Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14.
Tapi, Lara kemudian berpikir mencerna apa yang baru saja dikatakan Stefan.
Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Stefan.
Ia rabun mengingat wajah pria lain, karena selama ini matanya hanya berfokus mengenali satu pria saja, yaitu David Lorenzo.
Lara mengedipkan kembali matanya melihat tatapan mata Stefan, yang tampak begitu lekat menatap manik matanya.
Tatapan mata itu membuat pipinya kembali terasa panas.
Tatapan yang dapat ia rasakan, seperti tatapan pria dewasa memandang seorang wanita.
Tidak! tidak mungkin! Lara menepis pikiran yang tidak masuk akal, menebak pandangan mata Stefan menatapnya.
Ia merasa Stefan masih seorang mahasiswa, dan masih sangat muda sekali dari usianya, memiliki tatapan penuh arti pada wanita dewasa sepertinya.
Mungkin tatapan itu, hanya tatapan rasa rasa kagum seorang adik terhadap kakak, yang sudah begitu perhatian dan tulus menolongnya.
Iya! pasti seperti itu! pikir Lara melihat tatapan mata Stefan menatapnya.
"Oh, mu.. mungkin karena lampu di lorong itu terlalu temaram, jadi aku tidak begitu fokus melihat wajahmu!" jawab Lara.
"Benarkah?" mata Stefan bergerak-gerak menatap bola mata Lara, yang tampak mencoba menghindari tatapan matanya.
"Iya! sebaiknya kamu kembali ke apartemen mu, tubuhmu perlu beristirahat, agar rasa sakit pada kepalamu segera pulih, dan besok pagi kembali bugar, dan bisa pergi kuliah dengan tubuh yang segar!"
Stefan nyaris tertawa mendengar apa yang dikatakan Lara.
Ternyata Lara berpikiran, kalau ia seorang mahasiswa, karena penampilannya terlihat masih muda di bawah usia Lara.
Orang pada umumnya pasti juga berpikiran seperti Lara, kalau ia terlihat seperti seorang mahasiswa.
Hanya orang terdekatnya saja yang mengetahui, seperti apa sosok Stefan Alden.
Saat usianya delapan belas tahun ia sudah duduk di bangku kuliah.
Dan dua bulan yang lalu, usianya tepat dua puluh dua tahun, ia tidak lagi melanjutkan kuliahnya karena suatu hal.
"Kak, luka di bahuku tidak dapat membuat ku melakukan apa pun, bahkan untuk memegang gelas saja aku tidak bisa! bagaimana jadinya kalau aku sendirian di dalam apartemen ku, kakak bisa bayangkan, kan?"
Iya, benar juga! pikir Lara mendengar apa yang dikatakan Stefan.
Melihat kondisi Stefan yang terluka, sepertinya memang harus ada seseorang bersama Stefan, untuk menjaga Stefan mengalami sesuatu.
Dengan perasaan berat hati Lara menghela nafas berat, "Baiklah, sebagai tetangga aku akan menjaga kamu malam ini!"
"Terimakasih, kak!"
Stefan tersenyum senang, dan menghamburkan tubuhnya memeluk Lara.
Lara hanya bisa membeku, dengan reaksi Stefan dengan jawabannya, yang terlihat begitu bahagia sekali.
Ia merasa Stefan sepertinya mengincarnya, atau sepertinya hanya berpura-pura saja mengalami luka.
Dan melihat Stefan yang tersenyum gembira, karena ia mengijinkannya menginap di apartemennya, apakah wajar terlihat begitu bahagia?
Stefan melepaskan pelukannya.
"Apakah segitu gembiranya kamu menginap di apartemen ku? atau jangan-jangan kamu sengaja membuat dirimu terluka?" tanya Lara memandang curiga raut wajah Stefan yang bahagia.
Stefan seketika tersadar akan reaksinya, dan ia pun dengan cepat ke mode tidak berdaya.
"Aduh.. duh.. ke.. kenapa kepalaku kembali terasa begitu sakit?" ucapnya dengan suara yang kembali terdengar lemah.
Tubuh Stefan merosot kembali ke sofa, dan raut wajahnya tampak kesakitan sembari memegang kepalanya.
Lara yang tadinya curiga, sepertinya terlalu berpikiran negatif melihat raut wajah Stefan yang bahagia.
"Aku.. aku akan membuat makan malammu, sepertinya kamu belum makan, kan?" tanya Lara bangkit dari duduknya.
"Iya, kak! sedari siang aku belum makan!" jawab Stefan.
"Hah? apa? pantas saja kamu terlihat begitu lemah! tunggu sebentar, aku akan memasak sebentar!"
Lara bergegas ke dapur, dan memeriksa kulkas.
Sepertinya ia tidak memiliki bahan makanan, untuk dapat ia masak buat makan malam Stefan.
Lara mengambil dompetnya.
"Kakak mau kemana?!" tanya Stefan seketika bangun dari berbaringnya, melihat Lara yang melangkah ke pintu.
"Bahan makananku dalam kulkas tidak lengkap, untuk membuat makan malam mu, aku akan berbelanja sebentar ke minimarket di depan gedung apartemen!"
"Aku ikut!!"
"Apa?!" mata Lara nyaris membulat melihat Stefan yang turun dari sofa, "Bukankah kepalamu sakit?!"
"A.. aku takut, sesuatu terjadi pada kakak keluar malam-malam begini!"
"Aku hanya ke depan gedung apartemen saja, tidak pergi jauh dari lokasi apartemen!"
"Tidak bisa! aku ikut!!"
Dengan susah payah Stefan melangkah mendekati Lara, yang terpaku memandangnya tidak percaya.
Stefan tampak dapat berjalan tanpa perlu di papah.
"Stefan, sepertinya kamu baik-baik saja!"
Stefan menghentikan langkahnya.
Karena tidak rela membiarkan Lara pergi sendirian ke luar malam hari, ia jadi lupa dengan drama pendekatan yang ia rencanakan.
"Aku cemas padamu kak, ini gerakan reflekku karena aku tidak ingin kamu jalan sendirian keluar malam-malam begini!" jawab Stefan.
Lara mengedipkan matanya.
Baru kali ini seseorang mengkhawatirkan dirinya.
Ada rasa yang hangat menjalar dalam hatinya, seperti saat terakhir kali semasa Ibunya masih hidup.
Kata-kata cemas akan keselamatan dirinya, yang ia pikir hanya Ibunya saja yang memperlihatkan nya padanya.
"Bagaimana, kalau kakak temani aku makan malam diluar saja, jadi tidak perlu repot memasak, hem?"
Lara kembali mengedipkan matanya.
"Oh, baiklah!"
Dengan naik taksi mereka menuju sebuah restoran.
Karena desakan Stefan, untuk ikut makan juga bersamanya, Lara pun akhirnya makan malam dua kali malam ini.
"Eh, siapa ini? ck! sial sekali malam ini, bisa bertemu dengan perempuan jalang tidak tahu malu!!"
Tiba-tiba Lara mendengar suara nada kesal seorang wanita, saat ia dan Stefan menunggu taksi, setelah mereka selesai makan malam.
Lara melihat Cindy bersama dengan seorang pria, melangkah mendekatinya dengan pandangan mencemooh.
"Siapa dia? kasar sekali dia bicara padamu, kak!" tanya Stefan memandang dingin pada Cindy.
"Adik tiri yang memiliki dua wajah!" jawab Lara melirik Cindy dengan dingin juga.
"Apa katamu?! ohhh... sepertinya kamu mengganti seleramu setelah diceraikan David, ya?!"
Cindy melihat ke arah Stefan, dan memandang penampilan Stefan dari atas kepala sampai bawah kaki.
"Ya ampun Lara! kamu benar-benar sesuatu! setelah kamu bercerai, moralmu jadi menyimpang! kamu pacaran dengan seorang mahasiswa? ha ha haa... !!"
Cindy tertawa ngakak begitu ia mengamati penampilan Stefan, sampai pria yang berdiri di sampingnya ikut tertawa juga, karena merasa lucu mendengar apa yang dikatakan Cindy.
"Oh!" Lara tidak tersinggung sedikit pun mendengar nada mencemooh Cindy, "Lalu bagaimana dengan mu? apa yang akan David lakukan padamu, kalau ia tahu wanita yang sangat ia cintai, ternyata memiliki pria lain di luar?!"
Wajah senang Cindy seketika berubah begitu mendengar nada dingin Lara, yang tidak ia sangka membuat ia terkejut.
"Jangan sembarang bicara kamu! dia.. dia hanya sebatas teman ku saja, David mengenalnya! kami tidak sengaja bertemu, dan dia menawarkan tumpangan, untuk mengantarkan aku pulang!!"
"Oh, benarkah?!" senyum tidak percaya Lara tersungging di sudut bibirnya, melirik dingin ke arah pria yang berdiri di samping Cindy.
Bersambung........