Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 3: Kembalinya Sang Penolong
Pagi itu aku bangun karena suara ketukan pintu. Keras. Berulang-ulang.
TOK TOK TOK.
"Iya sebentar!" Aku gelagapan bangun. Kepala pusing. Badan remuk. Tidur semalam cuma tiga jam—kebanyakan mikir, nangis, sama ngurusin Bapak yang batuk-batuk nggak berenti.
TOK TOK TOK.
"Iya!"
Aku ambil hijab asal-asalan. Lilit di kepala. Nggak pake cermin. Nggak sempet. Daster ku kusut. Mata bengkak. Tapi... ya udahlah. Toh yang datang paling Bu Ria atau Pak Bambang.
Aku buka pintu.
Eh.
"Zahra. Pagi."
Arkan.
Arkan Alexander berdiri di depan pintu kontrakan ku yang kayak kandang ayam. Pake kemeja putih lengan panjang yang rapi—dilipet sampe siku—celana kain abu-abu, sepatu pantofel coklat yang masih kilap meskipun jalanan becek. Rambut dia rapih. Wangi. Bahkan dari jarak semeter aku udah nyium parfum mahal yang baunya beda banget sama bau got di gang ini.
Aku... aku nggak bisa ngomong.
"Zahra? Kamu... nggak apa-apa?"
"K-kenapa... kenapa Mas disini?" Akhirnya keluar juga. Suara serak. Kayak orang abis nangis semalam—yang emang bener.
"Aku... aku cari kamu." Dia senyum. Canggung. Kayak baru sadar ini tempat yang... nggak biasa buat dia. "Kemarin kamu ninggalin ini." Dia keluarin sesuatu dari kantong celana.
Dompet.
Dompet lusuh warna coklat yang udah sobek di pojoknya. Dompet ku.
"Ya Allah... aku... aku nggak sadar ninggalin..." Aku langsung cek saku daster. Kosong. Berarti emang ketinggalan. "Makasih Mas... makasih banyak..." Aku terima dompet itu. Langsung buka. Cek isinya.
KTP lusuh. Kartu keluarga yang udah dilaminasi tapi pinggirnya sobek. Foto Mama—foto usang yang udah mulai pudar. Uang... dua lembar lima ribuan.
Sepuluh ribu.
Cuma itu yang aku punya.
Aku nutup dompet cepet-cepet. Malu. Malu banget. Orang sekaya dia pasti mikir... "anjir miskin banget sih ini orang."
"Zahra... tanganmu gimana? Udah diobatin?"
"Udah Mas. Bu Ria yang obatin." Aku sembunyiin tangan kanan yang diperban di belakang punggung. Reflek. "Mas... kok bisa tau rumah aku?"
"Kemarin aku ikutin—eh, bukan. Maksudku..." Dia garuk kepala. Gugup. "Aku... aku khawatir. Jadi aku minta supir aku nyariin kamu. Nanya-nanya sama orang sekitar. Terus... ketemu deh."
Khawatir.
Dia bilang khawatir.
Kenapa dia khawatir sama orang yang baru ketemu sekali? Yang cuma buruh cuci nggak penting? Yang...
"Zahra?"
"H-hah?"
"Kamu melamun."
"N-nggak kok... aku cuma... bingung..." Aku gigit bibir. "Mas... makasih ya udah balikin dompet. Tapi... Mas nggak perlu repot-repot dateng kesini. Aku... aku bisa ngambil sendiri kalau Mas kasih tau alamatnya..."
"Aku mau ngobrol sama kamu."
DEG.
Ngobrol?
"Ngobrol... apa?"
"Soal kemarin. Baju-baju yang rusak." Dia ngeluarin HP mahal dari kantong. Layar gede. Merknya... iPhone? Atau apa? Aku nggak ngerti. "Kamu kerja jadi buruh cuci kan? Aku yakin baju-baju kemarin punya langganan. Pasti mahal. Pasti harus diganti."
Aku diem.
"Zahra, aku... aku nggak bermaksud sok tahu. Tapi aku liat kemarin kamu nangis. Aku tau itu masalah besar buat kamu. Jadi... aku mau bantu."
"Bantu?" Suara ku keluar pelan. Hampir bisikan.
"Iya. Berapa yang kamu butuhin? Sejuta? Dua juta? Aku bisa—"
"Nggak usah."
Dia berhenti.
"...apa?"
"Nggak usah, Mas." Aku ulang. Lebih keras. Lebih tegas. Meskipun dada ku sesak. "Aku... aku nggak butuh bantuan Mas."
"Zahra, aku cuma mau bantu. Nggak ada maksud apa-apa. Aku—"
"Mas pikir aku ini apa?" Suara ku naik. Nggak sengaja. Emosi keluar tiba-tiba. "Pengemis? Orang susah yang butuh belas kasihan orang kaya?"
"Bukan gitu—"
"Terus apa? Mas dateng kesini, ke rumah kumuh kayak gini, nawarin uang, seolah-olah aku ini proyek amal Mas?" Aku nahan air mata. Keras-keras. "Aku miskin, Mas. Iya. Tapi aku nggak mau dikasihani!"
"Zahra, dengerin aku dulu—"
"Aku bisa nyelesaiin masalah aku sendiri. Aku nggak butuh uang Mas. Aku nggak butuh pertolongan Mas. Jadi tolong... tolong jangan dateng lagi kesini." Aku mundur. Pegang pintu. "Makasih udah balikin dompet. Selamat pagi, Mas."
BLAM.
Aku tutup pintu.
Keras.
Dan aku langsung nyandar di belakang pintu itu. Napas tersengal-sengal. Jantung deg-degan. Tangan gemetar.
Bodoh.
Bodoh banget Zahra.
Kenapa kamu nolak? Kenapa kamu marah? Dia cuma mau bantu. Dia baik. Dia...
Tapi... tapi aku nggak bisa.
Aku nggak bisa terima uang dari orang asing. Apalagi orang sekaya dia. Nanti dia mikir aku manfaatin dia. Nanti dia mikir aku deketin dia karena uang. Nanti...
"...Zahra?"
Bapak. Suara lemah dari kasur.
"Iya Pak..." Aku cepet-cepet lap mata. Masuk ke kamar. "Bapak kenapa?"
"Tadi... siapa yang datang?"
"Bukan siapa-siapa, Pak. Salah alamat."
Bohong. Lagi. Aku udah terbiasa bohong buat Bapak. Biar dia nggak khawatir. Biar dia nggak merasa bersalah.
"...Zahra... kamu nangis?"
"Nggak kok. Mata aku cuma... cuma kemasukan debu." Aku duduk di pinggir kasur. Senyum. Paksa. "Bapak udah minum obat?"
"Belum... obatnya habis..."
Habis.
Oh iya. Kemarin obat terakhir. Harusnya hari ini aku beli lagi. Tapi... uang cuma ada sepuluh ribu. Obat Bapak harganya dua puluh lima ribu. Belum lagi aku harus beli ember baru. Harus ganti baju-baju langganan. Harus bayar kontrakan. Harus bayar Kang Sobirin...
"Zahra... kamu lagi mikirin apa?"
"Nggak apa-apa, Pak." Aku pegang tangan Bapak yang kurus. Tulangnya aja yang kerasa. "Nanti Zahra beliin obat. Bapak istirahat dulu ya."
"...uangnya ada?"
"Ada Pak. Tenang aja."
Bohong. Lagi.
---
Aku keluar dari kamar. Duduk di lantai semen yang dingin. Natap ember plastik yang gepeng di pojokan. Natap baju-baju basah yang masih bertumpuk. Belum dicuci. Belum dijemur. Belum bisa dikembaliin.
HP jadul ku—layar retak, casing lecet—aku nyalain. Buka kontak. Cari satu nama.
**Siti Khadijah**
Aku pencet. Nunggu nada dering.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
"Halo? Zahra?"
"Siti... kamu lagi sibuk nggak?"
"Lagi goreng pisang nih. Kenapa? Suaramu aneh... kamu nangis?"
"Nggak... aku... aku butuh bantuan..."
"Butuh apa? Uang?"
Aku diem.
"Zahra? Kamu butuh uang? Berapa?"
"...sejuta..."
Hening. Di seberang sana.
"...Zahra, kamu tau kan aku juga lagi susah. Suami aku lagi nganggur. Jualan gorengan sehari cuma dapet seratus ribu, itu juga belum tentu laku semua. Aku... aku nggak bisa pinjemin segitu..."
"Iya... iya aku tau... maaf Sit, aku nggak seharusnya minta..."
"Bukan gitu. Aku mau bantu. Tapi aku beneran nggak punya. Kecuali..." Dia terdiam. "Kecuali kamu mau pinjam sama orang lain."
"Orang lain siapa?"
"...rentenir."
Rentenir.
Pak Harto.
Aku pernah denger cerita orang-orang di kampung. Pak Harto rentenir paling sadis. Bunganya gede. Nagihnya kasar. Kalau nggak bayar, dia bisa sita barang. Atau lebih parah... ancam keluarga.
"...Zahra, dengerin. Aku tau rentenir itu bahaya. Tapi kalau kamu beneran butuh uang cepet, itu satu-satunya jalan. Lagian kan kamu kerja. Kamu bisa bayar cicilan. Pelan-pelan."
"...Siti, aku takut..."
"Aku tau. Tapi... tapi kamu punya pilihan lain?"
Nggak.
Aku nggak punya.
"...oke. Kasih aku nomornya."
---
Siang itu, aku jalan ke rumah Pak Harto. Rumahnya nggak jauh dari kontrakan—cuma lima menit jalan kaki. Rumah permanen tembok cat oren nyala, pagar besi tinggi, ada motor gede di teras. Beda banget sama rumah-rumah lain di kampung yang pada reyot.
Aku berenti di depan pagar. Napas dalam. Dalam banget.
"Kamu bisa, Zahra. Demi Bapak."
Aku ketuk pagar.
TOK TOK TOK.
"Siapa?"
Suara berat. Galak.
"...Zahra, Pak. Zahra Amanda."
Pintu besi dibuka. Pak Harto keluar. Badan gede, perut buncit, kaos oblong item ketat, celana pendek. Mukanya... seram. Ada bekas luka di pipi kiri.
"Oh. Anak buruh cuci itu ya?" Dia senyum. Tapi senyumnya nggak ramah. Malah kayak... predator. "Mau apa kesini?"
"Pak... aku... aku mau pinjam uang..."
"Ooh. Pinjam?" Dia ketawa. Keras. "Berapa?"
"Sejuta, Pak."
"Sejuta? Buat apa?"
"Buat... buat urusan penting, Pak."
"Urusan penting?" Dia melipat tangan di dada. "Kamu tau kan kalau pinjam sama aku, bunganya gede? Lima persen per minggu. Kalau kamu pinjam sejuta sekarang, minggu depan kamu bayar satu juta lima puluh ribu. Minggu depannya lagi, tambah lagi. Ngerti?"
Lima persen per minggu.
Berarti... kalau aku bayarnya sebulan, bunganya... dua ratus ribu? Atau lebih?
"Aku ngerti, Pak."
"Jaminan apa yang kamu punya?"
Jaminan?
"A-aku... aku nggak punya apa-apa, Pak..."
"Nggak punya jaminan tapi mau pinjam?" Dia melotot. "Kamu pikir aku badan amal?"
"Pak... aku janji bakal bayar... aku kerja... aku bisa cicil..."
"Cicil berapa? Sehari lu dapet berapa dari nyuci baju? Dua puluh ribu? Tiga puluh ribu?" Dia ludah ke samping. "Lu makan apa? Lu bayar kontrakan pake apa?"
Aku nggak bisa jawab.
"Udah. Pulang sono. Aku nggak kasih pinjaman tanpa jaminan."
"Pak... tolong... Bapak aku sakit... aku butuh uang buat obat... tolong Pak..."
"Bapak sakit? Terus kenapa aku yang harus tanggung?" Dia udah mau masuk.
"PAK! TOLONG!"
Aku nggak tau kenapa aku teriak. Nggak tau kenapa aku tiba-tiba nangis di depan rumahnya. Di tengah jalan. Orang-orang pada ngeliatin. Tapi aku nggak peduli.
"...tolong Pak... aku janji bakal bayar... pake apa aja... aku... aku bisa jual barang... atau kerja lebih keras... tapi tolong... tolong pinjemin aku..."
Pak Harto natap aku lama. Diem. Serem.
"...oke. Aku pinjemin."
Eh?
"Tapi bukan sejuta. Lima ratus ribu. Cukup?"
"C-cukup Pak... makasih—"
"Tunggu. Belum selesai." Dia jalan deket. Nunduk. Bisik. "Kalau kamu nggak bisa bayar dalam sebulan, aku nggak sita barang. Aku sita kamu."
DEG.
"...apa maksud Bapak..."
"Kamu tau maksudku." Dia senyum. Senyum yang bikin bulu kuduk ku berdiri. "Cantik kayak kamu, pasti laku."
Oh Tuhan.
"...Pak... aku..."
"Mau atau nggak? Aku tunggu lima detik." Dia berdiri. Lipat tangan. "Lima."
Aku... aku nggak bisa mikir.
"Empat."
Bapak butuh obat.
"Tiga."
Aku butuh uang.
"Dua."
Nggak ada pilihan lain.
"S-satu—"
"AKU MAU!"
---
Aku keluar dari rumah Pak Harto sambil megang amplop coklat tipis. Isinya lima lembar seratus ribuan. Lima ratus ribu.
Uang yang didapet dengan... jaminan ngeri.
Tangan ku gemetar. Kaki ku lemas. Tapi aku jalan terus. Harus jalan. Harus beli obat Bapak sekarang juga.
Aku sampe warung Bu Sari—warung kecil yang jual sembako sama obat-obatan. Bu Sari lagi nimbang beras buat pelanggan.
"Zahra? Tumben siang gini. Biasanya malem."
"Bu... aku mau beli obat Bapak..." Aku keluarin resep dokter yang udah lusuh. "Ini Bu..."
Bu Sari baca. Terus ambil obat dari rak. "Dua puluh lima ribu ya, Zah."
Aku kasih tiga lembar sepuluh ribuan.
"Kembaliannya lima ribu... nih."
"Makasih Bu..." Aku terima obat sama uang kembalian. Mau langsung pulang.
"Zahra."
Aku berhenti.
"Kamu... kamu baik-baik aja?"
"...iya Bu. Kenapa?"
"Nggak. Cuma... mukamu pucat. Terus tanganmu gemetar dari tadi." Bu Sari natap aku khawatir. "Kamu ada masalah?"
"Nggak Bu. Aku cuma capek. Makasih ya Bu..."
Aku langsung lari. Nggak mau ditanya lagi.
---
Sampe kontrakan, aku langsung masuk. Bapak masih tidur. Napasnya berat. Keringat dingin di jidat.
"Bapak... Bapak bangun... Zahra udah beli obat..."
Bapak buka mata. Pelan.
"...Zahra?"
"Iya Pak. Ini obatnya. Diminum ya..." Aku siapkan air putih di gelas. "Bapak minum dulu..."
Bapak duduk. Pelan. Badannya gemetaran. Tangannya nyampah obat—tapi...
"Uhuk... uhuk... UHUK!"
Batuk lagi. Tapi kali ini...
Ada darah.
Darah merah segar keluar dari mulut Bapak. Banyak. Netes ke tangan. Ke baju. Ke kasur.
"BAPAK!"
Aku panik. Bapak batuk terus. Darahnya makin banyak. Napasnya sesak. Matanya merem melek.
"Bapak... Bapak bertahan... Zahra panggil ambulans... Bapak tunggu..."
Aku langsung lari keluar.
"BU RIA! PAK BAMBANG! TOLONG!"
Pintu rumah Bu Ria kebuka. Dia keluar.
"Zahra? Kenapa—"
"BAPAK BATUK DARAH! TOLONG PANGGIL AMBULANS! CEPET!"
Bu Ria langsung masuk lagi. Ambil HP. Nelpon.
Aku balik ke kamar. Bapak masih batuk. Darahnya... ya Allah... darahnya nggak berhenti.
"Bapak... Bapak nggak apa-apa... ambulans dateng sebentar lagi... Bapak tahan ya... tahan..."
Aku peluk Bapak. Erat. Nangis sejadi-jadinya.
"...jangan tinggalin Zahra... jangan..."
---
**BERSAMBUNG KE BAB 4: Tangan Terulur**