NovelToon NovelToon
Wanita Pengganti

Wanita Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alfian Syafa

Menjalani lika-liku kehidupan yang menyakitkan sejak kecil dan harus di dewasakan oleh keadaan. kehilangan sosok ibu yang hanya dia miliki satu-satunya. Lalu gadis itu memilih untuk pergi ke kota, mencari keberuntungan di sana. Berkat kegigihan dan kemampuannya dia pun mendapatkan apa yang dia mau. Keberhasilan mampu menampar orang-orang yang dulu telah memandangnya sebelah mata.

Saat berada di puncak kebahagiaan, harus terhempas begitu saja karena dia harus menikah dengan lelaki asing atas permintaan orang yang selama ini dia cari.

Takdir apa yang sedang Lisa Larasati jalani? mari kita simak kisahnya.

Tolong baca berurutan ya. Hargai penulis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfian Syafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Usai acara Lisa benar-benar lelah. Dia sedang terbaring di atas sofa di salah satu kamar hotel. Padahal ranjang itu sudah dihias sedemikian rupa. Bertabur bunga mawar yang memberikan aroma khas. Lisa masih mengenakan gaun pengantin dan make up pun belum dia bersihkan. Tadi setelah bernyanyi dengan Gilga, wanita itu itu pamit undur diri. Bernyanyi dari hati dan pas sekali dengan lagunya, membuat kenangan bersama Dion berputar dalam kepala.

Lisa nggak mau menangis dan nggak mau terlihat sedih. Meski tadi Gilga bilang jika suaranya keren dan apa itu dari hati? Apa mungkin Mbak Lisa sedang mengalaminya? Karena menjiwai sekali dibagian lagu nemen.

Lisa tidak mau lagi memikirkan Dion, maka dari itu Lisa memilih pergi karena takut jika air matanya akan tumpah. Ya, meski tidak terlalu dalam cintanya karena Lisa membatasi itu tanpa Dion tahu, tetap saja sakit banget kalau dikhianati.

Sementara Arka baru saja masuk ke dalam kamar dimana Lisa terlelap. Arka menatap Lisa yang malah tidur di sofa. Wajahnya kentara sekali jika sangat lelah.

Arka mendesah pelan, lalu mencoba membangunkan Lisa agar pindah ke atas tempat tidur.

"Lisa, bangun!"

"Hey!"

Arka menepuk pipi Lisa pelan. Akhirnya wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu mengerjapkan kedua matanya. Lisa beringsut duduk. Alisnya bertaut karena terkejut ada Arka dihadapannya.

"Lo ... ngapain di sini?"

Arka membuka mulutnya. Apa dia lupa jika Arka sudah menjadi suaminya?

Sedetik kemudian Lisa tersadar dan membuka mulutnya. Kedua matanya melotot.

"Lo nggak bakal lakuin itu kan?"

Arka menyentil kening Lisa.

"Aku bangunin kamu, karena kamu belum ganti baju. Lihat make up mu masih menempel. Segera bersihkan jika tidak ingin berjerawat!"

Lisa meringis. Arka benar, make up ini terlalu tebal. Apalagi sejak pagi Lisa memakainya. Meski saat malam tiba wajah Lisa dibersihkan dan kembali di make up. Tetap saja kan harus dibersihkan juga.

"Pernikahan yang melelahkan. Kenapa juga Lo pesen gaun pengantin tiga warna sih!" gerutu Lisa.

Tiga warna dan satu lagi gaun untuk malam. Tentu saja Arka nggak akan menyelenggarakan pesta siang saja. Pasti sampai malam hari dan bahkan ini saja belum usai. Masih ada tamu undangan. Hanya saja Arka sudah lelah dan akhirnya digantikan oleh kerabat juga Tante Dini.

Arka memilih membuka kopernya. Dia hendak membersihkan diri karena rasanya tidak nyaman jika hanya berganti baju saja. Arka hendak berendam air hangat untuk merilekskan otot-ototnya.

"Aku mandi dulu."

Lisa mengangguk dan menjawab dengan gumaman. Dia sibuk membersihkan make up yang sebenarnya sudah sangat gatal diwajah.

Selesai membersihkan Lisa menunggu Arka selesai mandi. Dia juga ingin mandi agar tubuhnya terasa segar. Lisa membuka koper miliknya dan mengambil piyama tidur. Semua pakaian yang ada dikoper Lisa itu masih baru dan tentu saja Tante Dini yang memilihkannya.

Suara pintu kamar mandi terbuka. Memperlihatkan Arka yang sudah rapih dengan piama tidur dan rambut yang masih basah. Lisa menelan salivanya susah payah. Biasanya dia melihat Arka dengan pakaian kantoran atau pakaian santai. Malam ini melihat suaminya memakai piyama tidur kenapa terlihat tampan sekali?

"B-boleh minta tolong?" tanya Lisa terbata.

"Apa?" Arka berjalan mendekat sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Aroma sabun menguar di indera penciuman Lisa. Membuat tenggorokan Lisa tercekat.

"Nyangkut!" Lisa meringis sambil menunjukkan resleting gaunnya yang malah nyangkut.

Arka dengan telaten membuka resleting itu. Hingga punggung putih milik Lisa pun terekspos.

Lisa segera menuju kamar mandi, tidak ingin ada kecanggungan yang berlanjut. Dia sudah ingin segera membersihkan diri lalu tidur.

Sementara Arka menatap punggung Lisa hingga menghilang dibalik pintu kamar mandi. Arka menghela napas panjang. Ada kesedihan mendalam ketika mengingat Anisa. Melihat Lisa sama saja seperti melihat Anisa.

"Apa yang kamu inginkan sudah terwujud, sayang," gumam Arka sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Anisa.

Arka masih setia memakai wallpaper Anisa. Mungkin sekarang semua tidak akan jadi masalah. Bagaimana jika nanti Arka masih belum bisa menggantikan Anisa yang ada dihatinya dengan Lisa? Apa Lisa akan bertahan?

Tentu wanita seperti Lisa ini jika hatinya sudah sakit akan memilih pergi. Mau serapuh apapun dia tidak akan pernah mau bertahan dengan orang yang sudah melukai hatinya.

Arka memilih merebahkan tubuhnya disofa. Dia tidak mau nanti Lisa yang tidur disofa. Meski ketika bangun nanti tubuhnya akan terasa sakit tapi biarlah, Arka tahu tidak mungkin jika mereka tidur dalam satu ranjang.

Lisa sudah selesai mandi, lalu duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Fasilitas dikamar hotel itu memang lengkap.

"Kok Lo di sini?"

"Kamu dikasur saja. Biar aku di sini."

Lisa menggeleng.

"Kenapa?"

"Kasurnya bagus dan rapih, gue nggak mau ngerusak itu semua."

Arka ingin tertawa, tapi dia tahan karena tidak ingin Lisa lihat.

"Tidur saja, memang itu tujuannya kan supaya harum."

"Emang boleh?"

Wajah Lisa yang polos dan sudah setengah mengantuk itu sangat menggemaskan.

"Boleh."

"Ya udah ayo. Jadi nanti kalau dimarahin sama pihak hotel karena telah merusak hiasan kasur, bukan gue aja yang kena tapi Lo juga!"

Kedua mata Arka membulat. Lisa benar-benar lucu sekali dan Arka ingin sekali tertawa. Pihak hotel tidak akan pernah memarahinya. Justru mereka akan takut kepada Arka. Suamimu itu adalah pemilik hotel tersebut, Lisa.

"Baiklah."

Lisa meraih ponsel yang sejak tadi belum dia lihat itu. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam rupanya. Ada banyak pesan dari Dion dan grup fans para pembaca novelnya juga ramai. Mereka sedang mengucapkan selamat untuk Lisa karena salah satu novelnya akan dijadikan film layar lebar.

Tentu bukan ucapan selamat menempuh hidup baru. Tidak ada yang tahu kabar ini. Bahkan teman kuliah Lisa saja pun tidak tahu. Lisa sengaja tidak memberitahukan ini. Juga pada fans Lisa tidak tahu siapa Lisa ini. Mereka hanya mengenal Lisa melalui karya bukan kepribadiannya.

Sosial media Lisa menggunakan nama pena dan hanya memposting tulisan saja.

Lisa merebahkan tubuhnya diatas kasur yang bertabur kelopak bunga mawar merah itu. Lalu memberi batasan agar Arka tidak mendekat.

"Jangan sampai Lo ke sini!"

Arka hanya mengguman saja karena dia sudah tidak bisa menahan kantuknya. Lisa pun ikut terpejam. Rasanya lelah sekali.

***

Matahari sudah menampakkan sinarnya. Menggantikan tugas bulan yang menerangi malam. Kedua pengantin baru itu belum terusik dengan kehadiran matahari. Mereka masih terlelap karena rasa lelah yang menggelayut pada tubuh masing-masing.

Siapa sangka jika pesta undangan itu akan menghadirkan banyak tamu undangan. Juga kehadiran seorang Gilga membuat para tamu heboh dan menikmatinya hingga malam tiba. Hingga Gilga selesai dalam acara panggungnya.

Ini adalah moment yang sangat berkesan untuk Lisa. Dia bahagia karena bertemu dengan sang idola. Bukan karena pernikahannya yang mewah. Mau semewah apapun jika menikah dengan orang yang tidak kita cintai akan sangat berbeda.

Dering ponsel milik Arka berbunyi, membuat kedua insan itu terusik.

Berisik sekali.

Ah, tapi keduanya tampak terkejut dengan posisi mereka.

Bugh

"Aw, sakit!" rintih Lisa.

"Maaf ... maaf ... aku reflek."

Lisa mencebik. Dia bangkit dan melempar bantal di wajah Arka.

"Arka sialan!" umpatnya.

"Lo yang peluk gue! Kenapa juga Lo yang dorong gue, ogeb!"

Arka menggaruk kepalanya yang gatal. Kaget saja tadi saat dia membuka mata bersama Lisa, posisinya sedang memeluk wanita itu. Hingga Lisa memekik dan malah Arka mendorongnya sampai Lisa terpental jatuh.

"Ogeb?"

"Bego maksudnya!"

Arka sepertinya kurang update. Maklum lah dia sangat sibuk bekerja dan lingkungan Arka ini kan bukan anak muda seperti Lisa.

"Ya ampun, udah jam 10?" pekik Lisa saat melihat layar ponselnya.

"Kenapa?" tanya Arka yang melihat Lisa panik.

"Gue harus kerja sama kuliah lah!"

"Kamu nggak usah kerja. Kuliah izin dulu."

Kedua mata Lisa melotot. Dia duduk di tepi ranjang. Ingin sekali memakai Arka ini. Enteng sekali kalau bicara.

"Apa?! Nggak usah kerja? Lo pikir gue bayar kuliah pake daun?"

Mengingat selama ini Dion lah yang sering membayarnya. Ya, mana mungkin kan sekarang Dion juga. Sebab hubungan mereka sudah kandas.

"Kamu lupa siapa aku?" tanya Arka.

Lisa menggeleng. "Suami?" jawabnya.

"Aku yang akan bayar semua kebutuhan kamu, karena kamu sudah jadi tanggung jawab aku."

Lisa menutup mulutnya. Baru kali ini Arka terlihat tidak kaku seperti kanebo. Bahkan lihat itu!

Wajah bangun tidurnya saja tampan. Apalagi kalau sudah mandi. Ah, tidak! Lisa harus menyingkirkan pikirannya tentang Arka.

'Masih ganteng Mas Gilga kok, Lis!' batin Lisa.

Takut saja jika Lisa terpesona dengan ketampanan Arka.

"Nggak, gue nggak mau bergantung sama Lo!"

Lisa memilih pergi ke kamar mandi. Bersiap untuk kuliah pagi ini lalu lanjut kerja di toko kue milik Keyla. Dia akan kembali menjalani aktivitas seperti semua dengan status baru.

Arka mengusap wajahnya frustasi.

"Terlalu mandiri sekali!" gumamnya.

Bibir Arka menyunggingkan senyuman. Tingkah Lisa ini sebenarnya menggemaskan. Bahkan hanya dia seorang yang berani mengumpati Arka, memarahi dan mengatai dirinya bego.

"Kenapa saudara kembarmu itu pemberani sekali?"

Arka menatap foto Anisa yang sedang tersenyum.

Lalu dia membuka pesan yang baru saja masuk. Ada banyak sekali pesan yang mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Lalu pesan dari seseorang yang ingin sekali Arka singkirkan.

Siapa lagi kalau bukan Tasya. Wanita itu semakin berani saja. Mengirim pesan mesra dan sebuah foto dengan pakaian terbuka. Arka langsung memblokirnya. Arka bukan lelaki yang mudah tergoda oleh tubuh wanita manapun.

Sebuah panggilan telepon masuk dan Arka langsung menuju balkon untuk mengangkatnya.

"Bagus sekali, saya biarkan saja wanita itu terus berusaha. Sampai dia lelah. Kalian harus tetap mengawasi Lisa. Pagi ini dia akan ke kampus."

"Oke baiklah, kerja bagus. Saya akan memberikan bonus sesuai kesepakatan."

Arka langsung mematikan sambungan teleponnya.

"Mau aku antar?" Arka memberi tawaran saat Lisa sudah keluar dari kamar mandi.

Dia memakai hoodie warna putih dan celana jeans hitam.

"Nggak deh. Nanti pada heboh lagi."

"Aku antar!"

Ini sebuah perintah tentu saja. Arka langsung melenggang pergi ke kamar mandi. Lisa mengerucutkan bibirnya. Dia kemudian membuka laptop sambil menunggu Arka mandi sambil mengerjakan sesuatu. Lisa hanya memoles wajahnya dengan make up tipis jadi dia tidak terlalu lama berdandan.

"Apa, Rin?" tanya Lisa ketika Lisa sudah mengangkat telepon dari Karin.

"Libur? Aish ... kenapa dadakan sekali? Ya udah deh gue kerja aja!"

Lisa menjauhkan benda pipih itu dari telinga. Sebab Karin berteriak membuat telinganya sakit saja.

"Karin, telinga gue sakit, ogeb!"

Terdengar suara tawa renyah dari sebrang sana.

"Punya sahabat nggak ada akhlak!" gerutunya.

Arka sudah rapih dan Lisa tidak menyadari kehadiran Arka yang sudah berdiri di sebelahnya sambil memakai jam tangan.

"Nggak jadi ke kampus. Libur katanya," ucap Lisa yang sebenarnya sedang menyembunyikan rasa terkejut.

Hati kecilnya selalu memuji ketampanan Arka. Hanya saja Lisa selalu mengalihkan itu. Nggak bagus buat kesehatan jantung.

"Kita cari sarapan."

Lisa mengangguk dia juga sudah lapar. Cacing yang ada di perutnya sudah ingin meronta.

"Lo nggak kerja emang?"

"Libur."

Lisa mengangguk. Saat perjalanan menuju lift pun tidak ada obrolan apa-apa. Baik Arka dan Lisa hanya diam dengan pemikiran masing-masing. Biasanya Lisa akan cerewet. Entah kenapa pagi ini dia diam saja. Apa mungkin sedang ada masalah.

"Sungguh tampan sekali ya milik orang," gumam Lisa.

Bersambung....

Dukung othor dengan cara laik, komen dan suskreb ya..

1
falea sezi
apa isinya
Alaish Karenina: apa ya kira"
total 1 replies
falea sezi
ciee belah duren
Alaish Karenina: wkwkwk iya
total 1 replies
falea sezi
panas panass
falea sezi
Hanum bkin kena hiv biar tau rasa
falea sezi
kasih lisa cwok tulus donk bkin cerai aja lah kasian lisa arka lom.move on pdhl nisa dah mati
falea sezi
Q kasih hadiah bunga thorr
Alaish Karenina: hehe, terima kasih ☺️
total 1 replies
falea sezi
Hanum bener benerr jalang sejati
falea sezi
kaka adek. sama sama. jahat erik sama.hanum
Alaish Karenina: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Juariah Nurbaiti
memang orang yg sama
Juariah Nurbaiti
nah begitu lupakan masa lalu yg menyakitkan fokus pada masa kini dan masa depan
Alaish Karenina: hehe iya, Bun ☺️
total 1 replies
Juariah Nurbaiti
siapa lg tuh sintia
Juariah Nurbaiti
love
Juariah Nurbaiti
semoga cepat sembuh
Syah Hara
ayo ka lanjuttttttttttttt
Alaish Karenina: Hay, Kak ... terima kasih sudah mampir ya. Bab selanjutnya segera tayang hari ini.
total 1 replies
Alisya Yeppeumnida
murahan lisa nya
Alaish Karenina: 😊😊 otak sama hati tidak sinkron kak.
total 1 replies
Syah Hara
lanjuttttt
Syah Hara
lanjut dong udah gak sabar ini
Alaish Karenina: udah ada lanjutannya ya kak, tinggal nunggu review dari noveltoon.
total 1 replies
Syah Hara
lanjut dong
Syah Hara
lanjut lagi ka
Juariah Nurbaiti
sapa y belum kebayang tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!