Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelakuan Istri
Tanpa menunggu lama lagi, Daulat segera menghubungi mantan calon istrinya. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan itu karena takut istrinya akan cemburu.
"Halo, mana Rayzan?" tanya Daulat.
"Rayzan? Kenapa?" terdengar suara perempuan dari seberang sana yang malah balik bertanya.
"Dari tadi Umi sama Ayah menghubungi Rayzan, tapi dia nggak jawab."
"Sebentar."
Daulat menunggu apa yang dilakukan wanita itu di sana.
"Gimana, Mas?" tanya Resya.
"Nggak tahu, dia nggak ngomong," jawab Daulat.
"Dua puluh panggilan tak terjawab dari surgaku dan tiga belas panggilan tak terjawab dari pahlawanku. Banyak, ya," ucap Nadira dari seberang sana.
"Apa yang sudah kamu lakukan ke Rayzan?"
"Kenapa? Kok khawatir, sih? Bukannya kamu sudah sering membuat dia dalam masalah?"
"Jawab aku. Mana Rayzan?"
"Hmmm ... Dia lagi betah tidur di kamar mandi. Nggak tahu sampai kapan, ngambek kali!"
"Maksud kamu apa? Jangan macam-macam sama Rayzan."
"Aku sudah bilang, Daulat. Objek pelampiasanku adalah adikmu. Rayzan harus menerima semua balas dendamku."
"Aku mohon, jangan libatkan adikku."
"Nggak ada yang melibatkan dia, kok. Dia sendiri yang pengin tidur di kamar mandi."
"Kamu kunciin dia di dalam kamar mandi?" tanya Daulat.
"Wow ... Selamat, tebakanmu benar."
"Kurang ajar."
Daulat mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku—"
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
Sambungan telepon terputus. Daulat melemparkan ponselnya ke atas kasur.
"Kenapa sama Rayzan, Mas?" tanya Resya.
"Nadira menguncinya di dalam kamar mandi."
Resya menutup mulutnya, tidak percaya.
"Kita nggak perlu bilang sama Umi dan Ayah. Aku mau hubungi Sultan dulu."
Daulat segera menghubungi Sultan. Dia menunggu panggilannya dijawab oleh mantan calon adik iparnya. Setelah beberapa kali menghubungi, akhirnya panggilan itu terjawab juga.
"Halo, Bang. Kenapa?" tanya Sultan.
"Kakak kamu itu sudah gila, ya? Bisa-bisanya dia mengunci Rayzan di dalam kamar mandi," ucap Daulat dengan nada membentak. "Apa kalian mau membunuh Rayzan?"
"Abang kok marah-marah? Emangnya Kakak ngapain?"
"Rayzan sekarang dalam bahaya. Abang nggak tahu dari kapan dia di dalam kamar mandi. Tapi Kakakmu sudah keterlaluan. Suami sendiri dikunci."
"Abang serius?"
"Abang sudah melupakan semuanya tentang hubungan dengan Nadira. Tapi kalau terjadi sesuatu sama Rayzan, kalian semua akan berurusan dengan Abang."
Napas Daulat memburu. Rasanya dia ingin segera menghampiri Nadira dan membuat wanita itu menyesali perbuatannya.
"Gimana, Mas?" tanya Resya.
"Mereka akan menyesal karena sudah main-main denganku," ucap Daulat sambil menatap ke arah depan.
[] [] []
Sultan yang tadinya sedang belajar mendadak keluar dari kamarnya. Dia menuju ruang tamu untuk menemui kedua orang tuanya. Namun, karena tidak menemukan mereka di sana, Sultan pun melangkah menuju kamar Eros dan Merry.
Tok! Tok! Tok!
"Pa, Ma."
"Papa, Mama. Buka dulu."
Hanya beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka.
"Kenapa, Sultan?" tanya Merry.
"Kakak, Ma. Kakak sudah keterlaluan."
"Keterlaluan gimana?" tanya Merry sambil mengernyitkan kening.
"Ada apa ini?" tanya Eros yang juga keluar dari dalam kamar.
"Kita harus ke kamar Kakak sekarang. Bang Daulat menelepon Sultan. Katanya Bang Rayzan susah dihubungi. Setelah dia mencari tahu, ternyata Kakak mengurung Bang Rayzan di kamar mandi."
"Ha?"
Dengan langkah cepat, ketiganya sudah sampai di depan kamar Nadira. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Eros sebagai kepala rumah tangga langsung membuka pintu.
Orang yang berada di dalam kamar seketika terkejut.
"Kenapa, Ma, Pa?"
Bukannya menjawab, Eros langsung mendekati kamar mandi.
"Papa mau ngapain?" tanya Nadira.
Tatapan mata Eros begitu tajam mengarah kepada anak perempuannya. Tanpa membuang waktu, dia segera membuka pintu kamar mandi.
Betapa kagetnya mereka ketika melihat seorang pria meringkuk kedinginan di dalam sana.
"Nadira ... Jadi benar kamu melakukan ini?"
"Iya ... Ini karena ulah Abangnya. Aku benci mereka. Aku mau hidup mereka hancur!"
Merry mendekati putrinya. Detik berikutnya, sebuah tamparan melayang di wajah Nadira.
Plak!
"Kamu sudah keterlaluan! Bisa-bisanya kamu melakukan ini kepada suami kamu sendiri."
"Dia bukan suamiku, Ma!"
Di dalam kamar mandi, Eros dan Sultan berusaha mengeluarkan Rayzan. Wajah pria itu terlihat sangat pucat. Maklum saja, dia sudah tidak makan, ditambah lagi harus berada di dalam ruangan yang dingin.
[] [] []
Malam ini, keluarga Eros menuju rumah sakit untuk membawa menantu mereka berobat. Sepanjang perjalanan, mereka mengkhawatirkan keadaan Rayzan yang terkulai lemas.
Wajah pria itu juga terlihat pucat. Sultan bahkan bisa merasakan suhu tubuh kakak iparnya yang begitu dingin. Mungkin itu akibat terlalu lama berada di dalam kamar mandi.
Nadira tidak ikut bersama orang tuanya. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaan pria itu. Malahan, dia merasa puas karena sudah berhasil membuat Daulat khawatir malam-malam seperti ini.
"Dingin."
"Sabar, ya, Rayzan. Mama minta maaf atas kelakuan Nadira."
Beberapa kali Merry memeriksa keadaan pria itu. Untuk saat ini, Merry khawatir jika kejadian tersebut akan membuat kedua belah pihak keluarga kembali memiliki masalah.
"Mama, dada Rayzan sakit. Susah napas."
"Ya Tuhan ... Cepetan, Mas. Kasihan Rayzan."
"Iya, iya," sahut Eros yang sedang fokus menyetir mobil.
"Papa benar-benar nggak habis pikir dengan kelakuan Nadira. Bisa-bisanya dia mengurung suaminya di tempat seperti itu."
"Sudah, Pa. Bukan sepenuhnya salah Nadira juga," lirih Rayzan.
"Kamu jangan ngomong dulu," larang Merry. "Istirahat saja, Nak."
Sultan memperbaiki selimut yang mulai turun. Dia kembali menutupi tubuh kakak iparnya.
"Untung tadi Bang Daulat telepon Sultan. Kalau nggak, pasti Kakak nggak akan mengeluarkan Abang."
"Daulat menelepon?"
"Iya, Bang. Kami tahu Kakak melakukan ini karena Bang Daulat yang menelepon."
Rayzan mengembuskan napas perlahan. Bahkan untuk menarik napas saja, dia sangat kesulitan. Rasa dingin masih menyelimuti tubuhnya hingga ke tulang-tulang.
Sesampainya di rumah sakit, Rayzan sudah tidak sadarkan diri. Keluarga istrinya begitu khawatir kepadanya, tetapi tidak dengan Nadira.
Ketiganya sedang menunggu hasil pemeriksaan medis. Orang yang paling menyesal dalam hal ini adalah kedua orang tua Sultan. Mereka merasa gagal mendidik Nadira.
"Bagaimana keadaan anak kami, Dok?" tanya Merry kepada seorang dokter wanita.
"Dia mengalami banyak kekurangan cairan. Tubuhnya dehidrasi dan juga kekurangan oksigen. Suhu tubuhnya cukup rendah. Itu yang membuatnya pingsan."
Merry menutup mulutnya, tidak percaya.
"Ya Tuhan ... Apa kami boleh melihatnya?"
"Silakan, Bu ... Kalau pasien sudah sadar, jangan terlalu banyak diajak berkomunikasi dulu. Tubuhnya harus banyak beristirahat."
Merry dan Eros masuk lebih dulu, sedangkan Sultan masih berusaha menghubungi kakak perempuannya agar mau datang ke rumah sakit.
Kedua orang tua itu sangat prihatin melihat keadaan Rayzan yang terlihat begitu lemah. Wajahnya pucat akibat suhu dingin yang dirasakannya selama berada di dalam kamar mandi.
Sultan yang hendak masuk ke dalam ruangan itu tiba-tiba berhenti di depan pintu ketika ponselnya berdering. Dia sedikit ragu untuk menjawabnya karena yang menghubunginya adalah Daulat.
"Ini semua salah Kakak. Aku nggak mungkin diam saja."
Akhirnya, Sultan menjawab panggilan telepon itu. "Halo, Bang."
"Sultan, gimana Rayzan? Dia benar-benar dikunci di dalam kamar mandi?"
"Bang, Rayzan masuk rumah sakit. Dia nggak sadarkan diri."
"Kurang ajar!"
Sambungan telepon terputus. Sultan pun tidak mencoba menghubungi Daulat kembali.