NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Kekacauan

Langkah kaki mereka beriringan menyusuri jalan berbatu yang melebar ke arah pusat kota. Sinar matahari pagi menyinari atap-atap rumah ubin merah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan sungai kecil yang membelah kota. Suasana tampak begitu damai — pedagang menawarkan dagangannya, anak-anak berlari tertawa di pinggir jalan, aroma kue panggang dan teh hangat tercium dari kedai-kedai yang mulai ramai. Yurika berjalan di samping Kakashi, menceritakan dengan antusias tentang bukit pandang di sisi utara kota, tentang hutan tempat ia biasa berlatih memanah, dan tentang sungai yang airnya jernih hingga dasar sungai terlihat jelas.

Namun semakin jauh mereka berjalan, suara hiruk-pikuk yang asing mulai terdengar — bukan suara tawa atau tawar-menawar, melainkan bentakan kasar, suara benda yang dihantam, dan jeritan ketakutan.

Yurika berhenti seketika. Wajahnya yang tadi cerah kini berubah pucat.

"Itu..." gumamnya pelan, matanya menatap ke arah persimpangan jalan yang dipenuhi kerumunan orang.

Kakashi mengerutkan kening. Suara itu menembus kesunyian yang ia kenal — suara kekerasan yang kasar, tak terkendali, dan tidak memiliki tempat di kota yang begitu tenang.

"Ayo menjauh," kata Yurika menarik lengan bajunya, suaranya bergetar. "Kita tidak sebaik melihatnya."

Namun Kakashi tidak beranjak. Ia berdiri tegak, telinganya menangkap setiap suara — langkah kaki berat, derap napas yang sombong, denting logam yang diayunkan tanpa keahlian nyata. Ia melangkah perlahan mendekat, menyelinap di antara warga yang mundur ketakutan, hingga ia melihat pemandangan di tengah lapangan terbuka itu.

Lima orang pria berbadan tegap dengan pakaian compang-camping dan wajah yang tertutup kain sedang menguasai pusat keramaian. Di tangan mereka ada belati, gada, dan sebilah pedang yang terlihat kasar namun tajam. Salah seorang dari mereka menendang nampan buah yang tergeletak di tanah, membiarkan buah-buahan itu menggelinding dan hancur di bawah telapak kaki orang-orang yang berusaha melarikan diri. Yang lain menahan seorang pedagang tua, merampas tas kain yang berisi uang hasil jualannya, sambil tertawa sinis.

"Kota ini damai selama sepuluh tahun," bisik Yurika yang kini berdiri di sampingnya, matanya berkaca-kaca menahan amarah. "Sejak aku kecil, tidak pernah ada hal seperti ini. Penduduknya saling menjaga, tidak ada yang berani mengganggu ketenangan ini..."

"Dan sekarang?" tanya Kakashi pelan, meskipun ia sudah tahu jawabannya.

"Dan sekarang..." Yurika mengepalkan tangannya erat-erat, kuku menancap ke telapak tangan. "Tiba-tiba mereka muncul. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Seolah-olah mereka tahu penjagaan sedang lengah."

Salah satu bandit itu melangkah maju, mengacungkan pedangnya ke arah kerumunan. "Dengar semua! Mulai hari ini, kalian akan membayar upah perlindungan kepada kami setiap pekan! Siapa yang menolak, akan mendapatkan nasib yang sama seperti nampan buah ini!"

Ia mengayunkan pedangnya ke arah tiang kayu di dekatnya, membelahnya menjadi dua dengan satu hantaman. Warga yang menonton menahan napas, tidak ada yang berani maju, tidak ada yang berani menentang.

Kakashi merasakan dorongan untuk melangkah maju — otot kakinya menegang, tangannya hampir menyentuh gagang pedang di pinggangnya. Ia tahu ia bisa menghentikan mereka dalam hitungan detik. Ia tahu gerakan mereka, kelemahan mereka, cara terbaik untuk melumpuhkan tanpa membunuh jika ia menginginkannya. Namun jemarinya terhenti sebelum menyentuh gagang pedang itu.

Jika aku bertindak sekarang, semua akan tahu siapa aku.

Ia bukan lagi pengawal yang diakui. Ia tidak memiliki tanda jabatan, tidak memiliki nama yang terhormat. Jika ia mengeluarkan pedangnya dan mengalahkan mereka dengan keahlian yang tidak dimiliki orang biasa, orang-orang akan bertanya. Mereka akan mencari tahu. Dan ketika mereka mengetahui bahwa ia hanyalah seorang ronin — orang yang tidak memiliki tuan, tidak memiliki ikatan, orang yang ditinggalkan dunia tempatnya berada — pandangan mereka akan berubah. Rasa hormat bisa berubah menjadi ketakutan. Kepercayaan bisa berubah menjadi kecurigaan.

Kakashi menarik napas panjang, menurunkan tangannya perlahan.

"Kau tidak akan pergi?" tanya Yurika, melihatnya berdiri diam.

"Di siang hari bolong, di hadapan banyak orang..." Kakashi bergumam pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan lain. Jika aku bertindak sekarang, mereka mungkin mengirim orang lain untuk membalas dendam. Kota ini akan terlibat dalam pertumpahan darah yang tidak perlu."

Itu bukan alasan yang sepenuhnya benar, dan Kakashi mengetahuinya. Ada bagian lain yang menahannya — bayangan masa lalu, rasa takut bahwa sekali ia mengeluarkan kekuatan itu, ia tidak akan bisa lagi berhenti. Ia akan kembali menjadi bayang-bayang yang menakutkan, bukan manusia yang berusaha hidup tenang.

Yurika menatapnya, seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik tatapan matanya yang gelap. "Kau... kau sebenarnya bisa menghentikan mereka, bukan?"

Kakashi menunduk. "Aku tidak sekuat yang kau kira."

"Itu bukan jawabannya," ucap Yurika lembut namun tegas. Namun ia tidak mendesak. Ia hanya menarik napas, lalu menatap ke arah bandit-bandit itu dengan rahang yang mengeras. "Kalau begitu aku akan melaporkan ini kepada pengawal kota. Semoga mereka datang sebelum ada yang terluka parah."

Ia bergegas pergi, menyelinap di antara kerumunan yang mulai bubar. Kakashi tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan kelima orang itu — cara mereka berdiri, cara mereka memegang senjata, cara mereka saling memandang. Mereka tidak terlatih bersama, mereka tidak memiliki disiplin. Mereka berkumpul karena keuntungan, bukan karena kesetiaan. Itu kelemahan mereka.

Namun itu juga yang membuat mereka berbahaya — orang yang tidak memiliki aturan tidak akan tahu batas seberapa jauh mereka boleh melangkah.

Saat matahari mulai terbenam dan bayang-bayang memanjang di jalanan kota, suasana perlahan berubah menjadi hening. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di jendela-jendela, namun cahayanya tampak lebih redup dari biasanya, seakan menahan napas. Penduduk mengunci pintu mereka lebih awal malam ini. Tidak ada yang berjalan di luar tanpa keperluan mendesak.

Kakashi duduk di tepi tempat tidurnya di ruang belakang toko Karya Baja, menatap ke arah jendela yang terbuka sedikit. Angin malam berhembus dingin, membawa suara anjing menggonggong di kejauhan. Ia memikirkan wajah-wajah ketakutan yang ia lihat tadi pagi — pedagang tua yang gemetar, anak-anak yang bersembunyi di balik punggung orang tua mereka, Yurika yang menahan amarahnya sendiri.

Ia tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut. Namun ia juga tidak bisa membiarkan dirinya diketahui.

Ia berdiri, perlahan mengenakan pakaian gelap yang menutupi seluruh tubuhnya — kain hitam yang menyerap cahaya, menyatu dengan kegelapan malam. Ia melipat kain penutup wajah, menyisakan hanya celah sempit untuk matanya. Di pinggangnya, ia mengikat pedang yang Hiruzen titipkan — pedang yang belum pernah ia cabut sejak ia tiba di kota ini.

Aku tidak akan membiarkan siapa pun melihatku, janjinya di dalam hati. Aku akan pergi tanpa jejak, datang tanpa dipanggil, pergi tanpa pamit. Seperti bayangan.

Ia melompat keluar jendela, kakinya menyentuh tanah tanpa suara sedikit pun. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah dan daun kering. Ia bergerak di antara bayang-bayang bangunan, melompat dari atap ke atap, menyusuri lorong-lorong sempit yang tidak diterangi lampu. Tubuhnya bergerak dengan keluwesan yang seakan melayang — kebiasaan yang ia miliki sejak belasan tahun lalu, saat ia belajar bergerak tanpa diketahui siapa pun, bahkan angin sekalipun.

Ia tahu di mana mereka berada. Dari percakapan yang ia dengar tadi siang, kelima bandit itu menyewa sebuah rumah kosong di pinggiran kota — bangunan tua yang ditinggalkan pemiliknya, jauh dari pemukiman, tempat mereka bisa berkumpul tanpa diganggu.

Langkah kakinya tidak menimbulkan suara saat ia mendarat di atap bangunan itu. Di bawahnya, cahaya lampu minyak menyelinap keluar dari celah-celah dinding. Suara tawa kasar dan gelas yang berbenturan terdengar jelas.

"Mudah sekali menakuti mereka!" suara salah satu dari mereka terdengar bangga. "Tidak ada yang berani menentang satu pun dari kami!"

"Besok kita akan mengambil lebih banyak," jawab yang lain. "Kota ini kaya, dan penduduknya penakut. Kita bisa tinggal di sini selama yang kita mau."

Kakashi menutup matanya sejenak. Maafkan aku, batinnya. Aku tidak ingin menjadi kekerasan. Tapi aku tidak bisa membiarkan kalian menyakiti mereka.

Ia turun perlahan, melewati jendela samping yang tidak tertutup rapat. Di dalam, kelima orang itu duduk melingkar, minum dan tertawa, senjata mereka tergeletak sembarangan di lantai. Tidak ada yang waspada. Tidak ada yang menyadari bahwa sesuatu yang jauh lebih berbahaya berdiri tepat di luar pintu.

Kakashi menarik napas terakhir, lalu melangkah masuk.

Gerakannya begitu cepat sehingga mereka tidak sempat berteriak. Yang pertama tersadar hanya melihat bayangan hitam melesat di hadapannya sebelum punggungnya dipukul dengan tepian gagang pedang — cukup keras untuk membuatnya pingsan tanpa melukainya secara permanen. Yang kedua mencoba meraih pedangnya, namun tangan Kakashi lebih dulu menepisnya, melumpuhkan pergelangan tangannya dengan satu sentuhan tepat. Yang ketiga dan keempat berusaha maju bersama, namun Kakashi berputar di antara mereka, kakinya menghantam perut dan dada, mengirim mereka jatuh ke lantai satu per satu.

Yang kelima berdiri terpaku, matanya terbelalak melihat teman-temannya tumbang dalam hitungan detik. Ia mengangkat pedangnya dengan tangan gemetar, namun sebelum ia sempat mengayunkannya, Kakashi sudah berada di hadapannya — ujung pedangnya menempel tepat di leher pria itu, dingin dan tajam.

"Pergilah," bisik suara yang rendah, berat, dan tidak miliknya yang biasa. "Beri tahu siapa pun yang mengutus kalian: kota ini tidak bisa diambil dengan kekerasan. Jika kalian kembali, aku tidak akan sebaik ini."

Pria itu menelan ludah, tidak berani berkedip. Ia melihat mata di balik kain penutup — mata yang tidak menyimpan amarah, melainkan kesedihan yang dalam. Ia mundur perlahan, lalu berbalik dan lari terbirit-birit, meninggalkan teman-temannya yang masih tidak sadarkan diri.

Kakashi berdiri sendirian di ruangan itu, napasnya tenang, tidak terengah sedikit pun. Ia tidak melukai mereka parah — tidak ada yang terluka parah, tidak ada yang mati. Itu bukan tujuannya. Tujuannya hanya satu: membuat mereka takut kembali.

Namun saat ia menarik kain penutup wajahnya, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Tangan kanannya sedikit bergetar. Bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang lain — perasaan yang ia kira sudah ia tinggalkan jauh di belakang. Saat ia bergerak, saat ia bertindak tanpa nama, tanpa identitas, tanpa keraguan... ada bagian dari dirinya yang merasa hidup.

Ia memejamkan mata erat. Ini hanya sekali, batinnya meyakinkan diri sendiri. Hanya untuk melindungi mereka. Lalu aku akan kembali menjadi orang biasa.

Ia melangkah keluar, menyatu kembali dengan kegelapan. Tidak ada yang melihatnya pergi. Tidak ada yang tahu siapa yang datang. Di kota yang sedang tidur itu, ia hanyalah bayangan yang lewat — malaikat pencabut ancaman, atau hantu yang kelak akan kembali?

Saat ia melompat masuk ke jendela kamarnya kembali, fajar belum menyingsing. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kedua telapak tangannya yang masih utuh namun terasa asing. Besok pagi, warga kota akan menemukan bandit-bandit itu tergeletak tak sadarkan diri, dan mereka akan bertanya-tanya siapa yang menyelamatkan mereka. Mereka akan bercerita tentang sosok misterius yang muncul dari kegelapan, pelindung tanpa nama.

Namun Kakashi tahu satu hal: ia tidak bisa terus menyembunyikan dirinya selamanya. Setiap kali ia bertindak seperti ini, ia semakin dekat menjadi sesuatu yang lain — sesuatu yang ia takutkan.

Di kejauhan, ayam jantan mulai berkokok, menyambut pagi yang baru. Kakashi menyimpan kembali pedangnya, berbaring, dan menutup matanya, berharap cahaya matahari pagi akan menghapus jejak kegelapan yang baru saja ia tinggalkan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!