Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*14
"Kamu lupa? Adikmu sudah punya kamar. Gak perlu siapkan kamar lagi untuk dia."
"Ah, kalau begitu, bagaimana kalau biarkan Aina langsung istirahat saja, Ma? Kasihan dia, dia sangat lelah setelah perjalanan jauh."
"Ah, baiklah kalau begitu. Putriku, ayo ikut mama, Nak. Mama akan bawa kamu ke kamar mu."
Aina melirik Avin. Si kakak langsung tersenyum lebar. "Istirahatlah! Setelah perjalan jauh, kamu pasti lelah, Ain."
"Ayo, sayang! Ikut mama."
"Iy-- iya."
Sedikit gugup yang Aina rasakan. Iya, tentu saja dia masih butuh cukup banyak waktu untuk berbaur dengan lingkungannya yang baru. Meskipun mereka adalah keluarga Ain yang sesungguhnya. Tapi tetap saja, dia tetap butuh banyak waktu untuk terbiasa. Karena sejak kecil, dia tidak bersama dengan mereka. Jadi, Aina masih merasa asing dengan keluarganya ini.
Namun, tidak dengan wanita yang mengaku mamanya ini. Saat melihat Ain sejak pertama, wanita ini sudah merasa sangat dekat dengan anak tersebut. Bahkan, dia langsung percaya kalau ini memang anak kandungnya tanpa menginginkan bukti sedikitpun.
"Ayo, sayang! Kita ke kamar," ucap Camelia sambil meraih tangan Aina dengan lembut.
Aina tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa pasrah sambil mengikuti ke mana langkah kaki wanita yang sedang menggenggam tangannya itu pergi. Mereka melewati ruang keluarga, lalu menaiki anak tangga penghubung lantai satu dengan yang lainnya.
Sampai ke lantai dua, mereka berhenti di depan pintu yang dihiasi bintang-bintang kecil yang mengkilap. Di pintu tersebut tertulis dengan sangat indah sebuah nama, Raina.
"Ayi. Ini kamar kamu, Nak." Camelia langsung membuka pintu kamar tersebut secara perlahan.
"Di sinilah kamu tidur dulunya."
Pintu kamar itupun terbuka sepenuhnya. Suasana di dalam kamar juga langsung terlihat dengan sangat jelas. Kamar indah selayaknya kamar yang dihuni oleh anak kecil. Di dalamnya terdapat banyak boneka tersusun dengan rapi. Nuansa serba pink khas anak perempuan. Lalu, kasur indah layaknya seorang putri.
Mata Camelia seketika berkaca-kaca. "Kamar ini adalah kamar mu ketika kamu masih kecil, Ayi. Mama tidak pernah mengubah sedikitpun tata letak yang ada di kamar ini."
"Iya, Aina." Tiba-tiba, suara Avin terdengar dari belakang Ain. Ain sontak menoleh. Marvin malah tersenyum manis. Langkah kakinya bergerak pelan. "Bahkan, mama tidak membiarkan orang lain membersihkan kamar ini. Mama melakukan semuanya sendiri, Ain."
"Mama membereskan kamar ini setiap hari. Merawatnya dengan sangat baik, selayaknya kamu masih tinggal di kamar ini. Itulah yang mama lakukan selama belasan tahun kamu menghilang."
Tiba-tiba, hati Ain terasa sedikit perih. Ternyata, sepilu itu mamanya saat dia tinggalkan. Bahkan, apa yang menjadi miliknya, mamanya jaga dengan sangat baik. Sampai tidak ingin diubah sedikitpun.
"Ain. Kami memang gagal dalam menjagamu saat itu. Tapi, kami sudah berusaha sangat keras untuk menemukan kamu. Kami tidak pernah menyerah sedikitpun. Kamu bersedia tinggal bersama kami selamanya kan sekarang?" Marvin berucap dengan penuh harap.
Sang mama langsung menjatuhkan air mata. Anggukan pelan dengan wajah sangat berharap terlihat dengan sangat jelas.
"Iya, Nak. Maukah kamu memaafkan, kami? Terutama mama mu yang tidak bisa menjagamu dengan sangat baik saat kamu masih kecil, Ayi. Maukah kamu memaafkan mama, Nak?"
Sontak, Aina sudah tidak tahan lagi. Kesedihan yang mamanya perlihatkan membuat hatinya tersentuh. Dengan air mata yang berlinangan, dia langsung menghambur ke dalam pelukan mamanya.
"Kalian tidak bersalah. Mama, jangan minta maaf lagi. Aku sudah kembali. Mama jangan sedih. Jangan pernah menangis lagi."
Suasana haru kembali tercipta. Mereka berpelukan selama beberapa saat. Hingga akhirnya, pelukan itu kembali terlepas. Dan, lagi-lagi, Marvin lah yang merusaknya. Sehingga membuat sang mama langsung mencubit pinggang anak pertamanya dengan keras.
"Auh, mama sakit."
"Pengganggu. Selalu saja mengganggu kamu ini yah."
"Maaf, Ma. Maaf. Habisnya, kalian berpelukan terlalu lama. Aku sendirian. Saat aku ingin ikut, mama malah tidak mengizinkan. Aku kan juga mau berpelukan dengan adikku."
"Kamu anak nakal. Tidak perlu."
"Mama .... "
"Aina, lihatlah mama! Seperti inilah mama sama kakak mu. Kasihanilah kakakmu yang teraniaya ini, Ain. Bela lah kakak ya."
Mereka malah bercanda. Ternyata, hadir di tengah-tengah keluarga itu rasanya sangat berbeda. Ada perasaan hangat memenuhi hati. Perasaan nyaman dan bahagia. Singkatnya, bersama keluarga lebih menyenangkan bagi Aina sekarang.
Beberapa saat bercanda, akhirnya, Camelia dan Avin bersedia meninggalkan Ain sendirian di kamar tersebut.
"Butuh apa-apa, jangan lupa panggil mama ya, Nak."
"Gak panggil mama juga gak papa, Ain. Panggil kak Avin juga bisa ya."
"Hm. Avin. Kamu ini yah."
"Ih ... mama. Kok kesal sama aku sih? Kan aku juga ingin berpesan sama Aina. Aku juga ingin dia gak canggung sama aku."
"Hem ... suka-suka kamu aja deh. Udah, jangan ganggu adikmu lagi. Biarkan dia istirahat sekarang."
Pintu kamar pun langsung tertutup dengan rapat. Ain terdiam sambil menatap pintu itu. Perlahan, senyum manis langsung terukir. Hatinya sangat bahagia. Bertemu dengan keluarga kandung membuat hatinya semakin terasa senang dan nyaman.
Baru juga selang beberapa belasan menit keheningan menyapa Aina. Eh ... di luar sana malah terdengar heboh kembali. Suasana berisik semakin lama semakin terdengar dengan jelas. Sepertinya, ada beberapa orang yang sedang berjalan mendekat ke kamar Ain.
Aina terdiam sambil menatap ke arah pintu. Sementara itu, di luar sana, keributan ternyata diciptakan oleh papa dan kakak kedua Ain. Darius dan Bisma. Keduanya sibuk ingin melihat putri kecil mereka yang dulunya hilang, tapi sekarang telah kembali.
"Mama, biarkan papa melihatnya. Sebentar saja. Gak akan lama, Ma. Papa mohon," ucap Darius memohon pada istrinya.
Sayangnya, si istri tetap kekeh tidak ingin membiarkan suaminya melihat anak mereka sekarang. Camelia tidak ingin mengganggu istirahat putri tercintanya. Karena itu dia tidak mengizinkan suami dan anak keduanya untuk melihat.