NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu kembali

Hampir dua jam Pie untuk menyelesaikan sebuah novel yang ia baca hari ini.

Dia beranjak untuk mengembalikan buku tersebut lalu mencari novel yang baru. Saat sedang membaca judul-judul novel, sebuah suara mengejutkannya.

"Itu novel tentang perang, kau tak akan suka."

Wangi parfum yang sudah lama ia rindukan, suara rendah dan tegas itu menyapa gendang telinganya. Pie berbalik dan terkejut mendapati wajah mereka berdekatan. Pria itu membungkukkan badannya agar setara dengan Pie.

"Mas Tria.." Ucap Pie pelan, ia sadar sedang di dalam ruangan.

"Halo, Pie. Kita bertemu lagi." Senyum cerah itu membuat Pie juga tersenyum.

Seperti ada kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya, Pria itu mengambil sebuah novel yang berada di rak atas.

"Ayo baca dulu, baru kita mengobrol di luar."

Pie hanya menatap kepergian Tria yang mengambil tempat duduk seperti sebelumnya.

Gadis itu melenggang keluar ruangan menuju toilet.

Ia menutup bilik toilet dan mengatakan,

"MAS TRIA DI SINI??!!" tanpa bersuara dan memekik tertahan. Ia begitu senang kembali bertemu dengan patung tampan, Pie mengingat bagaimana jemari lentik itu menarik buku dari raknya. Sangat elegan!

Pie menenangkan degub jantungnya dan berakhir buang hajat sebelum kembali ke ruang baca.

Tria yang sedari tadi celingukan mencari keberadaan Pie, memutuskan keluar untuk mencari gadis itu. Ia menuju balkon perpus yang ada di gedung belakang.

Seorang gadis dengan berdiri memegang pagar balkon, menatap taman perpus yang ada di area belakang gedung, di sana ada beberapa pengunjung yang sedang membaca buku.

"Pie?"

Gadis itu seketika berbalik.

"Mas Tria?"

"Kenapa di sini? Saya pikir sudah pulang karena tidak ada di ruangan."

"Saya menghirup udara segar."

"Saya temani ya?" Tria duduk di kursi yang di sediakan di sana. Sesekali ia melirik Pie yang kembali memunggunginya.

Gadis ini sulit dirayu saat dirinya sudah merasa dekat. Tanpa Tria sadari, sedari tadi Pie berusaha untuk menenangkan degub jantungnya yang berdendang kencang.

Pie berusaha untuk tak terlihat memuja, ia sudah pengalaman pada hal itu. Dirinya enggan diperlakukan seenaknya jika terlihat memuja.

Pie memilih duduk ketika cahaya panas sudah cukup membuat dirinya berkeringat. Ia duduk di kursi yang terhalang oleh meja dari Tria duduk.

Pria itu benar-benar seperti patung yang dipahat oleh profesional. Pie hanya melirik tanpa menoleh, ia tak mau acara memandangi pria itu sampai ketahuan oleh si patung.

Tria menutup bukunya, ia menatap Pie yang sedang menatap langit.

"Saya pikir bisa fokus ketika ditemani olehmu, ternyata tidak ya." Tria terkekeh pelan.

Pie tersenyum kecut.

"Kenapa Mas? Saya ganggu ya?"

"Tidak, bukan begitu. Saya tidak bisa untuk tidak menatapmu, Pie."

"Kau mengalihkan duniaku."

Pie seketika tertawa pelan. Tria sangat terpesona dengan tawa Pie yang baru ini ia lihat.

"Cantik." gumam Tria yang masih menatap Pie.

"Huh? Mas bicara sesuatu?"

Tria menggeleng.

"Sudah sarapan?"

Pie mengangguk.

"Saya belum."

"Sudah saya duga, Mas."

Tria tersenyum. Pie hari ini sangat manis dan menggemaskan.

"Kau masih ingin membaca?"

"Tidak, saya sudah cukup untuk hari ini."

"Kalau begitu, bisa kita pergi keluar sambil sarapan?"

Pie mengangguk.

Mereka beranjak pergi dari balkon, Pie menunggu di depan ruang baca saat Tria mengembalikan buku di dalam.

Tria meminta izin menggandeng tangan Pie saat keluar gedung, namun gadis itu menolak halus. Tria meminta maaf.

"Mau ke mana, Mas?"

"Saya tadi melihat tempat makan yang sepertinya makanan di sana enak. Ramai pengunjung."

Pie mengangguk.

Tria membukakan pintu untuk Pie, lalu Tria masuk ke pintu lain.

"Makan lagi ya, jangan cuma makan cemilan. Saya mau kita sarapan bersama."

"Iya, Mas."

Pie tidak menyangka dirinya akan kembali bertemu dengan Tria.

"Saya sengaja kemari karena ingin bertemu dengan Pie. Saya kira tak kan bisa bertemu karena tempat ini jarang dikunjungi olehmu."

"Saya kebetulan libur, jadi ke sini."

"Tepat sekali."

Pie ingin bertanya tentang kabar dua minggu yang lenyap.

"Maaf, tidak menghubungimu lama. Saya harus fokus untuk menyelesaikan suatu masalah yang paling membuat saya pusing."

"Tidak apa-apa, Mas. Apa sekarang sudah selesai?"

"Ya. Sudah. Makanya saya mencarimu ke sini. Ternyata keinginan saya terkabul.

Pie heran dengan Tria yang tidak menanyakan dimana dirinya tinggal, namun memilih mencarinya ke tempat umum seperti ini.

Ingin bertanya, tapi Pie merasa tidak perlu. Toh, hubungan mereka sangat tidak jelas. Tria seolah enggan memberi kepastian.

"Kita coba di sini." Tria menarik hand breaker ketika sudah mantap memarkirkan mobilnya. Kali ini ia menggunakan mobil berbeda dari sebelumnya.

Tria membukakan pintu untuk Pie.

"Terima kasih. Saya bisa membukanya sendiri, kok."

"Saya ingin melakukan ini untukmu." Tria tersenyum kecil.

Mereka masuk ke dalam tempat yang sejuk dan tenang. Ada beberapa pengunjung yang sedang makan. Pie baru melihat tempat ini, padahal ia selalu melewati jalan ini setiap ke perpustakaan.

"Pesan apa, Sayang?" Tria berucap tanpa sadar saat membaca menu. Pie terkejut mendengarnya, apa ia salah mendengar Tria mengucapkan kata sayang padanya?

Tak ada jawaban, membuat Tria mendongak menatap Pie yang bersemu merah.

"Pie? Kau demam?" Tria sontak menyentuh kening Pie. Gadis itu berjingkat kaget.

"Tidak, Mas."

"Kenapa wajahmu merah?"

"Huh? tidak tahu. Mungkin kepanasan?" Jawaban Pie membuat Tria heran. Bagaimana mungkin kepanasan, sedangkan mereka di bawah atap yang tebal dan mereka menaiki mobil menuju kemari.

"Kau baik-baik saja?"

Pie mengangguk mantap.

"Sangat baik."

"Oke, kau pesan apa?"

Pie membaca sekilas menu tersebut.

"Nila bakar."

"Apalagi?"

Pie menatap Tria yang sedang menatapnya.

"Itu saja, Mas."

"Ambil minimal dua menu, Pie."

"Kenapa?"

"Saya ingin berlama-lama bersamamu."

"Tapi saya tak sanggup jika dua menu."

Tria menyadari kesalahannya, ia sudah menyamakan perutnya dengan perut mungil Pie.

Pria itu mengangguk pelan.

"Minumnya apa?"

"Teh hangat saja."

"Oke, saya pesan dulu ya." Tria beranjak berdiri dan melangkah menuju kasir.

Pie memperhatikan setiap gerak-gerik pria itu hingga selesai membayar dan kembali ke tempat Pie.

"Bagaimana kabarmu, Pie?"

"Baik, Kalau kabar Mas bagaimana?"

"Sangat baik setelah bertemu denganmu." Pria itu semakin tampan ketika tersenyum. Pie salah tingkah ketika ditatap dengan kedua manik tajam tersebut.

"Kau cantik, Pie. Sangat cocok dengan baju itu."

Pie melongo mendengarnya. Ia terdiam kaku, otaknya mengingat ia sedang memakai baju yang mana hari ini?

"Saya baru tidur pukul empat."

"Apa karena pekerjaan?"

"Ya. Selesai tepat waktu."

Tria kembali tersenyum.

"Kau ingin belanja, Pie?"

"Huh? Tidak."

"Saya ingin mentraktirmu dengan hasil pusing saya selama hampir dua minggu ini."

"Itu hasil kerja keras Mas Tria. Simpan atau gunakan untuk keperluan Mas Tria saja, saya sudah cukup ditraktir makan."

"Kenapa kau tidak mengiyakan saja? Gadis lain mungkin akan berbinar."

"Benarkah? Ayo kita belanja ya Mas. Aku ingin membeli pakaian yang bagus." kedua mata Pie berbinar. Lalu sedetik kemudian berubah datar.

"Apa saya harus begitu, Mas?" Tria tertawa melihat respon Pie.

"Saya menyukai gadis yang antusias, tapi gadis sederhana sepertimu membuat saya penasaran."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!