Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerbuan Istana Orion
Elara mendorong penutup lubang drainase di tengah taman belakang istana. Dia keluar dengan gerakan cair, senapan serbunya langsung mengunci posisi penjaga di menara terdekat.
Phut! Phut!
Dua tembakan peredam suara menjatuhkan penjaga tersebut sebelum mereka sempat membunyikan alarm. Zian menyusul keluar, wajahnya dicat hitam untuk kamuflase malam.
"Gedung utama ada di depan," Zian menunjuk ke arah struktur neoklasik yang megah namun tampak angker. "Orion ada di bunker komando di bawah ruang kerja presiden. Kita tidak bisa menggunakan lift. Kita harus lewat tangga darurat di sayap kiri. Jangan lupa perhatikan keselamatan!"
Mereka bergerak cepat, memanfaatkan bayangan pohon-pohon besar. Namun, saat mereka mencapai pintu masuk samping, lampu taman yang tadinya mati tiba-tiba menyala terang benderang.
"Selamat datang, anak-anak nakal," sebuah suara berat bergema melalui sistem pengeras suara taman.
Dari balik pilar-pilar besar, muncul pasukan Garda Hitam. Mereka mengenakan pakaian tempur futuristik dengan helm yang menutupi seluruh wajah. Di tengah mereka, berdiri sang Presiden—pria yang selama ini dicitrakan sebagai bapak bangsa yang lembut, namun kini matanya memancarkan kegelapan Orion.
"Bapak Presiden... atau haruskah aku memanggilmu Orion?" Elara berdiri tegak, tidak menurunkan senjatanya.
Orion tertawa pelan, sebuah tawa yang kering dan tanpa perasaan. "Nama hanyalah label untuk sejarah yang akan kutulis. Kalian pikir siaran tadi akan mengubah segalanya? Rakyat itu bodoh. Mereka butuh gembala, dan aku telah menyediakan kandang yang nyaman untuk mereka selama bertahun-tahun."
"Kandang yang diisi dengan gas beracun?" sergah Zian.
"Itu disebut pengendalian populasi, Kolonel. Sebuah keharusan bagi kemajuan," Orion memberi isyarat tangan. "Habisi mereka. Sisakan sang Mayor, aku punya eksperimen khusus untuknya."
Pertempuran pecah seketika. Garda Hitam melepaskan tembakan beruntun dengan senapan yang memiliki daya ledak tinggi. Elara berguling di balik patung marmer, membalas tembakan sambil melemparkan granat asap untuk mengacaukan sensor helm mereka.
"Zian! Sektor kanan!" teriak Elara.
Zian melakukan manuver ofensif yang berani, merangsek maju dengan tameng balistik portabel sambil melepaskan tembakan presisi. Anggota Unit Phoenix lainnya memberikan perlindungan, namun jumlah musuh terlalu banyak.
"Elara, masuk ke dalam! Aku akan menahan mereka di sini!" Zian berteriak di tengah desingan peluru yang menghantam tamengnya.
"Zian, tidak!"
"Ini perintah, Mayor! Cari pusat kendali bunker dan matikan sistem pertahanan udara atau jet-jet itu akan kembali menghancurkan kota!" Zian menatap Elara sekilas, sebuah tatapan yang penuh dengan pengabdian dan cinta yang tak terucap.
Elara mengertakkan gigi, air mata kemarahan mengaburkan pandangannya sesaat. Dia tahu Zian benar. Dengan langkah berat, dia berlari menembus pintu samping istana saat Zian dan anggota lainnya membentuk perimeter pertahanan terakhir di taman.
Di dalam istana, suasananya sangat berbeda. Karpet merah yang mewah kini dipenuhi dengan dokumen-dokumen yang berserakan. Elara berlari menelusuri koridor emas, menembak setiap penjaga yang mencoba menghalanginya. Dia mencapai ruang kerja presiden dan segera menemukan pintu rahasia di balik rak buku kayu ek yang besar.
Tangga menuju bunker itu gelap dan lembap. Di bawah, Elara disambut oleh pintu baja tebal yang sedang tertutup perlahan.
"Tidak akan!" Elara meluncur, memasukkan laras senjatanya ke celah pintu yang menutup untuk mengganjalnya.
Pintu itu macet dengan suara derit logam yang memilukan. Elara menyelinap masuk. Di dalam, dia melihat Orion sedang sibuk di depan sebuah konsol besar, jari-jarinya menari di atas layar yang menampilkan peta peluncuran rudal kimia cadangan.
"Berhenti di sana, Orion!" Elara menodongkan senjatanya tepat ke jantung pria itu.
Orion berbalik perlahan. Dia memegang sebuah detonator kecil di tangannya. "Kau terlambat, Elara. Sistemnya sudah otomatis. Dalam dua menit, rudal-rudal di bawah istana ini akan meledak, bukan untuk terbang, tapi untuk meratakan seluruh ibu kota. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang bisa."
Elara merasakan darahnya membeku. "Kau gila! Ribuan orang akan mati!"
"Pengorbanan yang diperlukan," Orion tersenyum lebar.
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari atas. Langit-langit bunker bergetar. Elara menyadari bahwa Zian mungkin telah menggunakan peledak berat di taman untuk menembus ke bawah.
"Kael! Bisakah kau meretas detonator itu?" Elara bertanya dengan cemas.
"Sinyalnya terlalu kuat, Elara! Itu terhubung secara fisik!" sahut Kael. "Kau harus memutus sambungan manual di bawah konsol itu! Tapi ada kabel jebakan!"
Elara melihat ke arah Orion. Pria itu mulai mendekati tombol eksekusi terakhir. Tanpa pikir panjang, Elara melepaskan tembakan ke tangan Orion yang memegang detonator.
BANG!
Detonator itu terlempar, namun Orion tidak menyerah. Dia mencabut pistol dari balik pinggangnya dan menembak balik. Elara merasakan perih yang tajam di pinggangnya, namun dia tetap berdiri.
Mereka bergelut di lantai bunker. Orion, meski sudah tua, memiliki kekuatan yang disokong oleh serum stimulan Iron Sight. Dia mencoba mencekik Elara dengan tangan kosong.
"Kau... hanyalah... bidak..." geram Orion.
Elara menggunakan lututnya untuk menghantam perut Orion, lalu meraih kabel utama di bawah konsol. "Dan ini adalah 'skakmat' untukmu!"
Elara memutus kabel merah besar tepat saat hitung mundur menyentuh angka 00:03.
Seluruh sistem di bunker itu mati seketika. Lampu merah berhenti berputar. Keheningan yang luar biasa menyelimuti ruangan.
Orion terjatuh lemas, matanya menatap langit-langit dengan kosong. Dia tahu kekuasaannya telah berakhir.
Pintu bunker dihantam terbuka. Zian muncul dengan pakaian yang compang-camping dan darah mengalir dari dahi, namun dia masih hidup. Dia melihat Elara yang memegang luka di pinggangnya, terduduk di depan konsol.
"Elara!" Zian berlari dan menangkap tubuh Elara sebelum ia jatuh ke lantai.
"Zian... kau hidup..." bisik Elara, tersenyum lemah.
"Kita hidup, Elara. Kita melakukannya," Zian memeluknya erat.
Di luar, rakyat telah berhasil menembus pagar istana. Mereka melihat melalui jendela-jendela besar saat sang tiran diseret keluar oleh pasukan Phoenix yang tersisa. Fajar mulai menyingsing di ibu kota, menerangi wajah-wajah rakyat yang penuh harapan.
Namun, di tengah perayaan itu, Kael memberikan kabar terbaru. "Elara, Zian... Madame X telah melarikan diri dari kapal selam. Dia tidak pergi sendiri. Dia membawa data cadangan terakhir dari 'Protokol Siberia'."
Elara dan Zian saling memandang. Meskipun Orion telah jatuh, kepala naga yang lain masih bebas berkeliaran di luar sana.
"Perang ini belum berakhir, kan?" tanya Elara sambil menyandarkan kepalanya di bahu Zian.
Zian menatap matahari yang terbit. "Belum. Tapi mulai hari ini, kita tidak akan pernah bertarung sendirian lagi."