Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan
Malam ini di keluarga Adit sedang makan malam bersama. Ada papa mama dan adiknya serta Adit tentunya. Mereka terdengar berbincang ringan di sela sela menikmati makan malam kali ini.
" Ma pa , kalinya setuju kan kalau aku menikah sama Amara? ". Tanya Adit tiba tiba membuat keluarganya kaget.
" Kamu serius? ". Papa mencoba memastikan.
" Sangat serius pa.. Adit cuma butuh restu kalian. Kalian kan sudah kenal dia. Jadi tolong ijinin Adit menikahi dia pa".
" Sebenarnya sekali bertemu belum berarti banyak, belum bisa di katakan sudah kenal. Tapi menurut kesan pertama tadi, papa nggak masalah kalau kamu sama dia. Kelihatannya dia baik, ramah dan nggak neko neko".
Sementara mama terlihat membulatkan matanya kaget. Dia tidak menyangka kalau papa akan setuju begitu saja padahal dia sudah menyiapkan seseorang yang menurutnya sempurna untuk Adit.
"Bener banget pa... sesederhana itu dia... makanya Adit suka karena nggak ribet. Jadi papa restui nih? ".
" Nggak bisa langsung setuju gitu aja pa. Kita harus lihat bibit bebet dan bobotnya dulu. Siapa pun yang masuk keluarga kita, dia harus orang yang jelas keluarganya. Jangan sampai ini akan membuat keluarga kita malu". Mama masih mencoba menggagalkan rencana Adit.
" Keluarganya jelas ma.. Dari keluarga baik baik, nggak ada cacat apapun. Walaupun mereka bukan dari kalangan atas, tapi mereka cukup di segani di lingkungan nya". Aku tetap membela Amara.
" Ma.. kita tidak bisa memandang seseorang hanya dari latar belakangnya saja. Menurut papa yang penting ada di orang itu sendiri. Bagaimana dia memperlakukan dan menghormati orang lain. Itu justru yang utama ". Papa memaparkan alasannya.
" Tapi pa... mama sudah menemukan calon istri yang sempurna untuk Adit. Yang berasal dari keluarga yang bukan cuma terpandang, tapi juga keluarga berada. Pasti cocok sama keluarga kita".
" Itu itu aja yang mama bahas. Dia yang mama maksud adalah yang mama bawa pulang beberapa hari lalu? yang dandanannya berlebihan dan manja itu? ".
" Iya dia pa... anak orang kaya pasti begitu pa, suka dandan dan agak manja karena sudah biasa di layani. Tapi dia bener baik pa... cocok sama Adit".
" Yang tahu cocok atau tidak itu Adit, yang menjalani bukan mama atau pun papa".
" Maaf ma... mama menyuruh Adit mencoba mengenal Maria, dan Adit sudah lakukan. Tapi Adit tidak suka dia".
" Kamu tidak suka di mananya sih? orang cantik gitu".
" Nggak tahu... sikapnya membuat aku tidak nyaman. Aku lebih nyaman sama Amara".
" Coba lah mengenal lebih dekat lagi, pasti kamu akan suka".
" Kalau gitu mama juga harus mengenal Amara lebih dekat lagi, biar mama tahu siapa yang lebih baik untuk Adit". Adit masih terus bertahan dengan pilihan nya.
"Maaf ya ma.. pa... kak.. memangnya siapa dan seperti apa pilihan kakak ini? ". Kali ini Randi, adiknya Adit ikut berbicara karena merasa suasana mulai memegang.
" Hanya wanita sederhana yang mencoba naik tahta". Jawab mamanya ketus.
" Dia wanita spesial yang limited edition ". Jawab Adit
" Dia sederhana tapi menyejukkan ". Jawab papa membela Amara.
" wah seru nih". Perkataan Randi membuat semua menoleh padanya. " Iya dong seru. jawaban kontras banget sama jawaban papa dan kakak. Emang dia seperti apa? wajah nya, penampilan nya".
" Kampungan". jawab mama
" Ma... jaga bicaramu..!. Dia bukan kampungan, tapi memang seperti itu lah penampilan seorang wanita muslimah yang benar. Menutupi aurat dan tidak dandan berlebihan. Sederhana tapi tahu kodratnya. Bukan wanita yang suka memamerkan auratnya. Apalagi bermanja manja sama lelaki yang bukan mukhrim".
Rendi mengerutkan alisnya mencoba menebak seperti apa wanita yang sedang mereka perbincangan. Dan saat itu juga Adit menunjukan ponselnya kepada Rendi. Ponsel yang menampilkan potret seorang wanita yang tersenyum tipis di sana. Wanita sederhana tapi terlihat anggun.
" Ini.... Orangnya? ".
Adit hanya mengangguk menunggu reaksi Randi selanjutnya.
" Manis.. sederhana tapi tetap anggun. Kakak suka yang seperti ini?".
" Iya.. . nggak level kan sama keluarga kita? ". Mama mengomentari dengan masih memasang wajah tak suka.
" Yang penting akhlaknya dek... ". Adit membela diri.
" Betul... yang utama adalah akhlaknya, penampilan nomor sekian. Tapi kalau menurut papa penampilan juga sudah ok".
" Aku jadi pengen ketemu langsung. Dimana aku bisa ketemu dia kak? ".
" Mau ngapain? ".
" Pengen buktikan aja, omongan siapa yang benar. Aku pengen jadi penengah di sini, biar nggak ribut".
" Nggak ada yang mau ribut Ran... Cuma beda pendapat aja. Semua keputusan tetap di tangan Adit". Akhirnya papa mengambil keputusan.
" Tidak bisa. Jika Adit tetap mau sama dia, maka buktikan kalau dia memang pantas masuk keluarga ini. Kalau tidak maka jangan harap Adit bisa sama dia. Adit harus sama Maria".
Mama berucap tegas dan langsung pergi meninggalkan ruang makan tanpa mempedulikan panggilan papa.
" Huh... mama ini susah banget sih tinggal kasih restu buat anak aja". Adit terlihat hampir putus asa.
" Udah Dit... papa dukung kamu kok. Turutin mamamu aja, tunjukan kalau Amara layak jadi istri kamu. Kalau papa malah ragu apakah kamu layak mendapatkan dia? "
" Kok papa gitu... "
" Makanya kamu tunjukan juga perjuangan mu. Kan kamu bilang dia limited Edition, masa nggak kamu perjuangkan".
" Tapi kak yang paling penting adalah kakak harus jaga hatinya cewek itu, siapa namanya tadi? Jangan sampai dia sakit hati sama mama. Ka tahu sendiri mama gimana? Jangan sampai dia mundur gitu aja".
" Betul itu". papa tampak setuju dengan Randi.
" Kalian memang udah pacaran berapa lama? ".
" Kami nggak pernah pacaran Ran. tapi kalau kenal sudan hampir setahun. Dia tak pernah mau aku ajak pacaran. Katanya jalani aja apa adanya".
" Serius kak. Tapi dia suka kakak juga nggak? jangan jangan kakak cuma ke ge er an aja lagi"
" Enak aja kamu. Kalau dia nggak suka aku, mana mau dia di ajak kenalan sama kalian. Lagian aku udah pernah ngajak dia nikah dan dia nggak nolak. Walaupun juga belum di terima".
" Beneran? Kaka di gantung gitu? ".
" Bukan di gantung, cuma dia bilang nunggu hatinya benar benar yakin".
" Nah... berarti kamu juga harus meyakinkan hatinya Dit"... Papa ikut menanggapi.
" Iya itu PR nya pa.... ".
" Tapi mungkin dia mulai yakin pa.... makanya dia mau di ajak ke sini. Kalau di ajak pacaran aja nggak mau, apalagi di ajak main ke rumah cowok kan? ".
Aku dan papa hanya mengangguk angguk kepala karena memang benar yang di katakan Adit.
" Ya udah kak.... Dimana aku bisa temui dia? aku pengen lihat dia langsung".
" Dia kerja di butik ZAHIYU".
" Pelayan kak? ". Randi tampak terkaget.
" Bukan lah.... Dia designer ".
" oh... kirain.,. keren juga. Ya udah kapan kapan aku mampir ke butik deh".
Dan malam itu menjadi malam yang panjang buat Adit. Bagaimana tidak, dia memiikirkan cara agar mamanya bisa merestui dia dan Amara. Papanya benar, kalau dia harus memperjuangkan Amara. Di sisi lain dia senang karena papanya sudah setuju, tapi di sisi lain juga berat karena mamanya belum setuju. Apa lagi di tahu bagaimana mamanya, dia sangat sulit di luluhkan. Apalagi dia sudah punya Maria yang begitu di banggakan nya.
Dalam hati dia berharap, semoga Amara mau berjuang bersamanya. Semoga Allah memberi jalan untuk mereka bisa bersama dan semoga Amara bisa meluluhkan hati mama.