Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pergi
Selesai menghadiri pemakaman Gara, Rea dan Gala pulang ke apartemen dan bergegas membersihkan diri.
Kini mereka di ruang tengah apartemen, dengan Gala tidur terlentang di sofa, lalu Rea merebahkan kepalanya di dada cowok itu.
Kaos yang Gala kenakan sedikit basah, karena Rea sejak tadi seringkali menangis saat mengingat kepergian mantan kekasihnya.
Gala tidak bisa melarang, yang ia lakukan hanya berusaha menenangkan. Ingin melarang, pun ia tidak bisa. Karena ia juga mengerti, seberapa sakitnya ditinggalkan oleh seseorang yang disayang, terlebih untuk selamanya.
"Kenapa, sih Gara harus pergi secepat ini?" tanya Rea dengan bibir mengerucut, cemberut.
Tangannya bergerak menggambar pola abstrak di dada Gala, membuat cowok itu sedikit geli.
Gala menggenggam tangan Rea, mengusapnya lembut.
"Semua yang hidup pasti mati, yang datang akan pergi. Allah menciptakan dunia ini cuma sementara, yang abadi itu di akhirat. Mau kita nyiapin bekal dunia sebanyak apapun, tetap yang dibutuhkan itu bekal akhirat, amal ibadah. Lo mau nyusul Gara, tinggal tunggu waktu aja, sama siapin diri. Gak lucu kalau mau ketemu Gara di surga, tapi ternyata masuknya ke neraka."
Gala mengusap rambut Rea dengan sayang. "Lo mau nahan Gara di dunia ini, memangnya lo siapa? Gara milik Allah, kenapa lo ngelarang Allah jemput dia? Lo gak punya hak apapun."
"Yang lo lakuin sekarang itu, bukan berandai-andai minta Gara buat kembali. Lo cukup berdoa, sudah itu aja."
Keduanya menoleh ke arah pintu, sebelum saling melempar tatapan tanya.
Rea segera bangkit, membenahi pakaiannya dan mengusap air matanya dengan kasar. Begitu pun Gala yang ikut bangun dan bergegas membuka pintu.
Pintu terbuka, menampilkan Bella di sana dengan seringai tipis. Gadis itu menyelonong masuk tanpa permisi, membuat Gala mendengus pelan. Jika bukan Kakak Ipar, mungkin sudah Gala usir.
Gala akhirnya menutup pintu kembali, sebelum mengikuti langkah gadis itu ke arah Rea.
"Oh, jadi ini tempat tinggal baru lo?"
Dengan tangan terlipat angkuh di depan dada, tatapan Bella mengedar ke seluruh penjuru ruang apartemen.
Rea yang semula duduk di sofa, pun sontak berdiri dan berbalik menatap gadis itu dengan tatapan datar.
"Ngapain lo di sini?" tanyanya tanpa ekspresi.
Gala mendekat, lalu mengusap pelan pundak gadis itu, mengisyaratkan agar Rea tetap tenang.
Bella terkekeh pelan, lalu bergerak duduk di sofa tempat Rea duduk tadi. Kaki kanannya naik ke atas kaki kiri, membuat dress di atas lutut yang ia kenakan, semakin terangkat naik.
Gala mengalihkan pandangannya, sembari beristigfar dalam hati. Bukan dia sok suci, namun sebisa mungkin Gala selalu menjaga pandangan dari yang bukan haknya.
Ia bisa santai melihat aurat perempuan, hanya pada Rea. Bahkan, Ibunya pun tidak pernah mengenakan pakaian sependek itu meski di rumah.
"Gak sih, cuma pengin nengokin adik kesayangan gue aja. Siapa tau lo lagi menderita di sini, ternyata benar."
Rea memutar bola matanya jengah. "Kalau gak ada yang penting, mending lo pergi," usir Rea secara halus.
Bella menatap Rea dengan senyum miring. "Gue cuma mau bilang, minggu depan mau ke Paris sama Ayah."
Rea mengangkat alisnya. "Terus?" Berusaha santai, meski dalam hati menahan emosi.
"Oh, enggak. Gue cuma mau kasih paham aja, kalau Ayah itu sayang banget sama gue."
Rea diam tak menjawab. Ia hanya menatap Bella dengan malas, kedua tangannya terlipat di depan dada.
Gala, pun masih setia berdiri di samping Rea, menghadap gadis itu. Memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan sang istri.
Tidak mendapat jawaban apapun, Bella bangkit dan mendekat untuk berdiri di hadapan Rea.
Tatapan mereka bertemu, ada keangkuhan di mata Bella, dan ada amarah tertahan di mata Rea.
"Ayah gak sayang sama lo, makanya Ayah menikahkan lo ke dia!" tunjuk Bella dengan tajam ke arah Gala yang hanya memperlihatkan raut datar.
Rea menepis tangan Bella sedikit kasar, tidak suka dengan kelakuan gadis itu.
"Ayah sudah gak mau lagi, nanggung beban kayak lo!" Bella beralih menunjuk Rea, yang kini menatap datar telunjuk yang terarah di depan matanya.
Tak lama, Rea terkekeh, lalu kembali menepis tangan Bella dengan pelan.
"Kita itu sama-sama beban. Cuma bedanya, beban lo terlalu berat untuk dialihkan ke orang lain yang gak sekuat Ayah."
Bella sontak menatap Rea dengan tajam. "Lo!"
Tangan Bella sudah terangkat hendak memberikan pukulan pada Rea, sebelum Gala menahannya lebih dulu.
Gala menarik Rea agar berdiri di belakangnya, bergantian dia yang berdiri tepat di depan Bella, menatapnya datar.
"Berani lo nyentuh dia, gue gak akan segan untuk patahin tangan lo."
Bella mendengus, lalu menarik tangannya dari cekalan Gala dengan kasar.
Ia melirik sinis dua pasangan muda itu, sebelum berlalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Setelah mendengar pintu ditutup dengan keras, Gala menghela nafas lalu bergerak duduk di sofa. Bersandar dan memejamkan matanya.
Rea ikut duduk di sebelah Gala, memandang kosong ke arah depan. Meski tadi tampak tenang, namun bukan berarti Rea tidak memikirkan apapun.
Nyatanya, apa yang Bella ucapkan berhasil menghancurkan moodnya yang semula sudah tidak baik-baik saja.
"Gak usah dipikirin."
Rea menoleh pada Gala, kemudian bergerak mengikuti kegiatan cowok itu. Duduk bersandar dan memejamkan mata.
"Seberusaha apapun, tetap aja over thinking."
Gala membuka sedikit matanya untuk melirik Rea yang masih terpejam.
"Ayah itu sayang sama lo, cuma caranya doang yang salah. Suatu saat, lo akan ngerti apa maksud Ayah melakukan semuanya, dan itu demi lo."
Mendengar hal tersebut, Rea mendengus. "Demi gue?" Rea terkekeh pelan karena merasa lucu. "Orang bodoh, pun tau kalau semua yang Ayah lakukan itu memang buat Bella, anak kesayangannya."
Gala membuang nafas dan memutar bola matanya malas. "Susah memang kalau ngomong sama cewek keras kepala kayak lo."
Gala bangkit, kemudian berlalu ke dapur. Rea membuka matanya, lalu mengikuti langkah cowok itu.
"Kak Gala, itu kalau alat di telinga dicopot, rasanya gimana?" tanya Rea tanpa berniat memikirkan masalahnya terlalu berat.
"Ini?" Gala menunjuk alat bantu dengar yang ia gunakan di telinga bagian kiri.
Rea mengangguk, berjalan mendekati Gala yang tengah membuka kulkas.
"Gak dengar lah."
"Sama sekali?"
Gala mengangguk pelan. "Cuma dengungan sedikit."
Rea membulatkan mulutnya sambil mengangguk mengerti. Ia bergerak menyentuh telinga Gala untuk mengusapnya lembut.
Gala yang semula berkutat mencari bahan masakan, pun terhenti. Ia melirik Rea yang tampak serius memperhatikan telinganya.
"Jangan dilepas ya, Kak?"
Gala mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"
"Jangan aja, gue mau lo tetap mendengar apapun itu."
Gala mengangguk pelan, kemudian beralih ke dekat kompor dengan membawa beberapa bahan masakannya.
"Kalau sudah pegal, dilepas. Kalau gak terlalu penting, malas juga pakai alat, bisa iritasi."
"Yang penting jangan pas di luar, apalagi di jalan."
Gala kembali menatap Rea dengan lekat. "Memangnya kenapa, sih?"
Rea menggeleng lagi, seraya tersenyum tipis. "Lo jangan pernah pergi ya, Kak?"
Gala membuang nafasnya jengah. "Gue punya kaki, harus digunakan."
Rea berdecak pelan, sambil mencubit pelan pinggang Gala. "Jangan pernah tinggalin gue."
"Ya gak janji. Masa gue kerja, ke kampus, ke mana-mana harus bawa lo?"
Rea membulatkan matanya, dan mendesis kesal.
"Bisa serius gak?"
Gala menggeleng. "Enggak, gue gak suka melow."
Rea menghela nafas pelan. "Pokoknya jangan pernah tinggalin gue, karena gue gak punya siapa-siapa lagi selain lo."
"Memangnya gue milik lo?" tanya Gala tanpa menoleh ke arah Rea.
"Bunda pergi, Gara juga. Ayah sama Bella. Terus gue harus sama siapa, kalau bukan lo?"
Gala menggelengkan kepalanya pelan. "Gue juga manusia, bisa pergi kapanpun Allah mau. Lo cuma punya Allah doang, yang bisa selalu ada buat lo. Kalau mau gue stay sama lo, minta sama Allah."
Rea memajukan bibir bawahnya, lalu bergerak memeluk Gala dari belakang, membuat kegiatan Gala yang tengah memotong sayuran harus kembali terhenti.
Rea menyandarkan kepalanya di pundak Gala, dengan tangan melingkar di perut cowok itu.
"Gue selalu berdoa, biar kita diambil sama-sama. Biar gue gak perlu lagi merasa kehilangan, begitupun dengan lo."
.
.
.
To be continue ...