Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Lelah
Tasya membeku di tempat. Suara yang sangat khas dan selalu menemaninya di saat ia terpuruk, suara yang selalu menenangkannya serta memberikan harapan. Pemiliknya berada tak jauh darinya, nampak tampan seperti biasanya.
Radit terlihat amat berwibawa. Kedua tangannya penuh dengan aneka makanan dan mainan untuk Dicky yang ia pilihkan sendiri. Sejak tadi, Radit mendengar pertengkaran Tasya dan Setyo, ia semula tak mau ikut campur, ingat dengan nasehat yang diberikan Dina. Namun saat melihat Tasya terus dipojokkan oleh suami sok sucinya itu, Radit tak bisa diam saja.
Setyo mendongak. Ia menatap lelaki tinggi yang berwibawa, muda, tampan dan aura orang kaya menguar dari dirinya dengan tatapan sinis. Perbedaan Radit dan Setyo amat kentara, membuat Setyo makin insecure.
"Oh... jadi ini orangnya?" Setyo tertawa sinis. "Pas sekali, saat kita bicarakan, langsung datang."
Radit mengabaikan ucapan Setyo. Ia berjalan mendekat, kini ia bisa melihat mata Tasya yang berkaca-kaca menahan amarah dan sakit hati akibat ucapan suaminya yang amat menyakitkan tersebut. Hati Radit sakit melihat wanita yang ia cintai disakiti.
Radit tersenyum lebar lalu berbicara dengan lembut pada Tasya. "Sya, kamu belum jawab pertanyaanku loh. Kamar si tampan Dicky yang mana ya? Aku mau menjenguknya."
"Tak usah berkata sok lembut pada Tasya. Lelaki lain tak pantas memperlakukan istri orang seperti itu!" Setyo berkata dengan tegas.
Radit melirik Setyo lalu tertawa mengejek. "Lantas, aku harus berbicara dengan Tasya seperti apa? Berkata yang menyakitkan... seperti yang suaminya lakukan, begitu?"
"Siapa kamu berhak mendikteku? Jangan ikut campur ya dengan masalah rumah tangga kami!" bentak Setyo, suaranya terdengar kencang, menarik perhatian perawat yang sedang bertugas dan beberapa keluarga pasien.
"Siapa yang ikut campur? Aku? Tidak tuh. Aku hanya berbicara dengan karyawanku sendiri. Ada yang salah?" Radit memasang wajah tanpa dosa.
"Cih, masih berani mengatakan karyawan? Kamu sudah berselingkuh dengan istriku!" Amarah Setyo semakin memuncak.
"Istri?" Radit pura-pura lupa. "Tasya maksudnya? Oh... jadi kamu suaminya Tasya toh? Suami yang sudah membiarkan istrinya pergi dari rumah dan tak mau membiayai anak mereka? Aku dengar, malah mau mengirimnya ke panti asuhan?Hi, salam kenal. Akhirnya kita bertemu!" Radit tersenyum lebar.
"Itu bukan urusanmu. Tak perlu mengomentari rumah tanggaku. Apa hakmu berkata seperti itu?" balas Setyo.
"Hak-ku? Jelas aku berhak ikut campur karena apa yang terjadi pada rumah tangga kalian berimbas pada kinerja Tasya di perusahaan. Dia jadi sedih, tak semangat dan berakibat pada kualitas pekerjaannya yang menurun. Jika menyangkut pekerjaan, aku berhak ikut campur." Radit sengaja tidak mengatakan hubungannya dengan Tasya lebih dari rekan kerja. Radit rupanya masih mengingat pesan Dina.
"Pekerjaan... cih, mengapa tidak mengakui saja hubungan spesial kalian itu?" Setyo tertawa mengejek.
"Hubungan? Hubungan apa ya?" Radit memasang wajah polos. "Hubungan antara atasan dengan bawahannya? Bukankah sudah kuakui tadi? Anda lupa atau budi alias budek dikit?"
Wajah Setyo makin memerah mendengar ucapan Radit. Sementara Tasya tak menyangka Radit akan begitu tenang menghadapi Setyo, bahkan mengejek dengan entengnya.
Di tengah suasana yang memanas, pintu kamar Dicky terbuka. Sisca keluar dari ruangan dengan wajah bosan. Ia mendengar keributan di luar kamar lalu segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Sya, aku minta kamu menjauhi dia dan kembali pulang!" perintah Setyo, mengacuhkan keberadaan Sisca.
"Apa? Pulang? Pulang kemana, Mas? Aku sudah pulang ke rumah, kamu lupa?" jawab Tasya.
"Ke rumah Ibu, kemana lagi kamu pikir?"
"Ke rumah Ibu? Setelah aku diusir, dihina dan diperlakukan dengan tidak baik? Jangan harap aku mau, Mas!" balas Tasya.
"Kalau begitu, aku yang akan kembali pulang ke rumah kita!" putus Setyo.
Sisca tentu saja tidak tinggal diam. Setelah semua usahanya mendekati Setyo, membiarkan Setyo kembali ke rumah kontrakannya akan membuat usaha Sisca sia-sia. Suami istri di depannya akan berbaikan kembali dan membuatnya kehilangan kesempatan.
"Mas, lebih baik kita pulang sekarang. Tante Welas sudah mengirimiku pesan, memintamu segera pulang karena besok pagi kamu ada jadwal terapi." Sisca berdiri di belakang kursi roda Setyo, bersikap seolah dirinya adalah istri Setyo yang sebenarnya, bukan Tasya.
"Aku akan pulang bersama Tasya, Sis. Aku tak akan kembali ke rumah Ibu. Kamu pulang saja duluan!" balas Setyo.
"Loh, jangan dong, Mas. Nanti Tante Welas marah padaku. Siapa yang akan mengurusmu di rumah kecil itu? Kursi rodamu pun susah bergerak nanti. Mas tahu sendiri kalau dia sibuk dengan 'pekerjaannya'." Sisca sengaja menekankan kata 'pekerjaannya' pada Tasya, seolah Tasya sedang bekerja melacurkan diri, pekerjaan yang sangat hina dimatanya.
Tasya muak dengan semua ini. Muak melihat Setyo yang seenaknya. Muak dengan sikap sok suci Sisca, padahal mereka sebelas dua belas, sama-sama hina. Sama-sama berlumur dosa. Sama-sama menodai janji suci pernikahan.
"Sudah cukup, Mas." Tasya angkat bicara. "Mas tak perlu pulang ke rumah kontrakanku lagi. Pulanglah bersama wanita itu ke rumah Ibumu." Tasya bahkan enggan menyebut nama Sisca. Bayangan Sisca sedang meliuk liar di atas tubuh suaminya tak bisa ia lupakan begitu saja.
"Tidak. Aku akan pulang bersamamu. Kamu masih istriku, Sya!" tolak Setyo.
"Jangan membuat semuanya jadi rumit, Mas. Kita sudah menjadi tontonan perawat dan keluarga pasien yang lain. Cukup sudah Mas mempermalukanku. Ini rumah sakit, bukan arena tinju tempat memamerkan kehebatan seseorang." Tasya menghela nafas dalam. "Memang benar aku saat ini masih berstatus istrimu namun bukan berarti kamu berhak mengatur apa yang akan kulakukan."
"Jelas berhak! Aku-"
Tasya kembali memotong ucapan Setyo. "Mulai besok, Mas tak perlu datang lagi. Jangan bersikap sok peduli pada Dicky, anak yang ingin Mas titipkan di panti asuhan."
"Sya, saat itu Mas hanya emosi. Tidak berpikir panjang. Mas tidak benar-benar ingin menitipkan Dicky ke panti-"
"Walau dalam keadaan emosi atau tidak, tetap saja ucapan Mas sudah menyakitiku. Membuang Dicky, berarti membuangku dalam hidup Mas." Tasya menghapus dengan kasar air matanya yang akhirnya menetes meski sudah ia tahan sejak tadi.
"Oke... Mas minta maaf untuk Dicky. Mas tak akan begitu lagi. Sekarang, Mas akan pulang ke rumah kita. Kita selesaikan semua masalah rumah tangga kita, tanpa campur tangan orang lain!" balas Setyo.
"Hal itu tak akan pernah terjadi, Mas. Selalu ada orang lain dalam rumah tangga kita. Ibumu, anakku dan wanita di belakangmu," jawab Tasya. Ia menatap tajam pada Sisca yang nampak kesal karena Setyo mengacuhkannya dan sedang merengek ingin pulang ke tempat Tasya.
"Sya-"
"Cukup, Mas. Aku lelah. Pulanglah!" kata Tasya.
"Aku mau menyelesaikan masalah rumah tangga kita, Sya. Kenapa kamu malah mengusirku? Agar kamu bisa bersama lelaki itu?" balas Setyo.
"Mas mau menyelesaikan masalah rumah tangga kita? Aku juga. Kalau begitu, kita bertemu di pengadilan, Mas. Aku pastikan, masalah kita akan selesai secepatnya."
****
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
ehhhh siapa tuh cewek ujug2 minta transferan
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
apakah itu Radit yg datang yaaa uhhhh.makin panas dong
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
dicky tentu kau sangat menyayangi papamu...
Sisca kesempatan terus ngompor2in Setyo
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️