Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Tak lama kemudian, mobil Riska kembali menderu masuk ke halaman rumah.
Riska kembali kerepotan mencari sate Padang dan membawanya ke rumah dengan wajah yang terlihat jauh lebih lelah daripada saat mencari bubur ayam tadi.
Sambil menenteng beberapa bungkusan besar berisi piring-piring kertas dan bumbu yang aromanya sangat tajam merangsang selera, Riska menghampiri Rizal dan Hayu di taman belakang.
"Aduh Pak, kalau ngidam yang gampang saja. Mana ada pagi penjual sate Padang! Saya sudah keliling tiga kecamatan, semuanya masih tutup," gerutu Riska sambil menyeka keringat di dahinya.
Rizal menatap bungkusan itu dengan mata berbinar.
"Lalu ini dapat dari mana?"
"Untung saja mama aku pas masak ini, Pak. Tadi saya telepon rumah sambil menangis karena bingung, ternyata Mama baru saja selesai buat sate Padang untuk acara keluarga," jawab Riska lemas namun lega.
Mendengar itu, Rizal bukannya merasa bersalah, justru matanya semakin bersemangat.
"Kalau gitu aku pesan dua ratus tusuk ya!" ucap Rizal dengan santainya tanpa dosa.
Riska menepuk jidatnya keras-keras. "Dua ratus tusuk, Pak? Itu jatah makan seluruh keluarga besar saya!"
Hayu tertawa kecil melihat perdebatan majikan dan sekretarisnya yang sudah seperti adik kakak itu.
Ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dalam jumlah banyak.
"Sudah, sudah. Riska, ini uang untuk membayar dan tips tambahan karena kamu sudah menyelamatkan 'perut' Pak Rizal pagi ini. Terima kasih ya," ucap Hayu sambil menyodorkan uang itu.
"Riska..." panggil Hayu lagi sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih sudah sangat sabar menghadapi suami saya yang sedang aneh ini."
Riska menerima uang itu dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Bu Hayu. Uang ini lebih dari cukup untuk mengganti sate Mama, bahkan bisa buat buka warung sendiri," canda Riska yang akhirnya ikut tertawa melihat Rizal yang sudah tidak sabar membuka bungkusan sate tersebut.
Melihat kegigihan (dan sedikit paksaan manis) dari bosnya, Riska tidak punya pilihan lain.
Dengan wajah pasrah yang mengundang tawa, Riska menghubungi mamanya untuk menyiapkan dua ratus tusuk sate Padang saat itu juga.
"Halo, Ma? Tolong, Ma. Pak Rizal minta dua ratus tusuk. Iya, semuanya! Bungkus sekarang juga, Riska tunggu!" ucap Riska di telepon dengan nada memohon yang lucu.
Tak berselang lama, mama Riska datang sendiri ke rumah mewah itu menggunakan taksi online, karena merasa tidak enak jika putrinya harus bolak-balik lagi.
Ia membawa dua wadah besar yang masih sangat panas, mengepulkan aroma rempah kunyit dan lengkuas yang sangat tajam, dan memberikannya kepada putrinya di gerbang depan.
"Ini, Ris. Mama sampai kebut-kebutan bungkusnya. Bilang ke Pak Rizal, ini resep rahasia keluarga," bisik Mama Riska sambil memberikan bungkusan berat itu.
Riska membawa tumpukan sate itu ke taman belakang dengan napas terengah-engah. Begitu diletakkan di meja, Rizal langsung membuka penutupnya.
Matanya berbinar melihat gundukan daging sate yang disiram kuah kental berwarna keemasan.
"Nah, ini dia! Dua ratus tusuk sate Padang impianku!" seru Rizal senang bukan main.
Rizal langsung mengambil satu tusuk dan memakannya dengan lahap.
"Enak sekali! Riska, bilang ke mamamu, ini sate Padang paling enak yang pernah saya makan!"
Hayu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Rizal yang menghabiskan tusuk demi tusuk dengan sangat cepat, seolah-olah ia tidak makan selama tiga hari.
Sambil duduk santai, Hayu sesekali menyuapi suaminya kerupuk kulit untuk melengkapi kenikmatan sate tersebut.
Meskipun Rizal sedang "ngidam" berat, ia akhirnya sadar bahwa dua ratus tusuk sate Padang adalah jumlah yang sangat fantastis untuk dihabiskan berdua saja.
Aroma kuah sate yang kaya rempah itu kini memenuhi seluruh area taman belakang, membuat siapa pun yang lewat pasti menelan ludah.
Rizal mengajak semua pelayan dan penjaga rumah untuk ikut pesta sate karena porsinya terlalu banyak.
"Ayo, semuanya kumpul di sini!" seru Rizal sambil melambai pada para penjaga gerbang, tukang kebun, dan pelayan rumah.
"Ini resep rahasia mamanya Riska. Kita habiskan semua dua ratus tusuk ini sekarang juga!"
Para staf awalnya merasa sungkan, namun setelah Hayu memberikan anggukan sambil tersenyum ramah, mereka pun mendekat dengan wajah ceria.
Rizal sendiri yang sibuk membagi-bagikan piring kertas berisi sate dan ketupat kepada anak buahnya.
"Wah, terima kasih banyak, Pak Rizal, Bu Hayu!" ucap salah satu penjaga rumah dengan wajah sumringah.
Suasana taman yang biasanya formal dan sunyi seketika berubah menjadi sangat meriah. Mereka makan bersama di area terbuka, duduk di bangku-bangku taman sambil mengobrol santai.
Tidak ada lagi sekat antara majikan dan pelayan pagi itu; yang ada hanyalah kebahagiaan sederhana karena makanan yang enak.
Riska, yang tadinya merasa sangat lelah, kini merasa bangga melihat masakan mamanya dinikmati oleh semua orang.
Ia pun ikut bergabung sambil sesekali menggoda Rizal yang mulutnya sampai belepotan kuah kuning sate.
"Lihat itu, Sayang," bisik Rizal pada Hayu sambil menatap kerumunan stafnya yang makan dengan lahap.
"Sepertinya anak kita memang ingin berbagi kebahagiaan pagi ini."
Hayu menyandarkan kepalanya di bahu Rizal, merasa hatinya penuh.
Inilah rumah yang sesungguhnya dimana penuh tawa, perut kenyang, dan kedamaian tanpa gangguan dari luar.
Setelah pesta sate yang meriah itu berakhir, suasana rumah kembali tenang.
Rizal membawa Hayu masuk kembali ke dalam kamar mereka di lantai bawah. Ia tidak ingin istrinya terlalu lama berada di luar karena udara mulai terasa agak panas.
Dengan penuh perhatian, Rizal membantu Hayu berbaring di tempat tidur yang empuk.
Ia kemudian mengambil minyak aromaterapi dan mulai memberikan pijatan lembut di kaki istrinya agar Hayu semakin rileks.
"Mas, tidak perlu sampai seperti ini," ucap Hayu merasa tidak enak, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa pijatan Rizal terasa sangat nyaman dan mengurangi rasa pegal di kakinya.
"Sstt... ini tugas Mas. Kamu harus benar-benar tenang agar janin kita juga tenang," bisik Rizal sambil terus memijat dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu, di sebuah rumah lain yang tampak berantakan, Ibu Hayu sedang duduk dengan wajah yang dipenuhi amarah dan ambisi.
Ia masih tidak terima diusir begitu saja oleh Rizal. Otaknya terus berputar mencari cara agar bisa menemui Hayu dan menguras harta suami putrinya yang ternyata jauh lebih kaya dari dugaannya.
"Aku tidak akan membiarkan Hayu hidup enak sendirian sementara aku susah di sini," geramnya.
Karena ia tahu penjagaan di rumah Rizal sangat ketat, ia memanggil adiknya, seorang pria pengangguran yang sering terlibat masalah hukum.
Dengan tatapan licik, ia meminta adiknya untuk menculik Hayu.
"Culik saja dia saat suaminya tidak ada. Kita bawa dia ke tempat aman, lalu kita minta tebusan yang sangat besar. Pria kaya itu pasti akan memberikan apa saja demi istrinya," hasut Ibu Hayu kepada adiknya.
Adiknya hanya menyeringai gelap, tergiur dengan bayangan uang yang akan mereka dapatkan, tanpa menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan Rizal yang tidak akan segan-segan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh istrinya.