Tangisan bayi merah itu membuat Kiara menyerah dan menerima keinginan kedua orang tuanya. Menikah dengan ayah kandung dari bayi merah yang baru saja di tinggal kan ibu nya. Kiara mengorbankan cinta dan masa depan nya bersama kekasih hati untuk hidup dengan Bryan dan bayi yang baru saja hadir. Bagaimana kah kisah mereka???? Akankah Kiara kembali lagi ke kekasih nya, atau malah menjalankan rumah tangga bersama Bryan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yora Yul Martika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
" papa besok siang akan kembali ke bandung, karena ada pekerjaan urgent yang harus papa tanganin sendiri" ujar Roy setelah Kiara turun sedangkan Bryan masih di lantai atas
" Hmm kok cepat banget pah " ujar Kiara yang bergelayut di lengan papa nya
" Iya Ki,.karena lusa kita panen" ujar Roy , karena memang mereka memiliki kebun teh yang cukup luas di bandung
" Tenang saja mama tinggal sini kok, capek bolak balik kak kurang dari dua Minggu lagi kamu dan bryan akan resepsi" ujar mama Astrid kepada Kiara yang sedang memonyongkan bibirnya
" Hmmm oke deh pah " ujar Kiara setelah menarik nafas panjang
****
" Ahhhh kenapa harus Kiara , kenapa masih dari keluarga Kinan " pekik Tika di dalam kamar nya
" Tidak Bryan harus menjadi milik ku , bagaimana pun caranya " sambung nya kembali dengan menatap kaca di cermin
" Jika secara baik baik tidak bisa memiliki mu maka aku akan menggunakan cara kasar sayang meskipun aku harus menyingkirkan Kiara , hal yang tidak aku lakukan kepada Kinan " Tika berbicara dengan dada naik turun
***
" Malam ini alana tidur bareng mama dan papa ya . Kalian pasti capek kan" ucap Astrid kepada Kiara dan Bryan yang baru saja turun
" Ehh ngak usah mah , Alana sama aku aja . Kasihan nanti mama papa sering kebangun malam " tentu saja Kiara tidak ingin membuat kedua orang tuanya capek dan lelah
" Iya ngak apa nak, mama papa bisa bernostalgia lagi dong pada saat kalian berdua masih bayi" ujar Roy mengenang Kinan dan Kiara kecil
" Mama papa masuk kamar ya, kasihan Alana di pangku mulu" Tanpa mendengar balasan dari Kiara , Astrid yang menggendong Alana berjalan menuju kamar yang di ikuti oleh Roy
Karena kedua orang tuanya meninggalkan mereka berdua saja di ruangan keluarga, Kiara juga ber diri dan meninggalkan Bryan sendirian di sana. Namun sebelum Kiara melangkah dua pasang mata tersebut sempit bertemu dan secepatnya mereka mengalihkan pandanganya tersebut ke tempat lain
Sesampainya di kamar ponsel milik Kiara berdering seperti nya ada yang menelfon.
" Bara " ujar Kiara membaca nama yang tertera pada ponsel tersebut. Kiara menggeser ke ponsel ke warna hijau tersebut dan melangkahkan kaki ke balkon
" Halo " ujar Kiara
[ Gimana Ki? Apa ada kemajuan] tanya bara yang ada di seberang sana
" Ngak, ngak lagi maju soalnya" ujar Kiara ngelewak
[Hahah kamu ngak lucu kalau lagi ngelawak Ki] ujar bara yang di sebrang sana
" Aku juga ngak mintak pengakuan lucu dari kamu kok wkwkks" ujar Kiara tertawa yang masih di balkon
Di saat yang bersamaan Bryan masuk namun tidak menemukan Kiara di dalam kamar tapi mendengar suara tawa dari balkon. Bryan menoleh ke balkon dan menemukan Kiara yang lagi telfonan sambil tertawa cikikikan
" Hahaha iya iya oke" ujar Kiara yang di dengar oleh Bryan namun Bryan tidak mendengar jawaban orang yang ada di panggilan telfon tesebut
" Iya Bara , iya terimakasih" ucap Kiara setelah itu dengan tangan mengepal dan mata yang menyipit Bryan melihat pemandangan tersebut namun Kiara tidak menyadari Bryan yang sudah ada di dalam kamar
"Sungguh lucu , dia tidak pernah lagi tertawa seperti itu jika bersama saya namun ketika bersama Bara bahkan dia tidak sadar jika saya sudah ada di kamar saking senang menelfon" gumam Bryan melihat Kiara dari jauh
" Apa kau masih ingin memandang dan berbicara kepada bintang" ujar Bryan yang akhirnya ke balkon setelah memastikan Kiara tidak lagi berbicara kepada Bara lewat telfon genggam tersebut
" Hmmm paling tidak bintang tidak pernah menyakiti hati " ujar kiara " meskipun mata selalau memandang nya , berbicara kepadanya pun tidak ada larangan" ujar Kiara yang masih melihat ke atas langit
" Hmm saya meminta maaf atas kejadian siang tadi , saya keterlaluan dan melampauibatas " Bryan akhirnya mengumpulkan kekuatan dan energi untuk meminta maaf secara langsung kepada Kiara
" Hmm tenang saja , aku pemaaf dan kesalahan mas Bryan sudah aku maafkan " namun Kiara tetap tidak melirik atau pun melihat Bryan
" Apa kau yakin telah memaafkan saya ? Bahkan kau tidak melirik saya sedikit pun " ujar Bryan yang kini menatap perempuan yang ada di samping nya dengan rambut terurai panjang dan melihat ke atas langit membuat wajah nya bersinar terkena pantulan bulan membuat Kiara terlihat sangat cantik sempurna alami dan itu di akui oleh Bryan
' kenapa dia berubah menjadi cantik bersinar seperti ini' ujar Bryan di dalam hati karena terpana
" Iya saya yakin mas, sudah malam aku mau tidur dulu" Kiara melirik sesaat kepada Bryan lalu masuk ke dalam untuk berbaring di atas ranjang tersebut
Kiara memaksa mata nya terpejam tidur selagi Bryan yang masih ada di balkon kamar mereka
"Mata kenapa kau tidak mau terlelap? Aku ngak mau terjebak lagi dengan obrolan nya mas Bryan, jadi tidur lah wahai mata" Kiara masih berupaya memejamkan matanya
Tidak lama kemudian , Bryan pun menyusul Kiara ke kamar . Awalnya Bryan akan tidur di sofa kamar ini , namun matanya memutari kamarnya mencari sesuatu yang hilang
" Kemana sofa yang ada di kamar ini" gumam Bryan sendiri. Tentu saja tanpa sepengatahuan Bryan dan Kiara mama Ajeng yang di bangun oleh bik Sumi berhasil mengeluarkan sofa tersebut dari kamar utama
" CK sepertinya ini ulah nya mama ' Bryan menghirup nafas kasar dan menunduduki pantat nya di ranjang tersebut
Malam ini adalah malam pertama kali Meraka tidur satu ranjang berdua. Namun sayang tidak ada satu hal apa pun yang terjadi malam ini selain mereka menidurkan mata dengan paksaan
***
" Kamu tenang saja, Bryan dan istri nya saya pastikan akan datang ke acara pembukaan otomotif baru kamu sekaligus pameran mobil mewah" ujar beni di dalam panggilan telfon dengan Leo
[Baik pak, Sasya siap dan mengerti] ujar Leo di seberang sana
" Hmm aku akan menggunakan laki laki bodoh ini sebagai alat penghancur keluarga mereka " ucap Beni setelah memastikan panggilan tersebut terputus
" Aku yakin papa pasti bisa merebut hak milik kita pah" ujar perempuan paro baya yang berada di samping beni
" Tentu mah, aku tidak rela jika hanya mendapatkan satu cabang kecil sedang kan Bram ia mendapatkan kantor pusat dan beberapa cabang lain nya, apa bedanya aku dengan Bram " Beni yang mengingat jika dirinya mendapat secuil dari harta ayah mereka
" Bedanya Bram di lahirkan dari seorang istri yang sah mas sedang kan kamu dilahirkan dari istri kedua , istri sirih apa itu belum cukup mas? Perbedaan yang sangat nyata dengan mas Bram yang jelas jelas ...."
" Diamlah " ujar beni berteriak