Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Mawar kini sudah memulai pekerjaan nya sebagai tenaga administrasi di pabrik yang ada di desa nya, dengan kemampuan dan ijazah yang di miliki nya Mawar bisa mendapat kan jabatan yang di impikan oleh banyak orang.
Staf administrasi yang sebelum nya telah pindah ke pabrik yang ada di kota, jadi posisi itu kosong sekarang. Jam kerja Mawar di mulai pada jam 8 pagi hingga jam 4 sore, tidak seperti karyawan pada umum nya yang harus bekerja dengan shif yang bergantian.
"Mawar, kamu sudah siap?" Tanya Farhan yang sudah rapi dengan seragam pabrik nya.
"Sudah kak, tapi piring bekas kita sarapan belum di cuci, bisa kah kakak menunggu Mawar sebentar!" Ujar Mawar pada Farhan.
"Sudah lah Mawar, biar kan saja. Lagian di rumah ada Indah, dia juga harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Setiap hari jangan bisa nya cuma tidur saja!" Farhan mengomeli Indah yang saat ini masih tertidur nyenyak di kamar nya.
"Ya udah, baik lah kita segera berangkat saja!" Mawar pun setuju dengan ajakan kakak nya.
Saat ini bu Munah sedang pergi ke kebun milik mereka, jam 11 siang nanti baru lah bu Munah akan pulang ke rumah nya. Indah memang gadis yang pemalas, jika saja dia mau bekerja dia bisa bekerja di pabrik yang ada di desa mereka. Tapi Mawar sendiri memang tidak mau bekerja, dia hanya memanfaat kan uang dari bu Munah saja.
Tepat jam 11 siang bu Munah pulang ke rumah nya, dan dia melihat rumah dalam keadaan berantakan. Piring bekas sarapan menumpuk di wastafel, rumah juga dalam keadaan kotor belum di sapu dan di pel.
"Indah, bangun Indah. Ini sudah siang!" Bu Munah membangun kan anak nya yang masih tertidur pulas.
"Ibu, gangguin aja. Aku masih ngantuk!" Indah menjawab tanpa membuka kan mata nya.
"Ini sudah menjelang zuhur Indah, apakah kau tidak bosan tidur terus seperti kerbau!" Bu Munah mengomeli anak nya.
"Ibu bawel banget sih!" Gerutu Indah akhir nya bangun juga.
Indah segera pergi ke dapur tanpa mencuci muka nya, dia membuka tudung saji yang berada di atas meja. Perut nya yang sudah terasa lapar karena hari sudah cukup siang, Indah segera makan dengan lahap nya tanpa perduli dengan keadaan rumah yang kotor dan berantakan.
Bu Munah yang juga merasa lapar pun ikut makan bersama Indah, kedua ibu dan anak itu makan dengan lahap. Bu Munah bahkan tidak memarahi Indah yang tidur hingga siang, tapi unyu Mawar jika Mawar terlambat bangun maka bu Munah akan memarahi nya.
Indah yang sudah kenyang pun langsung pergi mandi, sejati itulah rutinitas nya setiap hari. Setelah itu Indah akan pergi ke mana pun ke tempat yang dia ingin kan, dia baru akan pulang ke rumah hingga larut malam.
"Bu, aku keluar dulu ya!" Indah pamit pada ibu nya.
"Iya!" Jawab Bu Munah singkat sambil mata nya fokus pada layar televisi yang menayangkan sinetron pavorit nya.
Bu Munah membiarkan rumah dalam keadaan kotor dan berantakan, begitu juga dengan tumpukan piring yang ada di wastafel. Bagi Bu Munah, semua itu sudah menjadi tugas nya Mawar. Bu Munah tetap tidak berubah, dia sengaja meminta Mawar kembali agar bisa memanfaat kan diri nya kembali.
*****
Mawar dan Farhan pulang ke rumah setelah seharian bekerja, Mawar hanya bisa mengusap dada saat melihat keadaan rumah yang berantakan. Tumpukan piring di wastafel sudah menggunung menunggu tangan Mawar untuk di bersih kan.
"Ya Allah, ibu dan Indah sama saja. Sedikit pun tidak perduli dengan pekerjaan rumah, padahal dari pagi Indah cuma tiduran saja dan tidak melakukan apapun. Tidak bisa kah dia sekedar mencuci piring dan memberes kan rumah!" Mawar membatin di dalam hati.
Akhir nya walaupun dengan tubuh yang lelah karena sudah seharian bekerja, Mawar pun segera mencuci piring yang sudah menggunung di wastafel. Setelah itu Mawar pun bergegas membereskan rumah, menyapu dan mengepel nya.
"Ya Allah capek banget!" Mawar pun meregang kan otot - otot nya yang terasa pegal.
"Maka nya sebelum berangkat itu beres kan dulu rumah, sama piring nya di cuci dulu. Memang nya kau fikir siapa yang mau mengerjakan semua nya, tidak sudi aku jadi babu mu!" Bu Munah yang mendengar Mawar berguman langsung menjawab dengan ketus.
"Kalau Indah tidak mau mengerjakan semua pekerjaan rumah, ibu suruh Indah untuk bekerja. Jangan bisa nya cuma tidur saja!" Mawar yang sudah merasa lelah kali ini berani menjawab ucapan ibu nya.
"Indah tidak punya kewajiban untuk bekerja, sebagai seorang kakak sudah menjadi kewajiban mu memenuhi semua kebutuhan nya Indah!" Bu Munah tetap saja membela Indah.
"Astagfirullah hal adzim, Ya Allah rupa nya ibu tetap tidak berubah!" Mawar membatin di dalam hati sambil mengusap dada nya.
Mawar yang tidak mau berdebat dengan ibu nya, kini dia memilih untuk memasak untuk makan malam saja. Mawar kasihan pada kakak nya yang sudah seharian bekerja dan tidak ada yang memasak untuk makan malam nya.
Ketika adzan magrib berkumandang, Mawar masih berkutat dengan bahan masakan nya.
"Ya Allah udah magrib rupanya!" Mawar segera menghentikan aktifitas memasak nya dan akan melanjutkan nya nanti setelah habis magrib.
Mawar bergegas untuk mandi dan setelah itu sholat magrib, Mawar tidak pernah sekalipun meninggal kan kewajiban nya sesibuk apapun dia. Mawar hanya bisa berdoa pada Allah semoga Allah membuka kan pintu hati ibu nya agar sang ibu bisa menyayangi diri nya seperti dia menyayangi Indah.
"Bu, Indah mana?" Tanya Farhan pada ibu nya ketika mereka akan makan malam.
"Indah beluk pulang!" Jawab Bu Munah dengan santai.
"Bu, Indah itu anak perempuan. Tidak pantas kalau dia terus berkeliaran di luar rumah, apalagi sampai malam - malam begini!" Farhan memarahi ibu nya.
"Udah lah Farhan, biar kan Indah bermain bersama teman - teman nya. Kan bosan juga kalau dia terus di rumah saja!" Bu Munah masih tetap membela Indah.
"Indah bisa bekerja bu, di pabrik sedang butuh karyawan, jadi lebih baik Indah bekerja saja dari pada keluyuran tidak jelas!" Farhan memberi saran pada ibu nya.
"Tidak, tidak, kerja di pabrik itu capek Farhan, Indah kan selama ini tidak pernah bekerja sebelum nya. Jadi ibu tidak setuju jika Indah harus kerja di pabrik!" Bu Munah menolak saran dari putra sulung nya.
"Bu, sampai kapan ibu terus memanjakan Indah, dia sudah dewasa, seharus nya dia bisa bertanggung jawab terhadap diri nya sendiri!" Farhan tidak mau melihat sifat Indah yang manja dan selalu merepotkan orang lain.
Mawar hanya diam saja mendengar perdebatan antara ibu dan juga kakak nya, dia tidak ingin ikut campur. Karena jika dia ikut campur, maka sudah pasti bu Munah akan memarahi diri nya.
mungkin Dr kecil di buli mkne otaknya gk jalan jd bego.
coba km punya sedikit pinter pasti kau hajar adikmu itu. sayangnya km in oon.
baik tp bodoh buat apa ya buat di injak injak dan di jadikan sapi perah.
dan lgi" sll mawar harus jdi org bodoh...
🤣🤣🤣🤣. jelek banget novel nya.
ah tp terserah othor aja ngikutin alur sampe mana mawarnya di buat bodoh
djadiin babu gratisan dan diperas hasil krjamu
coba jd wanita elegant pinter gk mudah di tindas gk tolol bin bulol pasti juga gk akn di tindas.
Ya krn km wanita yg mudah di manfaat kan, 😄🤣. baik sih hatimu tp baik nya tu baik baik bodoh.