NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Dapur High Tower

Asap tipis mengepul dari tungku bata di sudut dapur Panti Asuhan "Cahaya Sauh". Ruangan itu sempit, dengan langit-langit rendah yang menghitam oleh jelaga bertahun-tahun, namun aroma kayu bakar yang terbakar memberikan kehangatan yang kontras dengan badai yang baru saja mereka lalui di hutan jati. Arkananta duduk di atas luku kayu tua yang dialasi karung goni. Kakinya yang telanjang dan bersimbah lumpur kini terbungkus sapu tangan kusam yang mulai basah oleh rembesan darah.

Nayara berlutut di depan suaminya, mencoba melepas ikatan sapu tangan itu dengan jemari yang gemetar. "Tahan sebentar, Arkan. Luka ini membutuhkan debridemen segera sebelum terjadi infeksi sistemik."

"Prioritaskan unit anak-anak, Nayara. Saya mendeteksi sinyal kelaparan dari arah aula tadi," Arkan menepis pelan tangan istrinya, matanya yang tajam menatap tumpukan karung beras di sudut yang tampak mengempis.

"Unit anak-anak telah menerima asupan air jahe dari Ibu Fatimah. Namun, distribusi logistik terhenti karena blokade di perimeter Desa Sunyi," jawab Nayara, suaranya parau. Ia bangkit, melangkah menuju meja kayu yang berisi tumpukan bawang dan sisa beras yang tinggal sedikit. "Seluruh kargo logistik dari kota mengalami sabotase. Terdeteksi kontaminasi residu minyak tanah."

Arkan mengeraskan rahangnya hingga otot pipinya berkedut hebat. Ia merasakan denyut panas di sumsum tulangnya—integritas tulang besi yang ia miliki seolah memberontak melihat istrinya harus bergelut dengan sisa-sisa makanan. "Jadi Kireina tidak hanya melakukan isolasi akses, tetapi juga melakukan terminasi pada operasional dapur ini."

"Target mereka adalah atrisi batin, bukan sekadar kekalahan strategi," Nayara mengambil pisau dapur yang sedikit berkarat dan mulai mengiris bawang dengan ritme yang cepat. Krek. Satu butir tasbih kayu yang pecah di tangannya tadi masih tersangkut di pergelangan tangannya, menjadi pengingat bisu akan tekanan yang hampir menghancurkan mereka di hutan.

"Berapa volume ketersediaan beras saat ini?" tanya Arkan, mencoba berdiri meskipun sendinya terasa seperti ditusuk jarum es yang tajam.

"Hanya cukup untuk satu siklus masak besar. Memadai untuk anak-anak, namun defisit untuk konsumsi kita," Nayara menoleh, matanya yang memiliki kemampuan melihat kebenaran menangkap pendaran aura kelelahan yang luar biasa pada suaminya. "Anda memerlukan asupan energi, Arkan. Anda telah melakukan absorbsi paksa terhadap rasa sakit saya di hutan. Saya melihat ruptur kapiler pada mata Anda."

Arkan mengabaikan rasa perih di matanya. "Alokasikan pada mereka. Saya telah memiliki imunitas terhadap rasa lapar sejak di High Tower. Lapar di sana jauh lebih toksik karena disajikan di atas kemewahan yang beracun."

"Tidak dalam yurisdiksi saya," sahut Nayara tegas. Ia menyalakan sisa bara di tungku dengan meniupnya melalui bambu kecil. Uap nasi mulai naik, membawa wangi yang jujur ke udara yang dingin. "Di dapur panti ini, setiap butir nasi adalah manifestasi doa. Saya akan menyiapkan nasi goreng bawang untuk Anda. Tanpa komoditas sutra, hanya kejujuran."

Tiba-tiba, pintu dapur terbuka dengan kasar. Seorang pelayan muda dengan seragam yang tampak terlalu bersih untuk tempat ini masuk dengan wajah meremehkan. Dia adalah orang suruhan yang menyusup bersama rombongan dari kota.

"Nyonya Besar menginstruksikan pesan khusus," ucap pelayan itu sambil meletakkan sebuah kantong plastik hitam yang berbau busuk ke atas meja. "Jika Tuan Arkan menghendaki konsumsi yang layak, lakukan evakuasi ke High Tower malam ini. Jangan biarkan reputasi keluarga besar terdegradasi di dapur kumuh ini."

Arkan tidak menoleh. Ia hanya menatap api di tungku. "Identifikasi nama Anda."

Pelayan itu tersentak. "S-saya Siti, Tuan."

"Siti, sampaikan pada Nyonya Besar. Martabat saya tidak memiliki korelasi dengan apa yang saya konsumsi, melainkan pada komitmen yang saya pertahankan," Arkan berdiri tegak, meski kakinya yang luka gemetar. "Evakuasi limbah itu sekarang, atau saya pastikan tangan yang menyentuh material busuk itu tidak akan pernah lagi memiliki akses pada porselen High Tower."

Pelayan itu pucat pasi, menyambar kantong plastik itu dan lari keluar dapur.

Nayara menarik napas manual yang berat, mencoba menstabilkan dadanya yang sesak. "Eskalasi mereka tidak akan berhenti, bukan?"

"Tidak sampai mereka melihat kita kehilangan kedaulatan diri," jawab Arkan, mendekati Nayara. Ia berdiri di belakang istrinya, merasakan uap nasi yang panas menyentuh wajahnya. "Namun mereka gagal mengkalkulasi satu hal. Mereka menganggap panti ini sebagai titik lemah, padahal di dapur inilah saya menemukan alasan untuk tidak bertransformasi menjadi monster seperti mereka."

Nayara terdiam, tangannya terus mengaduk nasi di atas wajan besi yang panas. "Aroma bawang ini... adalah sinyal kemenangan operasional kita malam ini, Arkan."

"Lakukan penyuapan pada saya," ucap Arkan tiba-tiba, suaranya merendah.

Nayara menoleh terkejut. "Arkan?"

"Saya ingin mengintegrasikan rasa Terra ke dalam sistem saya. Saya ingin kehangatan ini mengeliminasi sisa hawa dingin yang mereka injeksikan ke dalam nadi saya," Arkan menatap istrinya dengan intensitas yang mampu meluluhkan kebekuan batin.

Nayara mengambil piring kaleng yang sudah penyok di pinggirnya, menyendok nasi panas itu, dan meniupnya perlahan. Saat sendok itu menyentuh bibir Arkan, resonansi di antara mereka bergetar hebat. Arkan merasakan kehangatan yang menjalar dari tenggorokan hingga ke ulu hatinya, menghapus rasa besi yang sejak tadi mengganggu lidahnya.

"Teksturnya... sangat nyata," bisik Arkan.

"Ini adalah rasa dari sebuah integritas," balas Nayara.

Namun, momen itu pecah saat suara ledakan kecil terdengar dari arah kompor minyak yang berada di sisi lain dapur. Api menyambar kain lap yang tergantung di dekatnya. Mang Asep segera masuk dengan ember air, memadamkan api sebelum merembet.

"Lapor Tuan, Non. Terjadi sabotase pada sumbu kompor menggunakan akseleran bensin," lapor Mang Asep dengan napas terengah. "Target mereka adalah pembakaran area dapur."

Arkan mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Erlangga mulai menggunakan taktik agresi fisik."

"Jangan biarkan api ini mengalami terminasi, Mang Asep. Gunakan cadangan kayu jati di gudang belakang," perintah Nayara dengan ketenangan yang menakutkan. Ia kembali menatap Arkan. "Jika mereka melakukan sabotase pada kompor, kita akan beralih ke api kayu. Semangat kita tidak memiliki titik bakar, Arkan."

Arkan menatap istrinya yang kini tampak lebih kuat dari pilar-pilara beton di High Tower. "Analisis Anda benar. Besok, saya akan memaksa mereka melihat bahwa panti ini tetap memiliki daya. Saya instruksikan Anda ikut ke kota lusa nanti. Kita akan menghadiri jamuan yayasan."

"Dengan kondisi tekstil saya yang terkontaminasi lumpur ini?"

"Kita akan mendemonstrasikan bahwa lumpur panti asuhan memiliki kehormatan lebih tinggi dibanding sutra hasil eksploitasi," Arkan meraba sapu tangan di saku jasnya, yang kini basah oleh darah dari kakinya. "Saya akan memerintahkan Bayu menyiapkan protokol keamanan level tertinggi. Zona larangan terbang drone radius satu kilometer."

Nayara meletakkan piring kaleng itu. Ia mendekati Arkan, membelai rahang suaminya yang masih mengeras. "Lakukan fase istirahat sejenak. Biarkan saya yang mengawasi unit anak-anak dan sirkulasi api di dapur ini."

"Saya tidak akan memasuki fase tidur sebelum memastikan tidak ada proyeksi bayangan yang berani mendekati perimeter panti malam ini," Arkan menggenggam tangan Nayara, membawa tangan istrinya yang berbau bawang ke bibirnya. "Dapur ini adalah benteng pertahanan kita sekarang."

Di luar, hujan kembali menderu, seolah ingin memadamkan kehangatan kecil yang baru saja tercipta. Namun di dalam dapur yang remang-remang itu, Arkananta dan Nayara berdiri berdampingan, dua jiwa yang sedang ditempa oleh lapar dan luka, bersiap menghadapi konspirasi yang jauh lebih besar di jantung kekuasaan Astinapura.

Nayara tertegun sejenak melihat tangannya yang digenggam erat oleh Arkananta. Kehangatan kulit suaminya seolah menjadi obat penawar bagi hawa dingin yang baru saja mereka serap dari kegelapan hutan jati. Di bawah cahaya lampu petromaks yang mendesis, Nayara bisa melihat bintik-bintik keringat dingin di dahi Arkan—sebuah manifestasi fisik dari Iron Bone Marrow yang sedang bekerja keras menopang tubuh yang kelelahan.

"Arkan, izinkan saya melakukan pembersihan pada luka kaki Anda sekarang. Koagulasi darah ini telah menyatu dengan residu lumpur," ucap Nayara sembari mengambil sebaskom air hangat yang baru saja ia jerang di atas bara.

Arkan menarik napas manual yang berat, membiarkan istrinya berlutut kembali di depannya. Saat kain sapu tangan kusam itu dilepas, Arkan mengerang tertahan. Rahangnya mengunci, otot pipinya berkedut hebat. Luka sayatan akar jati itu tampak mengalami inflamasi akibat hawa dingin semalam yang masih mengendap di sendinya.

"Resonansi perihnya mencapai ulu hati saya, Arkan. Shared Scar ini tidak memberikan toleransi," bisik Nayara sembari membasuh luka itu dengan sangat hati-hati.

"Gunakan input sensorik ini sebagai pengingat, Nayara. Bahwa setiap jengkal tanah di panti ini diakuisisi dengan pengorbanan riil, bukan dengan angka digital di rekening bank," sahut Arkan, suaranya parau namun tetap mengandung wibawa seorang komandan.

Nayara mendongak, matanya yang abu-abu menatap Arkan dengan jernih. "Saya telah memetakan langkah untuk lusa nanti di kota. Saya tidak akan membiarkan Kireina atau Nyonya Besar menginterpretasikan retakan tasbih saya sebagai defisit kekuatan. Saya akan mengubahnya menjadi instrumen serangan."

"Tindakan yang tepat," Arkan menyandarkan kepalanya ke dinding bata merah yang kasar. "Instruksikan Ibu Fatimah agar unit anak-anak segera memasuki fase tidur. Malam ini, Bayu akan menjaga perimeter luar. Pastikan tidak ada drone Erlangga yang berhasil menangkap sinyal dari koordinat dapur ini lagi."

Nayara mengangguk, ia bangkit setelah selesai membalut luka Arkan dengan kain bersih dari lemari panti. Ia melirik sisa nasi goreng di piring kaleng yang tadi ia gunakan untuk menyuapi Arkan. "Habiskan asupan ini. Ini adalah cadangan energi terakhir sebelum kita menyusun strategi menghadapi unit berat fajar besok."

Arkan menarik piring itu, menyendok sisa nasi yang sudah mulai mendingin namun tetap memiliki aroma kejujuran yang kuat. Setiap suapan terasa seperti sebuah ritual penyatuan kembali dengan elemen Terra. "Aroma asap kayu ini... akan saya bawa ke High Tower. Agar mereka memahami bahwa kemewahan mereka adalah kepalsuan tanpa akar."

Tiba-tiba, dari arah aula panti, terdengar suara langkah kaki kecil yang ragu-ragu. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri di ambang pintu dapur, memeluk sebuah bantal kusam. "Ibu Nayara... saya merasa takut. Suara lalat besar di langit tadi masih tersimpan di memori auditori saya."

Nayara segera menghampiri anak itu, memeluknya erat. "Lalat besarnya telah dievakuasi, Sayang. Tuan Arkan telah melakukan pengusiran. Sekarang dapur telah mencapai suhu hangat, aroma nasi gorengnya sangat menenangkan, bukan?"

Anak itu mengangguk pelan, melirik Arkan dengan tatapan kagum sekaligus takut. Arkan memberikan senyum tipis—sebuah ekspresi manusiawi yang sangat jarang muncul di wajahnya yang sedingin marmer. "Lakukan fase tidur, Nak. Selama saya berada di koordinat ini, tidak ada bayangan yang akan menginterupsi mimpimu."

Setelah anak itu kembali ke kamar, kesunyian kembali menyelimuti dapur. Nayara kembali ke sisi Arkan, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang masih terasa tegang. "Apakah probabilitas kemenangan kita cukup tinggi, Arkan? Mereka menguasai kanal media, otoritas, dan metafisika gelap Kyai Hitam."

"Mereka memiliki semua variabel, kecuali satu," Arkan menggenggam tangan Nayara yang kasar karena pekerjaan dapur. "Mereka tidak memiliki keberanian untuk berpijak di atas lumpur. Dan itulah celah pada zirah mereka yang akan saya hancurkan."

Nayara memejamkan mata, membiarkan suara rintik hujan yang mulai mereda menjadi nina bobo bagi jiwanya yang lelah. Di dalam benaknya, ia terus melantunkan sholawat, menciptakan benteng batin yang perlahan-lahan meredakan resonansi Shared Scar yang tadi sempat memuncak.

"Malam ini kita melakukan pemulihan di sini, di dapur ini," bisik Arkan sembari menarik jas hitamnya untuk menyelimuti tubuh mereka berdua. "Besok, kita akan menghadapi unit baja dengan tulang besi."

Di bawah temaram lampu petromaks yang kian meredup, dua manusia itu terlelap dalam posisi duduk, bersandar pada pilar bata merah panti yang kokoh. Dapur yang tadinya dingin kini dipenuhi dengan napas yang teratur dan aroma uap nasi yang telah menyatu dengan takdir mereka. Perang untuk martabat panti asuhan "Cahaya Sauh" baru saja memasuki babak yang paling menentukan, dan mereka telah memilih untuk tidak mundur, meski hanya selangkah.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!