NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penampakan di kantor

Tubuhnya yang melengkung dalam kejang hebat itu perlahan lemas, erangan nelangsa yang tidak manusiawi itu memudar menjadi rintihan yang patah-patah.

Radya ambruk kembali ke lantai, terengah-engah seolah baru saja berlari maraton menembus neraka. Keringat membasahi pelipisnya, menempelkan beberapa helai rambut ke kulitnya yang pucat.

Raras, yang terdorong ke belakang, tidak membuang waktu. Ia merangkak maju, mengabaikan rasa sakit di sikunya yang terbentur lantai. Ketakutan yang tadi mencengkeramnya kini berganti menjadi fokus yang dingin dan tajam. Ini bukan waktunya untuk panik. Pria di hadapannya sedang tenggelam, dan ia adalah satu-satunya pelampung.

“Mas Radya,” panggilnya lagi, kali ini suaranya lebih mantap, lebih memerintah. Ia menahan bahu suaminya yang masih bergetar.

“Lihat aku. Dengar suaraku.”

Radya mengerjapkan matanya. Kilat kebencian yang begitu pekat, yang tadi menyala di sana telah padam, menyisakan bara kebingungan dan kelelahan yang luar biasa. Pupil matanya yang melebar perlahan menyusut, mencoba fokus pada wajah Raras.

“Kamu…” bisiknya, suaranya serak dan pecah.

“Kenapa… kenapa kamu di sini?”

Pertanyaan itu, meski dingin, tidak lagi beracun. Tidak ada tuduhan, tidak ada hinaan. Hanya penuh kebingungan. Penangkal itu bekerja. Energi kotor itu sedang melawan balik dari dalam, dan pertarungan itu menghabiskan seluruh tenaga inangnya.

“Mas kirim pesan,” jawab Raras singkat, tangannya yang satu menopang leher Radya.

“Ayo, Mas harus kembali ke tempat tidur. Lantainya dingin.”

“Pesan?” Radya tampak tidak ingat. Kepalanya terasa berat, dipenuhi kabut tebal yang membuatnya sulit berpikir.

“Aku… aku mimpi buruk.”

“Aku tahu,” kata Raras lembut.

“Mimpinya sudah selesai sekarang. Ayo, aku bantu.”

Dengan susah payah, Raras membantu Radya bangkit. Tubuh pria itu terasa berat dan lemas, seperti boneka kain yang putus talinya. Raras memapahnya ke tempat tidur, merebahkannya dengan hati-hati, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada. Radya tidak melawan. Ia hanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

“Kepalaku… sakit sekali,” keluhnya pelan.

“Mungkin mas Radya demam, badan mas sedikit hangat,” sahut Raras, berbohong sedikit. Ia pergi ke dapur kecil di sudut penthouse itu, kembali dengan segelas air putih.

“Minum dulu, Mas.”

Raras membantu Radya untuk duduk sedikit dan meminum airnya. Radya menelan dengan susah payah, matanya tidak pernah lepas dari wajah Raras, seolah mencoba memecahkan teka-teki yang rumit.

Rasa jijik tak lazim yang tadi membakarnya telah hilang, digantikan oleh perasaan aneh yang tidak bisa ia definisikan. Ia masih tidak menyukai perempuan ini, tetapi ia juga tidak merasakan dorongan untuk menghancurkannya. Yang ada hanya… kehampaan.

“Kamu nggak pulang?” tanya Radya, suaranya nyaris tak terdengar.

“Nanti kalau Mas sudah tidur,” jawab Raras sambil meletakkan gelas di nakas.

“Pejamkan mata, Mas. Coba istirahat.”

Radya tidak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya, terlalu lelah untuk berdebat atau bahkan berpikir. Dalam beberapa menit, napasnya menjadi teratur. Ia tertidur, bukan tidur yang damai, melainkan tidur karena kelelahan yang teramat.

Raras duduk di kursi di sudut ruangan, mengawasinya dalam diam. Pertarungan pertama telah dimenangkan, tetapi ia tahu perang masih jauh dari kata usai.

***

Dua hari berlalu dalam ketegangan yang ganjil. Radya tidak kembali ke rumah Cokrodinoto, tetapi ia juga tidak menghubungi Ayunda.

Ia mengurung diri di apartemennya, beralasan pada Bayu bahwa ia terserang flu berat. Di Cokrodinoto Group, ketidakhadiran sang CEO mulai menimbulkan bisik-bisik.

Bagi Raras, ini adalah kesempatan. Dengan Radya yang untuk sementara lumpuh, ia harus menjadi mata dan telinga di benteng suaminya itu. Mengenakan kembali seragam OB-nya yang lusuh, ia kembali menjadi ‘Rara’, hantu tak terlihat yang menyapu lantai dan mengantar dokumen.

Siang itu, ia mendapat tugas untuk mengantarkan kopi ke beberapa kepala divisi yang sedang lembur di lantai eksekutif. Lantai itu sepi, sebagian besar karyawan sudah pulang. Hanya terdengar dengung samar dari pendingin udara dan ketukan jari di papan tik. Saat ia melewati ruang arsip divisi keuangan, sebuah bilik yang seharusnya kosong, ia melihat seberkas cahaya dari monitor komputer.

Instingnya menajam. Ia melambatkan langkah, gerakannya dibuat sepelan mungkin. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat punggung seseorang yang sangat ia kenal. Bayu.

“Apa yang dia lakukan di sini?” batin Raras. Ini bukan area kerja Bayu.

Raras pura-pura menjatuhkan nampannya, menimbulkan suara berderak yang cukup keras.

“Aduh!”

Bayu tersentak kaget. Ia dengan cepat menekan beberapa tombol, mematikan monitor, lalu keluar dari bilik dengan wajah tenang yang dipaksakan.

“Ada apa?” tanyanya, nadanya ramah seperti biasa.

“Maaf, Pak Bayu. Tangan saya licin,” jawab Raras sambil berjongkok memunguti gelas-gelas kertas.

“Saya kira sudah tidak ada orang.”

“Saya hanya mengambil beberapa data lama,” kata Bayu, alasannya terdengar terlalu siap.

“Lain kali hati-hati.”

Bayu berlalu pergi, langkahnya mantap dan tidak terburu-buru. Tapi Raras melihatnya. Keringat tipis yang membasahi pelipis pria itu. Cara jemarinya yang sedikit gemetar saat merapikan kemejanya. Bayu sedang menyembunyikan sesuatu.

Setelah memastikan Bayu benar-benar pergi, Raras masuk ke dalam bilik itu dengan dalih membersihkan sisa tumpahan kopi. Ia menyalakan monitor. Komputer itu terkunci, meminta kata sandi. Tentu saja.

Tapi Raras tidak butuh masuk. Ia hanya perlu melihat riwayat aktivitas terakhir di layar masuk. Di sana tertera nama berkas yang baru saja diakses: `PROYEKSI_KEUANGAN_Q4_REVISI_FINAL.xlsx`.

Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Laporan itu adalah penentu bonus akhir tahun dan strategi investasi perusahaan untuk kuartal berikutnya. Itu adalah dokumen paling krusial saat ini. Kenapa Bayu, seorang ajudan, merevisinya secara diam-diam di ruang arsip?

Ia harus melihat isinya. Tapi bagaimana?

Sebuah ide gila melintas di kepalanya. Ia kembali ke pantry, mengambil lap basah, lalu kembali ke bilik itu. Ia tahu kepala divisi keuangan, Pak Tirtayasa, adalah seorang perokok berat yang ceroboh. Selalu ada asbak penuh di mejanya, dan mejanya selalu kotor.

Dengan langkah cepat, ia menuju meja Pak Tirtayasa yang terletak di ujung ruangan. Seperti dugaannya, komputer pria itu menyala dalam mode tidur. Raras menyentuh tetikusnya. Layar menyala tanpa meminta kata sandi. Pak Tirtayasa tidak pernah mengunci komputernya.

“Kesempatan,” bisiknya pada diri sendiri.

Sambil berpura-pura mengelap meja dengan satu tangan, jemari tangan kanannya menari di atas papan tik, membuka folder jaringan, mencari berkas yang tadi ia lihat. Ketemu. Ia membukanya.

Matanya dengan cepat memindai barisan angka-angka itu. Awalnya semua terlihat normal. Laba, pengeluaran, proyeksi… tapi kemudian ia menemukannya.

Di bagian biaya operasional untuk proyek logistik baru di Kalimantan, angkanya digelembungkan hampir tiga puluh persen. Tiga puluh persen yang dialihkan ke pos pengeluaran ‘konsultan pihak ketiga’ yang fiktif. Jika ini disetujui, miliaran rupiah akan menguap begitu saja dari kas perusahaan.

Ini sabotase. Pencurian yang rapi dan nyaris tak terlihat.

“Sialan,” desisnya. Ia tidak bisa mengubahnya begitu saja. Jejak digitalnya akan terekam. Ia juga tidak bisa melapor. Siapa yang akan percaya pada seorang OB yang menuduh orang kepercayaan CEO?

Ia harus membuatnya terlihat seperti kesalahan yang ditemukan oleh orang yang tepat.

Dengan cepat, ia membuka program surel Pak Tirtayasa, membuat draf baru. Penerimanya adalah akuntan senior, Ibu Rina. Subjeknya: Tolong Cek Ulang Angka Proyek Kalimantan.

Di badan surel, ia hanya mengetik satu kalimat: Rin, perasaan angkanya aneh. Coba kamu lihat lagi sebelum besok pagi saya presentasi. Thanks.

Ia tidak mengirimnya. Ia hanya menyimpannya di folder draf. Besok pagi, saat Pak Tirtayasa membuka surelnya, ia akan melihat draf itu dan mengira dirinya sendiri yang mengetiknya tadi malam sebelum lupa mengirim. Sifatnya yang pelupa adalah hal yang terkenal di seantero kantor.

Raras menutup semua jendela program, mengelap tetikus dan papan tik hingga bersih, lalu keluar dari ruangan itu dengan jantung berdebar kencang. Ia baru saja bermain api.

Ia tidak menyadari, dari ujung koridor yang remang-remang, sepasang mata mengamatinya dari pantulan kaca sebuah lukisan abstrak. Bayu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu. Ia melihat ‘Rara’ masuk ke ruangan Pak Tirtayasa, dan ia melihat berapa lama gadis itu di sana. Terlalu lama untuk sekadar mengelap meja.

Kecurigaannya selama ini, tentang OB yang kebetulan menemukan kesalahan proposal, tentang gadis desa yang tatapannya terlalu tajam, kini mengkristal menjadi sebuah kepastian yang dingin.

Malam itu, saat Raras hendak pulang, koridor menuju lift servis terasa lebih sunyi dari biasanya. Sebagian besar lampu sudah dimatikan, menyisakan bayang-bayang panjang yang menari-nari. Tiba-tiba, sebuah sosok melangkah keluar dari salah satu ceruk pintu darurat, menghalangi jalannya.

Bayu.

“Lembur lagi, Ra?” sapanya, senyumnya tipis dan ramah, tetapi matanya tidak tersenyum. Matanya dingin seperti mata reptil.

Jantung Raras berhenti sesaat.

“I-iya, Pak. Ada beberapa area yang harus dipastikan bersih.”

“Rajin sekali kamu,” puji Bayu, melangkah perlahan mendekatinya. Setiap langkahnya terasa berat dan penuh makna.

“Kamu tahu, saya selalu kagum dengan orang yang punya dedikasi tinggi. Terutama kalau dedikasi itu melampaui deskripsi pekerjaan.”

Raras mundur selangkah. Udara di sekitarnya terasa menipis.

“Saya hanya mengerjakan tugas saya, Pak.”

“Oh, saya yakin lebih dari itu,” desis Bayu. Ia kini berdiri begitu dekat, memaksa Raras berhenti di depan dinding.

“Kamu sangat perhatian. Memperhatikan proposal yang salah. Memperhatikan laporan keuangan. Kamu sepertinya punya bakat menemukan hal-hal yang tidak seharusnya kamu temukan.”

Keringat dingin mulai membasahi punggung Raras. Ia berusaha menjaga wajahnya tetap datar, polos, seperti Rara si gadis desa.

“Saya tidak mengerti maksud Bapak.”

Bayu tertawa kecil, suara tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu. Itu adalah suara kemenangan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya turun menjadi bisikan yang mematikan, sarat dengan racun dan kepastian.

“Tentu saja kamu tidak mengerti. Aktingmu memang bagus sekali. Tapi permainan ini sudah selesai. Katakan padaku…”

Ia berhenti sejenak, menikmati ketakutan yang terpancar dari mata Raras sebelum menjatuhkan bomnya.

“Berapa lama lagi kamu akan bersembunyi di balik seragam OB ini, Nyonya Raras Inten Cokrodinoto?”

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!