"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.34
Celine mengangguk perlahan, ia mulai menyusun kepingan teka-teki itu dalam kepalanya. "Jadi, selama ini dia merasa tertekan bukan hanya karena traumanya, tapi karena dia merasa dirinya hanya sebuah 'alat' dalam kontrak Anda, Tuan Aksara. Bagaimana dia bisa merasa aman, jika pernikahannya sendiri tidak didasari rasa aman?"
Kalimat Celine membuat Aksara terbungkam seribu bahasa. Kebenaran itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ia teringat bagaimana tatapan kosong Aylin saat mereka bicara soal persyaratan warisan Kakek Harsa. Baginya itu hanya bisnis, tapi bagi Aylin, itu mungkin adalah penjara baru.
Melihat diamnya Aksara yang sarat akan rasa bersalah, Celine pun kembali bicara dengan nada yang lebih netral.
"Ini kartu nama saya. Saya membuka praktik di Jakarta. Anda boleh membawa Aylin ke sana kapan pun dia sudah merasa siap untuk membuka diri," ucap Celine seraya menyerahkan selembar kartu kecil. Setelah itu, ia pamit undur diri, meninggalkan Aksara yang masih termenung.
Kini tinggal Aksara sendirian di tengah keheningan lorong rumah sakit yang dingin. Bayangan wajah Aylin yang ketakutan dan isak tangis ibunya berputar-putar di kepalanya. Namun, lamunan Aksara seketika buyar saat ponsel di saku jasnya bergetar hebat.
Nama Arvano berkedip di layar, memecah kesunyian dengan nada dering yang tiba-tiba terdengar sangat mengganggu di telinga Aksara.
Aksara menatap layar itu cukup lama. Satu keputusan yang ia ambil saat ini—apakah mengangkatnya atau mematikan ponselnya—adalah keputusan yang bisa membuat seluruh sisa hidupnya berubah selamanya.
Tangannya bergetar sedikit saat jarinya bergerak di atas layar. Di sisi lain pintu kamar rawat, ada Aylin yang rapuh. Dan di layar ponselnya, ada Arvano yang menuntut kepemilikan.
*
*
Sementara itu di hotel, Arvano mendengus kasar. Ia melempar ponselnya ke atas ranjang dengan emosi yang meluap. Ini pertama kalinya dalam sejarah hubungan mereka, Aksara berani mengabaikan panggilannya demi wanita itu.
"Awas saja kamu, Aksara. Aku akan memastikan hidupmu dan Aylin tidak akan pernah bahagia," desisnya lirih dengan tatapan mata yang dipenuhi kebencian. Tanpa menunggu lebih lama, Arvano segera berkemas. Ia memutuskan pulang ke Jakarta untuk menyusun rencana yang lebih besar dan mematikan.
Di Jakarta, Kinara sedang bertemu kembali dengan Emilia. Kabar mengenai Aylin yang masuk rumah sakit karena hampir dilecehkan sudah sampai ke telinganya. Bukannya prihatin, pikiran jahat justru mulai menari-nari di kepala ibu mertua Aylin itu.
"Tante, apa yang sedang Tante pikirkan?" tanya Emilia membuyarkan lamunan Kinara.
"Tidak ada. Hanya saja... bagaimana rencanamu untuk mendekati Aksara?" Kinara balik bertanya.
"Tidak ada kemajuan, Tante. Aksara sulit sekali dihubungi. Dia bahkan tidak sudi membalas pesan-pesanku," keluh Emilia dengan wajah cemberut.
Kinara mengulas senyum tipis, lalu menggenggam tangan Emilia seolah wanita di depannya ini adalah malaikat. "Kamu tenang saja. Tante akan membantumu menyingkirkan pengganggu itu."
Ia seolah lupa pada semua kesalahan Emilia di masa lalu, asalkan tujuannya untuk memisahkan Aksara dan Aylin tercapai.
Sementara itu di kota lain, Kakek Harsa baru saja menyelesaikan kontrol di kantor cabang. Wajah tuanya tampak lelah, namun tetap berwibawa.
"Ada kabar apa, Hadi?" tanya Harsa pada asisten kepercayaannya.
"Tuan... Nona Aylin masuk rumah sakit. Beliau hampir dilecehkan," lapor Hadi dengan suara bergetar.
"Apa?! Dilecehkan?!" Harsa menggebrak meja. "Bukannya aku sudah menyuruhmu menempatkan pengawal bayangan di sekitar Aylin? Di mana mereka?!"
"Itu... Tuan Aksara menyuruh mereka berhenti mengikuti Nona saat mereka pergi bersama. Mungkin Tuan Aksara pikir akan aman jika Nona bersamanya, tapi ternyata tidak," jelas Hadi tertunduk.
Harsa mengepalkan tangannya hingga gemetar. "Dasar cucu durhaka! Bagaimana dia bisa tahu soal pengawal itu? Lalu, bagaimana dengan preman-preman itu?!"
"Sudah diamankan, Tuan. Tapi ada satu hal lagi..." Hadi ragu sejenak. "Ayah kandung Nona Aylin muncul dan membuat keributan. Mereka menuntut perusahaan kita memberikan dukungan untuk menyelematkan bisnis mereka."
Harsa mendengus jijik. "Cih! Jangan mimpi aku akan membantu mereka. Mereka sudah membuat cucu menantuku menderita, dan sekarang mereka minta bantuan? Tidak akan!"
Harsa berdiri, menatap keluar jendela dengan tatapan tajam. Ia harus bertindak. Namun, ada satu hal yang luput dari pantauan Kakek Harsa; ia belum tahu tentang trauma masa kecil Aylin yang jauh lebih gelap dari sekadar kejadian semalam.
Bersambung ...
ko' bisa masukkkk....
Aksara wwoooiii., selamatkan istri'muuuuuu....
Aay : hhuuuuaaaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ngaku Kamu bedeb4hhhhh.....
dasar laki² bedeb4hhhhh...
astagaaaaaaaa......
hhuuaaaaaaaaaa.....
Otorrrrrrr tegaaaaa......
terlalu banyak beban berat d'berikan...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayah durjana'mu akan runtuh., Paman psikopet'mu ini akan d'penjara....
Emil : Nona., Jumi !!!! N o n a
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣