NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Sekarang mari lihat tanggal berapa ini? Hari Kamis, 25 Februari. Terhitung sudah tiga hari sejak kejadian itu, Cyan dan Magenta tak bertegur sapa. Magenta menyimpan rasa kesalnya terlalu dalam, bahkan sekadar menatap lama seperti dulu pun rasanya ogah.

Memang kegiatan rutin diantar jemput masih dijalanin seperti biasa, tetapi rasanya agak berbeda. Terlalu dingin obrolan mereka tiga hari belakangan ini. Selain membahas pekerjaan, tidak ada kelanjutan sampai akhirnya Cyan juga muak sendiri.

Ya, dia tahu alasan Magenta mengabaikannya, tetapi memilih tak mau dibahas saja. Paham bagaimana sifat Magenta yang suka mendramatisir keadaan sekecil apa pun. Lagian Cyan tidak ingin kabar aneh ini tersebar ke seluruh penjuru kantor. Mereka hanya bersandiwara, sekali lagi ... bukan pasangan sebenarnya.

Jadi, buat apa Magenta memendam cemburu begitu kuat pada klien Cyan? Oh, sangat tidak masuk akal kecuali dirinya memang menyimpan rasa.

“Gak profesional banget. Jelas-jelas cuma klien, tapi cemburunya kayak bocah. Ini demi kepentingan perusahaan,” gerutu Cyan dalam hati setelah Magenta mempersilakannya turun dari mobil. Lagi-lagi hening, tidak ada sapaan manis ataupun centil seperti hari-hari sebelumnya.

“Makasih,” ucap Cyan datar lalu melangkah sendiri ke bangunan kantor. Magenta berlari kecil di belakang menyusulnya. Saking marahnya, pria itu enggan berjalan beriringan, tetapi masih ingin menjaga Cyan.

Sementara gadis itu fokus melangkah, pandangannya tertuju ke arah lobby kantor yang mulai ramai. Beberapa orang menyapanya sebagai atasan dan Cyan membalas dengan anggukan singkat saja. Suasana hatinya sangat buruk. Ia tak mau mengeruhkan keadaan.

Sesampainya di meja kerja, Cyan meletakkan tasnya dan duduk tenang. Ia menguncir rambut, lalu membuka komputer perlahan. Gerakan Cyan ketika mengikat rambut itu menarik perhatian Raka. Ia menyadari tidak ada sosok Genta di sekitar Cyan.

“Bu, maaf ganggu dikit nih, hehe.” Raka menghampiri dengan senyum kudanya.

“Nggak ada cerita kamu ganggu sedikit. Selalu ganggu saya terlalu banyak,” balas Cyan ketus, tanpa mau menatap Raka.

“Maaf, Bu, tapi ini serius karena saya penasaran. Mas Maag gak masuk, ya? Kok tumben gak berbarengan? Biasanya ada Mas Magenta di belakang Ibu,” ucap Raka cengengesan.

Cyan menghela napas kasar, laporan dan berkas yang menumpuk di depan matanya membuat gadis itu muak sebelum melanjutkan.

“Saya gak tau dia di mana dan saya gak peduli. Dia ‘kan udah gede, ya kali gak bisa melawan pas diculik tante girang.”

“Pfft, HAHAHA!” Gelak tawa Raka memenuhi ruangan. Sontak saja mengundang atensi sebagian besar karyawan lain.

“Bukannya ngelawan, Bu, malah keenakan!” lanjut Raka lalu membekap mulutnya.

“Rak? Kamu balik ke mejamu atau saya siram pakai kopi sekarang!” ancam Cyan serius.

Kali ini Raka menurut, Cyan balik ke mode singa betina penguasa Saranjana. Ya, meski pertanyaan awalnya tadi belum terpuaskan juga. Bagaimana bisa sosok Magenta yang selalu mengintil Cyan seperti khodam rawa rontek itu tiba-tiba lenyap ditelan megalodon?

“Apa mereka ada masalah, ya? Berantem gitu? Hm, tumben juga Mas Maag kagak cerita apa-apa ke gue,” batinnya ingin mencari tahu.

“Panjang umur.” Raka menoleh santai ketika Magenta baru datang. Memang tercium hawa-hawa tidak sedap dari keduanya. Terlihat dari tatapan Magenta yang cenderung datar seperti tak semangat menjalani hidup. Ada apakah gerangan? Raka adalah satu-satunya orang yang penasaran.

Dan kegiatan harian di kantor itu tetap berjalan seperti biasa. Sesekali Raka memancing jokes recehnya ke Magenta, tetapi pria itu sibuk mendengar musik di earphone-nya. Kesal, Raka mencabut paksa earphone itu yang membuat Genta menatap nyalang.

“Maksud lo apa, Rak? Gue lagi gak mood.”

“Gue cuma penasaran, Mas, lo kenapa dari pagi? Kayak orang gak dikasih makan,” tanya Raka penuh selidik.

“Gak papa. Udah gak usah ganggu, gue banyak kerjaan. Lagi puasa juga.”

Sebuah penolakan yang tak membuat Raka menyerah begitu saja. Ia akan terus mencari waktu untuk menuntut penjelasan.

***

“Bu, ini laporan bulan kemarin sudah saya susun data-datanya dan diurutkan. Cuma saya bingung, tabelnya diisi apa lagi? Sebagai pertimbangan, saya berikan dua opsi ke Ibu. Tinggal pilih mau input yang mana,” ucap Dika, salah satu karyawan yang jabatannya setara dengan Magenta.

Mendengar suara yang tak asing itu, seketika Magenta menoleh cepat. Daya selidiknya muncul lagi, ia memasang telinga rapat-rapat.

“Bagus. Kirim saja dua-duanya nanti saya cek. Saya mau ke ruangan dirut dulu. Kamu bisa ikut saya bantuin bawa berkas,” balas Cyan tampak kerepotan. Sebelum Dika ambil alih, Magenta lebih dulu menyambar secepat kilat.

Mereka bertiga pun saling tatap, tapi Cyan tak bertahan lama karena keburu ngakak melihat ekspresi Magenta.

“Kerja sewajarnya aja jadi karyawan, Dika, gak usah caper gitu,” ucap Magenta panas.

“Hah, caper? Mana ada gue caper. Gue mau bantuin Bu Cyan doang bawain ini. Kasian dia kerepotan,” jawab Dika tak terima.

“Muncung lo mau gue iket pakai tali rafia, Dik?” sarkas Magenta diikuti tawa receh dari Dika.

“Iya, maaf. Oke-oke gue mundur. Silakan, Mas Magenta,” balas Dika menahan tawa lagi. Magenta mengambil alih berkas di tangan Cyan, lalu berjalan lebih dulu.

Cyan mengikuti dari belakang. Jarak mereka sekitar dua meter kurang, tapi Magenta tak mempermasalahkan. Sesampainya di ruangan dirut, Cyan mengambil berkas itu dan masuk sendiri. Ia tak mau ditemani karena ini adalah urusan bisnis pribadinya dengan dirut.

Magenta menunggu setengah cemas di depan pintu kaca itu. Sesekali bibirnya mengerucut, ada perasaan aneh ketika Cyan terlihat begitu akrab hingga tertawa kecil bersama pria lain. Aneh, padahal dulu tidak seperti ini.

“Terima kasih, Pak. Saya izin pamit. Kalau ada apa-apa silakan hubungi saya,” ucap Cyan setengah merunduk.

“Sama-sama. Mari, Cyan.”

Gadis itu berbalik badan, lalu membuka pintu. Refleksnya agak kaget ketika mendapati sosok Magenta telah berdiri tepat di hadapannya. Magenta bergeming, lalu memberi kode berupa gerakan alis agar mereka cepat pergi dari sana.

Bisu, memang bisu seperti tak kuasa berucap lagi. Dan Cyan mulai membenci keterbatasan ini.

“Ke mana lagi? Aku mau balik ke ruangan,” tanya Cyan.

“Ikut aku.” Magenta langsung menarik tangan Cyan menuju suatu tempat yang sepi. Ruangan OB.

Di sana hampir tidak ada orang karena para OB selalu memiliki jadwal bergantian. Palingan ada satu atau dua OB masuk mengambil atau menyimpan peralatan. Sisanya, tidak terlihat aktivitas apa-apa di sini. Sinar lampu pun sengaja dibuat agak remang.

Magenta menutup pintu dengan membelakangi, lalu berjalan pelan ke arah Cyan.

“Nih minum. Buka puasa dulu.”

Cyan tanpa ragu membuka botol air kecil yang entah sejak kapan di bawa Magenta. Setelah mereka berdua minum. Magenta makin mendekat dengan lain. Ada sedikit marah, ada sedikit khawatir, keliatan kayak kucing kehilangan induknya.

Tatapannya yang seolah ingin melahap gadis itu bulat-bulat. Cyan sendiri dibuat gagu dan takut, merasa terancam predator mengerikan seperti Genta, tetapi berusaha menjaga ketenangannya yang mulai goyah.

Magenta terus mendekat, mengikis jarak. Cyan terus mundur hingga beberapa kali menabrak peralatan kebersihan. Matanya berkedip cepat, meraba-raba sesuatu sebagai pegangan. Dan punggungnya tak sengaja menabrak meja panjang, tempat pekerja itu melepas penat dan makan siang.

“Kamu mau ngapain, sih bawa aku ke sini?” Cyan akhirnya berani bertanya setelah dibuat bingung sampai detik ini.

“Sekarang aku yang tanya, Syan. Kamu gak tanya kenapa aku beda?”

Cyan menggumam, menatap ke arah lain.

“Hm, emangnya kenapa?”

“Kamu gak sadar aku udah tiga hari ini marah ke kamu? Oke, bukan marah, tapi ngambek dan kamu gak peka sama sekali? Bahkan gak nanya aku kenapa?”

“Enggak, Gen. Buat apa aku tanya? Aku ‘kan sudah tau apa penyebab kamu marah dan gak bisa berbuat apa-apa juga,” jawab Cyan tak ragu.

“Minimal tanya dong, Syan. Harus peka jadi cewek!”

“Terus ekspektasi kamu apa selama ini, Gen? Aku tanya dan bujuk kamu, begitu? Aku aja gak pernah pacaran seumur hidup aku, jadi gak tau apa-apa tentang cowok. Lagipula kalau kamu cemburu tentang klien, aku sama sekali gak setuju soal itu. Sama sekali gak masuk akal karena sebagai atasan, aku harus profesional,” jelas Cyan panjang lebar dengan tatapan serius. Ia bahkan tak berkedip, menjadikan Magenta ikut menanggapinya tak kalah dalam.

“Jadi kamu gak menghargai aku sebagai pasangan?”

“Pasangan sandiwara, ‘kan? Buat apa terlalu serius, Gen?”

Magenta mendesah kesal, menarik napas panjang. Tak berpikir jauh, ia langsung mengangkat tubuh Cyan, membuatnya duduk di meja panjang itu. Cyan tidak bisa memberontak karena kedua tangan kekar Magenta mengunci pergerakannya.

“Gen!”

“Kamu gak bisa bujuk aku, ‘kan? Jadi ini tebusannya.”

Tanpa aba-aba, Magenta langsung mencium bibir Cyan. Seketika mata gadis itu membelalak, mendadak panik luar biasa karena mereka baru saja berbuka puasa. Magenta tanpa ampun memperdalam ciumannya, lidahnya liar menari-nari di sana sambil meremas rambut Cyan.

Erangan kecil terdengar, hasratnya sedikit bangkit dan itu jelas berbahaya. Cyan berani memberontak, tapi tak kuasa. Sementara Magenta semakin gragas memagut bibir ranum itu dengan mata terpejam sempurna.

“Gen .... hmph!” Bibirnya dilumat habis lagi, tanpa ampun tanpa perlawanan. Cyan memukul pelan punggung Magenta karena mulai kehabisan napas, tetapi pria itu tak peduli. Remasan di rambut Cyan juga semakin kuat, seiring ia menarik leher Cyan agar ciumannya makin intim.

Magenta menghentikan aksinya sejenak, menatap Cyan. Ia tersenyum, memberi kesempatan pada gadis itu untuk mengambil napas.

“Gen, sudah cu ....”

Belum sempat meneruskan, bibirnya dilumat lagi. Magenta mengisap lidah Cyan yang lembut dan hangat itu, lalu tangannya turun ke pinggang Cyan dan ditarik dalam pelukan. Cyan tak kuasa menahan gejolak hasrat yang mulai menguasai. Perasaan geli dan aneh menjadi satu. Lemah yang sulit dikatakan, ia seolah pasrah menyerahkan tubuhnya jika saja Magenta gelap mata.

“Eh?”

Suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh seketika. Seorang OB Laki-laki mengedip cepat, merasa bersalah karena tidak sengaja melihat adegan panas itu.

“Ma-maaf, Bu Cyan, Mas Maag! Sa-saya beneran gak tau ada orang di sini!” ucap OB tersebut merunduk. Seketika Cyan membuang muka, meremas rambutnya frustrasi.

Melihat adanya potensi gosip, Magenta berjalan mendekati pria itu. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan diberikan ke OB tadi.

“Mang, ini ada rezeki dikit buat ngerokok. Uang tutup mulut. Anggap aja mamang gak lihat apa-apa di sini ya. Tapi kalau kalau kesebar, kamu orang pertama yang saya cari.”

“Alhamdulillah, siap mas. Aman dan lancar jaya. Mulut ini akan ketutup.”

Segera setelah itu Magenta yang mau melanjutkan aksinya terkejut dengan ekspresi Cyan. Bukan malu, bukan sayu seperti tadi, tetapi marah. Marah khas singa yang mengamuk seperti saat ia telat dateng ke kantor.

“Genta…”

“I-iya, sayang.” Gulp. Ludah yang ditelan terasa agak sakit. Muka Genta pucat seperti abis dicabut bulu kakinya.

“KUNCIRAN AKU PUTUS! Kamu harus ganti yang sama percis dengan ukuran dan warna yang sama. Aku nggak mau tau! Titik!”

“Hehehe…”

Genta menggaruk kepala dengan kikuk. Kunciran?

“Haduh… ada-ada aja. Beli dimana?!”

1
Aruna02
laki laki mah kagak kelihatan lah syudah pernah gituan kalo cewek ada bekas nya 😭😭kok nggak adil ya
Aruna02
gentaaaa OMG jangan nyosor mulu
Laila Sarifah
Cyan pegangan ke bahu Genta dh kayak tukang ojek aja, peluk di perut kek✌️🤣
Rivella
lucu bnget deh Cyan dan Magenta🤣🤣
Rivella
lucu bnget namanya😭😭🤭
Aleaa
masa yang begini ngga pakai perasaan sih wkwkwk
Wulandaey
Lha si arga mau jadiin cyan bini kedua👍 jelas2 genta aj deketin stgh matii... klo kaga dicium jg g bkal genta brhasil tu dket sma bosnya yg galak introvert ini
Aleaa
wkwk genta gentw, lift pun berpihak padamu
Aleaa
Astagaaa ini dua orang dewasa kek bocil jadinya ya
Laila Sarifah
Apa itu yg namanya Karma? Mana suami Vira ini suka jelalatan lagi pasti di atas pesawat dia melakukan hal-hal aneh dgn pramugarinya
Drezzlle
Magenta ini pria yang blak2 an ada plus minusnya. Minusnya nggak bisa bedain lagi serius dan nggak
ainnuriyati
yaah vira sgitu doang kekuatan lu, blm apa2 sh kena sikat cyan
Drezzlle
cubit ya Magenta ih, masih pura-pura bilang nggak suka setelah semua yang terjadi.
brilliani
musang /Angry/ tolongg ada musang birahiyy tlongg
brilliani
jurus ngeles dan denial nya sama kuat🤣
Sinchan Gabut
Astaga Vi ma Ar ini pasangan 🚩🚩

Masing2 ud ad pasangan masih aj ganggu Genta n Cyan hih 😤
Alessandro
astaga berbagi iler....
ada2 aja,, cyan.. blh jg ngga baper2 club. cm jwb,
"ngga biasa aja, ud prnh lbh dr itu" 🤭
Alessandro
bs pas.. ini mo puasa yakkk🤭
jd gk sabar war takjil 🔪
Miley
genta heh wkwkw🤣
Miley
sehat² wanita karir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!