NovelToon NovelToon
Tubuhku, Takhta Sang Dewa

Tubuhku, Takhta Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cencenz

Satu tubuh, dua jiwa. Satu manusia biasa… dan satu roh dewa yang terkurung selama ribuan tahun.

Saat Yanzhi hanya menjalankan tugas dari tetua klannya untuk mencari tanaman langka, ia tak sengaja memicu takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah segel kuno yang seharusnya tak pernah disentuh, terbuka di hadapannya. Dalam sekejap, roh seorang dewa yang telah tertidur selama berabad-abad memasuki tubuhnya. Hidupnya pun tak lagi sama.

Suara asing mulai bergema di pikirannya. Kekuatan yang bukan miliknya perlahan bangkit. Dan batas antara dirinya dan sang dewa mulai mengabur.

Di tengah konflik antar sekte, rahasia masa lalu, dan perasaan yang tumbuh antara manusia dan dewa… mampukah Yanzhi mempertahankan jiwanya sendiri?
Atau justru… ia akan menjadi bagian dari sang dewa selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cencenz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Bisikan Segel Gelap

Yanzhi menahan napas, mata terpaku pada penjaga itu. Api spiritual di dadanya merangkak naik, tapi Roh di dalamnya mendesak keras.

"Lepaskan aku. Biar aku yang remukkan makhluk itu."

"Tidak," bisik Yanzhi. Tangan kirinya mengepal. "Aku bisa sendiri."

Penjaga itu melompat, gerakannya cepat, meski tubuhnya besar. Han Ye menahan hantaman pertama, angin dan asap beradu keras, meledak jadi percikan hitam.

Yanzhi ikut bergerak, menjejak altar, api menyambar ke dada penjaga, tapi gelap itu menelan nyalanya. Roh di dalamnya tertawa dingin.

"Lemah. Kau butuh aku!"

Suara Han Ye memecah benturan. "Fokus! Kau mau mati di sini?!"

Cakar penjaga menghantam, Han Ye menangkis dengan bilah angin tipis, lalu berputar, mendorong makhluk itu mundur.

Yanzhi membalas serangan dari sisi lain, telapak tangannya menyala, menghantam bahu Penjaga Asap hitam menjerit, tapi wujud itu tak roboh.

"Kau hanya membuang waktu! Serahkan kendali!" Roh mendesak, suaranya parau.

Yanzhi berteriak menahan amarah. "Diam…!"

Han Ye sempat menoleh, tatapannya tajam menembus mata Yanzhi. Untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar nyaris gusar. "Apa kau kerasukan?!"

Asap di dada Penjaga berdenyut. Makhluk itu membuka rahang, menghambur aura hitam pekat ke arah Yanzhi, racun spiritual. Tubuh Yanzhi seketika limbung.

Roh berbisik, nada licik. "Kalau kau mati sekarang, aku bebas. Jadi pilih: menyerah padaku… atau musnah."

Yanzhi terengah. Di sela kabut hitam, ia menatap Han Ye, pemuda itu tetap bertahan, menahan serangan cakar Penjaga dengan pusaran angin yang kini retak-retak.

Han Ye sempat melirik tajam, napasnya terputus-putus. "Yanzhi! Fokus! Kalau kau lengah sekarang, kita habis!

Yanzhi menarik napas, menatap pecahan segel di altar. Dalam satu detik, ia membanting kaki ke lantai, menarik energi api ke telapak tangan. Suara Roh meledak tertawa.

"Itu saja? Ayolah, Yanzhi. Buktikan kau bukan hanya tubuh lemah tak berguna."

Han Ye menjejak ke samping, memecah fokus Penjaga. "Sekarang, Yanzhi!"

Yanzhi melompat. Api spiritual di lengannya berkobar biru kehitaman, warna yang asing bahkan bagi dirinya sendiri.

"Fanghuo… Shiran!"

Telapak tangannya menembus asap iblis. Ledakan kecil meledak di dada Penjaga. Makhluk itu menjerit, kabutnya terpecah berantakan, lalu runtuh jadi debu hitam di lantai altar.

Sunyi.

Hanya napas dua orang itu yang terdengar. Han Ye menurunkan tangannya, menatap Yanzhi, dingin. Tapi di matanya, untuk pertama kalinya, ada sedikit keraguan.

"Kau… apa sebenarnya kau?"

Yanzhi memalingkan wajah, menatap pecahan segel yang kini bergetar pelan di altar. Roh di dalamnya mendesis lembut, seperti ular.

"Sentuh dia. Biarkan segel itu goyah… lalu kau akan mengerti bagaimana rasanya berada di atas semua yang lemah."

Yanzhi terdiam. Jemarinya hanya melayang di atas pecahan segel, belum menyentuh. Aliran hawa dingin merambat ke kulitnya, tapi justru membuat kepalanya jernih sejenak.

"…Kau selalu tahu banyak. Terlalu banyak. Siapa kau sebenarnya…?"

bisiknya dalam hati, rahangnya menegang.

Roh tertawa pelan, gemanya dingin.

"Kau akan tahu nanti, Yanzhi. Sekarang, buka jalannya dulu."

Yanzhi menghela napas pendek. Jemarinya turun, menggenggam sepotong pecahan segel itu perlahan.

Api di tangannya berdenyut.

Roh tertawa rendah di benaknya.

Han Ye hanya berdiri beberapa langkah di belakangnya, diam. Kabut di ruangan ini belum benar-benar lenyap.

Dan di lorong luar altar, suara langkah kaki pelan mulai terdengar. Wei Ren. Bai Lin. Dan entah siapa lagi, bau konflik baru merayap di udara lembab.

......................

Yanzhi menggenggam sepotong pecahan segel itu erat. Di balik kulitnya, ia bisa merasakan sesuatu bergetar, seolah rantai-rantai tak kasat mata yang membelit nadi dan tulangnya berderak pelan. Ia pernah mendengar suara Roh menyebutnya: segel kuno yang menahan kekuatan sebenarnya. Retak satu, kekuatan tumbuh. Tapi di baliknya, sesuatu yang lebih gelap juga ikut merangkak keluar.

"Bagus. Sekarang bawa keluar. Pecahkan satu per satu segelnya."

Han Ye menatapnya dingin, curiga, matanya menelisik. Tapi sebelum Han Ye sempat bicara, suara langkah muncul, bergema di lorong batu.

Di lorong setengah runtuh, Wei Ren muncul dengan senyum licin. Di belakangnya, Bai Lin berdiri menatap kaku, sarung pedang di pinggangnya memantul redup.

Wei Ren melirik Bai Lin dengan senyum tipis, seolah memamerkan temannya itu. Bai Lin menunduk, matanya tak berani menatap Yanzhi.

Yanzhi mengerutkan kening, tatapannya tajam. "Bai Lin? Bukankah dia bersama Mei Jiu di kelompokku?"

Wei Ren mencibir kecil, suaranya licin.

"Ah — kabut di luar kejam sekali, ya? Kasihan temanmu, hampir hilang arah. Untung aku menolong… kan, Bai Lin?"

Bai Lin tak menjawab. Jemarinya menekan gagang tombak, bahunya sedikit menegang.

Wei Ren tertawa rendah. "Lumayan kan, ramai-ramai di sini. Seru."

Ia berjalan pelan mendekat, matanya menyisir lantai retak dan pecahan batu hitam di dekat kaki Yanzhi.

Wei Ren menunduk, mengetuk serpihan batu dengan ujung jarinya. Suara ketukan halus menggema di lorong lembab.

Senyumnya makin lebar, licin seperti tikus mencium bau bangkai.

"Oh? Apa kudengar? Suara retakan? Suara rahasia?" Wei Ren menatap Yanzhi, lalu Han Ye, senyumnya seperti musang mencium bau bangkai.

Han Ye bergeser sedikit, menutupi sebagian altar di belakangnya. Yanzhi menahan napas, menyembunyikan sepotong pecahan segel hitam ke dalam lengan jubahnya.

Wei Ren berlagak santai, bertepuk tangan pelan. "Kalian bilang pada instruktur mau kumpul Jade di area luar, ya? Eh, kenapa malah di ruang bawah tanah segel tua begini?"

Bai Lin tertawa kering. "Iya, aneh sekali. Penuh kabut, penuh racun… tapi kalian malah menelusuri reruntuhan?"

Han Ye tak menjawab. Pusaran angin tipis membelit di jari-jarinya. Yanzhi hanya menatap lurus, wajahnya dingin.

Wei Ren mendekat beberapa langkah, berhenti dua langkah dari Han Ye. Dia menunduk menatap tanah, melihat serpihan batu Jade hitam yang pecah di dekat kaki Yanzhi.

Wei Ren tak berani langsung ambil. Dia hanya tersenyum tipis, matanya berkilat. "Menarik. Sangat menarik."

Roh di kepala Yanzhi mendesis sinis. "Musang licik. Cium bau harta, tapi tak berani menggigit."

Han Ye melangkah setengah tapak ke depan, menatap Wei Ren tanpa kedip. "Kau mau apa?"

Wei Ren terkekeh. "Tenang. Aku hanya lewat. Mungkin di luar sana banyak kabut, kan? Bahaya… kalau kalian hilang begitu saja, Tetua Fan pasti sedih."

Nada kalimatnya seperti pisau. Bai Lin ikut menyeringai, jemarinya menekan sarung pedang di pinggangnya.

Han Ye bicara datar, nyaris dingin, "Kalau mau lihat-lihat, lihat cepat. Lalu keluar."

Wei Ren mengedipkan mata, perlahan mundur. Tapi matanya menatap Yanzhi lebih lama, sorot liciknya seolah menulis: Aku lihat sesuatu. Aku akan ingat.

"Aku pergi dulu. Hati-hati di kabut," Wei Ren berbisik datar, lalu berbalik, menyeret Bai Lin pergi perlahan. Tapi langkahnya sengaja pelan, memberi sinyal: Aku punya rahasia kecil.

Begitu langkah musang itu hilang, Han Ye mendesah berat. Ia menoleh pada Yanzhi, suara rendah menahan amarah. "Bagus sekali. Sekarang kita punya penonton."

Yanzhi menggenggam pecahan segel erat, suara Roh berdesir seperti pisau di gendang telinganya.

"Biarkan dia pergi. Biar dia menyampaikan kabar itu. Saat para tetua datang… kita yang akan memecahkan segelnya tepat di hadapan mereka. Biar mereka tenggelam bersama rahasianya."

Yanzhi menarik napas pelan, mengabaikan Roh. Han Ye menatapnya tajam.

"Kau masih sanggup berjalan?" tanya Han Ye, nada tetap dingin.

"Masih," sahut Yanzhi pelan.

Han Ye mendengus. "Simpan itu. Kita keluar sebelum Wei Ren memanggil Tetua Fan ke sini. Sisa Jade di ruang ini cukup, selebihnya bawa pulang, diam."

Yanzhi mengangguk. Tapi di sudut matanya, kilau simbol kuno di altar seolah berdenyut… seperti berbisik, meminta dipanggil lagi.

Di kepalanya, Roh terkikik panjang.

"Lembah ini hanyalah gerbang. Kau sudah masuk. Terlambat untuk menutupnya."

...****************...

1
Talia
semangat ya!💖
Zhenzhen: Makasih banyak ya 💕 dukungannya berarti banget buat aku/Determined/
total 1 replies
Talia
Happy New Year Author,semoga sehat-sehat selalu.
Zhenzhen: Terima kasih yaa ✨ Happy New Year juga, semoga kita semua selalu sehat dan diberi kelancaran 🌸
total 1 replies
Talia
dari pagi sampai malam aku baca sampai gak kerasa sudah Bab 41
Zhenzhen: Makasih banyak ❤️ seneng banget bacanya bisa nemenin seharian. Semoga lanjutannya tetap berasa ya ✨
total 1 replies
Talia
awalnya aku lumayan suka tapi lama-lama makin menarik
Zhenzhen: Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini 🤍 pelan-pelan ceritanya memang baru kebuka. Senang kamu ngerasainnya.
total 1 replies
Talia
mau kasian tapi Yanzhi keras kepala😅
Zhenzhen: 😄 iya, dia tipe yang susah mundur walau udah capek. Justru itu yang bikin dia sering nyakitin diri sendiri.
total 1 replies
Zhenzhen
Cerita ini ditulis dengan alur yang mengalir dan penuh tekad baru di setiap bab. Terima kasih untuk setiap pembaca yang sudah meluangkan waktu mengikuti perjalanan kisah ini./Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Talia
aku baca terus sampai gak kerasa sudah sampai sini😅
Zhenzhen: Makasih banyak ya 🥹❤️ Seneng banget bacanya sampai nggak kerasa sudah sejauh ini. Semoga bab selanjutnya tetap seru ✨
total 1 replies
Talia
aku suka alur ceritanya❤,semangat Author!
Zhenzhen: Terima kasih banyak ❤️ Komentarnya bikin semangat nulis! Senang banget kalau kamu suka alur ceritanya ✨
total 1 replies
Kustri
maaf hnya mengingatkan kata 'nggak' sebaik'a diganti 'tudak' gmn? ✌😁
Zhenzhen: Siap, makasih ya sudah diingatkan 😄🙏
total 1 replies
Kustri
yakin bisa sendiri, dgn tenaga & kekuatan yg terbatasmu?
ya sdh, smoga berhasil, jgn bikin kecewa roh api yg mendiami tubuhmu
dewi roisah
rasanya ikut tegang dan masih penasaran sama alur cerita..
Ramun🍓😈: permisi kak, siapa tahu kakak minat mampir dikaryaku yang berjudul 'Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku'

terimakasih sebelumnya 🤗💐
total 2 replies
dewi roisah
masih penasaran
Zhenzhen: Makasih yaa 🙏 lanjutannya bakal dijelasin pelan-pelan di bab berikutnya ✨
total 1 replies
dewi roisah
lanjut lagi seru serunya..
Zhenzhen: Siap! Makasih banyak, senang banget kamu menikmati ceritanya /Heart//Heart/
total 1 replies
Nanik S
Lembah Angin
Nanik S
Kepala baru memang sangat bodoh
Nanik S
Pasti Yanzhi adalah sasaran Lu Ming
Nanik S
mereka seperti teman tapi yang sat keras kepala yg satu Usil 🤣🤣🤣
Nanik S
💪💪💪👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor
Zhenzhen: Lanjut terus dong! Makasih sudah ngikutin ceritanya/Joyful//Determined/
total 1 replies
Nanik S
Benar sekali untuk apa ramah pada merdeka yang merendahkan kita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!