NovelToon NovelToon
Rani (Hujan Menciptakan Perubahan)

Rani (Hujan Menciptakan Perubahan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia / Trauma masa lalu / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.

Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab*32

Sementara itu, Rain yang berusaha mengejar, langsung berhenti karena tidak kuat lagi. Dengan napas yang terengah-engah, Rain merogoh saku celananya untuk menemukan ponsel.

"Sial! Kenapa tidak menjawab?" Kesal Rain bukan kepalang ketika panggilannya tidak mendapatkan jawaban.

Panggilan kedua ia layangkan. Sambil menunggu jawaban dari orang yang ia hubungi, Rain berucap dengan penuh emosi. "Apakah kamu ingin aku kehilangan istriku lagi? Cepat jawab panggilannya!" Rain bicara dengan nada yang penuh dengan penekanan.

Sesaat kemudian, orang yang Rain hubungi akhirnya menjawab panggilan yang Rain layangkan. "Iye, tuan muda. Ma-- "

"Dion! Apa yang sedang kamu lakukan! Cepat jemput aku! Kamu ingin aku kehilangan istriku lagi, ha?"

Menggelegar suara Rain memenuhi gendang telinga Dion. Hampir saja ponsel yang Dion pegang terjatuh ke lantai gara-gara suara keras Rain yang terdengar dari speaker ponsel tersebut. Sungguh, suara itu hampir membuat Dion jantungan.

"Astaga. Maafkan saya, tuan muda. Saya-- "

"Aku tidak mau tahu apa alasan mu, Dion. Sekarang! Jemput aku di rumah tua. Jangan buat aku kehilangan jejak istriku lagi, Dion."

"Apa? Ba-- baiklah. Saya ke sana sekarang juga, tuan muda."

Tanpa menunggu panggilan berakhir lagi, Dion langsung bergerak. "Ya Tuhan. Aku benar-benar ada dalam masalah sekarang." Dion bergumam sambil memasang cepat bajunya.

*

Prank! Rain menjatuhkan semua yang ada di atas meja kerjanya. Kesal pria ini sudah tak tertolong lagi. Pengejarannya gagal. Dia naik emosi.

Dion yang melihat hal tersebut tak berani bicara. Dion cukup takut akan kemarahan Rain. Namun, kali ini, kemarahan itu tak seperti yang Dion pikirkan. Meskipun Rain kesal, tapi amarahnya masih tetap terkontrol dengan baik.

"Dion."

"Iya, tuan muda."

"Kerahkan semua kekuatan, cari tahu di mana istriku berada saat ini. Ini wilayah kita bukan? Jadi, aku rasa, untuk menemukan istriku, tidaklah terlalu mustahil."

Dion mengangguk mantap. "Tenang, tuan muda. Selagi nona Aina masih dalam wilayah kita, maka mencarinya memang tidak akan sulit."

"Baik. Lakukan pencarian sekarang juga. Jika gagal, bonus bulanan untukmu tidak akan terselamatkan lagi, Dion."

"Mengerti, tuan muda." Dion mengangguk lagi. Kali ini, dengan hati yang agak bimbang.

Namun, Dion cukup yakin akan usahanya kali ini yang tidak akan gagal lagi. Karena seperti yang telah Rain katakan, selagi Ain masih berada di kota tersebut, maka menemukannya tidaklah mustahil.

Sementara itu, di sisi lain, Ain masih tidak banyak bicara setelah pertemuannya dengan Rain terjadi. Si kakak terlihat agak bingung dan cemas.

"Ain. Kenapa? Apa ... kamu masih memikirkan pria itu sekarang?"

"Ah, nggak kok, Kak. Aku gak mikirin dia. Lagian, buat apa mikirin orang yang sudah tidak lagi ada hubungannya dengan kita? Gak ada gunanya."

Avin langsung melepas napas berat. Walau Aina membantah apa yang baru saja ia katakan. Tapi Avin yakin, pria itulah yang menyebabkan adiknya diam sekarang. Adiknya mengatakan tidak. Tapi kenyataan malah sebaliknya.

Avin duduk di samping Aina yang saat ini sedang bersandar di bahu sofa.

"Ain. Maafkan kakak yah. Kakak gak bisa jaga kamu dengan baik," ucap Avin dengan penuh sesal.

Aina sontak langsung menggeleng cepat. "Kak Avin ngomong apa sih? Kenapa harus ngerasa bersalah? Kan semua ini bukan salah kak Avin."

"Siapa bilang bukan salah kakak, Ain? Kaka yang udah lalai dalam menjaga kamu. Harusnya, kakak siapkan penjaga buat lindungi kamu selama di sini. Biar gak ada manusia bajingan yang gangguin kamu."

"Lah, apa-apaan sih?"

"Kak. Lima tahun yang lalu, aku dan dia pernah punya cerita yang sangat indah. Kita pernah bahagia bersama. Dia yang ada saat aku jatuh ke titik terendah dalam hidup ketika satu-satunya keluarga yang aku miliki pergi meninggalkan diriku sendirian di dunia yang kejam ini."

"Lima tahun sudah berlalu. Aku susah memaafkan dia karena memutuskan hubungan dengan ku secara sepihak. Aku tidak berniat untuk membalas dendam atau menjadikannya sebagai musuhku. Karena bagaimanapun, aku juga punya benih cinta yang dia tinggalkan untukku. Meskipun dia sudah sangat menyakitkan hatiku waktu itu, tapi aku tidak ingin menyimpan dendam padanya."

"Kak Avin. Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama anak dan juga keluargaku. Aku hanya ingin hidup tenang bersama dengan kalian. Tanpa memikirkan dendam atau luka lama yang pernah menggores hatiku ini."

"Ain."

"Aku ingin melupakannya, kak. Aku ingin memutuskan hubungan dengannya secara baik-baik. Tapi, aku hanya ingin diriku sendiri yang melakukannya. Aku tidak ingin berlindung dibalik kekuatan keluarga ku."

"Tapi, Ain. Kamu adalah kesayangan kami. Bagaimana bisa kami biarkan kamu berjuang sendiri, Adik?"

Ain menatap wajah kakaknya dengan penuh kasih. "Aku tahu kalian sayang padaku, kak. Tapi, aku gak ingin masalah masa laluku dengannya diselesaikan dengan bantuan dari keluargaku. Aku ingin melakukannya sendiri. Aku ingin merasa benar-benar puas karena usahaku sendiri. Kak Avin mengerti kan apa yang aku maksud?"

Sesaat menatap wajah adiknya, Avin akhirnya angkat bicara. Kali ini, nada bicaranya berubah pasrah. "Heh ... baiklah, Ain. Kakak akan dengarkan apa yang kamu katakan. Akan kakak ikuti semua perkataan mu. Kakak yakin dan percaya, si bungsu kesayangan kami tidaklah lemah."

Ain tersenyum lebar. Segera, dia langsung menghambur ke dalam pelukan kakaknya. "Makasih banyak, kak Avin."

Sesaat memeluk kakak sulungnya, Ain langsung bangun lagi. "Ah, iya. Apa yang terjadi di sini, jangan sampai kak Avin ceritakan sama mama dan papa. Dan, yang terpaling penting, jangan sampai kak Bisma tahu. Kak Bisma kan sangat labil. Tar, malah emosian gak jelas lagi."

1
Patrick Khan
ayo lah Rain jgn lemah.. gitu mw nyari ain.. eh km aja lemah gitu
Cindy
lanjut kak
Patrick Khan
jgn bikin mental rain lemah dong kak.. 😖😖😖harus kuat lahhh🔥🔥🔥
Patrick Khan
ini smw gara² bapak km rain😖
Patrick Khan
bapak km gila rain
Patrick Khan
telat hadir😁😁😍
rose lilian
ayo rain bangkit kejar anak dan istri kamu
Sunarmi Narmi
Sampai sini aku masih bingung Thor..kurang paham soalnya..apa krn nama Tokoh yg rumit hmpir sama...atau aku yg oon🥴
Rani: ih, nggak kok. jalan ceritanya emang agak riwet kali yah. karena itu kamu kurang paham. harus baca pelan ... kali baru ngerti.
total 1 replies
rose lilian
lanjut dong seru banget nih
Rani: aish, sabar yah. lagi ada kerjaan aku nya.
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
Daulat Pasaribu
padahal rain sangkin cintanya sama kamu ain,dia takut kamu diapakan sama papahnya.makanya dibuat keputusan yg salah
Rani: terkadang kesalahpahaman bisa merusak segalanya.
total 1 replies
Daulat Pasaribu
kejam x org tuanya
Rani: banget. kebangetan
total 1 replies
Daulat Pasaribu
hadir thor
Rani: yuhu ... moga betah
total 1 replies
Cindy
lanjut
Rani: makasih yah, udah selalu ngasi semangat buat aku🫰
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Rani: wokeh👍🫰
total 1 replies
Cindy
lanjut
Rani: yuhu... laksanakan 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!