "Aku sudah bosan dengan cara-cara lama yang kaku. Semalam, aku menonton siaran langsung dari informanku. Freya, cara kau menatap Dante... kau terlihat persis seperti ibuku saat ia mengusir lawan bisnisnya dari ruang rapat. Kau punya nyali, dan di dunia ini, nyali lebih berharga daripada protokol."
Kakek Alan berjalan menuju meja kerja dan mengambil sebuah map hitam. Ia mendorongnya ke arah Pablo.
"Dante Valerius mencoba bermain api dengan keluarga kita. Aku sudah menginstruksikan tim legal dan intelijen kita untuk mulai menarik semua investasi Rodriguez dari bank-bank yang mendanai proyek pembangunan Dante di pesisir timur. Dalam tiga hari, dia akan memohon-mohon padamu untuk menghentikan pendarahan di perusahaannya."
Alan kemudian beralih pada Freya. "Kau telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan ayahmu. Kau menyatukan cinta dan bisnis tanpa mengorbankan salah satunya. Mulai hari ini, aku memberikan restu penuh bagimu untuk mengelola Yayasan Rodriguez-Xander yang kalian rencanakan. Gunakan itu sebagai 'perisai' publik bagi Nael."
"Terima kasih, Kakek," ucap Freya, merasa beban berat di pundaknya akhirnya terangkat.
Sebelum mereka pergi, Alan menahan Pablo sejenak. "Pablo, cucuku telah membuktikan kesetiaannya padamu dan anakmu di depan seluruh New York. Jangan pernah lupakan itu. Jika kau gagal menjaganya, bukan Dante yang harus kau takuti, tapi aku."
Pablo menatap mata pria tua itu dengan rasa hormat yang mendalam. "Saya tahu, Tuan Alan. Dan saya tidak punya niat untuk gagal."
Penutup: Keluarga yang Tak Tergoyahkan
Mereka meninggalkan kediaman Rodriguez dengan perasaan menang. Reaksi Kakek Alan yang ternyata bangga akan keberanian Freya memberikan legitimasi yang mereka butuhkan.
Sambil berjalan menuju mobil, Freya merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa di keluarga seperti mereka, kekuatan tidak selalu diukur dari berapa banyak rahasia yang bisa dijaga, tapi dari bagaimana seseorang bisa berdiri tegak saat rahasia itu terungkap.
"Kita pulang?" tanya Pablo sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Ya," jawab Freya dengan senyum cerah. "Ayo kita temui Nael. Aku ingin memberitahunya bahwa kakek buyutnya baru saja menyatakan perang demi dia."
Malam itu, di mansion Xander, tidak ada lagi ketakutan akan Dante atau masa depan. Mereka duduk bersama di ruang tengah yang telah diubah Freya menjadi hangat, menyadari bahwa badai pertama telah mereka lalui, dan itu hanya membuat akar keluarga mereka tertanam lebih dalam di tanah New York.