Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Rahasia yang Terkubur
Gerald tidak bertanya lagi. Ia hanya menunggu, pistolnya tidak goyah sedikit pun meski hatinya mulai dipenuhi ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan — sebuah insting purba yang tahu bahwa keheningan Enzo jauh lebih berbahaya daripada kata-kata apa pun yang bisa ia ucapkan.
Enzo akhirnya bergerak, perlahan, tangannya masuk ke saku dalam jasnya dengan gerakan yang sengaja dilambatkan agar tidak memicu tembakan. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil, memutarnya di antara jari-jarinya seperti seorang penjudi yang menyimpan kartu terakhir untuk saat yang tepat.
"Tujuh belas tahun," katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada mereka berdua, "aku menyimpan ini, berharap tidak akan pernah perlu menggunakannya." Ia melemparkan flashdisk itu ke tanah di antara mereka, bunyi klik kecilnya terdengar keras di tengah kesunyian dermaga. "Anggap ini hadiah perpisahan, Gerald. Sebelum kau menghukumku, pastikan dulu kau benar-benar siap dengan apa yang akan kau dengar."
Yao mengambil flashdisk itu dengan tangan gemetar, menatap Gerald yang berdiri membatu. Tidak ada laptop di sana, tapi ponsel Marco — yang telah menyusul mereka ke dermaga — cukup untuk memutar berkas audio yang tersimpan di dalamnya.
Suara yang keluar dari speaker kecil itu dingin, terdidik, familiar — suara yang telah didengar Gerald sepanjang hidupnya di meja makan, di ruang kerja, di setiap ucapan selamat malam yang kaku. Bereskan masalah Conti, kata suara itu, tanpa jeda, tanpa keraguan. Semuanya. Jangan sisakan siapa pun yang bisa bersaksi.
Yao menatap Gerald, melihat dunia pria yang ia cintai runtuh dalam hitungan detik — persis seperti dunianya sendiri runtuh tujuh belas tahun lalu di balik tirai beludru merah itu. Ia tidak butuh Enzo menjelaskan siapa suara itu. Wajah Gerald, yang seketika kehilangan seluruh warnanya, sudah menjawab semuanya.
"Ayahmu tahu apa yang telah ia lakukan pada dana bersama Aliansi," kata Enzo akhirnya, suaranya nyaris lembut, seperti seorang guru yang menjelaskan sesuatu yang sudah lama seharusnya dipahami muridnya. "Ferdinand Conti mengetahuinya juga. Aku hanya... orang yang memegang pistol malam itu. Tanyakan pada dirimu sendiri, Gerald, sebelum kau menghukum siapa pun — pistol siapa yang sebenarnya menembak?"
Memanfaatkan momen kekacauan emosional itu, tangan Enzo yang sejak tadi bersembunyi di balik punggungnya menekan sesuatu — sebuah pemicu kecil yang telah ia pasang berminggu-minggu sebelumnya, jauh sebelum malam ini bahkan direncanakan, sebagai jaring pengaman terakhir seorang pria yang tidak pernah benar-benar percaya pada satu rencana saja. Salah satu kontainer bahan bakar di ujung dermaga meledak dengan gemuruh yang menggetarkan seluruh area pelabuhan, bola api oranye menjilat langit malam dan melemparkan gelombang panas yang membuat Gerald dan Yao terhempas mundur, tangan mereka refleks melindungi wajah dari serpihan logam yang beterbangan.
Ketika asap dan kebisingan mereda cukup untuk mereka bisa melihat kembali, Enzo sudah tidak ada di tempatnya berdiri. Sebuah perahu motor kecil, yang rupanya sudah menunggu tersembunyi di balik salah satu tiang dermaga sejak awal malam, melaju cepat menjauh ke arah laut lepas, siluet Enzo hanya terlihat sekilas di balik kemudi sebelum benar-benar hilang ditelan kegelapan dan kabut asap.
"Enzo!" teriak Gerald, berlari ke tepi dermaga, tapi terlambat. Pengkhianat itu telah lenyap — bukan melarikan diri dalam panik seperti orang yang terpojok, melainkan pergi sesuai rencana yang telah ia susun jauh-jauh hari, meninggalkan kehancuran emosional yang jauh lebih dalam dari luka fisik mana pun.
Yao berlutut di tepi dermaga yang masih berasap, tubuhnya gemetar antara kelegaan bahwa pembunuh ayahnya akhirnya terungkap sepenuhnya, dan kengerian menyaksikan dunia Gerald runtuh di hadapan matanya sendiri. Ia meraih tangan Gerald yang masih terpaku menatap laut, dingin dan gemetar. "Dia merencanakan ini," bisiknya, lebih pada dirinya sendiri, menyadari betapa dalam dan lama Enzo telah mempersiapkan setiap kemungkinan. "Perahu itu, ledakan itu — semuanya sudah ada di sana sebelum kita bahkan tiba di dermaga ini."
"Gerald," lanjutnya lembut. "Kita perlu pergi dari sini. Sekarang, sebelum pasukan bantuan Russo yang tersisa menyadari kekacauan ini dan kembali menyerang."
Gerald tidak menjawab, matanya masih kosong menatap arah menghilangnya perahu itu, seolah sebagian dari dirinya juga terbawa pergi bersama kebenaran yang baru saja ia dengar.