Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: SISTEM OPERASI YANG BERGANTI, PERINGATAN EOL, DAN MIGRASI DATA
Disclaimer: Bab ini mengandung akhir dari suatu era, keputusan sunset yang menyakitkan namun perlu, dan proses backup memori yang tidak sempurna.
"Kami akan sunting Dadu Champ."
Kalimat itu diucapkan Pak Suryo di tengah rapat kecil di kantornya yang kini sudah rapi, ada meja rapat sungguhan, bukan lagi kardus dadu. Wajahnya serius, berbeda dengan ekspresi ceria sang penjoget dadu.
Ardi dan Kinan saling pandang. Dadu Champ bukan hanya usaha; itu adalah monumen bagi awal segalanya. Tempat mereka bertemu offline, kontrak di kertas bekas, awal dari semua keberanian dan kekacauan mereka.
"Kenapa, Pak?" tanya Kinan, suaranya hampir bergetar.
"Bukan karena bangkrut," cepat jelas Pak Suryo. "Justru sebaliknya. Kita kebanjiran order. Tapi..." dia menghela napas, menunjukkan spreadsheet di laptop. "Lihat. 80% order kita sekarang datang dari orang yang nggak peduli dadu. Mereka pesan karena mau 'produk dari si burung hantu dan si aesthetic'. Mereka beli cerita kalian, bukan produknya."
Itu adalah ironi yang pahit. Mereka memberontak agar tidak diperlakukan sebagai produk, namun justru menjadikan usaha mereka dan diri mereka lebih terbungkus dalam narasi itu.
"Gue nggak mau jadi meme berjalan, atau souvenir dari sebuah era viral," kata Ardi pelan. "Dadu Champ harusnya tentang bikin orang seneng dengan kebetulan yang sederhana. Bukan tentang kami."
"Tepat,"sahut Pak Suryo. "Dan gue... gue juga capek. Gue pengen balik ke awal: jualan dadu di pasar, ke anak-anak yang beneran mau main, bukan ke kolektor yang mau pajang di rak."
Keputusan itu berat: mereka akan melakukan sunset process selama sebulan. Stop produksi, layani sisa order, lalu tutup toko online. Pak Suryo akan kembali ke lapak dadunya di pasar minggu.
Proses Berduka untuk Sesuatu yang Masih Hidup
Mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang masih menghasilkan uang terasa tidak logis.Tapi bagi mereka, ini tentang integritas sistem.
Mereka memutuskan untuk membuat satu konten perpisahan terakhir. Bukan untuk viral, tapi sebagai penutup yang bermartabat.
Konsepnya sederhana:video 3 menit. Mereka akan melempar dadu raksasa (buatan Pak Suryo) di tempat-tempat penting perjalanan mereka: di depan kosan Ardi, di warung kopi Klotok, di kantor Dadu Champ, di gerbang kampus. Setiap lemparan, mereka akan membacakan satu pelajaran yang didapat.
Pengambilan Gambar Hari Pertama: Kosan Ardi
Dadu raksasa itu terlihat konyol di lorong sempit kosan.Saat dadu dilempar, muncul angka 3.
"Pelajaran dari angka 3," kata Ardi ke kamera. "Kesalahan ketiga kalinya mungkin adalah jalan yang benar yang cuma disamarkan sebagai kesalahan."
Itu adalah filosofi dadu ala Pak Suryo,yang kini terasa sangat personal.
Hari Ketiga: Kantor Dadu Champ yang Sepi
Dadu mendarat di angka 6.
"Pelajaran dari angka 6," ucap Kinan, suaranya lirih. "Terkadang, keputusan terbaik adalah berhenti menggulirkan dadu, dan memegang kendali sepenuhnya."
Di balik kamera, Pak Suryo menghapus air mata. Tempat ini adalah mimpinya, tapi dia tahu harus melepas.
Bug Nostalgia dan Ancaman Regression
Proses sunset ini membangkitkan bug lama: kerinduan pada masa chaos.
"Sering nggak sih, lo kepikiran waktu kita syuting 24 Hours Dice Challenge?" tanya Kinan suatu malam saat mereka menyortir sisa stok dadu.
"Tiap kali deadline TA gue mentok," jawab Ardi sambil tertawa. "Tapi itu dulu. Sekarang kita... lebih tenang. Dan itu lebih susah."
"Iya.Lebih susah."
Nostalgia itu berbahaya. Ia membuat masa lalu yang penuh drama terlihat lebih menarik daripada kedamaian sekarang yang datar. Seperti ingin downgrade sistem operasi ke versi lama karena versi baru terasa membosankan, meski lebih stabil.
Migrasi Data Emosional
Jika Dadu Champ adalah server yang akan dimatikan, maka kenangan di dalamnya adalah data yang harus dimigrasikan.
Mereka memutuskan untuk membuat "kapsul waktu digital". Sebuah folder Google Drive berisi:
· Foto-foto behind the scene yang tidak pernah diunggah.
· Scan kontrak di kertas bekas.
· Screenshot chat pertama mereka yang panik.
· File audio rekaman podcast privat mereka.
· Satu video pendek dari Pak Suryo berpesan: "Jangan lupa main. Bukan untuk konten. Untuk senang-senang."
Folder itu di-password. Password-nya adalah kombinasi: tanggal accidental like + tanggal pertama mereka bertatap muka.
Ini bukan untuk dibuka setiap hari. Hanya untuk suatu hari nanti, jika mereka lupa mengapa mereka memulai.
EOL (End of Life) Announcement
Video perpisahan mereka diunggah pada hari terakhir Dadu Champ beroperasi.Judulnya sederhana: "Terima Kasih, Dadu. Kami Ambil Alih Sekarang."
Isi video itu tidak dramatis. Hanya montase lemparan dadu, senyum kecil, dan ucapan terima kasih. Tidak ada ajakan berbelanja "last stock". Tidak ada pengumuman proyek baru.
Komentar beragam:
"Sedih banget, ini kan iconic!"
"Respect. Kalian konsisten sama nilai kalian."
"Jadi ini terakhir kali kalian kolaborasi?"
Pertanyaan terakhir itu yang paling banyak diulang. Apakah ini akhir dari "mereka" sebagai pasangan kreatif?
Launch Sistem Operasi Baru: "Project Grounded" (Fase Asli)
Kinan dan Ardi sudah punya jawabannya.Di hari yang sama video perpisahan dirilis, mereka meluncurkan sesuatu yang baru bukan di YouTube, tapi di newsletter.
Sebuah newsletter mingguan bernama "Grounding Cables". Konsepnya: setiap minggu, mereka akan mengirim satu esai pendek (bergantian menulis) tentang belajar hidup di dunia digital tanpa kehilangan kemanusiaan. Plus, satu rekomendasi sederhana: sebuah lagu, sebuah buku, sebuah tempat makan, atau sebuah pertanyaan untuk direnungkan.
Tidak ada algoritma rekomendasi. Tidak ada like button. Hanya tulisan yang datang ke inbox orang yang benar-benar mendaftar.
Ini adalah antitesis dari segalanya. Lambat. Tidak viralable. Tidak menghasilkan uang (mereka menolak iklan). Murni untuk berbagi proses.
Langganan pertamanya hanya 200 orang. Tapi itu 200 orang yang benar-benar ingin membaca, bukan sekadar scroll.
LAST LINE: Malam setelah Dadu Champ resmi tutup, Ardi dan Kinan duduk di atap kosan Ardi, melihat langit Jakarta yang jarang menunjukkan bintang. Di antara mereka, terselip sebuah dadu karet biasa bukan untuk dilempar, hanya sebagai penanda. Mereka tidak sedang merencanakan konten berikutnya. Mereka tidak sedang menganalisis engagement. Mereka hanya sedang menghitung berapa bintang yang berhasil mereka lihat (tiga, mungkin empat). Dan dalam keheningan malam yang diisi oleh suara kota yang tak pernah tidur, mereka merasakan sebuah kehilangan yang ringan, sekaligus kebebasan yang berat. Mereka telah mematikan satu server, dan memulai jaringan yang lebih kecil, lebih lambat, lebih intim. Mungkin inilah arti dewasa dalam era digital: bukan tentang membangun menara yang semakin tinggi, tetapi tentang memilih untuk menggali sumur yang semakin dalam tempat yang hanya bisa menampung sedikit orang, tapi airnya jernih, dan bisa menghilangkan dahaga yang sesungguhnya.