Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Ketika Harapan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
#
Mahira duduk di mobil Raesha yang terparkir di basement kantor. Ia menatap foto perpustakaan yang hancur dengan tangan gemetar. Buku-buku yang ia baca sejak kecil—berserakan. Brankas yang menyimpan rahasia keluarga—kosong.
"Gue harus ke sana," ucapnya tiba-tiba.
"Mahira, nggak. Itu bahaya. Kalau Khaerul masih—"
"Gue HARUS, Kak!" Mahira menatap kakaknya dengan mata yang sudah merah. "Mungkin masih ada sesuatu. Mungkin dia nggak ambil semuanya. Mungkin—"
Ponsel Raesha berbunyi lagi. Kali ini dari Papa. Raesha mengangkat dengan speaker.
"Raesha, kamu sama Mahira masih di kantor?" Suara Irfash terdengar tegang—lebih tegang dari tadi di ruang rapat.
"Iya, Pa. Kenapa?"
"IT department nemuin satu lagi. Sebelum file log corrupted totally, mereka sempat capture satu IP address. Bukan dari kantor. Dari luar. Dan—" suara Irfash terputus sebentar, seperti dia lagi mikir harus ngomong atau nggak, "—IP itu terdaftar atas nama Damian Qalendra."
Raesha dan Mahira saling pandang dengan mata melebar.
"Paman Damian?" Raesha hampir berbisik. "Tapi... tapi dia kan udah di London? Dia kan nggak—"
"Dia balik dua minggu lalu. Diam-diam. Nggak ada yang tahu. Dan kemarin malam, security gedung kantor lama Nenek—yang sekarang udah nggak kepake—report ada yang masuk paksa. CCTV nggak jelas orangnya, tapi mobilnya terdaftar atas nama Damian."
Mahira merasakan dunia berputar. Paman Damian. Adik bungsu Ayahnya yang sejak 10 tahun lalu pindah ke London setelah... setelah apa? Dia tidak pernah tahu kenapa Paman Damian tiba-tiba pergi. Mama cuma bilang "masalah keluarga yang kompleks" dan topik itu ditutup.
"Pa," suara Mahira keluar serak, "Paman Damian... dia tahu soal kutukan?"
Keheningan panjang di seberang telepon.
"Papa?"
"Dia tahu." Irfash akhirnya menjawab. Dan suaranya—suaranya terdengar... tua. Lelah. "Dia tahu karena dia juga pernah ngalamin. Tapi bukan sebagai korban. Sebagai... sebagai saksi."
"Saksi apa?"
"Nanti Papa jelasin. Sekarang kalian harus—"
BRAK!
Suara keras dari arah lift basement. Mahira dan Raesha menoleh—dan jantung mereka nyaris berhenti.
Khaerul berdiri di sana. Tapi bukan Khaerul yang biasa. Matanya—matanya hitam legam. Seperti tidak ada cahaya. Dan senyumnya—senyum yang salah. Yang bikin setiap insting survival berteriak untuk lari.
"Lari!" teriak Raesha. Dia langsung starter mobil—tapi tangannya gemetar dan kunci jatuh.
Khaerul melangkah lebih dekat. Perlahan. Terlalu tenang.
"Mahira," suaranya—bukan suaranya. Lebih dalam. Lebih tua. "Kamu pikir bisa lari dari takdir? Kamu pikir dengan bantuan pria itu—Zarvan—kamu bisa lolos?"
"Khaerul, please—" Mahira membuka pintu mobil, mencoba keluar, mencoba—entahlah apa yang dia coba—tapi kakinya lemas.
"Aku bukan Khaerul." Pria itu tertawa—tertawa yang mengerikan. "Atau lebih tepatnya... aku lebih dari Khaerul. Aku Khalil. Dan kali ini, aku tidak akan gagal lagi."
Raesha akhirnya berhasil starter mobil. "MASUK, MAHIRA!"
Tapi sebelum Mahira bisa menutup pintu—Khaerul sudah di samping mobil. Tangannya menarik pintu dengan kekuatan yang... yang nggak normal. Yang nggak mungkin dari tubuh manusia biasa.
"Lepaskan dia!" Raesha berteriak sambil menekan klakson—berharap security dengar.
"Security tidak akan datang." Khaerul—atau Khalil—menyeringai. "Mereka semua... tertidur. Aku sudah pastikan."
Mahira merasakan Tasbih Cahaya di sakunya terbakar. Ia mengeluarkannya—batu-batu hijau itu bercahaya terang. Dan saat cahaya itu menyentuh Khaerul—
Pria itu terlempar mundur. Jatuh. Berteriak dengan suara yang bukan suara manusia.
"PERGI! SEKARANG!" teriak Mahira ke Raesha.
Mobil melaju—ban berderit—meninggalkan Khaerul yang masih berguling-guling di lantai basement sambil berteriak.
***
Mereka tidak berhenti sampai jauh dari gedung kantor. Raesha parkir di pinggir jalan dengan napas terengah-engah. Tangannya masih gemetar di setir.
"What the fuck was that?!" teriaknya—Raesha yang biasanya kalem, sekarang nyaris histeris. "Matanya—matanya Mahira—itu bukan mata manusia—"
"Itu Khalil." Mahira memeluk dirinya sendiri. Tasbih Cahaya masih di genggamannya—sekarang tidak panas lagi tapi masih hangat. "Fragmen jiwa Khalil di tubuh Khaerul... dia mulai ambil alih. Kontrolnya makin kuat."
"Berarti Ustadz Hariz bener. Ini bukan cuma soal mimpi. Ini beneran... possession?"
"Entahlah apa namanya. Yang jelas Khaerul udah nggak sepenuhnya Khaerul lagi." Mahira menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Dan kalau Khalil udah fully ngambil alih—"
Ponsel Mahira berbunyi. Zarvan.
Ia mengangkat dengan tangan gemetar. "Halo?"
"Mahira, kamu di mana? Aku denger dari Pak Irfash ada emergency—"
"Zarvan, jangan ke kantor! Jangan deket-deket Khaerul! Dia—dia udah nggak normal—dia—" Mahira tidak tahu bagaimana menjelaskan tanpa terdengar gila.
"Aku tahu." Suara Zarvan tenang. Terlalu tenang. "Aku lihat CCTV basement—hack dari sistem keamanan gedung. Aku lihat apa yang terjadi."
"Kamu... hack?"
"Background aku Computer Science sebelum bisnis, remember?" Zarvan menghela napas. "Dengar, aku udah di jalan. Aku mau ke kantor. Aku mau—"
"JANGAN!" Mahira nyaris berteriak. "Please, Zarvan. Jangan ke sana. Khaerul—atau Khalil—atau apapun itu—dia berbahaya. Dia bisa—"
"Dia nggak bisa bunuh aku di tempat umum, Mahira. Terlalu banyak saksi. Terlalu banyak yang lihat." Suara Zarvan tegas. "Dan aku bukan datang sendirian. Aku bawa lawyer. Aku bawa auditor independent. Dan aku bawa... bukti."
"Bukti apa?"
"Bukti yang akan clear namamu. Bukti yang akan expose Khaerul dan siapapun yang kerja sama dengannya." Zarvan berhenti sebentar. "Mahira, percaya aku. Aku nggak akan biarkan kamu dihancurkan. Tidak di kehidupan ini."
---
#