NovelToon NovelToon
Layangan Yang Tak Pernah Lupa

Layangan Yang Tak Pernah Lupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:434
Nilai: 5
Nama Author: Ratna_dee

"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena

namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

drama Deva

"serius tempatnya sebagus ini? perasaan kemarin kita gak liat yang bagian ini gak sih?" celetuk Rea menatap sungai dengan air yang begitu bening

kini mereka bersiap untuk mandi, laki-laki dan perempuan terpisah jauh. guru-guru wanita menjaga agar anak-anak didiknya tak ada yang di ganggu begitupun para guru lelaki mereka menjaga para siswanya agar tak berbuat nakal

"kemarin mana ada waktu buat jelajahi tempat ini Reaa.. kita sampai sini udah sore banget mana sibuk bangun tenda, cari kayu udah gitu siapin makanan kan" sahut lainnya

"gak ada kamar mandi ya di tempat ini? serius nih kita mandi di sini?" tanya Marsha yang ogah-ogahan turun ke air

"mandi ya mandi aja, banyak banget protesan loe dari kemarin!" celetuk Rea

"Suka-suka gue dong.. loe siapa berani komentarin gue?" kesal Marsha yang mendapat cipratan air dari Rea

"gue neneknya nenek buyut loe! kenapa?" sahut Rea lantang, Mega dan Aldo menegur pelan Rea yang terlalu berani melawan Marsha

"lagian kalo loe mau mandi di kamar mandi kenapa loe gak angkut kamar mandi loe dari rumah? loe pikir disini hotel? loe liat pepohonan disini kayak staf hotel kah? dan bukit ini kaya gedung lantai sepuluh ya di mata loe?" celetuk Lusi yang merasa aneh dengan sikap sok manja Marsha

"loe murid baru juga gak usah sok nyolot, kampung!" kesal Marsha, suasana mulai riuh karena keributan mereka

"gak kebalik? sekampung kampungnya gue, gue gak pernah ngira ada kamar mandi di hutan!! kampung!!" balas Lusi, Marsha sudah sangat kesal dengan celetukan Lusi sejak tadi

"pak Dharma gak akan kasih kalian waktu tambahan, kalo kalian gak mandi sekarang jangan harap ada waktu lagi buat mandi nanti!" celetuk Lisa, salah satu anggota Osis di sana

mereka mulai diam dan mandi, meski Marsha sudah merutuk kesal tapi waktu juga sudah berlalu lama dia akan mendapat hukuman juga jika masih diam dan tak mandi.

satu jam berlalu, para siswa sudah selesai mandi dan sarapan. mereka bersiap untuk mengeksplorasi hutan sekitar itu yang masih cukup luas

"kita tidak butuh kompas dan peta, karena pak Mali sudah hafal tempat ini dia akan menjadi pemandu kita selama disini" ucap Dharma pada semua siswanya yang sedang siap-siap

"siapkan buku catatan, kamera dan makanan. kita akan segera berangkat" lanjutnya semua Siswa mulai berbaris setelah selesai bersiap

"kita akan membentuk kelompok.. satu kelompok ada sepuluh orang, selain itu kalian akan di bagikan secara acak harus ada perwakilan dari kelas satu sampai tiga dalam satu kelompok, jumlah maksimal lima orang dalam satu kelas di satu kelompok. ingat.. kalian harus kompak jangan sampai terpecah saat menjelajah nanti" ucap Dharma setelah semua Siswa berbaris dengan sangat rapi

Dharma mulai membagi siswa nya dan membentuk kelompok. sejak kemarin Deva sudah menentukan satu orang yang harus masuk kelompoknya, awalnya Dharma menolak namun entah mengapa pagi ini tiba-tiba menyetujuinya dan menarik orang itu untuk bergabung dalam kelompok Deva, senyum Deva mengembang saat nama gadis itu disebut kedalam kelompoknya, Lusi.

tak puas dengan kejahilannya yang kemarin, Deva masih ingin memancing kekesalan Lusi ada sesuatu yang Deva pun tak tau apa itu, entah rasa nyaman atau yang lainnya. teriakan dan ocehan Lusi membuatnya begitu senang

"dengar ya.. kalian akan menentukan nama kelompok kalian masing-masing. jangan membuat keributan yang tak perlu agar hewan di sekitar tidak terganggu dan merasa takut" ucap Dharma

Lusi, Yulia dan Claudia mengerucut kan bibir mereka karena tak sekelompok, Yulia dan Claudia kebetulan nya satu kelompok tapi tidak dengan Lusi, yang harus mewakili kelas dengan Arsha ke kelompok lain

"padahal mau ngajak kalian mancing bareng loh nanti" bisik Claudia

"nanti kalo dapet ikan, bagi ke gue juga ya" bisik balik Lusi

"gak usah, lagian juga Odii kan bawa tiga pancing, loe ambil aja satu dan mancing sendiri" celetuk Yulia

"kalo gitu kalian jangan terlalu jauh, nanti gue capek nyari kalian!" tiga orang itu asik mengobrol, yang lainnya sudah bergabung dengan kelompok mereka

"masih mau ngobrol sampai kapan? bubar!" celetuk Arsha membuat tiga orang itu berlarian mencari kelompok mereka

"welcome" bisik Deva sambil tersenyum, Lusi menarik pelan nafasnya walau ada perasaan tak enak namun dalam kelompoknya itu setidaknya ada Arsha, sang ketua OSIS jadi dia harusnya aman

"apa aja peraturan dalam kelompok Sha?" tanya Lusi mengabaikan Deva

"gak boleh mengabaikan teman selompok" jawab Deva tersenyum, Arsha tau ada sesuatu yang mungkin akan Deva lakukan nanti pada Lusi, itu mengapa pak Dharma memasukkannya ke kelompok itu untuk menjaga Lusi dari Deva

"jangan sampai ada pertengkaran, debat boleh asal topiknya masih dalam jangkauan pembahasan kita nanti tentang alam dan ekosistem nya, ingat kata pak Dharma jangan sampai ada keributan yang tidak perlu" jawab Arsha sedikit mengingatkan Deva dalam kalimatnya

Deva tak peduli dengan sindiran Arsha, dia masih ingin mengganggu gadis yang begitu berani mempermalukannya tempo hari itu, tamparan waktu itu masih terasa di pipi Deva

Marsha saat ini sedang merengek pada pak Dharma ingin satu kelompok dengan Deva menggantikan Lusi, namun keputusan pak Dharma tak bisa di ubah apalagi seseorang sudah berpesan untuk membuat Deva dan Lusi sering berinteraksi saat kemah beberapa hari ini, entah apa tujuan nya

para siswa melewati jalan setapak demi setapak, dua hari lalu ada hujan deras dan jalanan masih licin apalagi sinar matahari jarang masuk karena rimbunnya pohon membuat becek begitu betah bersarang di sana. Deva familiar dengan jalan setapak itu, jalan yang dulu sering di lewatinya kala menggembala sapi ke bukit

"didekat sini ada pohon jamblang loh.. tapi mungkin buah nya udah habis, musimnya udah lewat" cerita Lusi pada teman-teman nya yang lain

"oh ya? wihh kalau berbuah pasti seru sih" sahut Delia

'pohon jamblang.. tempat itu..' batin Deva mencoba mengusir memori yang terlintas

Marsha menatap penuh dendam pada Lusi yang begitu menikmati perjalanan mereka

"banyak banget sapi-sapi nya, ini sapi warga atau sapi liar?" tanya Arsha

"sapi milik warga" jawab Lusi, Deva sedikit kesal dengan kedekatan Arsha dan Lusi, kedekatan yang sama sekali bukan hal yang tak wajar antara teman

Deva juga sadar dengan tatapan benci Marsha pada Lusi, ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Deva mensejajarkan langkahnya dengan Lusi, dengan senyum mengembang Deva merangkul Lusi tanpa aba-aba

"jadi, sayang... kamu bisa ceritain sedikit tentang tempat ini gak? tentang ekosistem disini.. kenapa para sapi di biarkan begitu saja tanpa di ikat, warga gak takut sapinya hilang?" tanya Deva sambil sebelah tangan nya merekam sekitar, Lusi sudah memberontak tapi dekapan Deva juga terlalu kuat

"lepasin dulu bisa?" ucap Lusi menahan kesal, Deva dengan senyum manisnya menggelang pelan

"jawab dulu, atau kalau enggak aku bakalan peluk kamu lebih lama lagi" bisik Deva

"gue belum mandi, loe yakin mau peluk gue lama-lama?" bisik Lusi balik dengan senyum kesalnya

"belum mandi? kamu wangi banget loh sayang" sahut Deva dengan intonasi yang lebih tinggi, beberapa orang lainnya mendengar dengan jelas obrolan mereka

"loe suka banget ya ngundang masalah ke arah gue" kesal Lusi tak tahan, Deva tersenyum dan mulai mencubit pelan pipi Lusi, mata Alvin dan Samudra melotot sempurna dengan tingkah Deva pagi ini, terlalu absurd dan random bagi mereka

"gue harap masalah loe lebih banyak dari hutang negara" bisik Deva puas

1
v_v aja🩵🩷🩶
bagus banget 😍💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!