Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 12
Zemima turun dari mobil dengan tenang. Ia mengenakan atasan blouse sutra simpel namun berkelas, dipadu celana kulot. Maya mengikuti di belakangnya, membawa dua kantong kertas berlogo restoran mewah dan amplop putih tebal.
Saat melangkah melewati pagar yang terbuka separuh, Zemima sempat mengamati stiker diler yang masih menempel di kaca belakang mobil SUV tersebut. Harganya jelas tidak murah, ratusan juta rupiah.
Suara gelak tawa yang tadinya samar-samar terdengar dari dalam rumah mendadak surut begitu langkah kaki Zemima dan Maya menapak di teras. Pintu utama yang terbuka lebar memperlihatkan suasana ruang tamu.
Di dalam, Bu Rahmi, Siska, dan Rika sedang duduk melingkar di sekitar meja. Di atas meja berserakan beberapa lembar brosur otomotif, STNK sementara, serta beberapa kunci kendaraan bernuansa baru.
Kedatangan Zemima yang tiba-tiba membuat udara di ruangan itu seketika membeku.
Bu Rahmi yang sedang memegang cangkir teh hampir saja menumpahkan isinya. Wajah wanita tua itu mendadak pucat, sementara Siska dan Rika saling lempar pandang dengan raut wajah panik dan serba canggung. Suasana gembira beberapa detik lalu menguap, berganti keheningan yang menekan dan sarat rasa bersalah.
"Ze... Zemima?" suara Bu Rahmi terdengar terbata-bata, tenggorokannya seolah tersumbat. Ia terburu-buru meletakkan cangkirnya hingga berdetak nyaring menatap meja.
"Kamu... kamu kok ke sini nggak kabar-kabar dulu?"
Zemima menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap satu per satu wajah penuh kecanggokan di hadapannya.
"Selamat sore, Bu. Siska, Mbak Rika," sapa Zemima dengan nada suara yang sengaja dibuat begitu halus, namun matanya melirik tajam ke arah kunci-kunci kendaraan di atas meja.
"Saya cuma mau mengantarkan makanan dan uang bulanan Ibu yang tadi sempat terputus di telepon. Kebetulan tadi di kantor ada banyak makanan yang berlebih. Aku dan Maya membawa beberapa kotak untuk di bawa ke rumah. Dan aku membawanya ke sini, karena di rumah tak ada siapa-siapa. Mas Arsyad juga pasti akan pulang tengah malam nanti dari luar kota. Jadi daripada mubazir, aku membawa ke sini..."
"Ah begitu rupanya... Padahal kamu tak usah repot-repot antar ke sini... Biar nanti Hendra atau Siska yang ambil ke rumah kamu. Kamu pasti capek kan baru pulang kerja, walau sebagai staff biasa..." ujar Bu Rahmi canggung.
Siska berdehem keras, mencoba menguasai diri meski tangannya dengan panik menggeser brosur mobil di meja agar tertutup majalah.
"Oh... gitu. Lagian Mbak Mima aneh-aneh aja, biasanya kan cukup transfer. Nggak usah repot-repot datang segala."
Zemima melangkah masuk tanpa diundang, disusul Maya yang berdiri anggun beberapa langkah di belakangnya.
"Saya tidak merasa repot," jawab Zemima tenang. Matanya kembali mengarah ke luar jendela, menunjuk ke arah halaman.
"Lagipula, kalau saya tidak ke sini, saya tidak akan tahu kalau rumah Ibu dapat kejutan besar. Mobil dan motor baru di luar itu... punya siapa, Bu? Apa ada tamu lain?"
Keheningan kembali melingkupi ruangan. Bu Rahmi menyapu keringat dingin di dahinya, mencari-cari alasan dengan raut wajah yang makin canggung.
"Itu... anu, Mima... itu mobil temannya Siska! Iya, temannya Siska lagi titip parkir dari tadi siang karena rumahnya lagi direnovasi!" sahut Bu Rahmi cepat, suaranya naik satu oktav karena gugup.
"Iya, Mbak! Itu punya temanku!" timpal Siska cepat, mengangguk-angguk berlebihan.
"Motornya juga... punya Mas Hendra! Baru ambil kredit DP murah!"
Zemima menyunggingkan senyum tipis, senyuman yang membuat ketiga wanita itu makin serba salah.
"Oh, begitu..." gumam Zemima pelan. Ia menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruang tamu yang kini tampak dipenuhi beberapa barang elektronik baru yang masih terbungkus kardus di pojok ruangan.
"Rupanya teman Siska dan Mas Hendra lagi banyak rezeki, ya. Sampai bisa beli barang serba baru bersamaan begini. Sepertinya usaha Mas Hendra kali ini berhasil,"
Rika meringis canggung, memilin ujung bajunya tanpa berani menatap mata Zemima.
"Ya... namanya juga usaha. Mana mungkin sih usaha kamu gagal terus! Kamu sepertinya terlalu meremehkan Mas Hendra dan kami selama ini!"
Di tengah-tengah ketegangan dan kecanggokan yang makin menebal itu, terdengar langkah kaki pelan menuruni ambang pintu dapur menuju ruang tamu.
"Ibu, es buah di kulkas sudah habis, mau dibilang ke..."
Kalimat wanita itu terhenti seketika. Seorang wanita muda berusia dua puluh empat atau dua puluh limaan melangkah keluar dari dapur sambil memegang mangkuk kosong. Ia mengenakan daster longgar, rambutnya terikat asal, dan perutnya tampak membuncit dengan usia kandungan yang diperkirakan sekitar enam bulan.
Sikap dan gesture wanita itu begitu santai dan kasual, seolah-olah ia sudah berbulan-bulan menetap di rumah itu dan sangat mengenali tiap sudutnya.
Namun, begitu matanya beradu pandang dengan Zemima, langkah wanita hamil itu mendadak kaku. Mangkuk di tangannya hampir saja merosot.
Suasana ruang tamu yang tadinya sudah canggung, kini berubah total menjadi membeku bak es batu.
Bu Rahmi langsung melompat berdiri dari sofanya dengan wajah pias tak berdarah.
"Di... Dina! Kamu... kamu kenapa keluar dari kamar?!" bentak Bu Rahmi dengan intonasi panik yang berusaha ditahannya.
"Aku cuma mau ngambil ini, Bu... Aku nggak tahu kalau ada tamu... Anakku sedang ingin makan yang segar-segar... " ujarnya sambil mengelus perutnya, seolah sengaja memeprlihatkannya kepada Zemima.
Siska dan Rika serentak berdiri, memosisikan diri seolah ingin menutupi keberadaan wanita hamil bernama Dina itu dari pandangan Zemima.
Zemima menatap wanita hamil itu lurus-lurus. Tatapan matanya yang semula tenang berubah berkilat tajam, meski wajahnya tetap terpasang senyum dingin yang menakutkan. Manik matanya tertuju tepat pada perut membuncit wanita itu.
"Siapa wanita ini, Bu?" tanya Zemima dengan intonasi yang sangat datar namun sarat akan keheningan yang mengancam.
"Kamu masuk ke kamar sekarang, Din!" perintah Siska dengan nada setengah berbisik tapi penuh kepanikan.
"Iya, masuk kamar sekarang!" Rika ikut mendorong pelan bahu Dina agar kembali ke area belakang. Dina terpaksa masuk kembali ke dalam dapur belakang oleh Rika.
"Mbak apa sih? Aku cuma mau makan ini... Lagian nggak apa-apa kan aku nyapa tamu juga!" terdengar suara protes dari Dina.
"Siapa wanita bernama Dina itu, Bu? Aku sepertinya belum pernah melihat dia?" ulang Zemima.
Bu Rahmi masih terdiam dan tersenyum kaku kepada Zemima. kemudian dia berusaha menenangkan dirinya kembali setelah beberapa saat. Sedangkan Zemima masih menatap tajam ibu mertuanya.