NovelToon NovelToon
Sebelum Segalanya Berubah

Sebelum Segalanya Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SunFlower

Rania menjalani kehidupan yang monoton. Penghianatan keluarga, kekasih dan sahabatnya. Hingga suatu malam, ia bertemu seorang pria misterius yang menawarkan sesuatu yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Kesempatan untuk melihat masa depan."

Dalam perjalanan menembus waktu itu, Rania menjalani kehidupan yang selalu ia dambakan. Dirinya di masa depan adalah seorang wanita yang sukses, memiliki jabatan dan kekayaan, tapi hidupnya kesepian. Ia berhasil, tapi kehilangan semua yang pernah ia cintai. Di sana ia mulai memahami harga dari setiap pilihan yang dulu ia buat.

Namun ketika waktunya hampir habis, pria itu memberinya dua pilihan: tetap tinggal di masa depan dan melupakan semuanya, atau kembali ke masa lalu untuk memperbaiki apa yang telah ia hancurkan, meski itu berarti mengubah takdir orang-orang yang ia cintai.

Manakah yang akan di pilih oleh Rania?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

Happy Reading...

.

.

.

Arkana terbangun dari tidurnya saat malam sudah semakin larut. Ia tidak langsung bangkit. Pandangannya tertuju pada sosok Rania yang terlelap di sisinya. Napas gadis itu terdengar teratur, meski bekas tangis masih jelas terlihat di wajahnya. Arkana mengamati Rania beberapa saat, memastikan bahwa perempuan itu benar-benar telah tertidur lelap dan tidak akan terbangun.

Dengan gerakan pelan, Arkana bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan selimut yang sedikit tersingkap, menutup tubuh Rania dengan hati-hati agar gadis itu tidak kedinginan. Tangannya kemudian terulur, mengusap lembut kening Rania, seolah ingin menenangkan luka yang tidak terlihat. Arkana menunduk sedikit, lalu mengecup kening Rania singkat namun penuh kehangatan yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapan gadis itu.

“Tidurlah yang nyenyak..” gumamnya lirih, bahkan hampir tak terdengar.

Setelah itu, Arkana meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia melangkah keluar kamar dengan langkah ringan, menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara. Udara malam menyambutnya saat Arkana melangkah ke balkon. Ia mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia, menatap sebentar langit malam Jakarta yang tampak tenang, jauh berbeda dengan pikirannya yang sedang kacau.

Arkana membuka ponselnya dan mencari satu nama yang sudah lama tersimpan di daftar kontaknya. Leon. Orang kepercayaannya yang selalu bisa ia andalkan tanpa banyak pertanyaan. Arkana menekan tombol panggil dan menunggu hingga sambungan terhubung.

“Leon..” ujar Arkana begitu panggilan terjawab. Suaranya terdengar tenang, namun ada tekanan yang terselip di dalamnya.

“Ya, Tuan.” jawab Leon di seberang sana.

“Aku ingin kamu menyelidiki sesuatu.” lanjut Arkana. “Cari tahu apa yang terjadi pada Rania dalam beberapa hari terakhir. Aku ingin tahu semuanya, sekecil apa pun itu..”

Leon terdiam sejenak sebelum menjawab. “Baik, Tuan. Saya akan segera mengurusnya.”

“Aku tunggu laporannya secepat mungkin.” kata Arkana singkat sebelum mengakhiri panggilan.

Arkana menurunkan ponselnya. Ia menghela napas panjang, lalu bersedekap di depan dada. Ada perasaan yang sulit ia jelaskan. Perasaan cemas, bingung sekaligus marah pada dirinya sendiri karena merasa terlambat menyadari perubahan Rania.

Beberapa saat kemudian, Arkana bangkit dari kursinya dan kembali masuk ke kamar. Ia melangkah mendekat ke tempat tidur, lalu membaringkan dirinya di sisi Rania. Pandangannya kembali tertuju pada wajah itu. Wajah yang selama ini ia kenal sebagai sosok kuat, dingin, dan mandiri.

Namun malam ini berbeda. Sangat berbeda.

Arkana menatap Rania lama, seolah mencoba mencari jawaban dari setiap gurat wajahnya. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang telah melukai Rania hingga membuatnya serapuh ini? Dan mengapa ia baru menyadarinya sekarang?

Ini benar-benar pertama kalinya Arkana melihat sisi Rania yang begitu rapuh. Dan tanpa ia sadari, ada tekad yang menguat di dalam hatinya. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Rania menghadapinya sendirian lagi.

.

.

.

Pagi ini Rania memilih pergi tanpa memberi tahu Arkana. Ia bangun lebih awal dari biasanya, memastikan langkahnya senyap agar tidak membangunkan lelaki itu. Dengan hati-hati, Rania meraih blazer, lalu menuliskan sebuah notes singkat yang ia letakkan di atas meja makan. Di samping notes itu, sudah tersaji beberapa masakan sederhana yang ia siapkan sendiri untuk sarapan Arkana.

Sebelum melangkah keluar apartemen, Rania sempat berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah kamar, menatap pintu yang tertutup rapat. Ada rasa bersalah yang mengendap di dadanya, tetapi tekadnya jauh lebih kuat. Ia tidak ingin melibatkan Arkana dalam urusan yang baginya masih terlalu sulit untuk dijelaskan.

Sesampainya di dalam mobil, Rania segera mengirimkan pesan kepada Sonya.

“Aku pergi sebentar. Kemungkinan kembali setelah makan siang. Tolong cancel beberapa meeting pagi ini.”

Tak lama kemudian, Sonya membalas dengan singkat, menandakan bahwa pesannya telah diterima. Rania tidak membaca ulang. Ia langsung menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah sakit tempat Alisa dirawat.

Sepanjang perjalanan, pikiran Rania dipenuhi berbagai kemungkinan. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia ingin semuanya cepat selesai. Ia ingin memastikan Alisa mendapat penanganan yang layak, tanpa perlu ada drama atau perdebatan panjang.

Setibanya di rumah sakit, Rania segera memarkirkan mobilnya lalu bergegas masuk. Langkahnya tergesa, matanya fokus menatap ke depan. Ia tidak ingin bertemu siapa pun yang ia kenal, terutama Jordi atau Melisa. Tanpa membuang waktu, Rania langsung menuju ruang informasi.

“Permisi,” ucap Rania dengan suara tenang, meski dadanya terasa sesak. “Saya ingin bertanya, siapa dokter yang menangani pasien bernama Alisa.”

Petugas informasi mengecek data di komputer. “Dokter yang menangani pasien Alisa adalah Dokter Arya. Kebetulan beliau sedang berjaga pagi ini.”

“Di mana ruangannya?” tanya Rania cepat.

Petugas itu menyebutkan nomor ruangan dan arah yang harus dituju. Rania mengucapkan terima kasih singkat lalu segera melangkah pergi. Lorong rumah sakit terasa panjang, langkah kakinya menggema di antara suara alat medis dan percakapan lirih para pengunjung.

Sesampainya di depan ruangan dokter, Rania menarik napas dalam-dalam. Ia menunggu cukup lama hingga akhirnya seorang perawat mempersilakannya masuk.

“Silakan, Bu. Dokternya sudah menunggu.”

Rania masuk dan mendapati seorang pria paruh baya duduk di balik meja. Wajahnya terlihat lelah namun senyum ramah masih terlihat jelas.

“Silakan duduk.” ujar dokter itu. “Ada yang bisa saya bantu?”

Rania mengangguk. “Saya kakak dari pasien Alisa.” ucapnya pelan namun tegas. “Saya ingin menanyakan kondisi adik saya secara langsung.”

Dokter itu menatap Rania sejenak, lalu membuka berkas di hadapannya. “Kondisi Alisa cukup serius.” jelasnya. “Seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, ada kerusakan pada ginjalnya akibat kecelakaan beberapa bulan lalu. Selain itu, ada indikasi kelumpuhan yang semakin memburuk.”

Rania meremas jemarinya di atas pangkuan. “Apa masih bisa dioperasi?” tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Dokter mengangguk. “Masih bisa, tetapi operasinya harus segera dilakukan. Kami sudah berulang kali menyarankan pihak keluarga untuk menyetujui operasi, tetapi wali pasien menolak.”

“Kenapa?” tanya Rania, meski ia sudah bisa menebaknya.

Dokter menghela napas. “Bu Melisa mengatakan mereka belum memiliki biaya yang cukup.”

Jawaban itu membuat dada Rania terasa semakin sesak. Namun kali ini, ia tidak ragu. Ia menegakkan punggungnya, menatap dokter dengan penuh keyakinan.

“Kalau begitu..” ujar Rania mantap. “Biaya operasi dan seluruh perawatan Alisa akan saya tanggung.”

Dokter itu terlihat terkejut. “Anda yakin?”

“Sangat yakin,” jawab Rania tanpa ragu. “Saya mohon, dokter bisa segera menjadwalkan operasinya.”

Dokter terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Baik. Kami akan segera mengurusnya. Tapi secara administrasi..”

“Saya akan mengurus semuanya sekarang.” potong Rania. Ia lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, “Namun saya punya satu permintaan.”

Dokter menatapnya penasaran. “Silakan.”

“Saya ingin identitas saya dirahasiakan,” ucap Rania. “Pihak keluarga tidak perlu tahu bahwa saya yang menanggung biaya ini.”

Dokter menimbang permintaan itu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Baik, kami akan menghormati permintaan Anda.”

Rania menghembuskan napas panjang. Ada sedikit kelegaan yang akhirnya ia rasakan, meski luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh. Ia berdiri, mengucapkan terima kasih kepada dokter, lalu melangkah keluar untuk mengurus seluruh administrasi yang diperlukan.

Hari ini, Rania datang bukan sebagai anak yang terluka, bukan sebagai kakak yang penuh dendam, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya memilih melakukan hal yang menurut hatinya benar.

.

.

.

Jangan lupa LIKE dan KOMEN...

1
Puji Hastuti
Kok gitu sih arkana
Kustri
bukan'a sonya izin krn nenek'a sakit, gmn sih,
raka itu siapa
chochoball: skip time ituuu... itu mau tulis kana tapi keliru raka.. Raka itu tokoh di story satunya.. Boleh mampir juga ya kakak.. sama- sama masih on going..
total 1 replies
Kustri
arkan ke bali apa ke istri'a🤔
Kustri
unik & menarik
gaaaas pol
Kustri
ini awal memperbaiki masa lalu💪
Kustri
penasaran👍
Kustri
aman👍
beneran baru nemu yg alur'a spt ini
lanjutkaaan
Kustri
baru nemu crita spt ini, berbeda tp menarik💪
Kustri
kpn ketemu laki" misterius yg di part awal, g sabaaaar😁
Kustri
mosok gk ngabari kantor, kan yg meninggal ortu kandung lho
chochoball: kasih kabar kokkk... cm di sini rania kan termasuk salah satu karyawan yang di abaikan.. rania cuma di manfaatin doang..
total 1 replies
Kustri
ya hrs tega, mrk semena" koq👍💪
Kustri
🫂😭
Kustri
tulisan'a rapi, bagus💪💪💪
susah nyari yg begini
Kustri
lho kt'a tinggal di apart, koq ini dirmh to
💪💪💪rania
Kustri
judul'a menarik lwt diberanda... cb mampir
ish... kasian, hidup segan mati tk mau💪
Erni Kusumawati
terkadang luka itu sulit utk dihapus tp sedikit demi sedikit bisa terkikis dg keikhlasan walaupun bekasnya akan selalu ada
Puji Hastuti
Lanjut kk 😍
Erni Kusumawati
Rania semoga kebahagiaan berpihak kepadamu
Puji Hastuti
Lanjut kk
Puji Hastuti
Kak, kok novel cinta yang seharusnya tak ada di cari gak muncul ya
chochoball: Cinta Yang Tak Seharusnya Ada kak..🙂🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!