Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: SINYAL DARI TIMUR
Kehancuran The Hive di Amazon menyisakan luka bakar di paru-paru bumi yang perlahan mulai menutup, namun bagi keluarga Syailendra, kemenangan itu hanya memberikan jeda singkat di tengah badai yang tak kunjung usai.
Mereka kini berada di sebuah rumah aman di Rio de Janeiro, sebuah vila kolonial yang tersembunyi di balik perbukitan Santa Teresa yang rimbun.
Di luar, suara musik samba dan keriuhan kota terdengar sayup-sayup, kontras dengan ketegangan yang menyelimuti ruang kerja di dalam vila.
Alana duduk di teras, menatap cakrawala samudra luas. Tangannya menggenggam secangkir teh hijau yang sudah dingin.
Meskipun luka fisiknya telah sembuh total berkat regenerasi DNA Teratai, kelelahan mentalnya mulai terasa berat.
Setiap faksi Ouroboros yang mereka hancurkan seolah-olah hanya memicu kemunculan faksi lain yang lebih radikal dan lebih fanatik.
"Mummy, ada sesuatu yang masuk melalui jalur komunikasi kuantum kita," suara Lukas memecah keheningan.
Ia keluar dari ruang kendali dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara bingung dan waspada.
Arlan, yang sedang membersihkan komponen senjatanya di kursi rotan, segera berdiri.
"Apakah itu sisa-sisa pengikut Bianca? Atau faksi Eropa yang mencoba bangkit kembali?"
"Bukan," jawab Lukas sambil meletakkan tabletnya di atas meja batu.
"Ini bukan sinyal Ouroboros. Enkripsinya kuno, menggunakan algoritma yang sudah tidak digunakan selama empat puluh tahun. Tapi sumbernya... sumbernya berasal dari Jepang. Kyoto, tepatnya."
Lukas menekan tombol putar pada layar. Sebuah video muncul, namun gambarnya sangat tidak stabil, dipenuhi bintik-bintik hitam-putih seperti rekaman film lama.
Di dalam video itu, tampak sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh puluhan lilin putih.
Di tengah ruangan, seorang pria mengenakan kimono tradisional berwarna hitam duduk bersimpuh dengan posisi seiza.
Wajahnya tersembunyi di balik topeng Hannya yang menyeramkan.
"Cucu dari Sang Penabur Benih..." suara pria itu terdengar serak, melalui proses modulasi yang membuatnya terdengar seperti desiran angin.
"Darahmu telah menyucikan hutan yang tercemar di barat. Namun, kau hanya membersihkan ranting-rantingnya.
Batang pohon yang asli, rahasia terdalam dari kakekmu, tidak pernah berada di tangan Ouroboros. Mereka hanyalah pencuri yang memegang bayangan."
Alana mengerutkan kening, matanya menyempit. "Siapa kau?"
Pria bertopeng itu tidak menjawab secara langsung. Ia mengangkat sebuah benda kecil ke depan kamera.
Itu adalah sebuah kunci logam berbentuk kelopak teratai, identik dengan simbol yang sering digambar kakek Alana di buku harian lamanya.
"Kami adalah Kuro Hasu—Teratai Hitam. Kami adalah penjaga janji yang kakekmu buat sebelum dia dikhianati oleh dunia.
Dia meninggalkan 'Kunci Terakhir' pada kami, bagian dari formula yang bisa memberikan kehidupan abadi... atau kehancuran total jika jatuh ke tangan yang salah.
Datanglah ke Kyoto, sebelum faksi timur Ouroboros menemukan tempat persembunyian kami. Waktumu hanya tiga hari sebelum gerbang kuil ditutup selamanya."
Video itu berakhir dengan distorsi tajam, meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.
"Sekte?" Arlan mendengus, nada bicaranya penuh skeptisisme.
"Setelah menghadapi ilmuwan gila dan kloning, sekarang kita harus berurusan dengan pemuja mistis di Jepang? Ini terdengar seperti jebakan, Alana."
"Kunci itu nyata, Arlan," bisik Alana. Ia berdiri dan berjalan menuju meja, jarinya menyentuh gambar kunci di layar.
"Kakek sering bercerita tentang masa mudanya di Kyoto. Dia bilang dia belajar tentang filosofi kehidupan dan kematian di sebuah kuil yang tidak ada di peta.
Aku pikir itu hanya cerita pengantar tidur, tapi kunci itu... bentuk kelopaknya memiliki urutan fraktal yang sama dengan urutan asam amino di dalam DNA Teratai-ku."
Lukas mengetik dengan cepat, mencoba mencari informasi tentang Kuro Hasu.
"Tidak ada catatan digital tentang organisasi ini di internet publik maupun dark web. Tapi aku menemukan referensi di arsip sejarah rahasia pemerintah Jepang tentang sebuah klan yang menghilang setelah Perang Dunia II.
Mereka disebut sebagai para alkemis yang mencoba menyatukan ilmu botani dengan spiritualitas."
"Jika mereka benar-benar memiliki kunci terakhir itu, kita tidak bisa membiarkannya," kata Alana tegas.
"Alfred dan Bianca gagal karena mereka hanya memiliki instruksi teknis tanpa filosofi dasarnya.
Jika bagian terakhir itu jatuh ke tangan sisa-sisa dewan Ouroboros, mereka akan menciptakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada virus hijau."
Arlan mengembuskan napas panjang, ia tahu ia tidak akan bisa mengubah pikirannya.
"Baiklah. Tapi kita tidak akan pergi sebagai tamu kuil. Kita akan pergi dengan persiapan penuh.
Jepang memiliki kebijakan senjata yang ketat, jadi kita harus menggunakan jalur pasokan The Sovereign di Osaka."
Luna, yang sedari tadi mendengarkan dari balik pintu, masuk dengan membawa boneka beruangnya. "Mummy, apakah kita akan bertemu kakek lagi di sana?"
Alana berlutut dan memeluk Luna. "Tidak secara langsung, Sayang. Tapi mungkin kita akan mengerti apa yang kakek inginkan untuk masa depan kita semua."
Dua hari kemudian, mereka mendarat di Bandara Kansai dengan identitas sebagai turis kaya dari Hong Kong.
Suasana Kyoto yang tenang dan dipenuhi kuil-kuil kayu tua memberikan kontras yang aneh bagi mereka yang baru saja keluar dari kengerian laboratorium Amazon.
Namun, Alana tidak tertipu oleh ketenangan itu. Sensitivitas DNA-nya menangkap kehadiran frekuensi radio yang tidak biasa di sekitar mereka—seseorang sedang mengawasi.
"Mummy, ada tiga mobil yang mengikuti kita sejak kita keluar dari stasiun Kyoto," bisik Lukas melalui earpiece yang tersamar sebagai alat bantu dengar.
"Mereka menggunakan kendaraan listrik yang sangat senyap. Plat nomornya palsu."
"Jangan bereaksi," bisik Arlan yang duduk di kursi kemudi mobil sewaan mereka. "Kita biarkan mereka mengikuti kita sampai ke pinggiran Arashiyama. Aku ingin tahu siapa mereka."
Saat mereka memasuki wilayah hutan bambu Arashiyama yang ikonik, jalanan mulai menyempit dan kabut sore mulai turun.
Tiba-tiba, mobil di depan mereka berhenti mendadak, sementara dua mobil di belakang mengunci posisi mereka.
Sekelompok pria berpakaian hitam dengan taktis modern keluar dari mobil. Mereka bukan anggota sekte; dari cara mereka bergerak dan senjata sub-machine gun yang mereka pegang, mereka adalah tentara bayaran profesional.
"Faksi Timur Ouroboros," geram Arlan. "Sepertinya mereka juga menerima sinyal yang sama."
"Tetap di dalam mobil, Lukas, Luna!" perintah Alana.
Alana keluar dari mobil dengan tenang. Ia tidak membawa pedang, hanya mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu. Pemimpin tentara bayaran itu, seorang pria dengan bekas luka bakar di lehernya, melangkah maju.
"Dr. Alana, serahkan data yang kau dapatkan dari Amazon dan ikutlah bersama kami," katanya dalam bahasa Inggris dengan aksen Jepang yang kental.
"Dewan Naga di Tokyo ingin bicara denganmu."
Alana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Aku baru saja membakar sebuah hutan untuk menghentikan kegilaan kalian. Apa kau benar-benar berpikir aku akan ikut begitu saja?"
Pria itu memberikan isyarat, dan anak buahnya bersiap menembak. Namun, sebelum pelatuk ditarik, sebuah suara lonceng yang dalam bergema dari arah hutan bambu.
DUNGGG...
Seketika, puluhan anak panah yang ujungnya berpendar biru melesat dari balik kerimbunan bambu.
Anak-anak panah itu tidak mengenai para tentara bayaran, melainkan menghantam tanah di sekeliling mereka, melepaskan kabut asap berwarna ungu yang sangat pekat.
"Gas pelumpuh saraf!" teriak Arlan dari dalam mobil.
Alana merasakan frekuensi yang akrab dari asap tersebut. Ini bukan bahan kimia sintetis; ini adalah ekstraksi tanaman yang dimodifikasi.
Ia menutup hidungnya dan melihat bayangan-bayangan bergerak cepat di dalam kabut.
Satu per satu, para tentara bayaran Ouroboros tumbang tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun.
Mereka tidak dibunuh, melainkan dilumpuhkan dengan presisi medis. Saat kabut mulai menipis, sosok-sosok mengenakan jubah abu-abu dan topeng kayu berbentuk kelopak bunga muncul di sekeliling mobil.
Salah satu dari mereka mendekati Alana dan membungkuk hormat. "Keturunan Sang Penabur... jalan menuju Kuil Teratai Hitam telah terbuka. Harap ikuti kami sebelum sisa-sisa 'Naga' membawa bantuan udara."
Mereka dibawa mendaki melalui jalan setapak tersembunyi yang tertutup oleh akar-akar pohon kuno.
Setelah berjalan selama satu jam, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi yang tidak terdeteksi oleh satelit karena adanya lapisan mineral magnetik di pegunungan sekitarnya.
Di sana, berdiri sebuah kuil kayu yang tampak menyatu dengan tebing batu.
Di dalam aula utama kuil, suasananya persis seperti dalam video pesan misterius itu.
Puluhan lilin putih menyala, dan aroma dupa sandalwood menenangkan saraf Alana yang tegang.
Pria bertopeng Hannya yang mereka lihat di video berdiri dari duduknya.
Ia melepaskan topengnya, memperlihatkan wajah yang sangat tua, namun matanya memiliki kejernihan yang luar biasa—dan pupil matanya memiliki semburat perak yang sama dengan Alana.
"Namaku Kenji," kata pria tua itu. "Aku adalah asisten pertama kakekmu saat dia masih menjadi mahasiswa di Universitas Kyoto.
Akulah yang membantunya merumuskan konsep pertama tentang 'Resonansi Kehidupan'."
Alana terpaku. "Kau... kau juga memiliki DNA Teratai?"
Kenji mengangguk lemah. "Versi prototipe yang kakekmu berikan padaku untuk menyelamatkan nyawaku dari radiasi Hiroshima.
Aku telah hidup selama delapan puluh tahun dengan beban ini. Dan aku adalah penjaga dari bagian yang paling berbahaya dari formula ini: Kunci Kesadaran."
Kenji membuka sebuah kotak kayu pernis yang terletak di altar. Di dalamnya, terdapat sebuah mikrokapsul yang berisi cairan yang tidak berwarna perak, melainkan berwarna emas murni.
"Formula yang kau miliki, Alana, memberikan kekuatan fisik dan regenerasi. Tapi tanpa Kunci Emas ini, DNA Teratai akan terus mencari inang baru, bermutasi menjadi monster seperti yang kau lihat di Amazon.
Kunci ini adalah pemutus arus. Ia yang mengendalikan agar formula tetap menjadi obat, bukan parasit."
"Mengapa kakek tidak memberikannya langsung padaku?" tanya Alana dengan suara bergetar.
"Karena dia ingin kau membuktikan bahwa kau memiliki hati yang cukup kuat untuk menolaknya jika perlu," jawab Kenji.
"Dia tahu Ouroboros akan memburumu. Dia ingin kau belajar tentang kegelapan dunia sebelum memegang cahaya ini."
Tiba-tiba, suara getaran mesin helikopter terdengar di atas kuil. Lampu sorot raksasa menembus atap kayu yang sudah tua.
"Mereka di sini," Arlan mencabut senjatanya. "Tim taktis udara Ouroboros. Mereka tidak akan membiarkan kita keluar dengan kunci itu."
Alana menatap mikrokapsul emas itu, lalu menatap keluarganya. Ia menyadari bahwa perjalanannya baru saja memasuki tahap yang paling genting.
Perang ini bukan lagi tentang menghancurkan laboratorium atau memenangkan saham; ini adalah perang untuk menentukan apakah umat manusia layak untuk menerima langkah evolusi berikutnya.
"Kenji, berikan padaku," kata Alana. "Aku akan menyelesaikan apa yang kakek mulai."
Malam di Kyoto yang tenang seketika pecah oleh rentetan tembakan dari langit. Di bawah bayang-bayang kuil kuno, Sang Permaisuri bersiap untuk melakukan sinkronisasi terakhir yang akan menentukan nasib seluruh dunia.
Sinyal dari Timur telah terjawab, dan sekarang, cahaya emas akan bertarung melawan kegelapan naga.