NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Kebahagiaan Singkat

#

Dua minggu.

Dua minggu terakhir ini... aku nggak tau gimana ngegambarinnya. Kayak mimpi? Kayak dongeng? Atau kayak... kayak akhirnya hidup ku punya warna selain abu-abu?

Arkan dateng tiap hari. Kadang pagi—sebelum dia ke kantor (dia udah mulai kerja lagi, tapi di perusahaan lain, bukan perusahaan keluarga). Kadang siang—sambil bawa makan siang buat aku. Kadang sore—setelah dia selesai kerja, masih pake kemeja kerja yang agak kusut, wajah capek tapi senyum tetep terpasang.

Dan kami... kami belajar Islam bareng.

Nggak di tempat mewah. Nggak di kafe keren. Tapi di warung kopi pinggir jalan—warung yang sama, yang jadi "tempat kita" tanpa perlu bilang.

"Zahra, aku bingung yang ini."

Arkan nunjuk halaman buku tentang rukun Islam. Jari telunjuknya ngetuk-ngetuk kertas.

"Yang mana, Mas?"

"Sholat lima waktu. Kok... kok banyak banget sih gerakannya? Takbir, ruku, sujud, tahiyat awal, tahiyat akhir... aku takut lupa urutannya."

Aku ketawa. "Mas, semua orang awalnya gitu. Zahra dulu juga sering salah. Pernah lupa jumlah rakaat. Pernah salah baca doa. Tapi... tapi lama-lama hafal sendiri kok."

"Kamu mau ajarin aku praktek?"

"Praktek? Sholat maksudnya?"

"Iya. Aku... aku mau tau gimana rasanya."

Aku diem sebentar. "Mas... Mas serius?"

"Serius. Aku... aku nggak bisa ngerti kalau cuma baca doang. Aku harus praktek."

Dan sore itu... aku ajarin Arkan sholat.

Di musholla kecil deket warung kopi. Musholla yang lantainya dari keramik retak, dindingnya penuh coretan anak kecil, tapi bersih. Wangi kemenyan sama sabun cuci piring.

Aku tungguin di luar—karena dia cowok, masuk tempat sholat cowok. Aku cuma kasih instruksi dari pintu.

"Mas, angkat tangan sampai sejajar telinga. Iya gitu. Terus bilang 'Allahu Akbar'. Pelan-pelan aja."

"Allahu... Akbar?" Suaranya ragu. Kayak baru belajar ngomong.

"Iya. Bagus. Terus tangan kanan di atas tangan kiri, taruh di dada. Baca doa iftitah—tapi Mas belum hafal ya? Nggak apa-apa, skip dulu. Langsung baca Al-Fatihah."

"Al-Fatihah yang... yang kamu ajarin kemarin?"

"Iya."

Hening sebentar. Terus aku denger suara Arkan—pelan, terbata-bata, salah-salah—nyoba baca Al-Fatihah.

"Bismillahirrahma... nirrahim... Alhamdulillahi... rabbil... 'alamin..."

Salah. Tapi... tapi aku nggak mau ngoreksi dulu. Biar dia selesai dulu.

"...Arrohma... nirrohim... Maliki yaumiddin..."

Masih salah. Tapi suaranya... suaranya tulus.

Dan entah kenapa... aku nangis.

Diam-diam. Di luar musholla. Nangis sambil tutup mulut biar nggak kedengaran.

"Ya Allah... ini... ini beneran terjadi? Dia... dia beneran belajar sholat?"

---

Setelah selesai—meskipun banyak salahnya—Arkan keluar musholla. Mukanya... berseri. Kayak abis nemu harta karun.

"Zahra... itu... itu amazing."

"Amazing gimana?"

"Aku... aku nggak tau. Rasanya... rasanya damai. Tenang. Kayak... kayak ada yang ngomong ke hati aku. 'Kamu nggak sendirian.'" Dia senyum lebar. "Apa... apa kamu juga ngerasain kayak gitu tiap sholat?"

Aku senyum. "Kadang iya. Kadang nggak. Tergantung... tergantung hati kita lagi fokus atau nggak. Tapi... tapi yang penting kita usaha. Tuhan pasti liat usaha kita."

"Zahra, aku... aku mau belajar lebih banyak. Aku mau... aku mau bisa sholat dengan bener. Aku mau... aku mau ngerti kenapa kamu begitu tenang tiap kali sholat."

Dan saat itu... aku tau.

Arkan bukan cuma belajar Islam buat aku.

Dia belajar... karena dia mulai tertarik.

Mulai... mulai terbuka hatinya.

"Mas, ayo pulang. Udah malem. Bapak nunggu."

"Oke. Aku anter kamu."

---

Kami jalan bareng. Nggak naik mobil—karena Arkan bilang dia pengen jalan kaki. Pengen ngerasain "hidup biasa" yang selama ini dia nggak pernah rasain.

Jalanan kampung ku gelap. Lampu jalan cuma nyala setengah. Jalan becek—bekas hujan sore tadi. Tapi... tapi entah kenapa... jalan ini berasa romantis.

"Zahra, aku boleh pegang tangan kamu nggak?"

Aku kaget. "Mas... kita... kita kan belum nikah..."

"Aku tau. Maaf. Aku cuma... aku cuma pengen deket sama kamu."

Aku diem. Bingung. Dilema antara hati sama prinsip.

"...nggak boleh, Mas. Islam... Islam nggak ngizinin laki-laki perempuan yang bukan mahram buat... buat bersentuhan."

"Oh. Oke. Maaf." Dia senyum. Nggak maksa. "Aku masih belajar. Makasih udah ngingetin."

Dan itu... itu yang bikin aku makin cinta sama dia.

Dia nggak maksa. Dia... dia respect batasan aku.

"Mas..."

"Iya?"

"Makasih... makasih udah mau belajar Islam. Makasih udah... udah respect agama aku."

"Sama-sama. Lagian... aku belajar bukan cuma buat kamu. Aku belajar juga buat aku. Aku... aku pengen tau kebenaran. Dan... dan sejauh ini... Islam itu... indah."

Aku senyum. Lebar. Untuk pertama kalinya dalam hidup ku... aku ngerasa bahagia.

Bahagia yang tulus.

Bahagia yang... yang nggak aku kira bakal aku rasain.

---

Besok malemnya, Arkan ngajakin aku ke pasar malam.

Pasar malam di ujung kota—yang cuma buka Sabtu malem. Penuh lampu warna-warni. Penjual makanan. Permainan kecil-kecilan kayak lempar bola, panah balon, mancing bebek plastik.

"Mas... aku... aku nggak pantes kesini..."

"Kenapa nggak pantes? Ini pasar. Semua orang boleh kesini."

"Tapi... tapi baju aku..."

Aku ngeliatin daster ku yang udah pudar. Hijab ku yang udah tipis. Sendal jepit ku yang solnya udah miring.

Arkan pegang bahu ku. "Zahra, kamu cantik. Apapun yang kamu pake. Percaya deh."

Dan kami masuk.

Rame. Ramai banget. Anak-anak lari-larian sambil bawa balon. Pasangan muda pegangan tangan—aku iri tapi aku inget ini nggak boleh. Ibu-ibu bawa kantong plastik penuh belanjaan.

"Zahra, kamu mau makan apa? Pesen aja. Aku yang bayar."

"Mas... nggak usah... aku... aku udah makan—"

"Bohong. Aku tau kamu belum makan malem." Dia senyum. "Ayo. Jangan malu-malu."

Akhirnya aku pesen nasi goreng seafood—yang aku jarang banget bisa makan. Arkan pesen sate ayam. Kami duduk di bangku panjang kayu yang udah lusuh.

"Enak?"

Aku ngangguk. Mulut penuh. "Enak banget, Mas..."

"Syukur deh. Aku seneng liat kamu makan."

"Mas nggak makan?"

"Aku makan kok. Tapi... tapi aku lebih seneng liat kamu."

Muka ku panas. Merah pasti.

"Mas... jangan ngomong kayak gitu... malu..."

Arkan ketawa. Ketawa yang lepas. Kayak anak kecil yang lagi seneng banget.

Dan aku... aku juga ketawa.

Untuk pertama kalinya... aku ketawa lepas.

Nggak ada beban. Nggak ada pikiran susah. Cuma... cuma kebahagiaan.

---

Setelah makan, kami jalan-jalan. Liat penjual mainan. Penjual baju. Penjual aksesoris lucu-lucu.

"Zahra, ini bagus buat kamu."

Arkan nunjuk bros hijab—bros kecil bentuk bunga mawar warna pink. Cantik. Tapi... tapi pasti mahal.

"Mas... itu... itu mahal... aku nggak—"

"Berapa, Bu?" Arkan nanya ke penjual.

"Lima belas ribu, Mas."

Lima belas ribu. Uang yang cukup buat beli beras tiga kilo.

"Oke, aku beli." Arkan kasih uang dua puluh ribu. "Kembaliannya buat Bu aja."

"Wah, makasih Mas. Baik banget."

Arkan kasih bros itu ke aku. "Buat kamu. Biar hijab kamu makin cantik."

"Mas... aku... aku nggak bisa nerima—"

"Udah. Terima aja. Anggep... anggep hadiah dari temen."

Temen.

Kata yang... yang bikin dada ku sakit.

Karena aku tau... aku tau dia bukan cuma temen buat aku.

"...makasih, Mas."

Aku pasang bros itu di hijab ku. Arkan senyum lebar.

"Cantik. Cocok banget."

Dan aku... aku ngerasa kayak princess.

Princess yang nggak punya istana. Nggak punya mahkota. Tapi punya seseorang yang... yang ngeliat dia cantik meskipun dia cuma pake daster lusuh.

---

Jam sepuluh malam. Kami jalan balik ke rumah. Kali ini... Arkan maksa aku naik mobilnya. Katanya udah malem, nggak aman jalan kaki.

Aku duduk di jok depan. Arkan nyetir pelan. Musik di radio—lagu ballad entah siapa, aku nggak kenal.

"Zahra, aku... aku seneng banget hari ini."

"Aku juga, Mas."

"Kita... kita bisa kayak gini terus nggak?"

Aku diem.

Karena... karena aku nggak tau jawaban aku apa.

"Mas... aku... aku juga pengen kayak gini terus. Tapi... tapi aku takut. Aku takut... takut ini semua cuma sementara. Takut... takut suatu saat Mas bakal pergi. Atau... atau Bapak marah. Atau... atau keluarga Mas dateng dan pisahin kita."

Arkan berhenti di pinggir jalan. Matiin mesin mobil. Natap aku.

"Zahra, dengerin aku. Aku nggak bakal pergi. Aku nggak bakal ninggalin kamu. Apapun yang terjadi. Aku... aku janji."

"Mas... jangan janji kalau—"

"Aku janji!" Suaranya tegas. "Zahra, aku udah kehilangan keluarga. Aku udah kehilangan pekerjaan lama. Aku udah... aku udah korbanin banyak hal. Dan aku nggak nyesel. Karena aku dapet kamu. Aku dapet... sesuatu yang lebih berharga dari semuanya."

Air mata keluar. Lagi.

"Mas... kenapa... kenapa Mas sebaik ini sama aku?"

"Karena aku cinta sama kamu."

Dan dia bilang itu dengan tatapan yang... yang nggak bohong.

Tatapan yang tulus.

Tatapan yang... yang bikin aku percaya.

"Mas... aku juga cinta sama Mas. Tapi... tapi aku takut cinta kita... cinta kita nggak cukup..."

"Cinta kita cukup." Dia pegang tangan ku—dan kali ini aku nggak nolak. "Asalkan kita percaya. Asalkan kita... kita berjuang bareng."

"...oke. Aku... aku percaya sama Mas."

Arkan senyum. Terus nyalain mesin lagi. Jalan pelan ke rumah ku.

---

Sampe depan gang, aku turun. Arkan juga turun—mau nganterin sampe pintu kontrakan.

"Mas, nggak usah. Bapak nanti liat—"

"Nggak apa-apa. Aku cuma mau mastiin kamu masuk dengan aman."

Kami jalan masuk gang. Gelap. Cuma ada lampu redup di ujung.

Dan tiba-tiba...

"Zahra?"

Suara.

Suara Bapak.

Aku berhenti. Beku kayak patung.

Bapak... Bapak berdiri di depan kontrakan. Pake sarung, baju koko, peci. Mungkin abis sholat isya di musholla.

Dan dia ngeliatin aku.

Dan Arkan.

Berdua.

"Bapak..."

Bapak jalan deket. Pelan. Mata nya natap aku. Terus natap Arkan. Terus balik lagi ke aku.

"...kamu... kamu dari mana?"

"Aku... aku... aku jalan-jalan sebentar, Pak..."

"Jalan-jalan? Sama dia?" Bapak nunjuk Arkan.

Arkan langsung hormat. "Selamat malam, Pak. Perkenalkan, saya Arkan. Arkan Alexander. Saya... saya temen Zahra."

"Temen?" Bapak senyum sinis. "Temen kok pegangan tangan?"

Aku langsung lepas tangan Arkan. Panik.

"Bapak... bukan... bukan kayak yang Bapak pikir..."

"Terus kayak apa?" Bapak natap aku tajam. "Zahra, Bapak bilang apa kemarin? Bapak bilang kamu boleh berteman sama dia. BERTEMAN. Bukan... bukan pacaran!"

"Pak, ini salah saya. Saya yang—" Arkan nyoba jelasin.

"Bapak nggak ngomong sama kamu!" Bapak naikkan suara. "Zahra, masuk. Sekarang."

"Tapi Bapak—"

"MASUK!"

Aku nggak berani ngelawan. Aku jalan cepet ke kontrakan. Buka pintu. Masuk.

Tapi sebelum pintu tertutup... aku denger Bapak ngomong ke Arkan:

"Mas Arkan, Bapak menghargai Mas sudah bantu Bapak. Tapi... tapi tolong jangan dekatin anak Bapak lagi. Mas orang baik. Tapi... tapi Mas dan Zahra... nggak mungkin. Tolong... tolong mengerti."

"Pak, saya... saya serius sama Zahra. Saya—"

"Serius gimana? Mas mau nikah sama dia? Mas mau masuk Islam? Atau Mas mau Zahra ikut jadi Kristen?"

Hening.

"Pak, saya... saya lagi belajar Islam. Saya... saya belum tau keputusan saya. Tapi saya janji saya serius—"

"Belum tau keputusan?" Bapak ketawa pahit. "Berarti Mas belum siap. Berarti Mas... Mas cuma main-main sama perasaan anak Bapak."

"Bukan main-main, Pak! Saya beneran cinta—"

"Cinta nggak cukup, Mas." Bapak napas berat. "Cinta... cinta nggak bisa beli bahagia kalau dasarnya udah beda. Mas... Mas pulang. Dan tolong... tolong jangan dateng lagi."

Aku denger suara langkah kaki Bapak masuk kontrakan.

Pintu ditutup.

BLAM.

Dan aku duduk di belakang pintu itu. Nangis.

Sejadi-jadinya.

"Bapak... kenapa... kenapa Bapak nggak ngasih kami kesempatan..."

Bapak duduk di kasur. Mukanya pucat. Napasnya ngos-ngosan.

"Zahra... kamu... kamu udah janji sama Bapak... kamu bilang kalian cuma temen..."

"Zahra... Zahra nggak bohong, Pak... awalnya... awalnya emang cuma temen... tapi... tapi Zahra... Zahra cinta sama dia..."

"CINTA?!" Bapak berdiri. "Kamu bilang cinta sama orang yang NGGAK SEIMAN?!"

"Pak... dia... dia lagi belajar Islam... dia... dia serius—"

"Serius apanya? Dia aja belum yakin! Dia aja masih bingung! Terus kamu mau apa? Nunggu dia sampe kapan? Sampe dia yakin? Atau sampe dia ninggalin kamu karena dia balik ke agamanya?"

Aku nggak bisa jawab.

Karena... karena Bapak ada benernya.

"Zahra... Bapak sayang sama kamu... Bapak nggak mau kamu sengsara... tolong... tolong dengerin Bapak... putus sama dia... sekarang... sebelum terlambat..."

"Bapak... Zahra... Zahra nggak bisa..."

"HARUS BISA!" Bapak batuk keras. Darah keluar lagi dari mulutnya.

"BAPAK!" Aku langsung peluk Bapak. "Bapak... Bapak tenang... jangan marah... Bapak sakit..."

"Zahra... janji... janji sama Bapak... kamu... kamu putus sama dia..."

"Bapak..."

"JANJI!"

Dan aku... aku nggak punya pilihan.

"...iya Pak. Zahra... Zahra janji..."

Tapi di hati ku...

Aku tau...

Ini janji yang... yang nggak bisa aku tepatin.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 13...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!