NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku

Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rezqhi Amalia

Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.

Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.

Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.

Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.

Kontrak pernikahan selama satu tahun.

Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…

Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?


Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.



Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.

Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Heboh

Siang hari itu, matahari sedang tinggi-tingginya, menyengat dari atas kepala. Panas memantul dari aspal, membuat udara bergelombang. Shaqila berdiri di bawah bayangan pohon besar dekat pagar rumahnya, menunggu taksi online yang baru ia pesan.

Keringat kecil muncul di pelipisnya.

"Mana sih… kok lama banget," gerutunya sambil memeriksa layar ponsel.

Beberapa menit kemudian, sebuah sedan putih melambat dan berhenti tepat di depannya. Nomor dan model mobilnya sesuai dengan di aplikasi. Tanpa pikir panjang, Shaqila membuka pintu belakang dan masuk.

Entah mengapa ia merasa di dalam taksi itu suasana sangat mencekan meski AC menyala. Tidak ada musik, hanya suara mesin yang bergetar pelan, seperti menahan sesuatu.

Shaqila merapikan roknya. Rok selutut yang biasanya terasa normal dan nyaman tapi tiba-tiba hari ini terasa terlalu pendek.

Shaqila menangkap sesuatu dari spion tengah.

Mata sopir mengawasinya.

Menatapnya lama, tanpa risih.

Ia tersentak dalam hati ketika melihat pandangan sopir itu menuruni wajahnya… ke lehernya… lalu ke kaki jenjangnya yang sedikit terekspos ketika ia duduk. Tatapan itu bukan sekadar melihat...lebih seperti mengupasnya.

Shaqila merapatkan tas ke pangkuan, mencoba menutupi bagian tubuhnya yang terasa tidak aman.

Mobil melaju pelan sekali, padahal jalanan siang itu cukup lengang, tidak ada macet.

Ia sudah tidak tahan.

"P-pak… berhenti!" ucap Shaqila dengan suara bergetar.

Sopir itu meliriknya lewat spion lagi, senyum miring muncul di bibirnya.

"Kenapa berhenti, Neng? Kampus kan masih jauh."

Nada itu membuat perut Shaqila mual ketakutan.

Tangannya bergetar dan meraih ponselnya. Entah mengapa pikirannya tertuju pada Reyhan.

Dosen galak:

Pak tolongin saya. Supir taksi ini kayaknya berniat jahat. Dia gak berhenti lihat saya dari spion.

Shaqila mengirim pesan itu secepat mungkin berharap dosennya itu menolongnya.

Satu menit,

Dua menit,

Tiga,

Empat,

Lima menit,

Pesan itu tetap centang abu-abu.

Ia hampir menangis karena menurutnya hidupnya saat ini tidak aman.

Namun ponselnya seketika bergetar, dengan cepat ia membuka pesan itu.

Angkat telepon saya dan nyalakan speakernya.

Sebelum ia sempat menarik napas lega, panggilan masuk. Dengan gugup, Shaqila menekan tombol hijau dan menyalakan speaker.

"Halo."

Suara Reyhan terdengar tegas, berat, memantul di seluruh sudut mobil. "Kamu masih di taksi, kan?"

Suara itu cukup keras untuk didengar sopir.

"Ingat," lanjut Reyhan, sengaja menaikkan volume bicaranya, "hp kamu masih tersambung sama sistem saya. Saya bisa pantau posisi dan memastikan kamu aman. Dan kamu tahu sendiri kan suamimu ini abdi negara."

Sopir itu menelan ludah, terlihat dari gerakan kecil di rahangnya.

"Siapapun yang berani ganggu kamu…" suara Reyhan menurun, menjadi lebih tajam, "akan berhadapan dengan saya. Sama seperti mantanmu dulu. Kamu ingat kan bagaimana akhir yang dia dapat karena mengganggumu?"

Shaqila melihat sang sopir langsung tegang. Tangan pria itu mencengkeram setir lebih keras, lalu ia menginjak gas. Mobil melaju cepat namun dalam batas yang masih normal.

Shaqila tahu, efek kata-kata Reyhan berhasil. Menurutnya selain menjadi dosen Reyhan juga berbakat menjadi aktor.

"I-iya sayang… sebentar lagi aku sampai," ucapnya, memainkan peran itu agar sopir semakin takut. "Aku tutup ya."

Ia memutus telepon.

Napasnya bergetar. Sekarang ia sedikit merasa aman.

Sementara di Universitas Harapan,Reyhan baru masuk ke ruangannya setelah kelas siang yang melelahkan. Ia hendak memesan makanan karena perutnya mulai terasa kosong.

Tapi sebelum jari jari kekarnya menekan menu makanan, muncul notifikasi pesan dari Shaqila.

Setelah membacanya, ekspresinya langsung berubah.

Tanpa berpikir panjang, ia membalas pesan tersebut.

Lalu menekan tombol telepon dengan cepat, berharap Shaqila mengangkat dalam satu dering.

***

Akhirnya taksi yang ditumpangi Shaqila berhenti tepat di depan gerbang kampusnya, membuat gadis itu menghembuskan napas panjang yang seolah terkurung di dadanya sejak tadi. Lega, bahkan sangat lega yang kini ia rasakan.

 Atmosfer mencekam di perjalanan barusan masih tersisa seperti bayangan gelap di belakangnya, tapi setidaknya ia sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Iamemutuskan untuk mampir ke kantin dulu. Ia berjalan menyusuri koridor kampus yang mulai dipenuhi mahasiswa lain baik dari maba, semester tengah maupun semester akhir. Hembusan angin disepanjang koridor menampar lembut wajahnya, membantu menetralkan sisa panik di tubuhnya.

Sambil melangkah, ia membuka ponselnya. Jempolnya lincah mengetik pesan untuk Siska.

'Sis, akhirnya gue udah di kampus. Lo di-'

Ketikannya terpotong karena tiba-tiba saja ia menabrak seseorang.

Tubuhnya memantul sedikit ke belakang, ponselnya hampir terlepas dari tangannya. Shaqila langsung menunduk dan hampir mengumpat.

"JALAN K-"

Ia terdiam.

Matanya membelalak.

Sosok yang ia tabrak berdiri di hadapannya dengan ekspresi kaget kecil namun cepat memudar. Tinggi, rapi, dengan aura yang dulu sempat membuat hati gadis itu jungkir balik setiap kali melihatnya di kampus.

Arga Mahendra.

Mantan Ketua BEM, kakak tingkat yang paling populer pada masanya sekaligus mantan gebetan Shaqila sejak ia masih maba.

"K–Kak Arga?" Shaqila reflek bergumam, suaranya tercekat di tenggorokan. "Eh, sorry kak! gue nggak lihat tadi soalnya lagi fokus ngabarin teman."

Panik, gugup, semuanya bercampur aduk menjadi satu sampai-sampai ujung jarinya terasa dingin.

Arga mengangkat tangan, memberi isyarat tidak apa-apa sambil tersenyum kecil. Senyum itu… membuat Shaqila ingin melayang karena sudah lama ia tidak melihat laki-laki itu tersenyum.

"Nggak masalah kok. By the way, lo mahasiswa semester akhir ya, soalnya gue agak famaliar sama wajah lo? nama lo siapa?"

Perkataan itu bagaikan tamparan keras untuknya.

Arga nggak ingat namanya sama sekali. Padahal waktu dia maba, Arga menjadi panitia saat PLKMB (Pengenalan Lingkungan Kampus Mahasiswa Baru) bahkan menjadi panitia pendamping di kelompoknya saat itu.

Tapi disisi lain dia tahu Shaqila semester akhir, dan itu cukup untuk membuat hatinya menghangat sedikit. Setidaknya Arga masih mengingat tentang dirinya walau hanya secuil.

Shaqila tersenyum miris, berusaha menutupi rasa kecewa yang menusuk. "ya, bener kak. Gue Shaqila. Hmm… kakak ke kampus ngapain ya? Setahu gue kakak udah lulus."

Arga mengangguk sambil merapikan strap tasnya. "Iya, gue kesini karena diundang jadi pemateri di acara seminar yang di adakan BEM,"

"Oh… gitu." Shaqila mengangguk cepat, sedikit terlalu cepat, karena jantungnya masih belum stabil sejak insiden tabrakan tadi.

"Kalau begitu gue duluan ya," ucap Arga sopan.

"Eh tunggu kak, ka-kalau tidak salah kakak dulu lulusan terbaik di tahun kemarin kan. Kalau boleh minta tolong, kakak bisa nggak ngebantu gue kerjain skripsi. Kepala gue mumet banget di enam belas kali" ucap Shaqila dengan sedikit gugup bercampur malu.

Sebenarnya itu hanya alibi Shaqila saja biar bisa dekat dengan Arga. Dan perkataan yang barusan muncul itu refleks keluar tanpa dirancang sedikitpun.

Mata Arga membelalak mendengar itu. "Jangan bilang dospem Lo pak Reyhan?" tanya Arga.

"Kok bisa tahu sih, apa sedari dulu ia memang begitu ya? rasanya gue mau bunuh diri disuruh revisi sebanyak itu. Enggan berperikemanusiaan banget, dengan entengnya tu mulutnya bilang iling, nggik liyik," ucapnya seraya bibirnya maju membentuk cibiran halus, tidak terlalu jelas, tapi cukup menunjukkan kekesalannya.

Arga tertawa ringan melihat hal itu. "Okey, nih nomor gue," ucapnya seraya memperlihatkan ponselnya pada Shaqila.

Dengan mata yang berbinar dan semangat empat puluh lima, gadis itu menyalin nomor tersebut.

Gadis itu tidak sadar, sosok yang dicibirnya tadi memperhatikannya dari jauh dengan mata yang tajam.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Siskaaa!" serunya setengah menjerit, membuat beberapa kepala menoleh.

Siska yang sedang menyendok kuah bakso hampir menjatuhkan sendoknya. "Astaga, lo kenapa kayak orang kerasukan."

"Enak aja ngomong kerasukan," Shaqila langsung duduk dengan napas tersengal, melempar tasnya ke kursi sebelah. "Gue… mau… cuma mau bilang makasih banyak lo, aaa lo memang besti gue yang tersayang," ucapnya seraya mencubit kedua pipi Siska.

Siska mengerutkan alis. "Hah? M-makasih? lah gue habis ngapain?"

Shaqila memukul meja kecil itu dengan heboh, cukup keras sampai air gelas bergetar. "Lo tau nggak, gue dapat nomornya kak Arga loh."

Siska langsung membeku seperti patung. Sendok baksonya jatuh ke mangkok. "Apa?" matanya membesar.

 "Gue nggak salah dengar kan? Arga? kak Arga yang alumni tahun kemarin sekaligus gebetan lo itu?" tanyanya.

Shaqila mengangguk cepat, pipinya memerah seperti udang rebus. "Iya! Ih, sumpah ya hari ini gue senang banget."

"CERITAIN! SEKARANG!" perintah Siska yang mulai kepo.

Shaqila langsung mencondongkan tubuh, suaranya merendah sedikit tapi tetap penuh semangat. "Gue tadi jalan ke koridor sambil ngabarin lo, kan… terus gue gak liat jalan. Eh...GUE NABRAK ORANG."

"Mampus," komentar Siska cepat.

"TADINYA GUE MAU MENGUMPAT, CACI MAKI TUH ORANG, TAPI PAS LIHAT SIAPA, GUE GUGUP SETENGAH MATI,"

Siska langsung menepuk dahinya. "Lo nggak pinsang kan saat melihat ia?"

"Hampir sih hehe, gue lansung minta maaf gitu." Shaqila meremas tangan sendiri, mengingat momen itu. "Dia nengok gitu, terus bilang, 'nggak papa' dengan suara yang… aduh, Siks… suara ngebass warm gitu loh. Rasanya pengen gue cipok saat itu," ucapnya heboh.

Siska menoyor kepala Shaqila yang sedari tadi senyum. "Gaya lo cipok cipok, dari zaman maba aja lo sukanya dalam diam nggak berani berbuat apa-apa. Cuma nonton dia pertandingan basket doang dan diam diam kasih bekal di dekat tasnya tanpa diberitahu. Terus apalagi tu, oh iya diam diam foto in. Gue aja gemas banget sama lu, sampe banyak tu cowok lain yang pengen dekat bahkan ada yang nembak tapi lo tolak karena sukanya sama dia." ucap Siska kesal.

Shaqila memainkan jemarinya, senyum malu-malu muncul. "Ya itukan dulu, lagian gue malulah kalau kejar kejar dia kek novel novel. Terlebih dia dulu banyak banget fansnya. Tapi keknya gue emang ditakdirkan berjodoh dengan dia deh. Buktinya kita sekarang ketemu. Lo tau nggak dia tu tadi pamit sambil memegang lengan gue, rasanya tu gue nggak mau cuci deh ini lengan biar jejak tangan dia masih ada," ucapnya.

Siska langsung menatap Shaqila dengan ekspresi tolong-ini-orang-disadarkan, tapi mulutnya tetap terbuka lebar. "Nggak gitu juga kali. Jorok banget nggak mau cuci.

Sementara Shaqila memeluk lengannya sendiri sambil senyum-senyum penuh khayalan. "Eh tapi beneran, Sis. Tangannya tuh hangat banget."

Siska mendecak, tapi senyum tertahan jelas terlihat. "Oke, terus-terus? gimana bisa ujung-ujungnya lo dapat nomornya?" tanyanya penasaran.

"Gue pake alasan mintol bantu kerjain skripsi karena dia lulusan terbaik tahun kemarin. Terus dia iyain dan kita saling tukaran nomor deh," jawab Shaqila sambil senyum-senyum.

"Eh, hampir aja gue lupa beritahu lo. Gue denger-denger si dospem lo itu udah nikah," ucap Siska sambil menyeruput kuah baksonya, seolah kalimat itu nggak mengandung bom.

Tubuh Shaqila seketika mati gaya. Napas yang tadinya lancar karena heboh ngomongin Arga, langsung mandek di tenggorokan. Matanya melebar, bibirnya kering.

"L-lo dapet berita itu dari mana..." Shaqila menelan ludah, jari-jarinya gelisah memainkan tisu. "Hoaks kali. Emang ada gitu perempuan yang mau nikah ama modelan kek dia?"

"Ya adalah, orang dia ganteng gitu. Gue aja mau jika yang dia lamar adalah gue," ucap Siska sambil senyum.

"Lo kenapa tegang gitu?" Siska menyipitkan mata curiga. "Apa lo nggak rela dospem lo nikah? astaga, Sha. Jangan bilang..."

"Jangan bilang apa," potong Shaqila cepat, nada suaranya terlalu tinggi dan terdengar panik.

Siska mendekat, menatap temannya dengan ekspresi 'gue ngelihat sesuatu yang tidak beres.'

Sementara Shaqila, gadis itu berusaha menutupkan kegugupannya yang ternyata tidak berhasil.

"Lo nggak lagi ngerahasiain sesuatu dari gue kan?" tanya Siska dengan nada pelan sambil menyipitkan mata ke arah Shaqila.a

"Ra-rahasia apa sih," Shaqila memukul meja pelan namun membuat gelas es teh bergeser.

Siska menaikkan satu alis. "Yakin?'

Shaqila buru-buru mengalihkan pandangan, matanya menatap ke arah mahasiswa-mahasiswa lain agar tidak bertemu tatapan Siska. Namun gerak tubuhnya terlalu kaku.

"Lagian lo dapat gosip itu dari mana?" tanya Shaqila berusaha terlihat normal walau sebenarnya jantungnya hampir copot.

"Mahasiswa semester lima yang tidak sengaja melihat cincin pernikahan di jarinya pak Reyhan," jawab Siska seraya mengangkat kelima jarinya.

'Tuh dosen ceroboh banget sih, oon banget sih. Bagaimana mungkin orang oon kek gitu jadi dosen,' gerutu Shaqila dalam hati.

1
Mira
Jiji banget ihhh main sama om om
Mira
Semuanyaa makin terasa sangat rumit😭
Icha sun
ya Ampun Shaq, kamu sampe sakit fisik gara" si Arga. rugi Shaq mikirin cowok redflag gitu 😢
Icha sun
ini adalah definisi sakit tapi gak berdarah ya Shaq... udhlah lupain aja si Arga
🇦 🇵 🇷 🇾👎
hny rs kcw kok jd jht
Aruna02
semakin seru aja ini 😩😩😩 Shakila kasihan ya tuhan kenapa jadi gila kamu nak.
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih
NyonyaGala
tasyaaaaaaaaaaa ku tandain pala kamu yaaa
NyonyaGala
yup rayhan si biang keladi ada di deket kalian ituuu licik emang, kasian ama Qila semoga ga kenapa kenapa
Aruna02
si tasya hmmm gimana ya ngomong nya 🙄🙄p****k
Lisa Halik
double up thor...kesian reyhan
Rezqhi Amalia: besok aja ya kak hehehe 😅 Bru mau nulis lgi
total 1 replies
GreenForest
asyik honeymoon sebentar lagi
GreenForest
akhirnya kena juga Lo tasya
Aruna02
sok polos lagi 🤮🤮
Aruna02
si tasya nyebelin ya 🙄
Aruna02
usul bu typo😄
Mira
Si tasya nyebelin juga yakkk
Lisa Halik
yaa ketauan reyhan...huhuh kesian syaqila...bagaimana nasibnya
Mira
Ayoo Rayhannn bergerak cepat untuk memperbaiki semuanya
NyonyaGala
tasya gatellll caper jelekkk ihhhh sama main ama arga sanaaaaah
NyonyaGala
ini lebih ruwet perkaranya dibanding revisian Qila 😭😭 moga pak rayhan bisa cepet dapet solusi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!