NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tanda tangan kontrak..

Melihat sang dokter mengangguk menanggapi ucapan Indira,membuat nya hampir pingsan karena syok.

bagaimana mungkin dia menyusui majikannya secara langsung! iya,tidak apa apa kalau dia mendonorkan asinya untuk majikannya,tapi kalau langsung meminum dari wadahnya rasanya dia tidak akan mau.

"Aku tidak mau dok! aku masih remaja,sementara tuan Arjuna sudah dewasa,,aku tidak mau." tolak Indira sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Tidak ada hubungannya dewasa atau remaja nona,saat ini yang dibutuhkan tuan Arjuna adalah obat penawar,dan obat itu ada pada nona," jelas dokter itu lagi.

​Indira berdiri mematung di samping ranjang Arjuna. Perintah Dokter barusan terasa seperti palu godam yang menghantam kepalanya. Menyusui? Pria dewasa yang ia kenal sebagai putra konglomerat, orang yang begitu jauh statusnya darinya?

​Namun, rasa nyeri yang mendesak di dadanya telah mencapai puncaknya. Setiap denyutan terasa seperti ditusuk-tusuk. Ditambah lagi, wajah pucat Arjuna yang kini terbaring tak berdaya membangkitkan rasa iba yang kuat.

Rasa sakit fisik mengalahkan rasa malu yang bergejolak.

​Darsih mendekat, wajahnya penuh air mata dan permohonan. "Nduk... tolong Ibu. Tolong Den Arjuna. Ibu tahu ini memalukan, tapi nyawa dia..."

​Indira menghela napas panjang, menunduk, dan mengangguk lemah. "Baiklah bu,,Aku... aku mau, Bu." bisiknya, suaranya tercekat. "Tapi jangan ada siapa-siapa di sini selain Dokter."

​Nyonya Hamidah, yang tadinya hanya bisa menangis, langsung memeluk Darsih dengan haru. Tuan Wijaya mengangguk pada perawat dan dokter.

​"Semua keluar. Hanya saya dan Perawat Senior yang tersisa. Kalian tunggu di luar!" perintah sang dokter

​Setelah ruangan sedikit kosong—hanya ada Dokter Kepala, Perawat Senior, Indira perlahan membuka jaket tebalnya. Dia melepaskan kaos tidurnya yang sudah lembap.

​Udara dingin pendingin ruangan langsung menyentuh kulitnya.

Wajah Indira terasa panas, tapi ia memejamkan mata, fokus hanya pada rasa sakit yang akan segera mereda.

​Di hadapan dua pasang mata yang menatapnya dengan campuran rasa terkejut, kebutuhan, dan keputusasaan, Indira dengan ragu mendekat ke arah Arjuna.

​Dokter kepala memberikan instruksi dengan suara rendah dan profesional. "Nona Indira, karena Tuan Arjuna tidak sadarkan diri, refleksnya murni insting. Kita harus membantu. Perawat, bantu posisikan Nona Indira."

​Perawat Senior, seorang wanita paruh baya yang berpengalaman, dengan sigap membantu Indira berbaring miring di samping Arjuna.

​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Perawat membantu mengarahkan sumber nutrisi vital itu ke bibir Arjuna yang kering dan pucat.

​Begitu sentuhan hangat itu mengenai bibir Arjuna, keajaiban terjadi.

​Meskipun tidak sadar sepenuhnya, naluri purba Arjuna langsung bereaksi. Otot wajahnya sedikit bergerak. Perlahan, bibirnya yang retak mulai membuka dan insting menghisapnya bekerja.Baik,

Perlahan Arjuna mulai menyedot dada Indira,awalnya sangat lemah,lama lama semakin kencang bersamaan dengan airnya yang semakin deras.

Dada Indira merasa kosong satu,diganti dengan dada lainnya yang masih penuh dan keras.

Arjuna kembali menyedot puting milik Indira,saat dia mendekatkan dadanya ke bibir Arjuna.

Indira kembali merasa lega saat Arjuna kembali menguras asinya.

Sangat memalukan memang,tapi ini menyangkut nyawa,yang mau tidak mau Indira harus lakukan.

Setelah dada satu lagi habis dikuras,Arjuna reflek melepaskan puting itu dari mulutnya.

Perlahan Indira bangun,dibantu oleh perawat senior.

Terimakasih nona,anda telah menyelamatkan satu nyawa yang berharga." ucap dokter kepala itu dengan tulus.

***

Indira keluar dari ruangan,seketika ibunya dan kedua majikan ibunya langsung menyambutnya.

"Bagaimana nak? apa Arjuna mau minum?" Hamidah yang bertanya.

Indira mengangguk malu.

"Tuan Arjuna akan sadar sebentar lagi,karena metabolisme tubuhnya sudah kuat kembali berkat asi nona Indira yang sangat bagus kualitas nya." dokter kepala tiba tiba muncul dari belakang Indira memberi penjelasan.

"Syukur lah kalau begitu," semua yang ada disana langsung lega.

"Aku pulang dulu bu,,aku mau istirahat." pamit Indira,rasa malunya semakin besar kala nyonya Hamidah dan tuan Pratama menatap nya sangat lekat.

"Maaf nona Indira,kamu belum bisa pulang,karena sejam atau dua jam lagi nona harus kembali menyusui tuan Arjuna."

Glekk..!

Indira menahan nafas mendengar ucapan sang dokter.

Rasa malu sebelumnya pun belum hilang,ditambah ucapan dokter barusan,membuatnya bertambah malu.

"Indira,,kamu bisa kan menunggu disini sebentar lagi? tolonglah ya sayang? anak ibu masih kritis." Hamidah tanpa sungkan memohon pada Indira.

"Apa yang nyonya lakukan? Indira tidak akan kemana mana," pekik Darsih langsung menurunkan tangan majikannya karena memohon pada Indira.

"Saya akan disini nyonya,,menunggu tuan sadar." Indira berucap.

***

​Indira terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak di sofa. Ia merasakan dadanya kembali penuh dan mulai nyeri.

Ia tahu waktunya sudah tiba, namun ia ragu untuk bergerak karena menyadari Arjuna kini sudah sadar sepenuhnya dan sedang duduk bersandar, menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi tanpa emosi.

​Setelah Nyonya Hamidah memberikan makan siang pada Arjuna dan memastikan semua obat telah diminum, Tuan dan Nyonya Wijaya pamit untuk menghadiri rapat darurat perusahaan.

Darsih juga pergi sebentar untuk menyelesaikan tugasnya di rumah utama dan mengambil beberapa barang untuk Indira.

​Tinggallah Arjuna dan Indira di ruangan itu, ditemani keheningan yang tegang.

​Arjuna meletakkan gelas susunya di meja samping, lalu menatap Indira. Tatapannya dingin, profesional, seolah sedang menilai seorang rekan bisnis, bukan gadis remaja yang telah menyelamatkan nyawanya.

​"Duduklah, Indira," perintah Arjuna dengan suara bariton yang dalam dan sedikit serak.

​Indira menurut, berjalan pelan dan duduk di kursi yang berjarak cukup jauh dari ranjang.

Jantungnya berdebar kencang. Ini adalah kali pertama dia berbicara langsung dengan putra majikannya dalam suasana yang tidak formal.

​Arjuna menarik napas, wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan, tetapi nadanya tetap terkontrol.

​"Ayahku sudah menjelaskan situasinya. Aku mengerti, aku berutang nyawa padamu. Dan aku mengerti, kondisiku ini sangat memalukan bagiku, dan juga... sangat tidak etis bagimu."

​Indira menunduk, menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Arjuna menusuk perasaannya, seolah semua yang dia lakukan hanyalah sebuah transaksi memalukan.

​Arjuna meraih sebuah map kulit dari nakas, yang ternyata berisi dokumen yang sudah dicetak rapi.

​"Aku bukan pria yang suka bertele-tele atau mencampuradukkan urusan pribadi dengan kewajiban. Karena itu, kita akan membuat ini menjadi formal dan profesional. Aku akan memberimu kompensasi yang layak," ujar Arjuna sambil menyodorkan map itu.

​"Ini adalah Kontrak Kompensasi dan Kerahasiaan," lanjutnya.

​Indira mendongak, matanya memancarkan kebingungan.

​"Ayahku sudah menjanjikan fasilitas hidup, tapi aku akan memperjelasnya dengan angka," kata Arjuna, menjelaskan poin-poin dalam kontrak tanpa menunggu respons Indira.

​"Pertama, Kompensasi Bulanan. Kau akan menerima uang saku sebesar lima puluh juta rupiah per bulan selama masa 'pengobatan' ini berlangsung. Ini di luar biaya sekolah dan kebutuhan pribadimu. Nominal ini akan ditransfer langsung ke rekeningmu."

​Indira terperangah. Lima puluh juta? Itu adalah gaji tahunan Darsih!

​"Kedua, Jaminan Pendidikan. Dana abadi sebesar sepuluh miliar rupiah akan disiapkan dan dicairkan saat kau lulus SMA, sepenuhnya untuk biaya kuliahmu di universitas mana pun yang kau pilih di dunia."

​"Ketiga, Perjanjian Kerahasiaan Mutlak. Selama jangka waktu yang ditentukan—lima tahun, atau sampai aku sembuh—kau tidak boleh mengungkapkan kondisiku ini pada siapa pun, di luar keluargaku. Kau juga tidak boleh memanfaatkan situasi ini untuk menuntut hal-hal di luar kontrak, atau mencari popularitas dengan mengungkapkannya di media sosial. Pelanggaran akan berujung pada sanksi hukum dan pembatalan semua kompensasi."

​Arjuna mengakhiri penjelasannya. Ekspresinya tidak berubah.

​"Tugasmu hanya satu: memastikan aku mendapatkan asupan yang kubutuhkan, tiga kali sehari, sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Itu saja. Selebihnya, kau bebas melakukan apa pun. Sekolah, belajar, atau istirahat."

​Ia lalu menatap Indira, tatapan yang begitu dingin hingga membuat Indira merasa menggigil.

​"Tanda tangani kontrak ini. Anggap ini sebagai pekerjaan, bukan hubungan personal. Aku membayar mahal untuk kebutuhan ini. Dengan begitu, kita impas. Kau tidak perlu merasa berutang budi, dan aku tidak perlu merasa bersalah padamu. Semuanya adil."

​Indira menatap kontrak tebal di tangannya. Namanya sudah tertera di sana. Dia merasa aneh. Di satu sisi, ia tahu ini adalah kesempatan luar biasa yang bisa mengubah hidupnya dan ibunya seratus delapan puluh derajat. Di sisi lain, cara Arjuna yang meresmikan 'pengobatan' ini menjadi bisnis membuatnya merasa hampa.

​Ini bukan tentang uang. Ini tentang rasa sakitnya yang hilang, dan rasa ibanya pada Arjuna. Tapi Arjuna memilih menjadikan semuanya berlandaskan uang.

​Indira menghela napas, rasa nyerinya semakin kuat. Dia mengambil pulpen yang disodorkan Arjuna dan tanpa banyak bertanya, ia menandatangani lembar kontrak itu.

​"Sudah," kata Indira pelan, menyerahkan kembali map itu pada Arjuna.

​Arjuna mengambil map itu, matanya melirik sekilas pada tanda tangan Indira. Sebuah kepuasan terlihat samar di matanya. Segalanya kini tertata.

​"Bagus. Sekarang, aku butuh 'asupan' sesi pertama hari ini," ujar Arjuna, nadanya berubah menjadi perintah dingin dan lugas.

​Indira tersentak. Tidak ada basa-basi, tidak ada rasa terima kasih. Hanya tuntutan atas hak yang telah dia bayar. Rasa malu yang sempat ia lupakan kini muncul kembali.

​Ia memejamkan mata, menguatkan diri. Ia harus profesional, seperti yang Arjuna inginkan. Ini adalah pekerjaan. Ini adalah harga dari puluhan miliar dan jaminan hidupnya.

​"Baik, Tuan Arjuna," jawab Indira, meniru nada formal yang kaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!