Tiara pergi ke kantor catatan sipil menemani bibinya yang akan bercerai dengan suaminya. Siapa sangka seorang pria menarik tangannya dan memperkenalkan dirinya sebagai calon istri pada seorang wanita tua yang berada di sebuah kursi roda.
"Ibu, dia calon istriku. Aku pasti akan menikah lagi, dan memberikan Andrew seorang ibu. Sekarang ibu sudah mau di operasi kan?" tanya pria yang menggenggam erat tangan Tiara.
"Eh, pak ini apa..."
Mata Tiara melebar, pria itu menciumnya. Begitu saja. Lalu berbisik pada Tiara.
"Bekerja samalah dengan ku. Aku akan berikan apapun yang kamu mau!"
"Wah, kalian benar-benar mesra. Baiklah, kalau begitu langsung masuk saja. Ibu baru mau dioperasi kalau kalian sudah dapat sertifikat pernikahan!"
Rahang Tiara nyaris jatuh.
"Me.. menikah? nyonya, aku masih SMA" kata Tiara tergagap.
Pria matang dan dewasa yang menciumnya tadi cukup terkejut.
'Dia masih SMA?' batinnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Andrew menoleh, melihat ke arah Tiara yang juga tengah melihatnya. Banyak pertanyaan di kepalanya, tapi dia bahkan bingung mau menanyakan yang mana dulu kepada Tiara.
"Kamu tahu tidak, kalau dia ayahku sebelum kaki setuju menikah dengannya?" tanya Andrew lirih.
Tiara yang matanya juga mulai berkaca-kaca, padahal biasanya dia sangat tegar. Menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku tidak tahu"
"Kenapa Tiara?" lirih Andrew yang terdengar begitu pilu.
Seorang pria menjatuhkan air matanya, pasti hatinya sudah sangat sakit dan terluka. Itu yang Andrew rasakan. Entah kenapa rasanya sakit sekali mengetahui Tiara dinikahi oleh ayahnya.
Andrew kembali menundukkan kepalanya, dia mengusap kasar kepalanya. Terlihat Andrew sangat frustasi. Tiara sungguh tidak tega. Dia belum pernah melihat Andrew seperti itu. Margaretha dan Nicholas juga.
Margaretha berusaha untuk berdiri dan mendekati Andrew. Tiara yang melihat ibu mertuanya kepayahan, berusaha membantu.
"Andrew, dengarkan penjelasan nenek sebentar ya nak. Saat Tiara menikah dengan ayahmu, tidak ada satu pun yang tahu tentang hubunganmu dengan ayahmu. Nenek tidak tahu kalau Tiara, ternyata adalah..."
"Aku benci kalian! aku benci kalian semua!" pekiknya menyela ucapan Margaretha.
Andrew mengambil vas bunga yang ada di atas meja ruang tamu itu dan membantingnya dengan keras.
Prangg
Tiara maju ke depan, dia melindungi Margaretha dari serpihan kaca yang mungkin saja terpental dan mengenai wanita tua itu.
Nicholas juga segera bangun, dia mendekati ibunya dan Tiara, niatnya juga sama. Melindungi kedua wanita itu, kalau saja serpihan kaca dari pecahan vas itu mengenai mereka.
Andrew berlari ke luar, hatinya hancur. Dia tidak bisa menerimanya, dia tidak bisa menerima gadis yang dia suka, gadis yang masuk dia usahakan mengejarnya, gadis yang dia pikir hanya dialah satu-satunya yang pantas dan cocok untuknya malah menikah dengan ayahnya. Menjadi ibu tirinya. Dia masih tidak bisa menerima hal itu.
Andrew berlari ke arah mobilnya, masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu mobil itu dengan keras. Andrew mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi saat keluar rumah.
"Andrew!"
"Tuan muda"
"Andrew!"
Nicholas segera bergegas ke arah mobilnya.
"Tuan, aku saja yang mengejar tuan muda!" kata Will yang melihat ke arah Margaretha dan Tiara yang bahkan sudah menangis.
"Jaga dia, pastikan dia baik-baik saja!" ujar Nicholas.
Dari kalimat itu, kalimat yang bisa di dengar dengan jelas oleh Tiara itu. Tiara bisa merasakan kalau Nicholas sangat perduli pada anaknya. Tapi kenapa malah memanas-manasi Andrew tadi.
Tiara menyeka air matanya. Dia mana pernah menyangka, kalau dia akan terlibat dengan masalah keluarga sepelik ini. Dia pikir masalah bibinya itu sudah cukup kompleks. Ini ternyata masih ada yang lebih kompleks daripada masalah bibinya.
"Ibu, Tiara. Masuklah ke dalam!" kata Nicholas.
**
Andrew masih tak bisa menahan emosi dan kesedihannya. Dia adalah pemuda yang sebenarnya sangat pantang menangis. Tapi pada akhirnya dia menangis seperti itu. Dia merasa sangat sedih, sangat kecewa, merasa semua orang benar-benar tidak ada yang memikirkan perasaannya. Kenapa selalu dia yang ditinggalkan dan kesepian.
Saat ayahnya selingkuh, ibunya memilih mengakhiri hidupnya. Ibunya meninggalkannya begitu saja. Ayahnya sibuk bekerja, tak menjelaskan apa-apa padanya. Membuatnya sangat membenci ayahnya. Dia kesepian dan di tinggalkan.
Dan di saat dia menyukai seorang gadis. Berharap bisa mendapatkan cinta dan kebahagiaan dari gadis itu. Bersama dengan gadis itu. Gadis itu pun sekarang meninggalkannya. Lebih pahit lagi, gadis itu menikah dengan ayahnya. Kenapa semua orang meninggalkannya. Kenapa yang dia perdulikan tak pernah perduli padanya.
Andrew merasa begitu hancur. Begitu sendirian, begitu pedih karena merasa sangat kesepian.
Will dengan kecepatan tinggi berusaha terus menjaga Andrew dari arah belakang. Dia berusaha untuk memastikan tidak ada mobil yang melaju di belakang Andrew, mengawasi mobil dari arah berlawanan juga.
Hingga Andrew menghentikan mobilnya di sebuah gedung yang terbengkalai. Tapi tempat itu memang diketahui Will, merupakan markas Andrew berkumpul dengan teman-temannya. Tapi sekarang mungkin teman-temannya itu masih berada di sekolah.
Will menghentikan mobilnya agak jauh, memastikan tuan mudanya itu tidak dalam keadaan tidak baik.
Andrew keluar dari dalam mobil, berdiri di samping mobilnya. Berteriak dengan sangat keras.
"Agkkhhhh!" pekiknya.
Will yang melihat itu merasa sedih. Dia seolah bisa merasakan betapa pedihnya hati Andrew saat ini.
Bahkan ketika pemuda itu terduduk lemas di tanah, bersandar pada mobilnya. Will mengusap wajahnya perlahan. Dia benar-benar merasa begitu sedih.
Will mengambil ponselnya, mengirim pesan pada Nicholas. Menjelaskan bagaimana keadaan Andrew saat ini.
**
Nicholas yang menerima pesan dari Will. Terlihat menghela nafas panjang.
"Bagaimana Andrew, Nicholas? dimana dia? dia baik-baik saja kan?" nenek Margaretha tak bisa membendung air matanya.
Tiara juga merasa begitu bersalah disini. Tapi, meskipun tidak menikah dengan Nicholas. Dia sungguh tidak akan menerima Andrew lagi. Saat pacaran saja dia sudah diselingkuhi 13 kali. Dia sungguh tidak akan pernah kembali lagi pada Andrew apapun yang terjadi. Tapi, rasa bersalahnya adalah ketika dia malah menikah dengan ayahnya Andrew. Setiap hari mereka pasti akan bertemu. Dan setiap hari melihat Tiara, Andrew mungkin akan terus terluka.
Nicholas berbalik melihat ke arah ibunya.
"Dia di gedung tua itu. Will masih disana, dia akan terus menjaganya" kata Nicholas.
"Anak itu..." Margaretha tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Dia sungguh tidak tahu, kalau Tiara adalah mantan kekasih Andrew. Tapi, di sisi lain, dia juga tidak pernah melihat Nicholas bisa dekat seperti ini dengan seorang wanita setelah 12 tahun. Dia juga dalam pilihan yang sulit.
"Ibu, lebih baik ibu istirahat..."
"Aku temani ibu istirahat ya" kata Tiara yang merasakan tangan Margaretha mulai gemetar.
Nicholas menjeda ucapannya. Dia baru mau bicara, tapi Tiara mendahuluinya hanya sepersekian detik saja.
"Pastikan Andrew baik-baik saja ya Nicholas!" kata Margaretha.
"Pasti Bu!" sahut Nicholas.
Tiara membantu Margaretha ke kamarnya. Membantu ibu mertuanya itu berbaring.
"Ibu butuh sesuatu lagi?" tanya Margaretha.
"Tidak nak. Tiara, kamu menangis? apa kamu menyesal menikah dengan Nicholas? apa kamu masih menyukai Andrew?" tanya Margaretha.
***
Bersambung...
kita belum liat si Abang bulan loo🥹🥹..
walaupun tahun ini Kita dilewati
ga masalah,ada bts😜🤣🤣
terkadang hidup penuh kebohongan lebih baik dari pada tau yg mana ttg kebenaran.
karena, pasti lebih jauh sakitnya
kayak...
tau dengan jujur kalau Hannie suka boong Mulu kalau maen mafia😜🤣🤣