menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 high magnus yang terpilih
Di sebuah gedung agung yang menjulang tinggi—Gedung High Magnus—marmer putih berlapis sihir memantulkan cahaya redup dari langit senja.
Pilar-pilar raksasa berdiri kokoh, seolah menopang keseimbangan dunia sihir itu sendiri.
Langkah kaki terdengar pelan namun pasti.
Elice Iglesias berjalan menyusuri aula utama dengan kepala tegak.
Rambut putih lurusnya tergerai indah di punggung, berkilau samar.
Mata merahnya tajam, dingin, dan penuh perhitungan—tatapan seseorang yang terbiasa memutuskan hidup dan mati.
Ia duduk di kursinya.
Di sekelilingnya, tersusun bangku melingkar—kursi untuk delapan High Magnus terkuat generasi ini.
Namun saat ini, hanya dirinya yang telah hadir.
Tak lama kemudian, pintu besar menuju Gedung high magnus terbuka.
Tujuh aura berbeda masuk bersamaan.
Mereka adalah monster-monster dunia sihir.
Wajah sangat putih dan bening, seperti porselen
Rambut hitam panjang, diikat dengan pita di belakang
matanya tertutup atau kosong tanpa fokus karena seorang yang tunanetra
Tubuh tinggi, ramping, dan anggun
Memakai gaun putih sederhana dengan mantel tipis putih keabu-abuan
Selalu membawa biwa sebagai alat penyalur sihir
Gerakannya lembut seperti penari atau musisi klasik
Dialah Seraphina Lyricelle — High Magnus of Sound.
Ia memetik biwa yang dibawanya dengan senyum tipis.
“Nahh… kami datang, Nona Elice,” ucapnya santai, seolah sedang menghadiri pertemuan biasa.
Suasana langsung pecah oleh teriakan kasar.
Wajah tegas dan galak, dengan ekspresi keras seperti selalu siap menantang siapa pun
Rambut merah-blonde, terlihat panas dan liar Mata merah seperti api, dengan pupil bermotif nyala—memberi kesan kekuatan membara
dan memakai sepasang anting berbentuk api di kanan dan kiri
Pakaian outfit tempur elegan warna hangat, desain tajam, terlihat seperti prajurit elit
Postur atletis dan siap bergerak, bahu terbuka, berdiri mantap
Ignavia Roestra — High Magnus api.
“OIII, KAPTEN!” teriaknya.
“Apa-apaan ini? Ngapain repot-repot rapat?”
“Kalau ada masalah, hancurkan saja kotanya! Bakar semuanya!”
Aura panasnya membuat udara bergetar.
Rambut putih keperakan, potongan wolf cut agak berantakan
Wajah tampan dingin, garis tegas, jarang menunjukkan emosi
Mata hitam pekat, terasa seperti menilai orang, bukan melihat
Memakai mantel panjang merah darah dengan bagian dalam hitam
Kemeja dan celana hitam rapi, gaya elegan tapi mengintimidasi
Satu anting tetesan darah di telinga kiri — simbol khasnya
Postur tinggi ramping, gerakan tenang seperti penguasa
Matanya tajam—seolah bisa menguliti lawan.
Vermila Serguire — High Magnus darah
“Ignavia,” ucapnya datar.
“Tahan emosimu.”
“Kita belum tahu apa yang akan disampaikan kapten.”
Ignavia mendecak, namun diam.
Wajah: manis dan ekspresif, mudah terlihat ceria atau dramatis
Rambut: biru tua dengan sedikit helai putih sebagai aksen
Mata: biru tua dengan lingkar putih kecil di pupil, memberi kesan unik dan berkilau
Topi: topi biru gaya pesulap, jadi ciri khas visualnya
Pakaian: outfit biru tua agak gelap, memakai rok pendek dengan hiasan gantungan emas
Postur: pendek tapi anggun, langkahnya ringan
Aura: manis, ceria, dan sedikit teatrikal, bikin orang gampang tertarik
Nerissa Amphira — High Magnus ikan ikan sihir.
“Hei, kapten~” katanya ceria.
“Aku malas sebenarnya datang ke sini, tapi kelihatannya seru.”
“Jadi rapat apa nih?”
Wajah tajam dan serius, tapi sebenarnya terlihat kalem dan tertutup
Rambut coklat, sedikit acak-acakan seperti orang yang jarang peduli gaya
Mata hitam tenang, memandang dunia dengan sikap observatif
Pakaian seragam akademi dengan dasi, rapi tapi sederhana
Postur normal dan tidak mencolok, lebih suka berdiri di pinggir
Daziel Harmonis — High Magnus pasir.
Ia tidak berkata apa-apa.
Wajah tenang dan tajam, dengan tatapan
Rambut kuning dengan sedikit acak acakan
Mata kuning jernih, terasa analitis
Kacamata memberi kesan cerdas dan fokus
Pakaian seragam akademi dengan dasi, rapi dan sederhana
Postur tinggi dan tegap, jarang bergerak tanpa alasan
Ciri unik 10 bola kuning melayang dan berputar pelan di belakangnya
Julian Bernhard — High Magnus bola sihir.
“Kapten Elice,” katanya santai.
“Kau benar-benar cekatan.”
“Tragedi itu sekarang sudah berskala nasional.”
Bola-bola sihir di belakangnya berputar lebih cepat.
Wajah imut dan ekspresif, dengan senyum yang sering terlihat misterius
Rambut ungu, dengan satu sisi wajah tertutup rambut
Postur ramping dan lincah, gerakannya ringan
Selalu membawa palu dan boneka kelinci
Gaya terlihat lucu dan ceria, tapi ada kesan aneh dan tidak terduga
Violet Zhinchad — High Magnus Boneka Kutukan.
“Kapten…” ucapnya lembut.
“Apakah ini soal tragedi saat itu?”
Elice berdiri.
Ia membungkuk sedikit—sebuah gestur langka dari seseorang selevel dirinya—lalu menatap mereka satu per satu.
“Benar,” ucapnya dingin, suaranya menusuk ruangan.
“Kalian dikumpulkan karena ini penting.”
Ia menarik napas pelan.
“Salah satu tahanan penyihir abnormal… telah kabur.”
Keheningan jatuh.
“Tahanan itu berada di Penjara Tingkat Dua Belas,” lanjut Elice.
“Penjara dengan pengamanan tertinggi.”
“Sihirnya telah disegel sepenuhnya.”
Tatapan Elice mengeras.
“Namun ia tetap berhasil kabur,”
“Tidak, bukan ia, tapi lebih tepat nya mereka.”
Beberapa High Magnus langsung berubah ekspresi.
“Itulah yang ingin kita diskusikan.”
Di tempat lain—di antara pilar-pilar raksasa yang bahkan High Magnus jarang menginjakkan kaki—
Seorang pemuda duduk sendirian di sebuah singgasana.
Usianya muda, sekitar dua puluh tahun.
Wajah tenang dan sangat sangat lembut sekali
Rambut hitam yang lurus dan rapi
Postur yang selalu duduk di singgasana itu
Itu adalah kursi pemimpin tertinggi High Magnus.
Adam Zapata.
Ia tersenyum tipis.
“Hm… anak-anak,” ucapnya pelan.
“Mereka mulai bergerak.”
Tangannya bertumpu di sandaran singgasana.
“Kalian harus berhati-hati,” lanjutnya lembut.
“Karena Kai juga mulai bergerak.”
“Dan jika dibiarkan…”
Matanya menyipit.
“Bisa saja ada korban dari manipulasi mereka.”
Udara di ruangan itu terasa berat.
Perang dunia sihir…
Telah mulai bergerak dari balik bayangan.
sekali lagi saya minta maaf